Tentang Kami

Desantara Foundation adalah lembaga sosial yang memiliki minat terhadap isu penguatan komunitas (khususnya dari kelompok minoritas), yang terkait isu multikultural dan lingkungan

Desantara Foundation adalah salah satu lembaga sosial berbadan hukum yayasan yang memiliki minat terhadap isu penguatan komunitas (khususnya dari kelompok minoritas ),yang terkait isu multikultural dan lingkungan.

Desantara Foundation membangun jaringan di kalangan anak muda,kelompok Islam (khususnya di kalangan pesantren),kelompok minoritas,komunitas-komunitas berlandaskan kesamaan adat/budaya/agama,dan stakeholders lain untuk dipertemukan dan di dorong menjadi masyarakat sipil yang partisipatif.

Misi ini dikelola melalui beberapa aktivitas; pelatihan,publikasi, public hearing,seminar dan pendampingan komunitas.

Dalam mengelola aktivitasnya,Desantara Foundation juga menaruh harapan dan penghormatan terhadap kelompok perempuan

 

Visi Desantara

Terwujudnya masyarakat multicultural yang adil dan setara dalam lingkungan lestari

 

Misi Desantara

 

  1. Mengupayakan rekonsiliasi kebudayaan melalui masyarakat pesantren dan komunitas lokal.
  2. Mengambangkan pengetahuan kritis dan inklusif melalui kajian dan publikasi.
  3. Mengambangkan kemandirian masyarakat lokal dan kelestarian lingkungan melalui pelatihan dan pendampingan.

 

Bidang-Bidang Kegiatan Desantara

 

1.Publikasi

  1. Jurnal Perempuan Multikultural, Srinthil
  2. Desantara Report (Deport Newsletter)
  3. Penerbitan Buku
  4. Website Desantara

2. Riset dan Advokasi

3. Pelatihan Riset dan Menulis

4. Program Data Base Kebudayaan dan Layanan Perpustakaan

 

 

Sejarah Singkat Yayasan Desantara

 

Tahun 1997 bangsa Indonesia mengalami krisis ekonomi yang diikuti dengan krisis legitimasi pemerintahan Orde Baru. Krisis ini ditandai berbagai kerusuhan sosial dan aksi mahasiswa di beberapa tempat, yang pada akhirnya mengguncang seluruh jaringan struktur Orde Baru yang ditopang oleh sentralisme politik dengan sistem ekonominya yang “neoliberal”. Rezim otoritarianisme Orde Baru ini mencapai titik balik dengan semakin tumbuhnya berbagai kekuatan civil society di Indonesia.

Kelompok Islam yang semula hanya menjadi label pasif dalam struktur Orde Baru muncul sebagai kekuatan politik dan sosial yang signifikan. Meskipun Islam muncul dalam berbagai lembaga dan gerakan sosial,   kelompok yang merupakan komunitas terbesar di Indonesia ini melahirkan sejumlah lapisan cerdik pandai dan aktivis sosial yang secara aktif menjadi lokomotif proses demokratisasi mengiiringi runtuhnya kekuasan Soeharto yang represif.

Salah satu kekuatan Islam di Indonesia yang patut diperhitungkan sampai saat ini adalah lembaga pesantren. Di kalangan masyarakat arus bawah pesantren menjadi bagian penting yang tidak dapat dikesampingkan. Pesantren hingga saat ini telah sukses menjadi lembaga pendidikan paling populis yang memiliki jaringan lintas kelas dan etnis selama puluhan tahun. Bersamaan dengan lapisan kelas menengah dari kalangan pesantren yang mengenyam pendidikan tinggi kelompok pesantren yang berserak di berbagai tempat di pedesaan ini turut meramaikan aksi gerakan masyarakat sipil. Paling tidak kenyataan ini dapat dilihat dari semakin tuumbuhnya forum diskusi, kajian sosio-keagamaan, jaringan advokasi akar rumput, gerakan perempuan dari kalangan muda pesantren yang juga memiliki basis pendidikan di universitas dan perguruan tinggi Islam.

Desantara lahir di tengah komunitas seperti ini.  Bersamaan dengan terus menguatnya krisis dan delegitimasi Orde Baru, Desantara terus tumbuh sebagai jaringan pemikiran dan gerakan civil society dari kalangan muda yang menginginkan terjadinya perubahan di Indonesia yang lebih demokratis.  Latar belakang pesantren tradisional dan minat studi di perguruan tinggi yang berbeda-beda merupakan simpul yang mempertemukan mereka.  Salah satu isu menarik yang terus diminati di forum ini adalah keinginan untuk mengembangkan wacana kebudayaan sebagai modal kutural yang lebih transformatif. Pesantren bersama dengan kekuatan-kekuatan arus bawah lainnya dibidik sebagai target yang diharapkan menjadi salah satu agen transformatif tersebut.

Sebagaimana kita ketahui sebelumnya, kebijakan kebudayaan di masa Orde Baru menghasilkan sejumlah implikasi sosio kultural  yang begitu besar di kalangan masyarakat akar rumput. Peristiwa 1965 dianggap sebagai titik balik orientasi kebudayaan yang menceraiberaikan berbagai kekuatan-kekuatan politik di masyarakat untuk kemudian di bawah ke dalam sistem Orde Baru yang mengakibatkan terjadinya floating mass.

Desantara berminat ingin menyegarkan kembali pergulatan, kontestasi dan  dialog yang tumbuh subur sebagaimana pernah terjadi di masa sebelumnya.  Bagi Desantara sejarah yang terputus harus  dirememorisasi, direinvensi dengan semangat yang lebih aktual dengan cara mengangkat dan memberi ruang kembali  kekuatan-kekuatan kebudayaan di masyarakat yang lebih otonom, inklusif dan demokratis.

Bidang pertama yang digeluti menjadi program berkelanjutan adalah pembentukan komunitas-komunitas epistemik di kalangan pesantren dan komunitas lokal (masyarakat adat) untuk menjembatani kesenjangan dan ketegangan pemikiran diantara mereka.  Terbentuknya komunitas ini seterusnya menjadi modal sosial bagi terus tumbuhnya pemikiran dan praktik kebudayaan yang lebih inklusif dan liberatif di massa rakyat.   Pesantren dan komunitas-komunitas lain di tingkat lokal perlu didorong agar memiliki kapasitas untuk berkiprah di ruang publik. Dalam konteks ini Desantara menfasilitasi terbentuknya ruang komunikasi yang partisipatoris sekaligus mendorong repositioning subyek yang transformatif di tengah himpitan struktur dan praktik  budaya yang melingkupinya.

Maka dalam perkembangannya, jaringan dan komunitas Desantara di tingkat akar rumput menuntut tersedianya proses pendampingan yang lebih luas.  Bagi Desantara penyemaian gagasan keagamaan yang lebih inklusif dan transformatif berdampak pula kepada keharusan membangkitkan politik kewargaan yang lebih kritis di berbagai bidang.  Problem massa rakyat tidak dapat disempitkan semata kepada satu isu tunggal.

Karena, dalam pengalaman Desantara, kebudayaan ternyata tidak sebatas  representasi simbolik sebagaimana dalam kesenian dan ritual. Bagi Desantara Kebudayaan meliputi berbagai proses interaksi antar manusia yang menghasilkan berbagai makna simbolik sebagai representasi dari beragam kepentingan untuk mendominasi, menghegemoni, mengintimadasi, mengeksklusi, dan juga kepentingan untuk membebaskan dan mencairkan beragam bentuk dominasi dan represi tersebut. Di tengah situasi seperti ini maka bagi Desantara kerja atau praktik kebudayaan itu setidaknya memiliki tiga hal:

 

  1. Representasi proses emansipasi manusia untuk memperjuangkan serta menegakkan hak-hak dan martabatnya
  2. Representasi pluralitas dan kemajemukan suatu komunitas atau masyarakat; dan
  3. Konsep holistik yang mencakup dimensi etik, estetik dan progresif-evaluatif; terbentuk oleh dan melalui interaksi antar sesama manusia dan antar berbagai aspek kehidupan.

 

Pandangan seperti ini mengimplikasikan suatu kebutuhan membangun gerakan sosial yang mampu menembus aspek-aspek ketimpangan sosial, politik dan kebudayaan di massa populer.

Maka demi memenuhi tuntutan perbaikan kelembagaan yang lebih profesional dan akuntable Yayasan ini menghadap akte Notaris Wiwik Asriwahyuni Santosa, SH. Untuk didaftarkan kembali pada tahun 2005 sebagai yayasan yang berada di bawah SK menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomer: C – 336.HT.03.02 Th 2000.

 

 

Simpul Wilayah Jaringan Desantara

 

  1. Aceh (NAD)
  2. Medan (Sumatera Utara)
  3. Tasikmalaya (Jawa Barat)
  4. Bandung (Jawa Barat)
  5. Cirebon (Jawa Barat)
  6. Pati (Jawa Tengah)
  7. Yogyakarta
  8. Ponorogo (Jawa Timur)
  9. Malang (Jawa Timur)
  10. Jember (Jawa Timur)
  11. Kediri (Jawa Timur)
  12. Banyuwangi (Jawa Timur)
  13. Makassar (Sulawesi Selatan)
  14. Bulukumba (Sulawesi Selatan)
  15. Sidrap (Sulawesi Selatan)
  16. Pangkep (Sulawesi Selatan)
  17. Bone (Sulawesi Selatan)
  18. Poso (Sulawesi Selatan)
  19. Morowali (Sulawesi Selatan)
  20. Lombok (Nusa Tenggara Barat)
  21. Kutai (Kalimantan Timur)
  22. Banjarmasin (Kalimantan Selatan)

 

 

 

 

Alamat Kantor

 

Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok – Jawa Barat 16431

Telp : 021-77201121

Fax : 021-77210247

Email : mail@desantara.or.id

Website :
www.desantara.or.id

www.srinthil.org

www.omahkendeng.org

 

 

 

 

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>