Desantara Foundation http://www.desantara.or.id Thu, 15 Dec 2016 04:46:24 +0000 en-US hourly 1 http://wordpress.org/?v=4.2.15 Kliwonan dan Politik Kebudayaan: Wawancara dengan Hasan Malawi http://www.desantara.or.id/2016/12/kliwonan-dan-politik-kebudayaan-wawancara-dengan-hasan-malawi/ http://www.desantara.or.id/2016/12/kliwonan-dan-politik-kebudayaan-wawancara-dengan-hasan-malawi/#comments Sat, 10 Dec 2016 20:09:10 +0000 http://www.desantara.or.id/?p=8570

Kliwonan dan Politik Kebudayaan: Wawancara dengan Hasan Malawi

Muhammad Azka Fahriza

Sebelum saya menanyakan banyak hal, saya ingin bertanya, dari mana cikal bakal Kliwonan itu sebenarnya?

Dari berbagai macam simpul komunitas, ada yang latar belakangnya adalah dari kultur pesantren, dari kultur masyarakat Cirebon sendiri, kultur kesenian Cirebon, kemudian dari berbagai macam komunitas literasi. Taruhlah, aku yang di Babakan membawa nafas pesantren, (lalu) kawan-kawanku di Gegesik (yang) memiliki basis seni itu di Gegesik. Sampean kalau pengen tahu berbagai macam seni, itu di Gegesik, Susukan, dan Kaliwedi, karena di sana itu seni sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Di Gegesik itu ada tari topeng, wayang, lukisan kaca dan lain sebagainya.

Simpul-simpul komunitas itu kemudian bersatu, kemudian kita merumuskan bagaimana kalau kita bikin satu kegiatan seni dan budaya tetapi memiliki titik koordinat dari satu desa ke desa yang lain. Nah kesadaran itu terpanggil oleh kawan-kawan karena dirasa sejauh ini peran seni dan budaya di Cirebon itu masih diakomodir oleh kalangan-kalangan yang menjadikan seni dan budaya sebagai etalase saja. Artinya tidak lagi menjadi kehidupan inti di masyarakat. Atas dasar itu kawan-kawan berkumpul. Ada dari Sketsa Pribumi, Kang Imam MC, Kang Rifqiel Asyiq dari Tegalgubug, Kang Syauqi, Kang Oji dari grup band punk Rumput Laut. Di situ kita bikin satu kegiatan. Karena sebelum Kliwonan berdiri kita sudah mengadakan panggung di desa, malam kesenian rakyat dan lain sebagainya, dari simpul kegiatan-kegiatan tersebut disatukan dalam Kliwonan.

Nama Kliwonan sendiri berasal dari mana?

Nama Kliwonan itu diambil dari filosofi Jawa. Dulur papat lima pancer. Artinya, dari penamaan itu Kliwonan kan tengah-tengah ya. Titik sentris. Kemudian disepakati diberi nama Kliwonan. Pertama kali itu di Desa Susukan, kemudian di Desa Prajawinangun, kemudian di Desa Kalimati atau Wargabinangun. Kliwonan keempat di Desa Bayalangu, kemudian Kliwonan kelima di Desa Gintung Lor, kemudian Kliwonan nanti (26 November) di Desa Tegalgubug Kidul.

Kegiatan apa yang biasanya diselenggarakan di acara Kliwonan?

Di Kliwonan itu, ada beberapa kegiatan yang menunjang. Dari siang sampai pagi. Masing-masing personal dan komunitas di Kliwonan itu melebur jadi satu atas nama Sedulur Kliwonan. Kalau Kliwonan berarti event-nya, kalau Sedulur Kliwonan adalah orang-orang yang menggerakkan even Kliwonan tersebut. Ini untuk membaca bahwa Kliwonan itu bukan satu komunitas. Karena pembacaan komunitas biasanya itu hanya sebatas kumpul-kumpul, setelah acara selesai, tidak membangun ikatan emosional lebih jauh satu sama lain.

Sedulur Kliwonan itu siapa saja?

Kalangan manapun. Taruhlah dari kawan Blacknote book, itu yang dulunya mereka anak-anak punk, lalu setelah itu mereka sadar bahwasanya harus ada yang dibangun dari kalangan mudanya. Pertama melalui literasi. Ada satu orang yang kemudian bisa memberi warna di Kliwonan, Kang Emiq. Kang Emiq kemarin perjalanan dari Cirebon ke Kediri, dari Cirebon ke Madura naik sepeda membawa misi literasi. Jadi paginya itu kegiatan-kegiatan literasi ditopang. Ada dari Blacknote Book, ada dari Perpusatakaan Safinatunnajah, Perpustakaan di Tegalgubug, Bilik Baca Masjid, Perpustakaan Bayalangu. Paginya itu kegiatan perpustakaan, gelar buku, kemudian workshop cukil. Karena Kliwonan itu semakin diminati oleh banyak kalangan, sehingga mau tidak mau kita harus menampung gagasan dan perkembangan mereka terkait seni dan budaya. Dari lingkungan hidup, mau ikut andil di Kliwonan ya silahkan diisi dengan sosialisasi lingkungan hidup. Kemarin di Gintung itu bank sampah. Supaya pemudanya sadar akan sampah, ada sosialisasi soal sampah. Sekarang ada dari PMi mau ngisi soal donor darah. Itu pagi sampai sore. Malamnya itu kemudian dimulai dengan acara tumpengan. Kita biasa menamakannya malam tumpengan. Ada opening ceremony, musik ceremony, dari sedulur Kliwonan, pembacaan dari beragam komunitas yang aku baca satu persatu, komunitas apa saja yang ikut terlibat. Dan setelah itu dimulai dengan menyanyikan bersama lagu Indonesia Raya. Setelah itu ada tawassul dari tokoh masyarakat setempat. Ada sambutan dari kepala karang taruna, atau kepala desa.

Di mana tempat Kliwonan?

Tempat Kliwonan itu di balai desa. Selalu di balai desa. Kita titik beratkan di balai desa. Ini untuk membangun kembali bahwasanya ruang desa itu tidak hanya sebagai ruang administratif. Tidak hanya ruang sebagai ruang untuk masyarakat memiliki komunikasi dengan kepala desanya. Tetapi bagaimana balai desa itu bisa menjadi ruang publik, ruang bersama yang diinisiasi oleh kalangan muda dan tokoh-tokoh setempat.

Jenis kesenian apa saja yang bisa tampil di Kliwonan?

Kliwonan itu di malam tumpengan tidak menggarisbesarkan jenis kesenian tertentu. Semuanya boleh masuk. Bebas. Hadrah boleh masuk. Punk boleh masuk. Macapat boleh masuk. Yang memiliki unsur seni dan budaya boleh ditampilkan di Kliwonan. Akustik boleh masuk, puisi boleh masuk.

Bagaimana dengan jenis-jenis, kalau boleh disebut sebagai jenis kesenian, misalnya DJ, ada bayangan ke depan yang seperti itu bisa ikut?

Unsur kesenian modern pernah menampilkan dance [1]. Pernah ada di Bayalangu, pada Kliwonan keempat. Karena dari Sanggar Tari Gegesik kan selain ada seni tari topeng, ada yang bisa dance, (jadi) ditampilkan dancer juga gak papa. Kalau ada unsur DJ juga tidak dipermasalahkan. Namun waktunya tidak bisa difullkan. Waktunya itu kita tentukan dari run down acara.

Ini supaya talent-talent [2]lain juga ikut andil. Yang diutamakan porsi penampil itu panlok (panitia lokal). Jadi, satu bulan atau dua minggu selama persiapan itu kita dari sedulur Kliwonan mendata. Di desa tersebut ada talent apa saja yang bisa ditampilkan. (Apabila) di data yang ditampilkan ada sepuluh, ya ditampilkan. Porsinya itu pertama, tuan rumah dulu, setelah itu tamu dari luar yang kemudian diisi oleh Sedulur Kliwonan yang lain.

Menarik ide menggabungkan kebudayaan lokal, kearifan lokal dengan ekspresi kebudyaan yang lebih moderen kalau bisa memakai kosa kata itu. Dari pengalaman selama Kliwonan, ada hambatan tertentu tidak? Katakanlah bukan di level panitia, tetapi di level warga…

Memang ada beberapa desa yang kadang merasa bahwa ketika ini ditampilkan masih tabu. Karena kita mesti mengetahui lebih dahulu bahwa desa-desa yang ada di kabupaten Cirebon itu memiliki unsur-unsur lokal tersendiri. Ada desa yang berbasis keagamaan seperti Babakan. Ada desa yang berbasis seni seperti Gegesik. Ada desa yang tidak memiliki pesantren kuat tapi basis pesantrennya kuat seperti di Tegalgubug. Kendala-kendala itu kita bisa mengkomunikasikan dengan tokoh masyarakat setempat. Kenapa di Kliwonan ini kemudian ditaruh ada sambutan dari kepala desa, ada sambutan dari masyarakat setempat, karena itu bagian dari komunikasi kita bahwa ruang ekspresi pemuda itu beragam. Kalangan-kalangan tua, generasi sebelum kita mesti mengetahui bahwa realitas perkembangan zaman semakin pesat dan ekspresi kaum muda juga banyak. Unsur lokal tetap kita prioritaskan, dan kemudian kita kombinasikan, kita sinkronkan, dengan unsur-unsur moderen yang mengiringi. Terkait bagaimana perkembangan tersebut, biasanya itu kayak yang kemarin ada pantomim anak, biasanya itu dilihat dari antusiasme penonton sendiri. Karena penonton di kita itu tidak dibatasi siapa saja.

Pada pukul tujuh sampai sepuluh itu biasanya masih banyak ibu-ibu dan bapak-bapak yang bawa anaknya untuk menonton Kliwonan. Biasanya kalau sudah agak malam kita isi dengan musikalisasi puisi. Karena ini juga menjaga kenyamanan warga setempat. Musik dan lain sebagainya kita plot kan di awal. Pengkondisian ini tentu melihat dari situasi pada desa yang didapati sebagai kliwonan. Setelah acara Kliwonan, seluruh talent, penonton, dan sedulur Kliwonan merapikan panggung, merapikan balai desa setempat. Yang kemudian kita coba bangun di Kliwonan adalah kita tidak membangun mental panggung. Sejauh ini, ketika kita mempunyai kemampuan di musik, di seni, kemudian di berbagai banyak hal, itu yang diskalaprioritaskan adalah kita ingin tampilnya kapan. Tapi di Kliwonan tidak. Satu sama lain harus bisa beradaptasi. Karena tidak ada tamu utama atau yang dianggap bintang, tamu kedudukannya sama satu sama lain. Jadi nggak ada yang diskalaprioritaskan. Yang ini datang karena jam terbangnya sudah panjang, jam terbangnya sudah luas, mau manggung di Kliwonan kemudian minta durasi satu jam, itu tidak bisa. Karena unsur yang mau dibangun di Kliwonan adalah bagaimana ruang ekspresi itu bisa ditampung satu sama lain.

Selama ini, ada penampil dari luar Cirebon?

Penampil dari luar Cirebon pernah dari Indramayu. Yang jauh itu pernah dari Bogor, baca puisi. Karena memang ada sedulur Kliwonan aktif di sastra. Kalau penampil-penampil yang kita minta misalnya dari Losari, dari Brebes, sejauh ini belum.

Kalian mengundang (penampil tersebut)?

Mengundang, tapi kadang bentrok dengan waktunya. Jadi banyak antusiasme, banyak yang ingin tampil di Kliwonan, nggak dibayar nggak papa. Karena kan talent itu mencapai puluhan ya, sampai dua puluh. Dan nggak ada satupun yang dibayar.

Dari mana pendanaan Kliwonan didapatkan?

Kliwonan, untuk menghidupi berbagai macam kebutuhan itu biasanya ada kotak swadaya. Kotak itu dibuka pada acara Kliwonan, silahkan siapa saja yang mau menyumbang. Donasi itu untuk memenuhi kebutuhan panggung.

Di luar kotak swadaya tadi, kebutuhan untuk melakukan Kliwonan datang dari mana?

Dari panitia lokal. Karena Kliwonan itu kita tidak bisa menentukan tanggal. Tanggalnya kapan ini Kliwonan, ndak bisa. Tanggalnya harus disepakati oleh panita lokal tersebut. Panitia lokal siapnya kapan. Misalnya panitia lokal itu bisanya Cuma menyiapkan soundsytem atau kopi, kita gelar. Pernah itu. waktu pertama.

Karena yang pertama itu bukan soal material panggung yang penting. Tetapi bagaimana kita mencoba membangun paradigma bahwasannya seni dann bduaya itu tidak mesti dengan berbagai macam aksesoris, dengan berbagai macam kebutuhan RAB, Rencana Anggara Biaya, yang sampai berjuta-juta. Tidak. Tetapi dengan adanya kegiatan bersifat swadaya ini kita bisa melakukan kegiatan tersebut. Biasanya panitia lokal ini justru antusias sekali. Ditunggu-tunggu kapan kegiatan di desa mereka, misalnya. Panitia lokal sendiri, dari tokoh masyarakat, dari kepala desanya. Pernah juga waktu Kliwonan ketiga di Desa Wargabinangun, atau biasa disebut Kalimati, kepala desanya respon sekali. Sehingga dia

Dengan adanya perbedaan persiapan dengan penyelenggara lokal itu, tanpa ada standar tertentu begitu, ada tidak sejauh ini misalnya menjadikan tiap panitia lokal itu kemudian bersaing dalam soal kesiapan, lantas menjadi beban. Katakanlah di desa A mendesai panggung yang mewah, memberikan konsumi, apa itu tidak menjadi beban panitia lokal sebelumnya?

Jadi seperti ini. Terkait beban panitia lokal. Sejauh ini belum. Jadi panitia lokal tidak merasa terbebani, karena setiap kita mengadakan acara Kliwonan, kita tidak memakai standar nominal tertentu. Tapi yang penting di kita pertama adalah kesiapan pemuda setempat. Kesiapan pemuda karang taruna ya. Dan kemudian pemuda setempat itu melaporkan ke kita. Karena seperti ini, pemilihan desanya itu satu bulan setelah acara selesai Kliwonan, kita list beberapa desa yang sudah merekomendasikan untuk siap. Ini Kliwonan keenam, ketujuh dan kedelapan itu sudah ada. Sampai tiga desa dulu. Tetapi permintaan sampai sembilan sepuluh sebelas sampai nanti haul sudah ada yang minta desanya ditempati untuk kegiatan Kliwonan. Kenapa masyarakat setempat antusias? Karena mereka nggak capek ngurusi panggung dan lain sebagainya, yang ngurus dekor (dekorasi) ada sendiri, ngurus perpus ada sendiri, ngurus talent ada sendiri, yang ngurus soundsystem dan lain sebagainya sudah ada sendiri dari Sedulur Kliwonan. Biasanya sampai nginep.

Artinya keberadaan Sedulur Kliwonan ini, secara tidak langsung juga akan membatasi penggunanaan, katakanlah, dana yang berlebihan di panitia lokal tertentu?

Membatasi tidak. Silahkan panitia lokal mampunya sejauh mana. Jadi kita tidak pakai standar tertentu. Acuannya seperti ini. Yang dilihat sukses tidaknya acara itu bukan dari dekorasi panggung, dari kelengkapan. Tapi dari gotong royongnya pemuda setempat, dari respon ibu-ibu, dari anak-anak yang antusias.

Takaran kita bukan pada kemeriahan acara. Bukan pada lighting luar biasa, soundsystem katakanlah nyewanya seharga jutaan, tidak. Tetapi dari respon masyarakatnya. Karena kan dua minggu sebelum Kliwonan digelar, kita sudah membangun komunikasi dengan panita lokal. Apa kebutuhannya. Apa yang kurang ini di desa, misalnya Tegalgubug. Dari komunikasi ini, sharing, musyawarah, supaya kita tahu sejauh mana kesiapan dari panitia lokal. Kalau panitia lokal lemah di soundsystem, soundsytem ini yang kita cari di desa lain siapa yang bisa membackup. pola kebersamaan ini yang dibangun di sedulur Kliwonan.

Selain Babakan, pesantren yang ikut terlibat aktif pesantren mana?

Kalau simpulnya yang menggerakkan paling baru Babakan dan Tegalgubug, kang Rifqiel Asyiq, sedulur kita di Kliwonan. Baru dua pesantren. Tetapi pesantren lain juga membuka tempatnya siap dijadikan acara Kliwonan. Buntet sudah bilang, Kempek sudah bilang, di Gedongan juga sudah komunikasi mau ngadain Kliwonan seperti apa. Di Babakan sendiri sampai hari ini belum mengadakan Kliwonan karena permintaan dari masyarakat luar yang cukup banyak.

Tadi kita sempat menyinggung soal anak-anak muda di Kliwonan, dari mana saja anak-anak muda ini?

Anak mudanya dari berbagai macam corak. Ada yang basisnya dari anak punk, anak jalanan, ada yang santri, ada yang pemuda setempat, ada di ormas, ada yang kaderisasi IPNU, Ansor, ada remaja masjid, ada pemuda biasa

Bagaimana awal mulanya mempertemukan simpul-simpul yang beragam ini?

Mempertemukannya itu pada setiap kegiatan Kliwonan. Pertama kita di Susukan baru beberapa orang. Masih dengan beberapa nahdliyyin. Awal itu dari Sketsa Pribumi, Lajnah Kreativitas Pesantren, Rumah Baca Dewantara, Pustaka Safinatunnajah, Rumput Laut, lupa nama-namanya. Tidak sebanyak sekarang. Semakin diadakan Kliwonan dari satu desa ke desa yang lain animo komunitas ,animo personal bertambah. Dan komunikasi kita semakin intens. Karena selain agenda-agenda tersebut sedulur Kliwonan juga biasa mengadakan aksi Kliwonan aksi sosial dengan kawan-kawan yang lain. Kemarin kita mengadakan sumbangsih untuk Garut, dan juga dengan dede siapa itu, yang masih bayi tapi dioperasi di Bandung. Kita mengadakan donasi. Juga kepada sedulur Kliwonan yang sedang tertimpa bencana, tertimpa musibah, baik musibah di keluarganya, satu sama lain. Jadi hubungan emosional antara sedulur Kliwonan itu semakin mengikat.

Bagaimana dengan isu-isu ekonomi-politik? Apakah yang berkaitan dengan itu, misalnya pembangunan PLTU Cirebon, pernah disinggung di acara itu?

Di Kliwonan itu, sebelum isu-isu strategis, pertama kita bangun dulu kesadaran sosial bagi setiap pemudanya. Pentingnya membangun kedaulatan di Desa. Kita itu selalu mengupayakan bagaimana desa itu berkembang, bagaimana desa ini tahu potensi apa yang mesti digali.

Jadi biasanya ada penelitan dari sedulur Kliwonan, kemudian membaca desa ini di mana lemahnya. Pertama itu. dan kemudian kita membangun kesadaran dalam seni dan budaya. Di lagu-lagunya, puisinya, harus diutamakan membawa nafas kedaulatan desa. Isu-isu itu yang bakal dikawal sedulur Kliwonan. Kita juga mau mengkomunikasikan isu masyarakat di Sukamulya (Konflik agraria antara petani dan pengembang Bandara Undara Internasional Kertajati di Majalengka, pewawancara). Karena banyak dari sedulur Kliwonan itu basisnya petani. Karena masyarakat di kita agraria, kan petani kebanyakan. Mereka itu kesadaran emosionalnya itu tergerak sekali ketika ada petani yang dirampas haknya. Karena mereka sudah menjadi sudah sangat kuat ikatan emosialnya satu sama lain.

Jadi memang ke depan arahnya ke sana ya sebenarnya?

Iya. Tapi kan pelan-pelan. Intinya Kliwonan itu adalah melihat desa dari desa. Pertama seperti itu. Simbol di Kliwonan yang biasa didengungkan adalah kosakata lahir bersama tumbuh bersama. Itu menjadi titik kunci. Kita melahirkan Kliwonan secara bersama-sama dengan berbagai macam personal dan komunitas, perangkat desa dan sebagainya. Kliwonan itu filosofinya tumbuh seiring dengan tumbuhnya masyarakat desa. Jadi satu sama lain saling mengimbangi.

Terkait dengan sponsor, event organizer, yang mau masuk di Kliwonan harus memiliki jejak yang jelas dulu. Kemudian juga harus sesuai dengan tata nilai yang dibangun di sedulur Kliwonan. Jadi kalau sponsor kemudan masuk dia intervensi terlalu jauh terhadap nilai-nilai yang dibangun di Kliwonan, itu ndak bisa.

Bisa dijelaskan apa itu tata nilai di Kliwonan?

Contoh soal kesepakatan tempat. Tempat yang dipilih harus sesuai kesepakatan sedulur Kliwonan. Setelah acara, musyawarah bersama, menentukan tempat di sini. Kemudian talent-talent-nya harus sesuai dengan lingkungan setempat. Jadi kita tidak bisa misalnya membawa dancer kemudian ditaruh di tempat yang basis agamanya kuat. Kita menghargai keadaan dari masyarakat setempat. Karena corak-corak di kita kan memiliki corak sendiri.

Ini menjadi langkah penting yang dirasakan sedulur Kliwonan. Bahwa nilai kebersamaan, kolektivitas itu menjadi nilai yang seharusnya dibangun. Sedulur Kliwonan sadar bahwa besarnya Kliwonan itu bukan karena unsur luar yang msuk tetapi karena nilai kolektif. Kesinambungan anata masyarakat setempat dan masyarakat aktivis sedulur Kliwonan.

Bagaimana membangun komunikasi dengan sedulur Kliwonan? Tadi disebutkan bahwa ada orang-orang yang di awal menjadi penggagas, lalu masuk orang-orang baru, bagaimana membangun komunikasi di antara keduanya?

Komunikasinya pertama biasanya kita ngobrol bareng, ngobrol darat ngopi satu sama lain, sharing, dia punya gagasan apa terkait desanya, perkembangannya seperti apa, nilai-nilai yang dibangun sama atau tidak, kemudian komunikasi lebih intensif melalui media sosial, grup WhatsApp, grup facebook. Komunikasi intensifnya yaitu pada pertemuan-pertemuan Kliwonan, misalnya kita adakan ngopi di desa setempat. Di situ mulai terbangun ikatan emosinya satu sama lain.

Lebih pada pertemuan tatap muka ya?

Ya, lebih pada pertemuan tatap muka. Karena orang yang dia tahu Kliwonan dari awal dan hanya intens di media sosial, dia itu tidak terbangun nilai emosialnya. Justru, banyak dari kalangan preman, katakanlah seperti itu, kemudian (dengan cara seperti itu) masuk ke Kliwonan sehingga (mereka) paham bahwasannya unsur kemanusiaan, unsur keagamaan menjadi hal yang penting.

Menarik ini ada unsur keagamaan. Bagaimana unsur keagamaan kemudian dipahami oleh kawan-kawan sedulur Kliwonan?

Seperti ini. Setiap sedulur Kliwonan itu tahu bahwa dia itu berada di lingkungan masyarakat beragama. Kita di sedulur Kliwonan itu sebelum acara dimulai tawassul dulu. Sebenarnya kalau bagi masyarakat di luar pesantren, justru dipandang bukan sebagai unsur keagamaan, tetapi unsur tradisi yang semenjak kecil mereka sudah hafal betul, kayak tahlilan, ke-NU-an lah, satu sama lain. Poin-poin yang kemudian mereka temukan di acara Kliwonan, di acara tumpengan tersebut.

Jadi keagamaan di sini lebih pada nilai-nilai keislaman tradisional ? Bagaimana dengan kawan-kawan yang dalam pengertian yang sempit tidak dalam kategori yang beragama. Seperti misalnya kawan-kawan dari peganut kepercayaan, misalnya Sunda Wiwitan?

Nah, karena sejauh ini perkembangan Kliwonan baru enam desa dan sampai lima kecamatan. Jadi yang memiliki basis kultural yang sama. Pertemuan, perjumpaan dengan komunitas yang lain memang banyak, tapi sekedar mewarnai saja. Tidak sampai hubungan yang bersifat emosional. Jadi ada dari unsur lain masuk, tetapi biasanya masuk dalam acara tumpengan saja. Tetapi kita terbuka, siapapun. Karena di sedulur Kliwonan itu tidak ada batasan.

Terkait desa, pelajaran terbesar apa yang bisa diambil oleh kawan-kawan Sedulur Kliwonan dari gelaran Kliwonan?

Dari Kliwonan itu kita bisa membaca bahwa kepentingan di masyarakat desa itu sangat kuat sekali, kepentingan unsur luar untuk menguasai desa sangat kuat sekali. Dan kepekaan itu timbul, bahwa selama ini kita lemah pada hubungan kolektifitas satu sama lain. Orang luar membaca Kliwonan hanya dalam sudut pandang acaranya. Tetapi yang lebih penting adalah di sedulur kliowonan tersebut. Karena dari interaksi di sedulur kliowanan bisa terbaca betul jaringan emosional yang kuat satu sama lain.

Jadi di sedulur Kliwonan itu semua basis melebur. Kita tidak mengatasnamakan pesantren. kita tidak mengatasnamakan sampean petani. Kita melebur satu sama lain. Itu di kalangan mudanya. Kebanyakan aktivis sedulur Kliwonan itu kalangan muda.

Oh ya, soal hari apa memang harus di hari kliwon itu?

Pertama iya. Tapi kita juga membaca kesiapan dari panitia lokal. Kan setiap desa yang kemudian didapati sebagai panitia kadang ada kegiatan lain di desanya. atau panitanya pas kliwon tidak siap. Nah atas pertimbangan-pertimbangan seperti itu, Kliwonan tidak mesti di hari kliwon. Justru penamaan Kliwon ini menjadi unsur pemersatu kita.

Terakhir, tadi sampean sempat menyinggung soal diversitas pekerjaan. Kalau dari buruh, basis-basis buruh bagaimana?

Basis-basis buruh sampai sejauh ini belum dikomunikasikan dengan sedulur Kliwonan yang lain. Tetapi banyak dari sedulur Kliwonan yang jadi pegawai di pabrik. Kebanyakan basisnya dari petani.

Catatan penutup

[1]Di sini, Hasan Malawi membedakan tarian tradisional dengan dance di mana yang kedua mewakili jenis tari-tarian kontemporer.

[2]Istilah talent di sini mengacu pada penampil potensial.

]]>
http://www.desantara.or.id/2016/12/kliwonan-dan-politik-kebudayaan-wawancara-dengan-hasan-malawi/feed/ 0
Ketika Desa Melawan Dengan Gembira http://www.desantara.or.id/2016/12/ketika-desa-melawan-dengan-gembira/ http://www.desantara.or.id/2016/12/ketika-desa-melawan-dengan-gembira/#comments Mon, 05 Dec 2016 11:02:32 +0000 http://www.desantara.or.id/?p=7768

Ketika Desa Melawan Dengan Gembira

Penulis: Muhammad Azka Fahriza
Juru foto: Taufiq Murtadho

“Mestinya kita datang lebih pagi,” Taufiq Murtadho menggerutu, mengutuki saya yang bangun sedikit kesiangan. Saya hanya tersenyum datar sembari mengangkat bahu, mengamini rutukan kolega saya ini, lalu mengedarkan pandangan menyapu pelataran Kantor Kuwu Tegalgubug.

Suasananya lebih mirip bubaran pasar, pikir saya. Hanya adaseorang pemuda yang sibuk dengan wayang berbahan kardus bekas di atas pelepah pisang, sepasang muda-mudi dengan buku-buku dan majalah yang digelar sekedarnya di atas terpal, pemuda berpotongan emo  yang memanjat pagar Kantor Kuwu dengan lukisan besar  bergambar kacang tanah dan empat atau mungkin lima pemuda lain berbincang santai di samping angkringan yang terletak tepat di sisi kanan pendopo. Selebihnya hanya gitar dan violin dan seperangkat pelamtam suara tergeletak malas di atas pendopo yang nampaknya akan menjadi bakal panggung.

Enter a caption (optional). Select text to format it.

“Sepagian tadi kawan-kawan baru mengadakan bakti sosial dari kawan-kawan PMI, sekarang waktunya istirahat, dan setelah ini ada workshop melukis buat anak-anak.” kata Hasan Malawi, seperti mengetahui keresahan saya, lalu memperkenalkan saya beberapa pemuda yang datang menghampiri kami.

“Ini Bung Azka dan Bung Taufik. Datang jauh-jauh dari Jakarta mau meliput Kliwonan,”

Enter a caption (optional). Select text to format it.

Kami berdua hanya tersenyum. Tak lama kemudian, sekelompok anak berseragam Madrasah Ibtidaiyah menyerbu masuk pelataran.  Mereka menyerbu buku-buku, melihat wayang kardus dengan antusiasi, dan nampak kegirangan ketika melihat robot berbahan korek api bekas. Saya melihat jam di gawai. Pukul sebelas, jam anak SD pulang sekolah.

Kliwonan, Sebuah Pesta Rakyat

Hasan Malawi (23 tahun) adalah orang yang pertama kali menghubungi saya perihal Kliwonan ini. Mulanya, di telinga saya, nama ini terdengar lucu. Di kampung saya di daerah Mojokerto, juga di Jombang di mana saya menghabiskan sebagian masa remaja,  nama ini identik dengan sapi atau kambing. Ya, nama yang sama di dua daerah tersebut merujuk pada pasar hewan ternak yang menjadi hari peruntungan para blantik dan peternak lokal. Tapi, melalui pesan Whats App, ia memberi penjelasan lain:

Event seni dan budaya yang bergerak dari satu desa ke desa yang lain. Membangung kesadaran bagi masyarakat lewat seni dan budaya.

Pesan yang sama membuat saya dan Taufik Murtadho tertarik dan, setelah melalui rapat singkat, Desantara mengutus kami ke Cirebon pada 25 November 2016, sehari sebelum Kliwonan digelar di Desa Tegalgubug Kecamatan Arjawinangun Kabupaten Cirebon.

Enter a caption (optional). Select text to format i

“Kliwonan yang akan Bung datangi besok adalah Kliwonan keenam.” Ia menjelaskan dengan antusias ketika kami mulai mewawancarainya pada Jum’at malam di sanggar  Lajnah Kreativitas Pesantren, salah satu komunitas kesenian di lingkungan Pesantren Babakan Ciwaringin tempat ia tinggal. Komunitas yang sama, bersama beberapa komunitas lain di Cirebon adalah cikal bakal terbentuknya Kliwonan pada Juli 2016 silam.

Belum ada catatan resmi dari penyelenggara Kliwonan soal siapa saja komunitas yang mula-mula menyelenggarakan Kliwonan ini. Namun, dalam ingatan Hasan, selain Lajnah Kreativitas Pesantren, ada Sanggar Kesenian Sketsa Pribumi, Rumah Baca Dewantara, Pustaka Safinatunnajah, dan Grup Band Punk Rumput Laut. “Lupa nama-namanya,” jawabnya ketika saya tanya nama-nama lain.

Melihat daftar nama-nama tersebut, kita akan segera tahu jika Kliwonan memang demikian berwarna. Kita bahkan bisa melihat itu dari penampakan luarnya. Hasan, contohnya, siang itu mengenakan peci hitam identitas kamu santri Cirebon pada umumnya. Ia nampak luwes berbincang dan bercanda dengan sedulur Kliwonan, demikian mereka menyebut diri mereka, lain yang bertato dan beranting, berpotongan emo, dan memakai udeng cirebonan. Mereka pun nampak terbiasa dan akrab ketika ada perempuan berjilbab datang menanyakan keperluan  apa yang kurang siang itu.

Keberagaman dalam Kliwonan sebenarnya sudah kental terasa ketika workshop melukis botol bekas dihelat oleh komunitas Rumah Kolektif. Pemandangan pemuda gondrong memakai bando mengajari sekelompok anak kecil berjilbab, dan memakai sarung dan peci tentu akan membuat pegiat toleransi di kota-kota besar malu mengingat tidak ada spanduk soal itu di sini. Begitupun dari jenis-jenis, hingga setting kegiatannya. Kita bisa mencatat secara garis besar kegiatan yang di mulai sejak pagi hingga dini hari ini: mulai dari donasi, bakti sosial, perpustakaan, workhshop pemanfaatan barang bekas, fundrising melalui jualan kopi dan kudapan, pentas kesenian–hampir seluruhnya ada dan diperlukan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Cirebon. Dalam bahasa Hasan, Kliwonan memang diciptakan sebagai cermin keseharian dan kondisi dan problematika masyarakat Cirebon. Dengan kata lain, Kliwonan adalah gambaran apa adanya dari rakyat Cirebon itu sendiri–pendeknya pesta rakyat. Sepintas sulit memahami penjelasan itu. Namun, ketika matahari mulai bergegas pergi, apa yang dijelaskan Hasan di atas pelan-pelan terjawab sendiri.

Semakin petang, Kliwonan semakin ramai. Lagu bahasa Cirebonan yang dibawakan Kang Yusuf Baridin, seorang aktor lokal kenamaan, seperti memanggil datang warga Tegalgubug. Petikan gitar dan gesekan violin nan syahdu dari musisi pengiringnya seperti menyambut mereka. Jika pada mulanya pelataran Kantor Kuwu hanya dipenuhi oleh keriangan anak-anak yang sedang melukis dan membaca buku, kini muda-mudi, dan para orang tua mulai berdatangan. Pun demikian pedagang asongan yang mulai menata diri di pinggir jalan.

Bakda Maghrib, acara inti Kliwonan segera dimulai. Mereka menyebut sesi ini tumpengan. Setelah dibuka dengan Indonesia Raya dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dibawakan oleh anak-anak Tegalgubug dan tawassul yang dipimpin oleh Gus Arsyad Muhammad, putra dari salah satu kiai kharismatik Cirebon, wajah Kliwonan sebagai pesta rakyat benar-benar muncul. Beragam ekspresi kesenian ditampilkan di sepanjang malam itu: dari mulai musik akustik, hadrah, salawatan, drama, musik punk, hip-hop, stand-up comedy, pembacaan puisi, musikalisasi puisi, karinding, tari jaipong, sampai tari topeng. Semakin malam, penonton yang mulanya berjumlah puluhan berlipat ganda menjadi ratusan. Keriuhan yang kian meningkat seolah tak terpengaruh meski hujan turun dua kali di sepanjang malam itu.

Tak Sekedar Bergembira, Tak Sekedar Bersenang-senang 

“Tegalgubug adalah daerah santri. Di sini, terdapat puluhan pesantren dan mayoritas penduduknya mengenyam pendidikan pesantren” Rifqil Asyiq(30 tahun), pemuda Tegalgubug, menjelaskan kepada saya mengapa suasana di desa ini, sebagaimana Babakan, begitu islami. Ia, bersama Hasan Malawi, adalah salah satu tokoh pendiri Kliwonan yang mewakili kalangan pesantren.

Santri adalah identitas terkuat bagi Cirebon. Terdapat entah berapa ratus, bisa jadi menyentuh nominal ribuan, pesantren tersebar di wilayah ini. Tempat yang sama juga menyumbang banyak kronik perkembangan Islam Nusantara baik melalui bentang geografisnya atau tokoh-tokohnya. Meski demikian, secara faktual tidak hanya kebudayaan santri yang hidup di wilayah ini. Diversitas kebudayaan di wilayah ini cukup beragam, dan ini bukannya tidak menyimpan masalah. Pengalaman menyelenggarakan Kliwonan di Desa Tegalgubug barangkali bisa menggambarkan ketegangan itu.

Kepada saya Rifqil bercerita bahwa mulanya ide membuat Kliwonan di desanya mendapatkan beberapa penentangan. Di antara para penentang itu adalah kiai setempat. Penjelasan paling masuk akal dari penentang tersebut, sebagaimana dijelaskan Rifqil, adalah kurangnya interaksi masyarakat Tegalgubug dengan kebudayaan non santri. Beruntungnya, Rifqil adalah cucu dari salah satu tokoh keagamaan kharismatik setempat sehingga ia bisa menjelaskan Kliwonan secara baik kepada para tetua, juga warga.

“Ini adalah pertama kalinya ada pemenatasan musik  di desa ini,” kata Rifqil.

Apa yang terjadi di Tegalgubug adalah salah satu tujuan dari Kliwonan: mendekatkan masyarakat dengan realitas kebudayaan kiwari. Dalam bahasa Rifqil, salah satu fungsi Kliwonan adalah “mendekatkan basis nahdliyyin kepada santri.” Istilah nahdliyyin di sana mengacu pada kultur keislaman masyarakat rural Cirebon secara umum yang tidak dididik melalui institusi pesantren.

Hal lain yang tak kalah penting dari Kliwonan adalah tujuannya untuk mengembalikan seni ke tangan pemiliknya: rakyat. Perkara ini sempat disinggung oleh Hasan malam sebelumnya. Menurut Hasan, kelahiran Kliwonan tidak bisa dilepaskan dari keresahan bersama bahwa “seni dan budaya di Cirebon masih diakomodir oleh kalangan-kalangan yang menjadikan seni dan budaya sebagai etalase.” Sedulur Kliwonan ingin mengubah paradigma itu.

Apa yang dikerjakan oleh para pemuda dalam Kliwonan ini, meski tidak bisa kita anggap memenuhi rumusan 1-5-1 a la Lekra (politik sebagai panglima, meluas dan meninggi, tinggi mutu ideologi dan artistik, tradisi baik dan kekinian revolusioner, kreativitas individual dan kreativitas massa, realisme sosial dan romantik revolusioner, dan turun ke bawah [turba]), bisa dikatakan perwujudan ideal dari apa yang selama ini kita pahami tentang seni untuk rakyat–setidaknya untuk konteks hari ini. Dari detil yang paling kecil, apa yang ada di dalam Kliwonan diusahakan secara kolektif. Dari mulai desain acara, tata panggung, penentuan para penampil, sampai pendanaan. Kreativitas massa, dalam bahasa Lekra, ini  hadir untuk menopang kreativitas individual; para penampil itu sendiri.

Kolektifitas, dalam beberapa derajat, adalah sinonim dari Kliwonan. Dan ini dibangun dengan sadar oleh sedulur Kliwonan untuk membangun satu hal yang sangat politis: kesadaran masyarakat desa akan desanya. Uniknya, proses penyadaran kesadaran ini terasa hadir secara alamiah. Aroma perjuangan masyarakat desa yang ingin melihat desanya berdikari nampak di sana sini. Dari mulai lukisan bertema desa dan cinta tanah air, wayang kardus yang berkisah soal pola penghisapan masyarakat desa, sampai muatan kesenian yang ditampilkan.

Banyak kesenian yang ditampilkan malam itu berkisah soal desa dengan segala problematikanya. Ada drama yang memotret bahaya budaya konsumeris pada remaja desa juga puisi-puisi soal harga diri dan perlawanan (salah satu puisi yang dibaca adalah puisi “peringatan” karya Widji Tukul). Lagu “Desa” karya Iwan Fals dinyanyikan sebanyak dua kali malam itu. Yang istimewa malam itu, ada aksi solidaritas untuk para petani Sukamulya yang menjadi korban kekerasan akibat rencana pembangunan Bandara Udara Internasional Kertajati di Majalengka.

Tentu saja tidak semua ragam kesenian berkisah soal desa dan segala problematikanya malam itu. Ada tema-tema cinta ikut memeriahkan malam itu. Tetapi, bagi saya, mendengar ratusan orang menyanyikan bersama-sama lagu “desa” milik Iwan Fals sudah cukup membuat bulu kuduk berdiri. Terbayang di kepala serangkaian kisah bahagia bagaimana jika semangat sebesar itu mengejawantah dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana jika dari gelaran kebudayaan ini benar-benar menggerakkan rakyat di pedesaan untuk mengembalikan kedaulatannya atas tanah, bibit, pupuk, dan sarana produksi lainnya.

Hal senada rupanya juga menjadi optimisme yang mengeram dalam benak Kang Oji (25 tahun), pentolan kelompok musik Punk Rumput Laut, yang juga penggagas awal Kliwonan. Ia tidak bisa menutupi kebahagiaannya ketika saya tanyai perihal progress Kliwonan. Kliwonan menurut dia semakin diterima oleh masyarakat Cirebon. Semakin ke sini, antusiasme masyarakat di tiap desa makin meningkat. “Ini baru desa keenam,” katanya “bisa dibayangkan kalau kita bisa menggelar kliwonan di 424 desa.” Jumlah tersebut adalah jumlah seluruh desa di Kabupaten Cirebon.

Melihat dan mendengar optimisme sebesar itu, siapapun boleh melemparkan cibiran sepesimistis apapun. Hanya saja, bagi saya, Si Tuan Pesimis kemungkinan besar keliru. Mereka, anak-anak muda sedulur Kliwonan ini, bukan sedang mengusahakan kedaulatan desanya tanpa hati-hati. Muda-mudi serius ini nampak sadar benar, bahwa mengusahakan perubahan tak cukup bermodal jargon belaka. Perlu ada evaluasi dan koreksi berulang kali. Dan memang itulah yang sedang mereka lakukan kini, tanpa lelah (setidaknya sampai hari ini), penuh semangat–sesemangat teriakan salam mereka, “lahir bersama, tumbuh bersama”, yang entah malam itu terpekik berapa kali.

]]>
http://www.desantara.or.id/2016/12/ketika-desa-melawan-dengan-gembira/feed/ 0
Workshop Cinematic Trailer (Minggu, 6 November 2016) http://www.desantara.or.id/2016/11/workshop-cinematic-trailer-minggu-6-november-2016/ http://www.desantara.or.id/2016/11/workshop-cinematic-trailer-minggu-6-november-2016/#comments Sun, 06 Nov 2016 13:31:22 +0000 http://www.desantara.or.id/?p=7238
workshop-kedua
workshop ke 3

Kawan Desantara, peminat dan pegiat animasi Indonesia di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya,

Desantara Foundation kembali mengadakan kegiatan workshop animasi edisi bulan November 2016.  Materi workshop kali ini adalah Membuat Cinematic Trailer (Workshop Full day hari Minggu, 6 November 2016 jam: 9am-5pm), dengan biaya 200 ribu. Setiap peserta akan mendapatkan sertifikat, lunch & snack, selain juga materi yang mudah diikuti oleh pemateri yang ramah dan baik hati. :)

Silakan mengisi formulir pendaftaran online http://bit.ly/MembuatTrailer

Lokasi Desantara Foundation http://bit.ly/DesantaraMap

Terimakasih.

Animasi untuk Indonesia!

Narahubung: Yusuf Efendi0812 8775 2371 (whatsapp)

]]>
http://www.desantara.or.id/2016/11/workshop-cinematic-trailer-minggu-6-november-2016/feed/ 0
Animasi dan Gelak Tawa di Code Margonda http://www.desantara.or.id/2016/10/animasi-dan-gelak-tawa-di-code-margonda/ http://www.desantara.or.id/2016/10/animasi-dan-gelak-tawa-di-code-margonda/#comments Fri, 07 Oct 2016 05:59:28 +0000 http://www.desantara.or.id/?p=6879

Ada keraguan muncul dalam benak saya ketika pertama kali Pak Yusuf Efendi mengajukan satu nama: Code Margonda. Insya Allah kita akan mengadakan pelatihan di sana Pak, tulisnya di grup WhatsApp Desantara Animation Academy (DAA) lantas membuat grup baru, memasukkan orang-orang yang dianggap akan membantu rencananya, termasuk beberapa pengurus tempat tersebut. Dengan kecintaan pada animasi serupa sahabat dekat, manajer DAA itu memang selalu antusias dan yakin dengan setiap usulan yang dibuatnya. Dan tidak ada alasan memang untuk meragukan usulan itu sebenarnya, kecuali bahwa sejak pertama kali kami mengadakan tur beberapa sekolah untuk menawarkan kelas animasi kami belum mendapatkan respon yang sepadan.

Ini sama sekali bukan tentang penyesalan. Sebagaimana Pak Yusuf, kami di team DAA masih bersemangat, dan memiliki keyakinan bahwa ide mempopulerkan animasi dengan perspektif ke-Indonesia-an—satu hal yang kami tawarkan—pada akhirnya akan mendapat respon yang bagus dari masyarakat. Namun, masalahnya adalah tempat seperti apakah Code Margonda sehingga antusiasme masyarakat, khususnya pelajar akan lebih banyak di sana ketimbang sekolah-sekolah yang telah kita datangi dan belum memberikan respon itu?

Code Margonda adalah co-working space, ruang kerja bersama. Demikian keterangan sekilas yang saya dapatkan baik dari Pak Yusuf maupun laman peramban Google. Tidak peduli dia pernah diulas oleh majalah teknologi daring terkemuka techniasia.com sebagai satu di antara empat belas co-working free space terkeren di Indonesia. Hei!! Ini Indonesia, negara yang masyarakatnya kurang memiliki antusiasme pada hal-hal berbau kekinian macam itu. Apalagi, ia berada di Depok dan bukan Jakarta. Dalam bayangan saya, tempat itu adalah tempat yang kurang lebih sama dengan balai desa, bedanya dikelola oleh anak-anak muda. Pada akhirnya saya mesti menelan semua asumsi saya itu. Beberapa hari kemudian, tepat pada tanggal 1 Oktober, situasinya demikian berbeda. Antusiasme para anggota di grup yang khusus dibuat oleh Pak Yusuf untuk acara ini bukan isapan jempol semata. Lebih dari 30 peserta datang untuk mengikuti workshop ini, dengan peserta yang berusia anak-anak diantar oleh orang tuanya.

20161001_173258_hdr
Suasana Workshop di Code Margonda pada 1 Oktober 2016

Banyaknya anak-anak sore itu membuat suasana workshop lebih mirip piknik keluarga. Wajah-wajah letih yang datang bersama kebingungan mencari alamat Code Margonda beberapa saat sebelumya seperti tertelan begitu saja begitu memasuki ruangan berukuran studio itu. Anak-anak bertemu anak-anak, begitupun orang tua, bersua laiknya sahabat lama, melepas rindu dan tawa, berbagi keriangan.

Tetapi yang gembira dengan pertemuan sore itu bukan hanya kami, anak-anak dan orang tua. Richard Wan Kum Wah, penulis lagu dan produser musik dari Singapura, melalui rekaman video mengucapkan selamat datang kepada peserta. Pak Richard adalah kolega Pak Yusuf. Ia adalah orang dibalik polulernya video pengajaran anak-anak Singapura, We Love Billingualism Too, yang dibuat oleh Pak Yusuf Efendi bersama tim yang kemudian mengajak Desantara mendirikan Desantara Animation Academy. Belakangan kartun ini tak hanya populer di Singapura, namun juga di Jepang dan Australia.

Dalam kesempatan itu Pak Richard tampak antusias. Sembari menceritakan sejarah singkat  We Love Billingualism, ia seperti menunggu anak-anak DAA untuk bekerja bersamanya. “Dalam waktu dekat, saya akan lebih banyak lagi membuat animasi. Jangan ke mana-mana.” katanya dalam Inggris beraksen Singlish.

Richard Menyampaikan Ucapan Selamat Datang

Sore itu, peserta mempelajari tujuh prinsip dasar animasi, pengenalan perangkat lunak pembuatan animasi open source , Blender, dan teknik dasar membuata animasi seperti modeling dan texturing. Tidak mudah tentu saja mempelajari hal baru, apalagi ilmu pembuatan animasi, sebagaimana sering dikatakan Pak Yusuf, “gampang-gampang susah.” Ia akan menjadi mudah apabila dilakukan dengan penuh kesabaran dan tentu saja cinta. Pun demikian, seluruh peserta terlihat rileks mempelajari semua materi yang diajarkan. Sebagai seseorang yang pernah ikut belajar membuat animasi dan menyerah di tengah jalan, saya tentu saja senang sekaligus keheranan. Barangkali contoh-contoh animasi nan ciamik yang dibuat dengan Blender yang diputar sore itu memang sukses menginspirasi peserta. Barangkali kecintaan pada animasi, pada kebanyakan orang, memang bisa membuat seseorang tabah mempelajai teknik pembuatannya.

img-20161002-wa0001
Dua peserta cilik berpose bersama ibunya

Entahlah, yang jelas sore itu adalah sore yang berakhir membahagiakan. Pemenang door prize diumumkan. Ada enam orang yang mendapatkan voucher workshop sehari (8 jam) yang rencananya akan digelar pada 15 Oktober di Kantor Desantara. Pada saat yang sama pula antusiasme peserta yang tumpah-tumpah sore itu sukses diawetkan. Ya, di penghujung acara semua yang hadir sepakat membentuk satu komunitas animasi bernama AnimaGrafis, dengan pusat kegiatan ada di dua tempat, ruang perpustakaan Desantara dan Code Margonda. Dan seolah ingin menjadi pelengkap kegembiraan, sore itu tim DAA dikontak salah satu guru sekolah alam yang beberapa waktu lalu kami datangi. “Anak-anak di sini sudah tidak sabar ingin segera belajar animasi, Pak.” Di mata saya, pesan tertulis itu terlihat seperti senyum kepuasan dua orang anak yang meminta ibunya mengabadikan momen di depan mural di ruang workshop seolah tak rela untuk kehilangan semua kenangan manis mereka sore itu. Ah, senyum anak-anak memang tidak ada duanya.

]]>
http://www.desantara.or.id/2016/10/animasi-dan-gelak-tawa-di-code-margonda/feed/ 0
Uman Undrat: Idea Kebahagiaan dan Cara  Mengada Suku Dayak Kenyah Lepoq Jalan http://www.desantara.or.id/2016/05/uman-undrat-idea-kebahagiaan-dan-cara-mengada-suku-dayak-kenyah-lepoq-jalan/ http://www.desantara.or.id/2016/05/uman-undrat-idea-kebahagiaan-dan-cara-mengada-suku-dayak-kenyah-lepoq-jalan/#comments Mon, 30 May 2016 14:02:38 +0000 http://www.desantara.or.id/?p=6106

Oleh Muhammad Salim

I

Rinai hujan masih turun perlahan-lahan, sebagian menitis di sela-sela dedaunan, ketika para undangan mulai tampak dari gerbang desa. Mereka disambut oleh seluruh warga yang bersiap dengan pakaian terbaik. Sapei Sapaq, pakaian adat lelaki, beserta Mandau, dan Ta a, pakaian adat perempuan, menjadi dress code warga yang sudah dewasa—kecuali kami, rombongan Desantara yang datang bersama kolega Kemitraan dari Samarinda. Tidak ada aturan adat yang  mengharuskan tamu, sekalipun sudah dianggap seperti keluarga, memakai pakaian adat.

Penyambutan undangan  pagi itu itu, Sabtu 21 Mei 2016, adalah sekaligus prosesi pembukaan Uman Undrat, Pesta Panen. Setiap tahun, sekitar bulan Mei, Masyarakat Suku Dayak Kenyah Lepoq Jalan yang tinggal di Desa Lung Anai Kecamatan Loa Kulu Kabupaten Kutai Kartanegara menyelenggarakan Uman Undrat sebagai wujud syukur atas hasil panen yang melimpah.

Pada hari itu, segala kesedihan, kegelisahan seolah diharamkan. Seperti nampak dalam raut wajah seluruh warga. Hanya ada bahagia. Tak peduli langit yang masih muram sisa hujan deras semalaman. Betapapun sampai sekarang belum ada kabar kapan akan dibebaskan dua saudara sesuku mereka yang dipenjara karena kriminalisasi yang dilakukan oleh PT IHM dengan dalih membakar hutan. Betapapun hasil panen tahun ini tak begitu membahagiakan karena kemarau panjang yang mendera desa mereka. Uman Undrat adalah idea kebahagiaan. Ia mengajarkan  Suku Dayak Kenyah Lepoq Jalan untuk menyisakan setidaknya satu saja hari bahagia di tengah keterancaman mereka sebagai masyarakat marjinal, sebagaimana terjadi di setiap tempat di Indonesia.

Di luar itu semua, tentu saja, saya berdoa upacara ini akan langgeng, ada setiap tahun, tanpa kepura-puraan. Bahwa hasil panen akan senantiasa melimpah. Artinya, aktivitas bertani warga yang mensyaratkan pembakaran lahan tidak diharamkan. Dan awak media yang sebagian datang jauh-jauh dari ibu kota juga akan lega—mereka akan mendapat gambar bagus nan tulus.

Pagi itu, memang banyak awak media hadir, luring maupun daring, lokal maupun nasional. Asman Azis, Manajer Program Lamin Inklusif, yang memang memiliki ketelitian tinggi dalam mengingat semua kenangan hidup bahkan sampai bersumpah kepada saya, sambil berbisik, bahwa jumlah awak media kali ini lebih banyak dari tahun kemarin. Benar atau tidaknya tentu saja tidak penting. Yang jelas, kelestarian upacara adat semacam ini pantas dikabarkan sampai ke kutub utara.

II

Para tamu undangan telah berada di Lamin Adat. Mereka adalah orang-orang yang hampir selalu diundang setiap tahunnya. Meski demikian, raut tegang dan tidak sabar tetap tergurat di wajah mereka. Sejurus kemudian, ketegangan itu menemukan jawabannya: Menyelama Sakai dan Datun Julut.

Sekelompok pemudi berparas ayu dalam balutan Ta a berbanjar dua. Di tangan kanan dan kiri mereka membawa kipas dari bulu enggang. Dengan ritme yang teratur, mereka menari dengan gemulai, seolah ingin mempersilahkan kami para undangan untuk menganggap Lung Anai seperti rumah sendiri, sebagai keluarga, setidaknya sahabat dekat. Setidaknya bagi saya, tarian ini memberikan efek nyaman. Sudah tiga kali saya melihat tarian ini. Dan perasaan saya selalu sama. Ah, bukankah tidak ada yang lebih baik selain diakui orang lain sebagai keluarga?

1
Tari Menyelema Sakai (foto oleh Kasmani)

Menyelama Sakai, demikian nama tarian itu, kemudian disambung dengan Datun Julut. Kali ini yang tampil adalah warga yang lebih senior, ibu-ibu. Dengan pakaian dan atribut yang sama, kali ini mereka berbaris dua. Melakukan gerakan-gerakan yang lebih sederhana dari Menyelama Sakai. Meski demikian, tarian ini bukan tak memiliki aura magis. Ritme yang lebih lambat membawa ketenangan yang aneh. Ia seperti memancarkan kehati-hatian, seperti mengatakan kepada kami, “hei, jangan sampai kau lewatkan semua prosesi. Kami sudah mempersiapkan semuanya penuh presisi. Kecuali kau mau mati membawa sesal”

2
Datun Julut, tari bersama untuk menyambut tamu. (Foto oleh Kasmani)

Dua prosesi mengagumkan itu memang hanya pembukaan. Dan sebagaimana acara pembukaan, ia dipenuhi oleh sambutan, dan tentu saja doa keselamatan. Saya sempat berbincang-bincang dengan seorang kawan melihat Bang Asman Azis memberikan sambutan dalam acara itu, mewakili Desantara. Gesturnya kelihatan tak sabaran. Wajar. Karen pesta sesungguhnya memang baru akan kita lihat setelah keluar dari Lamin.

III

Puncak acara pesta panen ini adalah mecaq undrat, menumbuk padi. Acara ini dibuka dengan upacara pemotongan babi hutan. Babi terbaik yang diperoleh dari perburuan beberapa hari sebelumnya dikorbankan sebagai wujud syukur atas hasil panen yang melimpah. Babi diangkat oleh lima orang, lalu kepalanya dipancakkan pada dua galah yang ditata menjadi huruf x. Dengan khidmat Ismail Lahang, Kepala Adat Desa Lung Anai, kemudian menyembelih babi tersebut sambil membaca doa-doa.

13237640_1209418925765469_7147734158921081815_n
Potong Babi untuk persembahan sebagai wujud syukur atas keberhasilan panen. (foto oleh Kasmani)

Pemotongan babi sekaligus menandai dimulainya mecaq undrat. Sekelompok pemuda kemudian menggotong lesung ke dalam Lamin. Menatanya dalam satu barisan panjang. Menurut salah satu warga, prosesi ini adalah simbol kebersamaan dan kegotong royongan yang senantiasa terjaga dalam masyarakat Dayak Kenyah Lepoq Jalan, dan hadir dalam setiap generasi mereka. Hawa dingin seolah membikin para pemuda ini bersemangat. Saya yang diberi kehormatan mengikuti prosesi ini bisa merasakan keguyuban para pemuda. Peluh yang menetes di kening, tanda kehangatan tubuh, di tengah udara yang dingin seolah mengatakan bahwa kebersamaan akan mengusir segala halangan.

4
Lesung panjang digotong oleh para pemuda yang dibawa ke Lamin Adat. (Foto oleh Kasmani)

Setelah siap, lesung kemudian diisi beras. Ibu-ibu bersiap memukul lesung. Pemukul tawek, sejenis gong, bersiap di sisi kanan paling ujung.

Ini memang tak sekedar acara memukul lesung dan membuat tepung halus saja. Mecaq undrat sekaligus pertunjukan orkestra sederhana. Saya melihat beberapa tamu undangan sampai memejamkan mata mendengarkan harmoni yang unik namun menenangkan hasil dari kolaborasi tumbukan lesung dan iringan gong. Ibu-ibu begitu bersemangat, seperti ingin mengatakan bahwa di tangan mereka, akan dihasilkan tumbukan beras terbaik di dunia.

6
Beras ditumbuk beramai-ramai di lesung panjang, diiringi oleh suara tawek. (foto oleh Kasmani)

Betapapun baiknya tumbukan beras, tetap saja tak akan luput dari proses pengayakan. Dalam Uman Undrat, mengayak hasil beras tumbukan adalah prosesi nan merarik yang sayang untuk dilewatkan.

Ngulek, atau mengayak adalah prosesi yang juga sakral. Ia tidak bisa dikerjakan oleh sembarangan orang. Hanya perempuan yang paling senior yang diizinkan menjadi bagian dari prosesi ini. Ibu-ibu berpakaian putih bermotif bunga dengan penutup kepala ta a mengayak tumbukan beras dengan menggunakan ayakan tradisional uku Dayak. Ayakan ini terbuat dari bambu dan rotan.

7
Ibu-ibu melakukan prosesi Ngulek. (Foto oleh Kasmani)

Setelah tepung terhalus berhasil didapatkan, prosesi selanjutnya adalah yang paling dinanti: memasak Undrat Ao, makanan yang hanya akan dimakan setahun sekali oleh Masyarakat Suku Dayak Keyak Lepoq Jalan.  Ini adalah makanan yang lezat. Saya memakan makanan manis legit ini setahun yang lalu. Dan melihat tepung yang halus di depan mata sudah membuat perut saya memberontak.

Dengan cekatan, ibu-ibu mengolah bahan-bahan untuk memasak Undrat Ao. Tepung beras dicampur dengan gula dan parutan kelapa. Bambu yang sudah dipersiapkan sebelumnya oleh para pemuda kemudian diisi oleh bahan tersebut, disertai oleh satu bahan yang akan membuat kudapan ini berbeda dari makanna sejenisnya: daun nangka! Dua tahun lalu saya sempat merasa aneh dengan keberadaan daun nangka tersebut. Tapi ternyata pengetahuna saya soal kuliner terlalu ortodoks. Pada akhirnya hanyalah anak ingusan yang terkaget-terkaget mendapati daun nangka bisa mengubah rasa kue, demikian berbeda dengan rasa kue serupa Undat Ao yang pernah saya cicipi entah di mana.

Tapi bisa jadi saya keliru. Yang membuat undrat ao berbeda barangkali justru cara memasaknya. Buat saya yang terlalu lama tinggal di kota seperti Samarinda, cara memasak ini tentu membuat saya kegirangan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Mokh. Sobirin, Direktur Desantara dan kawan-kawan Kemitraan yang datang jauh-jauh dari Jakarta. Barangkali mereka ingin loncat-loncat.

Bayangkan, sekian waktu tinggal di kota besar yang menuntut kecepatan dan efisiensi, kita kemudian melihat cara memasak nan purba: dibakar, namun anehnya menghasilkan rasa yang istimewa.

Bambu-bambu yang sudah berisi adonan tepung ditata dalam dua baris seperti pagar kebun di pekarangan rumah orang tua. Di tengah-tengah kemudian kayu yang sudah ditumpuk rapi dibakar. Pesak undrat, demikian nama prosesi ini kemudian dilakukan. Para pemuda dengan cekatan membolak-balik bambu yang tengah dijilati oleh bara dan api. Tak menunggu waktu lama, wangi kue tradisional itu menguar, mengatasi sangit asap pembakaran.

Tetamu yang menempati tempat khusus yang sudah disiapkan di sisi kiri tempat pembakaran nampak tidak sabar. Saya sendiri saking tidak kuatnya mengelus-elus perut sampai turun gelanggang, berbaur dengan para pemuda untuk ikut pasak undrati  dengan harapan bisa icip-icip.

memasak
Para pemuda membakar Undrat Ao. (Foto oleh Kasmani)

Tapi usaha saya sia-sia belaka. Haram mencicipi Undrat Ao yang masih dimasak. Saya seolah lupa pesan ini karena saking tergodanya.

Masyarakat Dayak kenyah Lepoq Jalan, sebagaimana Masyarakat Adat lain di Indonesia, adalah Masyarakat yang sangat menghormati leluhur. Makanan seistimewa undrat ao pertama-tama harus menjadi bagian leluhur.

Ya, undrat ao yang sudah masak kemudian ditata, dan dalam satu upacara dikirimkan ke peristirahatan leluhur.  Tujuan prosesi ini adalah membawa undrat yang dimasak untuk parah arwah yang tidak sempat menikmati hasil panennya bersama keluarga dan masyarakat tahun ini.

Setelah prosesi itu, bagian terakhir adalah uman undrat. Bagi saya, ini adalah yang teristimewa. Apalagi kalau bukan Uman Undrat! Ini adalah acara puncak. Syukuran. Para tamu undangan makan-makan. Undrat ao yang mengepul-ngepul dihidangkan di depan mata. Aih betapa riangnya.

IV

Hari menjelang sore  ketika Uman Undrat selesai dilakukan. Namun acara baru akan selesai. Tari Udoq Kitaq dan Udoq Kiba menjadi penutup acara ini. Tarian ini bertujuan untuk mengusir hama-hama yang mengganggu tanaman-tanaman, dan mengusir roh-roh jahat yang mengganggu ketentraman warga. Para penari, begitu juga warga lainnya, masih sangat bersemangat. Mereka sepertinya masih mampu beraktifitas andai perayaan masih akan berlangsung tujuh hari tujuh malam lagi. Sementara tamu undangan tampak kelelahan, mungkin karena kekenyangan menyantap Undrat Ao. Saya sendiri sudah beberapa kali menguap. Saya selalu mengantuk setiap habis makan. Tapi tentu kantuk ini akan berlalu seiring Undrat Ao yang sudah tuntas diproses usus. Yang tidak boleh berlalu dan tuntas adalah keriangan warga Dayak Kenyah Lepoq Jalan. Budaya mereka yang luhur ini harus bisa bertahan sampai kapanpun, tak peduli zaman berubah menjadi apa. Betapapun, budaya adalah cara mengada mereka sebagai kelompok masyarkat yang memiliki hak hidup sama, sebagaimana para korporat yang senantiasa mengancam mereka dengan berbagai cara.

]]>
http://www.desantara.or.id/2016/05/uman-undrat-idea-kebahagiaan-dan-cara-mengada-suku-dayak-kenyah-lepoq-jalan/feed/ 0
Buruh Menuliskan Perlawanannya: Usaha Buruh Melawan melalui Pena http://www.desantara.or.id/2016/05/buruh-menuliskan-perlawanannya-usaha-buruh-melawan-melalui-pena/ http://www.desantara.or.id/2016/05/buruh-menuliskan-perlawanannya-usaha-buruh-melawan-melalui-pena/#comments Sat, 07 May 2016 23:10:28 +0000 http://www.desantara.or.id/?p=5839

Judul                             : Buruh Menuliskan Perlawanannya
Penulis                         : Agus Japar Sidik, Atip Kusnadi, Budiman, Dayat Hidayat, Gito Margono, Hermawan, Lami,    Fresly Manulang, Salsabila, Nuzulun Ni’mah, Sri Jumiati, Sugiyono, Supartono, Samsuri, Muryati.
Tebal Buku                  : 482 halaman
Cetakan Pertama          : 2015
ISBN                            : 987-620-99608-3-9
Penerbit                       : LIPS (Lembaga Informasi Perburuhan Sedane), Bogor.
Editor                           : Bambang Dahana, Syarif Arifin, Abu Mufakhir, Dina Septi, Azhar Irfansyah, Alfian Al-Ayubby Pelu.

 

Oleh: Roudlotul Choiriyah

“Lupakan semua teori menulis, dan bersegeralah menulis sesuai dengan kemampuan. Kalau memang memang harus mengumpulkan status facebookpun bisa dilakukan. Nanti, buruh yang bersangkutan dapat mengembangkannya”
(Syarif Arifin)

 

Sejarah mencatat, sejak pertengahan tahun 2000-an secara berangsur-angsur banyak orang mulai tersadar bahwa menjadi buruh murah tanpa kepastian kerja adalah sesuatu yang menjengkelkan. Sejak saat itu, banyak buruh yang marah terhadap kebijakan upah murah (warisan orde baru) dan pasar tenaga kerja fleksibel.Ada yang marah sejak awal, ada pula buruh baru menyadari pentingnya melakukan perlawanan terhadap tindak sewenang-wenang dari majikan dan ketidakpedulian Dinas Tenaga Kerja.

Buruh Menuliskan Perlawanannya adalah satu bagian rekaman dari perlawananan itu. Buku ini sekaligus membuktikan bahwa perjuangan memperjuangkan hak buruh melalui pena bukan hanya milik para jurnalis dan akademisi. Buruh mampu merangkai sendiri kata-kata dan menjadikan tulisannya itu sebagai alat perjuangan melawan kaum kapitalis.

Buku ini memuat tulisan dari 15 buruh Indonesia.Mereka menceritakan bagaimana kehidupan harian sebagai penggiat serikat buruh, pengalaman ketika bekerja, kerumitan di dalam keluarga, dan bagaimana kegelisahan melawan kapitalis dan negara yang menindas mereka.Mereka semua datang dari beragam latar belakang dan memiliki pengalaman organisasi yang tidak seragam. Lima di antara mereka adalah perempuan (Lami, Nuzulun Ni’mah, Muryanti, Sri Jumiati, Salsabila—nama samaran). Tiap penulis memiliki titik-berat yang berbeda di dalam tulisannya. Kiranya dapat disimpulkan bahwa tiap penulis memiliki perhatian yang beragam berdasar latar belakang dan pengalamannya masing-masing. Namun satu hal perlu digarisbawahi: kebanyakan buruh tersebut baru sadar akan hak-haknya yang telah dirampas oleh kapital industri setelah masuk serikat buruh.

Dalam salah satu tulisan di dalam buku ini mengulas tentang bagaimana buruh terlibat dalam gerakan grebek pabrik.Dalam gerakan ini, buruh mengaku bahwa dia pada awalnya tidak mengetahui bahwa gerakan itu adalah gerakan grebek pabrik yang membuat asosiasi pengusaha marah. Namun, ketika buruh terlibat dalam diskusi (pasca grebek pabrik) dan memahami makna grebek pabrik di dalam serikat, baru dia sadar kalau itu adalah tindakan melawan ketidakadilan. Dari gerakan-aksi massa ini buruh belajar kalau kapitalis bisa dilawan. Jadi, kesadaran buruh muncul dari pengalamannya melakukan aksi massa. Di dalam buku ini juga diceritakan bagaimana buruh bersiasat dengan upahnya yang murah.

Penulisan buku ini dibagi menjadi 4 kategori.

Pertama, menceritakan tentang kehidupan penulis sebelum menjadi buruh sampai menjadi pengurus serikat buruh.Melalui tulisan tersebut,penulis mendeskripsikan perjalanan hidupnya yang sejak remaja telah merantau ke kota-kota industri seperti Bekasi, Karawang, Tangerang, Jakarta, dan Surabaya dengan harapan ingin memperbaiki nasibnya.

Kedua, menceritakan tentang generasi buruh yang dirampas masa mudanya oleh pabrikdan dihancurkan masa depannya oleh sistem outsourcing. Mereka dipekerjakan sebagai buruh tidak tetap yang hak-haknya dilucuti.

Ketiga, buku ini mengisahkan tentang kekerasan fisik yang pernah mereka terima dari para preman pabrik.Disana penulis juga memaparkan bagaimana buruh dikepung oleh banyak kebijakan yang membuat hak mereka dirampas oleh berbagai pihak, baik mandor maupun HRD. Mereka hanya paham cara menghitung jam kerja, upah dan produksi. Tapi tidak paham cara mengukur derajat kelelahan dan tekanan batin yang dirasakan para buruh.

Terakhir, kesadaran penulis melihat realitas ketidakadilan akibat ketidaktahuan mereka tentang regulasi dan kecurangan kapitalis. Hampir semua penulis awalnya terpaksa untuk ikut berserikat.Namun karena adanya kegelisahan dalam memperjuangkan keadilan mereka memilih berserikat. Apalagi kebanyakan mereka sudah berkeluarga. Belum lagi momok ancaman PHK yang bisa datang kapan saja. Penulis juga menceritakan bagaimana sebuah serikat mengalami kekacauan akibat korupsi oleh pimpinan serikat, diperdaya perusahaan, adapula yang dimanfaatkan oleh LSM lain.

Pembagian buku menjadi empat kategori di atas membantu kita memahami realitas sehari-hari yang dihadapi oleh buruh. Pengetahuan tentang problem riil buruh adalah pengetahuan yang sulit untuk didapatkan, bahkan oleh buruh sendiri (apalagi kita yang berjarak). Dan atas alasan itu, barangkali, buku ini diterbitkan. Ia diharapkan bsa menjadi lesson learn bagi buruh lainnya untuk lebih peka terhadap nasib buruk yang menimpanya, lalu kamudian menuliskannya, menjadikannya sebagai alat perlawanan.

Penulis adalah adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga, pegiat Persma Retorika

]]>
http://www.desantara.or.id/2016/05/buruh-menuliskan-perlawanannya-usaha-buruh-melawan-melalui-pena/feed/ 0
Sukinah: Perjuangan Kami Masih Panjang, dan Itu Menguji Kesabaran http://www.desantara.or.id/2016/05/sukinah-perjuangan-kami-masih-panjang-dan-itu-menguji-kesabaran/ http://www.desantara.or.id/2016/05/sukinah-perjuangan-kami-masih-panjang-dan-itu-menguji-kesabaran/#comments Thu, 05 May 2016 06:01:44 +0000 http://www.desantara.or.id/?p=5803
sukinah
Ilustrasi oleh Toni Malakian

 

Catatan Pewawancara:

Mulanya saya berpikir kalau naskah ini sudah tidak layak tayang dan berniat membuang atau menyimpannya, entah untuk apa. Wawancara in saya lakukan hampir tiga minggu yang lalu pada Selasa 14 April 2016,  hari pertama aksi pengecoran ibu-ibu yang oleh media disebut Kartini Kendeng. Ke mana saja saya selama itu dan apa saja yang saya lakukan sehingga naskah ini terbengkalai? Jawaban pertanyaan itu saya yakin tidak akan menarik bagi pembaca. Yang jelas itu semua buah dari keteledoran dan kemalasan saya sebagai penulis partikelir sehingga membuat naskah ini kadaluarsa, setidaknya menurut saya.

Namun saya diingatkan oleh Mokh. Sobirin, direktur saya, bahwa naskah ini harus tetap terbit, apapun alasannya. Waktu itu, saya bertanya-tanya, dengan alasan apa ia mengambil keputusan itu? “Pemaksaan” semacam itu jarang, atau malah tidak pernah, ia lakukan pada saya sebelumnya. Yang jelas, titah yang ia berikan kepada saya cukup membuat saya masyghul, dan pada akhirnya terpaksa memelototi kata demi kata hasil wawancara saya dengan salah satu manusia yang saya anggap terkuat di Indonesia saat ini. Setelah saya ulangi beberapa kali, pikiran dan hati saya yang mungkin sedikit bebal karena belakangan saya khilaf mencintai seseorang dengan agak membabi-buta pada akhirnya paham kenapa lelaki muda yang bertahun-tahun melakukan riset lapangan di Pegunungan Kendeng itu “memaksa” saya. Semangat perjuangan melawan ketidakadilan tidak akan pernah  kadaluarsa. (Lagipula, bukankah sejak awal saya memaksudkan wawancara ini bukan hanya untuk menanyakan perihal pengecoran semen?) Demikianlah, kemudian saya merapikan naskah ini, dan pada akhirnya sampai ke hadapan Anda. Selamat Membaca.

******

Isya hampir tiba ketika saya menemui Sukinah di kantor LBH Jakarta. Proses evakuasinya bersama delapan ibu-ibu yang lain baru selesai dilakukan. Mereka diberi tempat duduk berjajar menghadap ke utara sejajar dengan pintu masuk depan gedung. Meja kayu seragam diletakkan di depan mereka untuk menaruh makanan. Ia berada di ujung barat dekat.

Mestinya malam itu menjadi malam paling menegangkan dan melelahkan dalam hidup Sukinah. Bersama dua belas orang lainnya, malam dua hari sebelumya, ia menempuh perjalanan nan tergesa dari tenda perjuangan tolak semen di Rembang dan esoknya, ketika bau bis antar provinsi masih belum hilang dari tubuhnya, ia sudah harus mempersiapkan diri untuk aksi nekat yang dimulai pada hari ketika saya menemuinya: mengecor kaki di depan Istana Negara untuk menyuarakan penolakan pabrik semen—aksi menggemparkan yang kemudian membawa saya bertemu dengannya di Jakarta. Malam itu juga kedua kakinya, juga delapan orang rekan seperjuangannya, digips. Pemasangan gips adalah saran dari Alexandra Herlina, dokter luar biasa yang datang jauh-jauh dari Surabaya untuk menemani mereka, yang kuatir dengan kesehatan mereka jika kaki telanjang mereka langsung ditimpa adonan semen. Tapi air muka perempuan paruh baya pemimpin aksi penolakan pendirian pabrik semen di desa Tegaldowo Kabupaten Rembang itu terlihat cerah dan penuh optimisme, seolah pengalaman kaki dicor adalah pengalaman biasa, seolah ia sanggup melakukan itu selama seribu tahun untuk memperjuangkan keadilan.

Beberapa saat setelah saya datang dan memperkenalkan diri, Dodo, salah seorang staff LBH membawa sepuluh bungkus soto ayam. Dua perempuan muda relawan yang lain sibuk menata mangkok dan sendok. Waktunya makan malam bagi ibu-ibu pejuang.

“Jadi Yu, saya wawancaranya setelah njenengan makan saja ya?”

Ia tersenyum, kemudian menjelaskan bahwa ia tetap bisa menjawab semua pertanyaan saya sambil makan. Saya membalas dengan senyum lega. Sulit rasanya menunda, meski hanya beberapa saat, pertanyaan-pertanyaan yang sudah sejak kemarin, ketika pertama kali saya mendengar rencana aksi ini, memenuhi kepala.

MAF: Mengapa Anda ibu-ibu ini harus menyemen kaki?

S: Saya ini merasa jengah dengan kehadiran semen. Mondar-mandir ke sana ke mari (untuk mencari keadilan) tidak ada respon. Hanya di iya-iyakan saja. Pemerintah provinsi sudah tidak peduli dengan keadaan Rembang. Jadi kami berpikir bagaimana cara untuk melawan, sementara ini bulan ibu kartini (23 April) yang dulu memperjuangkan kaum perempuan. Akhirnya kami menggunakan cara ini (menyemen kaki), karena kami pikir semen sudah membelenggu Indonesia. Bukankah kalau semen sudah membelenggu Indonesia kita tidak bisa melakukan apa-apa, pangan sulit, bukankah kita akan mati? Makanya, kami pikir itu satu-satunya jalan.

MAF: Jadi makna dari belenggu semen sebenarnya?

S: Disemen kan berarti dibelenggu. Kalau sudah disemen, bukan kehidupan yang akan kita dapatkan, tetapi kematian.

MAF: Bagaimana Anda bisa sampai pada kesimpulan itu?

S: Orang seperti saya ini berhubungan secara langsung dengan semen. Rumah saya dan tambang yang dibuat hanya berjarak 900 meter. Dan tapak pabrik dengan pemukiman desa saya, Tegaldowo, hanya berjarak 3 km. Pabrik hanya berjarak 3 km dari tambang tanah liat, sementara dengan batu kapur 900 m. Di sana sendiri sudah ada tambang galian C.

MAF: Membayangkan kaki disemen adalah mengerikan bagi kebanyakan orang, apakah Anda tidak merasakan rasa takut?

S: Ide menyemen kaki sempat kami diskusikan bersama dengan dulur-dulur (Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng). Apakah ini sudah tepat? Kami memikirkan keselamatan. Tapi kemudian saya yakin, selama diri kita yakin, ikhlas, maka Tuhan akan selalu bersama kita. Sejak saat itu tidak ada rasa khawatir kalau kaki saya disemen, tiba-tiba saya siap.

MAF: Sampai kapan ibu-ibu ini akan menyemen kaki

S: Ya sampai bertemu Jokowi. Semoga hari ini kita bisa bertemu Jokowi. Siapa yang tahu? Hati orang kan tidak bisa ditebak. Semoga dia tidak lupa dengan masyarakat. Yang memilih presiden kan masyarakat. Pada pemilu kemarin, orang-orang yang memilih jokowi adalah orang-orang yang hari ini menolak semen. Demikian juga di Pati.

MAF: Harapannya waktu itu?

S: Ya semoga semen ini tidak ada lagi ada di Jawa. Soalnya dampak kerusakan semen ini tidak hanya bagi Jawa. Rusaknya Jawa berarti juga rusaknya Indonesia. Di Jawa batu kapur diambi , di Kalimantan batu bara. Bukan hanya perut Jawa yang dikeruk, tetapi seluruh Indonesia. Jangan sampai semua menjadi korban.

MAF: Seandainya nanti ditemui Jokowi, apakah ibu-ibu juga akan mengadukan Ganjar (Gubernur Jawa Tengah)?

S: Kalau dia sudah ada yang mengurusi. Kami tidak akan mengadukan Ganjar.

MAF:Siapa yang akan mengurusi dia?

S: Entah alam entah siapa, yang jelas kami percaya jika kita peduli kepad ibu bumi, ibu bumi akan peduli dengan kita. Yang Membuat Hidup, melalui ibu bumi, entah dengan cara apa pasti akan membuat pengadilan. Entah melalui manusia, entah melalui apa, tapi kami yakin pembalasan itu pasti ada.

MAF: Bisa dikatakan ibu-ibu ini sudah putus asa dengan Ganjar?

S: Ya. Biarlah Ganjar begitu. Cara dia melepaskan Rembang ini lucu. Bagaimana ia bisa setega itu?

MAF: Masyarakat yang menolak semen juga mayoritas memilih Ganjar?

S: Iya, dan yang pro semen memilih Bibit. Nyatanya kemudian Ganjar melepas Rembang. Apa bedanya Rembang, Pati dan Grobogan. Jawa ini ibarat satu tubuh. Apabila dipukul kepalanya, ya semua bagiannya merasakan. Apa bedanya? Bisa-bisanya dia melepaskan Rembang. Saya kira dia begitu percaya diri melakukan itu karena Rembang sudah terlihat kalah. Tapi saya yakin, kekalahan itu tidak membuat saya, sedulur-sedulur mundur. Kalau dia (Ganjar) tidak bisa diberitahu oleh manusia, biar alam saja yang menegurkan. Biar, nanti kita bisa melihatnya.

MAF: Mayoritas ibu-ibu Rembang adalah nahdliyyin, ibu-ibu muslimat, apakah harapan ibu-ibu pada PBNU setelah KH Mustofa Bisyri beberapa hari lalu menemui ibu-ibu?

S: PBNU pusat kan sudah mengeluarkan statemen kalau Rembang ini harus diselamatkan. Mbah Mus (KH Mustofa Bisri) juga menyatakan hal yang sama. Tapi kan tidak semua kyai Rembang begitu.

MAF: Jadi ada kyai yang memusuhi ibu-ibu tolak semen?

S: Terutama kyai kampung Mas. Kadang-kadang saya juga bingung, Quran kan diturunkan di Gunung, kenapa ketika sekarang ada gunung yang terancam, mereka diam semua. Kalau saya kan mengajinya bukan aif lam, tapi saya memikirkan alam ini siapa yang membuat. Saya mengambil hakikatnya. Tapi bukankah mereka juga tahu bahwa bumi kalau dikeruk juga akan rusak. Saya sendiri bingung, sebenarnya ada apa dengan Rembang ini?

Kalau saya dan dulur-dulur Kendeng ini kan tidak cuma memikirkan perut kami sekeluarga saja. Kami memikirkan masa depan anak cucu. Jangan sampai kami dilaknat oleh bumi. Kita semua berasal dari bumi, dari tanah, kenapa kita kemudia tidak peduli pada tanah. Jangan sampai bumi mengamuk. Kalau sampai bumi mengamuk, ya kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, wong kita sendiri yang tidak bisa menyatu dengan alam, bukan alam yang tidak mau menyatu dengan kita.

MAF: Tapi apakah setelah kunjungan Gus Mus ke tenda ada perubahan sikap dari kyai-kyai, yang awalnya menolak perjuangan ibu-ibu apakah kemudian mendukung?

S: Sepertinya sama saja. Entah mereka belum terbuka hatinya atau bagaimana. Tapi kedatangan Mbah Mus ke tenda sudah membuat ibu-ibu semangat. Apalagi beliau menyatakan kalau pengerukan gunung itu merusak alam.

MAF: Bisa dijelaskan seperti apa tekanan-tekanan yang dilancarkan kyai-kyai yang tidak suka dengan aksi ibu-ibu?

S: Entah mendapat kabar dari mana, ada kyai yang mengatakan semen itu menyejahterakan masyarakat. Jadi mereka mendukung semen karena menganggap itu benar. Padalah tidak pernah semen menyejahterakan masyarakat. Mayoritas masyarakat petani. Di sana, petani bisa mendapat upah 80 sampau 70 ribu, bersih. Sudah mendapat uang rokok dan bensin. Kalau di pabrik, 60 ribu itu masih kotor, belum uang makan dan bensin. Jadi pertanian di Rembang itu sudah menyejahterakan. Di tegal dowo, padi itu dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jagung dijual untuk dibelikan sapi. Belum hasil dari rempah-rempah dan sayuran. Apakah itu bukan sejahtera? Sangat tidak bersyukur kepada Yang Maha Pencipta kalau kami menganggap itu tidak sejahtera. Air kami tidak beli. Bukankah kami kaya? Kalau kemudian ada semen, dan kami harus membeli semua kebutuhan, apakah itu disebut kaya? Belum nanti kemudia kami tidak akan saling mengenal dengan saudara. Tidak rukun. Saya pernah mengalami hal seperti itu di kota.

MAF: Anda pernah hidup di kota?

S: Ya. Hidup di Kalimantan juga pernah. Untuk bekerja. Suami saya kan tukang. Kami juga pernah tinggal di Jepara selama 7 tahun.

Di Desa, dengan tetangga kiri kanan apapun akan dibagi. Di desa juga, tiga bulan tanpa pekerjaan juga masih bisa makan karena masih ada gabah. Di tegalan masih ada tanaman.

MAF: Apakah hubungan antar warga mulai terganggu seiring dengan hadirnya semen?

S: Di desa kami ada tradisi syukuran setiap setelah panen. Mengirim doa bagi saudara yang sudah tiada. Lalu ada sedekah bumi. Dengan adanya pabrik, untuk bersilaturahmi saja akan susah, karena semuanya serba beli.

MAF: Dengan suara warga yang sekarang terpecah, antara mendukung dan menolak semen, apakah tradisi-tradisi di atas mulai terganggu?

S: Ya, semakin ke sini mereka yang mendukung semen makin menggampangkan tradisi. Awalnya tradisi membuat ambeng besar di setiap upacara sedekah bumi mulai dihilangkan. Tapi dulur-dulur yang menolak semen masih berusaha mempertahankannya. Alhamdulillah kami masih sadar soal pentingnya tradisi itu. Hal buruk yang juga muncul seiring rencana pembangunan pabrik adalah munculnya kafe-kafe. Pegawainya banyak anak-anak gadis yang cantik. Pabriknya belum ada saja sudah begitu. Ini kan akan merusak masa depan anak-anak kami. Kasihan anak-anak kami. Sudah kami didik dengan baik, tapi kemudian malah menjamur tempat-tempat seperti itu.

MAF: Kafe itu pemiliknya juga warga sendiri?

S: Iya, warga sendiri.

MAF: Pegawainya orang Tegaldowo juga?

S: Bukan, orang luar.

MAF: Ini kan ibu-ibu sudah lama sekali berada di tenda. Sejauh ini bagaimana keluarga? Yu Sukinah misalnya, yang biasanya bekerja bersama suami di sawah kan tidak bisa lagi.

S: Suami saya sendiri meyakinkan saya untuk terus berjuang. Lagipula, siapa lagi yang akan merasakan kerugiannya nanti kalau bukan kami sendiri? Alhamdulillah, sejak awal suami saya mendukung saya, ke manapun saya melangkah. Tanpa dukungan suami, saya juga akan sulit melangkah. Jadi sekarang suami saya mengambil alih peran saya: merawat sapi, pergi ke tegal. Anak saya kan sudah besar. Jadi dia juga ikut membantu. Saya pernah berbicara pada suami saya begini, “Sekarang sudah waktunya kita berjuang. Kita harus memikulnya, betapapun itu berat. Kita ini seumpama empat tiang rumah. Harus saling menguatkan, kalau tidak akan roboh. Memang sulit, tapi betapapun kita harus berusaha. Harus bisa saling memahami.”

MAF: Dua tahun tinggal di tenda, perubahan apa yang paling dirasakan? Bagaimana sejauh ini semangat ibu-ibu di sana?

S: Kalau semangat ibu-ibu tentu saja naik turun. Mendengar keputusan kalah di PTUN kemarin, semangat ibu-ibu langsung turun. Tapi setiap kali dalam kondisi seperti itu kami selalu saling mengingatkan, “kita ini jangan bergembira ketika menang, dan jangan susah ketika kalah.” Setelah saling mengingatkan seperti itu, semangat kami tumbuh lagi. Meskipun kalah, kami harus tetap semangat, karena PTUN bukan satu-satunya jalan. Perjuangan kami masih panjang. Kita boleh percaya pada hakim, tetapi kita harus lebih percaya pada hakim yang hakiki. Hakim yang kasat mata masih bisa disuap, tapi kalau Hakim Yang Membuat hakim tidak bisa. Dan dia yang menentukan keadilan itu. Semua itu memang menguji kesabaran.

MAF: Ini kan perkembangan kasus Rembang dibandingkan Pati kurang menyenangkan, dan ibu-ibu sudah dua tahun bertahan di tenda. Sampai kapan ibu-ibu akan berada di sana?

S: Sampai kapanpun ibu-ibu akan tetap bertahan. Karena betapapun sengsaranya keadaan ibu-ibu hari ini di tenda, akan lebih sengsara nanti kalau ada pabrik semen. Ganjar memang sudah melepas Rembang. Dia sendiri pernah datang ke tenda, dan bertanya kepada ibu-ibu, “ibu-ibu sudah baca Amdal?”Kan aneh kalau kami yang orang kampung dan tidak mengenyam pendidikan ini ditanyai Amdal. Membaca Amdal kan pekerjaan akademisi. Lha, kalau dia bertanya kepada saya, yang bodoh itu siapa. Dia juga pernah bilang, “kalau memang semen salah, gugat saja di PTUN.” Kalau saya memeang yakin semen salah. Karena wilayah Rembang sudah ditetapkan sebagai wilayah CAT (Cekungan Air Tanah). Air di sana banyak. Begitupun gua. Tapi kenapa malah dibiarkan? Kenapa pas kami gugat di PTUN kadaluarsa? Kalau memang kadaluarsa, kenapa ketika sidang sudah dilaksanakan 17-18 kali baru kadaluarsa? Jadi kalau saya dianggap percaya dengan hakim, saya tidak percaya. Tapi saya yakin suatu saat kemenangan itu ada. Kebenaran itu ada. Kemenangan bakal ada. Dan kejujuran akan terlihat.

MAF: Apa yang membuat ibu-ibu tetap bertahan?

S: Kenapa kita mesti tidak peduli dengan alam? Kita menanam jagung langsung tumbuh. Menanam padi satu las diberi satu sak. Kenapa kita tidak bertrima kasih pada bumi? Bisa makan kenyang, minum tidak beli. Saya seorang perempuan yang merawat anak dengan kasih sayang, tidak pernah mengeluh, tidak pernah bosan. Meskipun anak rewel, anak nakal, saya tetap sabar. Ibu bumi pun demikian. Meskipun dirusak seperti apapun, ia tetap sabar. Mengamuknya nanti di akhir, ketika ia menangis, “Nduk, tolong aku.”Saya bisa merasakannya meskipun ibu bumi tidak bisa berbicara dengan manusia. Kalau saya peduli dengan ibu bumi, ia akan peduli pada saya. Kalau saya peduli dengan sesama, ibu bumi juga akan peduli pada saya. Sejak dulu saya tidak ada cita-cita jadi orang kaya, tapi saya ingin menjadi kaya hati. Kalau kaya hati kita akan mendapat banyak kawan, tapi kalau kaya harta, belum tentu.

MAF: Jadi sedulur-sedulur itu yang kemudian menguatkan ibu-ibu?

Iya, menambah semangat, menambah kekuatan kami. Ada saudara kami dari Purwodadi, dari Pati, jadi kami tambah semangat. Meskipun banyak rintangan, tapi saya yakin apabila kami kuat pasti kami menang. Entah menangnya melalui apa. Yang Maha Kuasa masih merahasiakan itu untuk menguji ibu-ibu Rembang supaya tetap sabar.

]]>
http://www.desantara.or.id/2016/05/sukinah-perjuangan-kami-masih-panjang-dan-itu-menguji-kesabaran/feed/ 0
Tak Sekedar Mandiri, Tak Sekedar Menunggu Mati http://www.desantara.or.id/2016/04/tak-sekedar-mandiri-tak-sekedar-menunggu-mati/ http://www.desantara.or.id/2016/04/tak-sekedar-mandiri-tak-sekedar-menunggu-mati/#comments Tue, 26 Apr 2016 21:28:04 +0000 http://www.desantara.or.id/?p=5674

(Catatan atas Rembug Prakarsa Jagongan Media Rakyat 2016)

Ada satu tema besar yang ingin diusung dalam Rembung Prakarsa Jagongan Media Rakyat 2016 pada Sabtu (23/04) kemarin di Jogja National Museum, yakni tentang bagaimana membangun komunitas yang mandiri. Tema itu selaras dengan tajuk seminar (menurut saya kata “seminar” lebih tepat dipakai untuk acara ini ketimbang “rembugan”), “Menjelajahi Inisiatif, Menganyam Kemandirian Komunitas ”—satu tema yang terdengar mudah dan sepele. Namun, seperti yang akan disampaikan keempat narasumbernya, kenyataan di lapangan justru mengatakan sebaliknya: kemandirian komunitas tidak pernah dicapai dengan mudah, bahkan komunitas yang kita anggap paling mandiri pun  senantiasa berdiri di tubir kejatuhan; senantiasa dekat dengan marabahaya.

Tak Sekedar Menjadi Mandiri

John Bamba, pembicara pertama, seorang pegiat ekonomi asal Pontianak Kalimantan Barat, menuturkan bagaimana lika-liku yang mesti ia hadapi bersama kawan-kawannya dalam memelopori kemandirian ekonomi bagi komunitas-komunitas marjinal di Kalimantan Barat.

Pada tahun 1985 ia bergabung dengan gerakan Credit Union (CU) yang mulanya didirikan oleh para pastor pada medio 60-an dan berada di lingkungan gereja yang terbatas. Sebagaimana dituturkan oleh Bamba, CU secara bentuk mirip dengan koperasi simpan pinjam. Karenanya, CU,  dalam prakteknya (ia mengistilahkan CU semacam ini sebagai CU konvensional) bisa dipakai sebagai alat untuk mengeruk laba. Dan memang CU semacam itulah yang kemudian sempat menjadi tren di Kalimantan Barat.

CU memang menggiurkan. Ia benar-benar bisa menjadi pesaing serius bank konvensional. Bisa memiliki aset triliunan, memiliki ratusan gerai atm sendiri hingga unit-unit usaha yang beraneka rupa. Tak heran jika kemudian CU juga tak luput dari lirikan para pemodal dan spekulan yang ingin memperkaya diri.

Bagi Bamba dan kawan-kawannya, situasi seperti itu adalah tantangan maha berat. Di satu sisi, mereka mesti dituntut untuk melakukan eksperimentasi, melakukan formulasi supaya CU bisa menyatu dan mendukung kerja-kerja sosial yang sudah diinisiasi terlebih dahulu oleh mereka. Di sisi lain, mereka juga dituntun untuk bisa mendesain CU yang bisa berkembang secara modern, menjadi pesain bank konvensional yang tangguh namun sekaligus tidak berwatak kontraproduktif dengan gerakan.

“Kita tidak mau menjadi alat dari kapitalisme. Karena kalau murni bisnis keuangan, CU tidak ada bedanya dengan bank.”

Dengan keyakinan itu mereka kemudian mendirikan apa yang mereka sebut CU Gerakan. CU ini, setelah mengalami fase jatuh bangun pada akhirnya bisa menjadi tulang punggung ekonomi dari gerakan sosial yang digalang oleh Yayasan Pancur Kasih. Keberhasilan yang diraih oleh Bamba dan kawan-kawannya ini menurut Bamba bisa direduplikasi.

“Semua orang bisa membangun sebuah CU gerakan, menjadikan CU sebagai salah satu alat perjuangan.”

Ekonomi tentu saja bukan satu-satunya parameter dari kemandirian sebuah komunitas. M Hatta pembicara kedua menuturkan lika-liku yang dihadapinya ketika menginiasi gerakan “Pariwisata yang Bertanggung Jawab” di wilayah candi Borobudur. Gerakan ini unik karena mencoba melawan orientasi ekonomi pemerintah pada situs-situs kebudayaan yang kerapkali tidak memperdulikan masyarakat di sekitar situs tersebut.

Bagi Hatta, yang paling dibutuhkan oleh masyarakat yang telah habis-habisan dimarjinalkan dan dijatuhkan mentalitasnya adalah kesadaran. Atas apapun. Atas dirinya, atas ruang hidupnya, atas sejarah yang menyertainya. Jadi pertama-tama yang dipikirkan bukan soal ekonomi. Persoalannya bukan apakah masyarakat tersebut akan makan atau tidak, karena entah dengan cara apa dengan sendirinya masyarakat akan menyesuaikan dirinya dalam kondisi seburuk apapun. Persoalannya adalah bagaimana pada akhirnya masyarakat bisa memenuhi kebutuhan ekonominya dengan penuh martabat, memiliki daulat atas wilayahnya sendiri. Sebagai seorang pemandu wisata di wilayah Borobudur, ia memulai dari kawan-kawannya.

“Hal pertama yang saya lakukan adalah mengambil foto dari 2154 pedagang asongan di wilayah Borobudur.”

Dari sana kemudian pelan-pelan ia bisa menularkan idenya tentang pentingnya pengetahuan sejarah dan budaya, pentingnya menggali filosofi hidup dari wilayah yang mereka pijak dan hidupi sehari-hari—mulai dari candi, perkampunga, persawahan, mata air, dsb. Yang selalu ditekankan oleh Hatta sejak awal adalah, bahwa mereka harus menginiasi gerakan tersebut secara mandiri, tanpa sokongan apapun dari luar. Gerakan ini kemudian meluas seiring dengan didirikannya radio komunitas, tempat di mana ide tentang penyadaran masyarakat kampung itu kemudian di sebarkan ke segala penjuru kampung.

Cerita sedikit berbeda datang dari Mila Rosinta Totoatmojo.  Kisah kemandirian komunitas yang dirajut oleh Mila dan kawan-kawannya justru bermula dari satu jenis kesenian yang sejak lama dianggap tidak menguntungkan dari segi ekonomi, sehingga hampir musykil digunakan untuk menopang suatu gerakan: seni tari. Tetapi Mila membalikkan paradigma tersebut.

Terinspirasi dari seorang kolega yang ia temui dalam salah satu perjalanannya ke Jepang pada tahun 2012, ia kemudian mendirikan Mila Art Dance. Itu adalah komunitas tari yang didirikan dengan cita-cita nan ideal: mendiseminasikan gagasan-gagasan luhur, nilai-nilai kemanusiaan melalui medium tari. Persoalannya, memiliki gagasan ideal bagi komunitas adalah satu hal dan menjaga eksistensi komunitas adalah hal yang lain.

Di awal pendiriannya, Mila Art Dance terseok-seok. Ketiadaan tempat berlatih secara regular, misalnya, membuat mereka sempat menhabiskan bberapa waktu untuk berlatih di ruang terbuka. Mengalami beberapa kali pengusiran. Tetapi pengalaman pahit itu mendewasakan mereka.

“Pelan-pelan kami bangkit. Akhirnya kami bisa mengumpulkan uang dari menari dan menyewa ruangan kecil untuk kami buat sebagai studio tari.”

Jalan terjal yang dilalui Mila Art Dance mengajarkan mereka bahwa bergulat dengan dunia kesenian yang keras dan tanpa kompromi memerlukan siasat. Mereka butuh uang untuk menghidupi komunitas dan seluruh anggotanya, tapi mereka juga butuh menjaga idealisme yang dibangun sejak awal. Atas pemahaman itu lantas mereka mengerjakan dua hal sekaligus: art for kids dan art for art. Art for kids yang semenjak awal diinisiasi untuk memberikan kursus berbayar kepada anak-anak kemudian berkembang menjadi Mila Art Dance School

Dari ketiga narasumber di atas, terlihat jelas bahwa kemandirian sesungguhnya bukan thelos dari sebuah komunitas. Kemandirian hanyalah titik awal dari sebuah perjalanan panjang untuk memperjuangkan idealisme gerakan yang dibangun sejak awal. Dan jalan itu terjal, seringkali mendebarkan.

Tak Sekedar Menunggu Mati

Jika kemandirian, yang menjadi prasyarat utama bagi sebuah komunitas sebelum membicarakan idealisme secara lebih jauh, adalah salah satu hal yang sulit untuk diwujudkan. Perkara apakah yang memberatkan suatu komunitas untuk mencapainya? Pertanyaan itu dielaborasi panjang lebar oleh pembicara terakhir, Dandhy Dwi Laksono.

Dandhy barangkali adalah satu di antara segelintir orang di muka bumi ini yang paham mengenai pola keberlanjutan hidup dari komunitas-komunitas marjinal di Indonesia. Sepanjang tahun 2015 yang lalu, ia bersama kawannya, Ucok Suparta, melakukan perjalanan panjang mengelilingi Indonesia untuk mendokumentasikan komunitas-komunitas marjinal yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Banyak hal ia dapatkan dari perjalanan itu, termasuk pengetahuan tentang bagaimana sebuah komunitas bisa bisa bertahan dari gempuran perubahan zaman yang tidak ramah terhadap mereka.

Sepanjang perjalanannya mendokumentasikan Indonesia selama setahun, Dandhy menemukan fakta menarik, bahwa ada tiga hal yang menjadi sebab kekalahan komunitas-komunitas marjinal  di Indonesia. Yakni ketika mereka berurusan dengan negara, berurusan dengan korporasi dan konversi agama atau keyakinan baru.

Berurusan dengan negara dan korporasi bisa menjadi awal senjakala suatu komunitas, karena logika kedua institusi tersebut berseberangan dengan komunitas. Di satu sisi negara dan korporasi menghendaki laju investasi yang tak bisa dihentikan oleh apapun, termasuk keberadaan komunitas-komunitas marjinal,  di sisi lain, komunitas-komunitas ini ingin memperjuangkan eksistensi mereka. Persentuhan keduanya, baik secara frontal maupun tidak bisa dipastikan akan merugikan pihak yang kedua. Sementara konversi agama menjadi demikian merusak karena keyakinan baru ini hanya diimani sebatas aspek luarnya.

”Meskipun,” ujar Dandhy “sesungguhnya semua agama memiliki keterikatan yang kuat dengan lingkungan.” Tetapi di dalam banyak komunitas, agama atau keyakinan baru dianut tidak sampai pada level tersebut. Komunitas yang menganut agama atau keyakinan baru lebih sering mengalami ketercerabutan nilai. Padahal menurut Dandhy, “mereka yang masih bertahan adalah mereka yang masih memiliki sistem nilai.” Ia mencontohkan bagaimana ketiga ancaman tersebut hadir secara nyata di hadapan beberapa komunitas yang berhasil ia dokumentasikan, seperti Mahuze, Bouti, hingga Baduy Dalam.

Melihat secara mendalam tiga hal yang disampaikan Dandhy di atas berarti melihat di mana sesungguhnya medan pertempuran yang kini tengah dihadapi komunitas-komunitas marjinal di Indonesia. Sekaligus juga, cerita Dandhy tersebut, menyadarkan kita bahwa di banyak tempat komunitas-komunitas marjinal dengan gagah berani berjibaku mempertahankan identitas, harga diri dan lebih jauh eksistensi mereka. Mereka melawan, dan tidak sekedar menunggu mati dengan harapan suatu ketika ada kemenangan bagi satu tatanan kehidupan yang lebih baik, lebih berkeadilan, lebih bermartabat.

]]>
http://www.desantara.or.id/2016/04/tak-sekedar-mandiri-tak-sekedar-menunggu-mati/feed/ 0
Di Simpang Jalan Sumber Pengetahuan Nusantara http://www.desantara.or.id/2016/04/di-simpang-jalan-sumber-pengetahuan-nusantara/ http://www.desantara.or.id/2016/04/di-simpang-jalan-sumber-pengetahuan-nusantara/#comments Thu, 21 Apr 2016 00:50:53 +0000 http://www.desantara.or.id/?p=5594

Oleh Mohammad Sahlan

Berita yang dimuat media pada Jumat, 15 April 2016 pekan lalu menyangkut penutupan Museum Radyapustaka di Surakarta selama beberapa hari menyisakan pertanyaan besar dari publik. Tidak heran jika kecaman itu terus-menerus dilontarkan di media sosial, karena netizen cukup sensitif terhadap isu menyangkut harkat martabat bangsa Indonesia. Publik mempertanyakan bagaimana salah satu museum tertua di Jawa yang menyimpan banyak naskah sumber pengetahuan kuno bisa tidak mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Meskipun alasan yang diberikan oleh Pemkot Solo cukup logis, yakni kendala bantuan hibah hanya dapat disalurkan pada lembaga berbadan hukum[1]. Bagi saya, perlakuan dalam mengelola museum ini merupakan bentuk pengesampingan pemerintah juga bangsa Indonesia terhadap sumber pengetahuan nusantara.

Sikap perlakuan ini mungkin yang mempengaruhi pemerintah Belanda sehingga belum mau mengembalikan koleksi naskah kuno Nusantara ke Indonesia[2]. Hal ini juga didukung oleh sambutan Rektor Universitas Leiden Belanda, Prof Carel Stolker di keraton Yogyakarta, bahwa Leiden memiliki ribuan naskah kuno naskah Nusantara, sekaligus di sana sedang dilaksanakan digitalisasi naskah agar bisa diakses oleh semua pihak di dunia [3]. Meskipun juga ada anggapan bahwa teknologi pengelolaan naskah kuno di perpustakaan Indonesia belum memadai sebagaimana perpustakaan-perpustakaan Eropa.

Belanda bukanlah satu-satunya tempat penyimpanan koleksi naskah-naskah Nusantara yang berada di luar negeri. Berdasarkan katalog Indonesian Manuscripts in Great Britain, yang ditulis oleh Ricklefs, Voorhoeve dan Gallop (2014), British Public Collections menyimpan 181 naskah berbahasa Aceh, Ambon, Bali, Jawa (Kuno, Pertengahan, Baru), Sunda, Bugis, dan Melayu. Naskah-naskah ini, jika dilihat sesuai dengan isi katalog tersebut memiliki bentuk lukisan hiasan naskah yang cukup indah. Mungkin alasan keindahan menjadi salah satu faktor kolektor kolonial dahulu. Selain Inggris dan Belanda, ada 24 negara lain yang menyimpan naskah Nusantara, di antaranya Malaysia, Singapura, Brunei, Srilangka, Tailand, Mesir, Jerman, Rusia, Austria, Hungaria, Swedia, Afrika Selatan, Irlandia, Amerika Serikat, Swis, Denmark, Norwegia, Polandia, Cekoslawakia, Spanyol, Italia, Prancis, Belgia [4].

Indonesia juga memiliki beberapa tempat penyimpanan naskah kuno. Museum Sonobudoyo Yogyakarta memiliki koleksi naskah 1350 naskah [5], Perpustakaan Pura Pakualaman Yogyakarta memiliki koleksi naskah 251 naskah [6], Koleksi Abdul Mulku Zahari Button memiliki naskah 320 naskah [7], dan beberapa tempat lainya, seperti Fakultas Satra UI, Perpusnas RI, Perpus Keraton Yogyakarta, Radyapustaka Solo dan lain sebagainya. Namun demikian pengkajian secara mendalam naskah-naskah ini masih sedikit dilakukan oleh para filolog Indonesia atau akademisi lainya.

Tradisi Filologi [8] Indonesia belum berkembang dengan baik hingga saat ini. Kampus-kampus tempat para intelektual dihasilkan belum berani memberikan porsi lebih terhadap bidang pengkajian naskah kuno. Lihat saja di beberapa kampus favorit Indonesia, belum ada program khusus pasca sarjana yang membawahi studi filologi (kecuali UI). Tingkat strata 1 baru dibuka di beberapa kampus. Bandingkan dengan studi pengkajian Asia-Tenggara yang ada di Universitas Leiden, NUS, Cornel, juga Australia.

Gejala kurang minatnya studi naskah kuno untuk pengembangan pengetahuan nusantara-memimjam istilah Kleden, merupakan gejala sejarah kebudayaan Indonesia modern yang pada hakikatnya adalah sejarah tanpa kontinuitas. Setiap generasi Indonesia mencoba membangun tradisi baru ab initio (dari nol sebagai awal) dan bukannya melakukan dialektika dengan tradisi sebelumnya [9]. Kecenderungan ini dapat dimaknai bahwa setiap generasi selalu bersemangat dan terpikat dengan modernisme dan budaya populer lainya tanpa melakukan sebuah kritik. Kleden memberikan sebuah gagasan bahwa kebudayaan adalah dialektik antara ketenangan dan kegelisahan, penemuan dan pencarian, integrasi dan disintegrasi, dan tradisi dan reformasi [10]. Hingga sampai saat ini Indonesia masih berada diambang diskontinuitas dalam membangun tradisinya.

Pengaruh kolonial dan otoritas pengetahuan yang masih orientalis terhadap kajian-kajian Nusantara juga menjadi faktor. Orientalisme atau pengetahuan tentang Timur yang dikontruksi oleh Barat pada hakikatnya melangkah terlalu jauh dari dunia Timur itu sendiri [11]. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa bahasa merupakan sistem terorganisir dan terkodifikasi untuk menyampaikan sebuah informasi dan pesan. Akan tetapi bahasa tertulis tidak ada kehadiran langsung penulis, dan yang ada hanyalah kehadiran kembali atau representasi. Sehingga nilai, daya, kekuatan, atau tampilan kebenaran tentang dunia Timur tidak bisa secara instrumental bergantung pada dunia Timur [12]. Lebih jelasnya, penafsiran terhadap dunia Timur yang dikaji dari tulisan-tulisan hanyalah hasil dari representasi Timur yang dikonstruksi oleh Barat sesuai minatnya. Hal ini juga terjadi di Nusantara, sejak para filolog kolonial diterjunkan untuk melanggengkang penjajahan. Tradisi orientalispun belum bisa hilang sampai hari ini.

Dalam perkembangan filologi Indonesia, teori filologi saat ini masih mengacu pada tradisi filologi masa kolonial. Sejarah mencatat dua institusi yang mengurusi kajian Indonesia di bidang antropologi, bahasa, geografi, missionaris, yakni NBG (Nederlandsch Bijbelgenootschap) dan KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal Land-en Volkenkunde) sejak kolonial Belanda[13]. Sehingga tradisi yang diwariskan masih sangat orientalisme sentris. Dalam warisan itu, teori filologi hanya sebatas pada suntingan teks dan terjemahan [14], yang mengakibatkan studi filologi hanya sekadar teknik penyuntingan dan penerjemahan. Hasil dari para filolog dapat dimanfaatkan oleh kepentingan kolonial masa itu untuk melanggengkan pemerintahannya sehingga bisa disesuaikan dengan pendapat Edward Said tentang representasi dalam penafsiran teks di atas. Teori teknis ini masih diterapkan dalam studi filologi masa kini, sebagaimana buku-buku teori filologi yang ditulis oleh Molen (Kritik Teks Jawa, Pustaka Obor), Robson (Prinsip-prinsip Filologi Indonesia, PPB), dan buku-buku filologi lainya.

Selain ideologi kritik teks yang sangat berpengaruh itu, tradisi filologi orientalis juga mewariskan etos multidisipliner [15]. Pandangan ini mengkombinasikan antara teori filologi murni dengan disiplin bidang lain, seperti sejarah, sastra, linguistik, agama, adat istiadat, dsb. Ahli filologi Indonesia yang menerapkan teori ini dengan baik adalah Zoetmulder, yang menghasilkan karya termasyhur Jawa Kuno, yakni Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang (1983). Zoetmulder dapat membangkitkan aura-aura mistik, keindahan alam, kemegahan istana, yang dikandung dalam karya Jawa Kuno itu. Hal ini tidak lain karena faktor ketelitian terhadap naskah juga penguasaan bidang agama Hindu, geografi kuno, serta kesusasteraan Jawa Kuno Zoetmulder yang sangat dalam. Beliau inilah salah satu ilmuwan filologi yang perlu diregenerasi di Indonesia.

Semua uraian ini menunjukkan bagaimana peranan ilmuwan, pemerintahan, ahli agama, dan elemen masyarakat lain dalam membangun tradisi masa itu. Bagaimana tradisi orientalisme yang didukung oleh kebudayaan modernisme yang kuat di dunia masih kokoh berdiri hingga saat ini, dan. Bangsa Indonesia masih memiliki banyak tugas berat dalam menelusur kembali puing-puing peradaban masa lalu yang tentunya dengan sikap kritis juga, begitupun terhadap modernisme. Naskah Nusantara perlu banyak dikaji, dengan perspektif internal Indonesia, agar nasib pernaskahan Indonesia tidak hilang dimakan zaman. Terakhir, sebagaimana Kleden, membangun tradisi Indonesia tanpa sikap tradisional penting untuk diterapkan.

Wallahu a’lam bissowab.

Penulis adalah Mahasiswa Sastra Jawa Universitas Gajah Mada.

Catatan akhir:

[1]Lihatberita yang dimuat di media online, https://news.detik.com/berita/3189111/museum-radyapustaka-solo-tutup-karena-biaya-pengelola-pasrah, diaksespada 18, 04, 2016 Pukul: 14.04 WIB.

[2]Lihatberita yang dimuat di media online, http://jogja.tribunnews.com/2014/02/28/belanda-simpan-naskah-kuno-kalau-dijajar-panjangnya-bisa-mencapai-12-km, diaksespada 18, 04, 2016, Pukul: 14:11 WIB.

[3] Ibid.

[4]Barried, PengantarTeoriFilologi, 1983:8

[5]Behrend, KatalogIndukNaskah-naskah Nusantara: Jilid 1, 1990:VIII

[6]Saktimulya, KatalogNaskah-naskahPerpustakaanPuraPakualaman, 2005: VII

[7]Ikram, KatalogNaskahButonKoleksi Abdul MulkuZahari, 2001:5

[8]Filologiadalahilmu yang mempelajarinaskahkuno, sedangkanfilologmerupakanahlipernaskahankuno.

[9]Kleden, SikapIlmiahdanKritikKebudayaan. 1987: 245.

[10]Kleden,op.cit… hal.214.

[11] Said, Orientalisme. 2010:32 (Terj.), PustakaPelajar.

[12] Said, Orientalisme. 2010:32 (Terj.), PustakaPelajar

[13]Sudibyo, KembaliKeFilologi: Filologi Indonesia danTradisiOrientalisme. 2007: 111 (JurnalHumaniora Vol. 19)

[14]Sudibyo, op.cit… hal.114.

[15]Sudibyo, op.cit… hal 114.

Daftar pustaka

Website,
https://news.detik.com/berita/3189111/museum-radyapustaka-solo-tutup-karena-biaya-pengelola-pasrah , diakses pada 18, 04, 2016 Pukul: 14.04 WIB.
http://jogja.tribunnews.com/2014/02/28/belanda-simpan-naskah-kuno-kalau-dijajar-panjangnya-bisa-mencapai-12-km, diakses pada 18, 04, 2016, Pukul: 14:11 WIB.

Buku,
Kleden, Ignas. 1987. Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan. Jakarta: LP3ES.
Said, Edward. 2010. Orientalisme (Terj.). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Baried, dkk. 1983. Pengantar Teori Filologi.Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.
Zoetmulder, P.J. 1985. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang (Terj.). Jakarta: Djambatan
Margana, S. 2004. Pujangga Jawa dan Bayang-Bayang Kolonial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Jurnal,
Sudibyo, Kembali Ke Filologi: Filologi Indonesia dan Tradisi Orientalisme. 2007(Jurnal Humaniora Vol. 19)

Katalog:
Ikram, dkk. 2001. Katalog Naskah Buton Koleksi Abdul Mulku Zahari. Jakarta: Obor.
Behrend, T.E. 1990. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara: Jilid 1., Jakarta: Djambatan.
Saktimulya, Sri Ratna. 2005. Katalog Naskah-naskah Perpustakaan Pura Pakualaman. Jakarta: Buku Obor.
Ricklefs, Voorhoeve. 2014. Indonesian Manuscripts in Great Britain. Jakarta: Pustaka Obor Indonesia.

]]>
http://www.desantara.or.id/2016/04/di-simpang-jalan-sumber-pengetahuan-nusantara/feed/ 0
Bahasa dan Jatidiri Pengarang http://www.desantara.or.id/2016/04/bahasa-dan-jatidiri-pengarang/ http://www.desantara.or.id/2016/04/bahasa-dan-jatidiri-pengarang/#comments Fri, 15 Apr 2016 07:09:26 +0000 http://www.desantara.or.id/?p=5521

Suatu ketika Shusa Gappy, jurnalis The Paris Review melontarkan satu pertanyaan menggelitik kepada Tahar Ben Jelloun, penulis Prancis kenamaan kelahiran Maroko. “Anda orang Maroko, lahir dan tumbuh di sana. Bahasa ibu Anda Arab, namun Anda memilih menulis dalam Bahasa Perancis.” kata Shusa,  “Boleh saya tanya mengapa?”

Pertanyaan Shusa di atas mewakili entah berapa banyak orang yang ingin alasan di balik keputusan pengarang untuk menulis tidak dalam bahasa ibunya. Pertanyaan yang bisa jadi tidak penting. Tapi bukankah pertanyaan tetap pertanyaan,  keingintahuan selamanya tetap keingintahuan dan mereka butuh jawaban, butuh dipuaskan? Dan mengetahui jawaban dari para penulis itu memang senantiasa menarik.  Ia, jawaban tersebut, bahkan bisa kita pakai sebagai pintu masuk dalam menyelami sosiologi dan psikologi masyarakat tertentu dalam hubungan mereka terhadap bahasa. Jelloun, misalnya, dalam wawancara itu memberikan jawaban yang sangat menarik dan membuat kita sedikit banyak paham bagaimana mentalitas orang Arab dalam menghadapi bahasanya sendiri. Katanya:

One speaks of English as the language of Shakespeare, of Italian as that of Dante, but we don’t say Arabic is the language of al-Ghazali—it is always the language of the Koran. It is inhibitive; one would feel almost guilty manipulating it.

Selain Jelloun, kita mengenal banyak nama besar yang memutuskan menulis tidak dengan bahasa ibunya. Mulai dari Joseph Conrad, Salman Rushdie, Vladimir Nabokov, sampai Jumpha Lahiri. Nama terakhir adalah yang paling banyak dibicarakan belakangan ini. Bahkan mungkin paling fenomenal.

Berbeda dari pendahulunya, Lahiri justru memutuskan meninggalkan bahasa ibunya, bahasa yang membesarkan namanya tepat di puncak ketenarannya sebagai seorang pengarang. Keputusan yang dilakukan Lahiri ini, sebagaimana diakui olehnya, dianggap aneh oleh orang-orang terdekatnya. “In Italy,” kata Lahiri, “even though many have encouraged me to take this step, many support me, I’m still asked why I have a desire to write in a language  that is much less widely read in the world than English.”

Namun Lahiri bergeming. Niatnya untuk mempelajari lebih dalam bahasa yang menurutnya membawa gairah (infatuation) yang menggelegak dalam dirinya sudah bulat.  Ia jatuh cinta pada bahasa Dante Alighieri itu. Ia lalu pindah ke Roma, dan sejak saat itu memutuskan untuk berhenti membaca, menulis, dan berbicara dalam bahasa Inggris, dan berencana untuk mengarang, menulis fiksi dalam bahasa barunya.

Akhir 2015 kemarin setelah lebih dari dua tahun menjalani perjalanan panjang, Lahiri menulis dalam bahasa Italia untuk The New Yorker (diterjemahkan oleh Ann Goldstein) kisah cintanya dengan Bahasa Italia.  Teach Yourself Italian, judul Inggris naskah tersebut, adalah naskah yang menyentuh. Dengan jernih dan mendalam, Lahiri mengungkapkan sisi dirinya yang paling personal di depan bahasa, tentang perasaan gamang yang aneh sebagai pelarian di tanah kelahirannya sendiri, gairah yang tak terpahami pada hal yang sesungguhnya jauh berada di luar dirinya, dan sekian banyak hal yang pada akhirnya membuat ia  memutuskan untuk kembali pada bahasa yang ia yakini seharusnya menjadi miliknya: Italian.

Tulisan Jhumpa Lahiri bisa Anca baca di sini

 

]]>
http://www.desantara.or.id/2016/04/bahasa-dan-jatidiri-pengarang/feed/ 0