Kliwonan dan Politik Kebudayaan: Wawancara dengan Hasan Malawi

Muhammad Azka Fahriza

Sebelum saya menanyakan banyak hal, saya ingin bertanya, dari mana cikal bakal Kliwonan itu sebenarnya?

Dari berbagai macam simpul komunitas, ada yang latar belakangnya adalah dari kultur pesantren, dari kultur masyarakat Cirebon sendiri, kultur kesenian Cirebon, kemudian dari berbagai macam komunitas literasi. Taruhlah, aku yang di Babakan membawa nafas pesantren, (lalu) kawan-kawanku di Gegesik (yang) memiliki basis seni itu di Gegesik. Sampean kalau pengen tahu berbagai macam seni, itu di Gegesik, Susukan, dan Kaliwedi, karena di sana itu seni sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Di Gegesik itu ada tari topeng, wayang, lukisan kaca dan lain sebagainya.

Simpul-simpul komunitas itu kemudian bersatu, kemudian kita merumuskan bagaimana kalau kita bikin satu kegiatan seni dan budaya tetapi memiliki titik koordinat dari satu desa ke desa yang lain. Nah kesadaran itu terpanggil oleh kawan-kawan karena dirasa sejauh ini peran seni dan budaya di Cirebon itu masih diakomodir oleh kalangan-kalangan yang menjadikan seni dan budaya sebagai etalase saja. Artinya tidak lagi menjadi kehidupan inti di masyarakat. Atas dasar itu kawan-kawan berkumpul. Ada dari Sketsa Pribumi, Kang Imam MC, Kang Rifqiel Asyiq dari Tegalgubug, Kang Syauqi, Kang Oji dari grup band punk Rumput Laut. Di situ kita bikin satu kegiatan. Karena sebelum Kliwonan berdiri kita sudah mengadakan panggung di desa, malam kesenian rakyat dan lain sebagainya, dari simpul kegiatan-kegiatan tersebut disatukan dalam Kliwonan.

Nama Kliwonan sendiri berasal dari mana?

Nama Kliwonan itu diambil dari filosofi Jawa. Dulur papat lima pancer. Artinya, dari penamaan itu Kliwonan kan tengah-tengah ya. Titik sentris. Kemudian disepakati diberi nama Kliwonan. Pertama kali itu di Desa Susukan, kemudian di Desa Prajawinangun, kemudian di Desa Kalimati atau Wargabinangun. Kliwonan keempat di Desa Bayalangu, kemudian Kliwonan kelima di Desa Gintung Lor, kemudian Kliwonan nanti (26 November) di Desa Tegalgubug Kidul.

Kegiatan apa yang biasanya diselenggarakan di acara Kliwonan?

Di Kliwonan itu, ada beberapa kegiatan yang menunjang. Dari siang sampai pagi. Masing-masing personal dan komunitas di Kliwonan itu melebur jadi satu atas nama Sedulur Kliwonan. Kalau Kliwonan berarti event-nya, kalau Sedulur Kliwonan adalah orang-orang yang menggerakkan even Kliwonan tersebut. Ini untuk membaca bahwa Kliwonan itu bukan satu komunitas. Karena pembacaan komunitas biasanya itu hanya sebatas kumpul-kumpul, setelah acara selesai, tidak membangun ikatan emosional lebih jauh satu sama lain.

Sedulur Kliwonan itu siapa saja?

Kalangan manapun. Taruhlah dari kawan Blacknote book, itu yang dulunya mereka anak-anak punk, lalu setelah itu mereka sadar bahwasanya harus ada yang dibangun dari kalangan mudanya. Pertama melalui literasi. Ada satu orang yang kemudian bisa memberi warna di Kliwonan, Kang Emiq. Kang Emiq kemarin perjalanan dari Cirebon ke Kediri, dari Cirebon ke Madura naik sepeda membawa misi literasi. Jadi paginya itu kegiatan-kegiatan literasi ditopang. Ada dari Blacknote Book, ada dari Perpusatakaan Safinatunnajah, Perpustakaan di Tegalgubug, Bilik Baca Masjid, Perpustakaan Bayalangu. Paginya itu kegiatan perpustakaan, gelar buku, kemudian workshop cukil. Karena Kliwonan itu semakin diminati oleh banyak kalangan, sehingga mau tidak mau kita harus menampung gagasan dan perkembangan mereka terkait seni dan budaya. Dari lingkungan hidup, mau ikut andil di Kliwonan ya silahkan diisi dengan sosialisasi lingkungan hidup. Kemarin di Gintung itu bank sampah. Supaya pemudanya sadar akan sampah, ada sosialisasi soal sampah. Sekarang ada dari PMi mau ngisi soal donor darah. Itu pagi sampai sore. Malamnya itu kemudian dimulai dengan acara tumpengan. Kita biasa menamakannya malam tumpengan. Ada opening ceremony, musik ceremony, dari sedulur Kliwonan, pembacaan dari beragam komunitas yang aku baca satu persatu, komunitas apa saja yang ikut terlibat. Dan setelah itu dimulai dengan menyanyikan bersama lagu Indonesia Raya. Setelah itu ada tawassul dari tokoh masyarakat setempat. Ada sambutan dari kepala karang taruna, atau kepala desa.

Di mana tempat Kliwonan?

Tempat Kliwonan itu di balai desa. Selalu di balai desa. Kita titik beratkan di balai desa. Ini untuk membangun kembali bahwasanya ruang desa itu tidak hanya sebagai ruang administratif. Tidak hanya ruang sebagai ruang untuk masyarakat memiliki komunikasi dengan kepala desanya. Tetapi bagaimana balai desa itu bisa menjadi ruang publik, ruang bersama yang diinisiasi oleh kalangan muda dan tokoh-tokoh setempat.

Jenis kesenian apa saja yang bisa tampil di Kliwonan?

Kliwonan itu di malam tumpengan tidak menggarisbesarkan jenis kesenian tertentu. Semuanya boleh masuk. Bebas. Hadrah boleh masuk. Punk boleh masuk. Macapat boleh masuk. Yang memiliki unsur seni dan budaya boleh ditampilkan di Kliwonan. Akustik boleh masuk, puisi boleh masuk.

Bagaimana dengan jenis-jenis, kalau boleh disebut sebagai jenis kesenian, misalnya DJ, ada bayangan ke depan yang seperti itu bisa ikut?

Unsur kesenian modern pernah menampilkan dance [1]. Pernah ada di Bayalangu, pada Kliwonan keempat. Karena dari Sanggar Tari Gegesik kan selain ada seni tari topeng, ada yang bisa dance, (jadi) ditampilkan dancer juga gak papa. Kalau ada unsur DJ juga tidak dipermasalahkan. Namun waktunya tidak bisa difullkan. Waktunya itu kita tentukan dari run down acara.

Ini supaya talent-talent [2]lain juga ikut andil. Yang diutamakan porsi penampil itu panlok (panitia lokal). Jadi, satu bulan atau dua minggu selama persiapan itu kita dari sedulur Kliwonan mendata. Di desa tersebut ada talent apa saja yang bisa ditampilkan. (Apabila) di data yang ditampilkan ada sepuluh, ya ditampilkan. Porsinya itu pertama, tuan rumah dulu, setelah itu tamu dari luar yang kemudian diisi oleh Sedulur Kliwonan yang lain.

Menarik ide menggabungkan kebudayaan lokal, kearifan lokal dengan ekspresi kebudyaan yang lebih moderen kalau bisa memakai kosa kata itu. Dari pengalaman selama Kliwonan, ada hambatan tertentu tidak? Katakanlah bukan di level panitia, tetapi di level warga…

Memang ada beberapa desa yang kadang merasa bahwa ketika ini ditampilkan masih tabu. Karena kita mesti mengetahui lebih dahulu bahwa desa-desa yang ada di kabupaten Cirebon itu memiliki unsur-unsur lokal tersendiri. Ada desa yang berbasis keagamaan seperti Babakan. Ada desa yang berbasis seni seperti Gegesik. Ada desa yang tidak memiliki pesantren kuat tapi basis pesantrennya kuat seperti di Tegalgubug. Kendala-kendala itu kita bisa mengkomunikasikan dengan tokoh masyarakat setempat. Kenapa di Kliwonan ini kemudian ditaruh ada sambutan dari kepala desa, ada sambutan dari masyarakat setempat, karena itu bagian dari komunikasi kita bahwa ruang ekspresi pemuda itu beragam. Kalangan-kalangan tua, generasi sebelum kita mesti mengetahui bahwa realitas perkembangan zaman semakin pesat dan ekspresi kaum muda juga banyak. Unsur lokal tetap kita prioritaskan, dan kemudian kita kombinasikan, kita sinkronkan, dengan unsur-unsur moderen yang mengiringi. Terkait bagaimana perkembangan tersebut, biasanya itu kayak yang kemarin ada pantomim anak, biasanya itu dilihat dari antusiasme penonton sendiri. Karena penonton di kita itu tidak dibatasi siapa saja.

Pada pukul tujuh sampai sepuluh itu biasanya masih banyak ibu-ibu dan bapak-bapak yang bawa anaknya untuk menonton Kliwonan. Biasanya kalau sudah agak malam kita isi dengan musikalisasi puisi. Karena ini juga menjaga kenyamanan warga setempat. Musik dan lain sebagainya kita plot kan di awal. Pengkondisian ini tentu melihat dari situasi pada desa yang didapati sebagai kliwonan. Setelah acara Kliwonan, seluruh talent, penonton, dan sedulur Kliwonan merapikan panggung, merapikan balai desa setempat. Yang kemudian kita coba bangun di Kliwonan adalah kita tidak membangun mental panggung. Sejauh ini, ketika kita mempunyai kemampuan di musik, di seni, kemudian di berbagai banyak hal, itu yang diskalaprioritaskan adalah kita ingin tampilnya kapan. Tapi di Kliwonan tidak. Satu sama lain harus bisa beradaptasi. Karena tidak ada tamu utama atau yang dianggap bintang, tamu kedudukannya sama satu sama lain. Jadi nggak ada yang diskalaprioritaskan. Yang ini datang karena jam terbangnya sudah panjang, jam terbangnya sudah luas, mau manggung di Kliwonan kemudian minta durasi satu jam, itu tidak bisa. Karena unsur yang mau dibangun di Kliwonan adalah bagaimana ruang ekspresi itu bisa ditampung satu sama lain.

Selama ini, ada penampil dari luar Cirebon?

Penampil dari luar Cirebon pernah dari Indramayu. Yang jauh itu pernah dari Bogor, baca puisi. Karena memang ada sedulur Kliwonan aktif di sastra. Kalau penampil-penampil yang kita minta misalnya dari Losari, dari Brebes, sejauh ini belum.

Kalian mengundang (penampil tersebut)?

Mengundang, tapi kadang bentrok dengan waktunya. Jadi banyak antusiasme, banyak yang ingin tampil di Kliwonan, nggak dibayar nggak papa. Karena kan talent itu mencapai puluhan ya, sampai dua puluh. Dan nggak ada satupun yang dibayar.

Dari mana pendanaan Kliwonan didapatkan?

Kliwonan, untuk menghidupi berbagai macam kebutuhan itu biasanya ada kotak swadaya. Kotak itu dibuka pada acara Kliwonan, silahkan siapa saja yang mau menyumbang. Donasi itu untuk memenuhi kebutuhan panggung.

Di luar kotak swadaya tadi, kebutuhan untuk melakukan Kliwonan datang dari mana?

Dari panitia lokal. Karena Kliwonan itu kita tidak bisa menentukan tanggal. Tanggalnya kapan ini Kliwonan, ndak bisa. Tanggalnya harus disepakati oleh panita lokal tersebut. Panitia lokal siapnya kapan. Misalnya panitia lokal itu bisanya Cuma menyiapkan soundsytem atau kopi, kita gelar. Pernah itu. waktu pertama.

Karena yang pertama itu bukan soal material panggung yang penting. Tetapi bagaimana kita mencoba membangun paradigma bahwasannya seni dann bduaya itu tidak mesti dengan berbagai macam aksesoris, dengan berbagai macam kebutuhan RAB, Rencana Anggara Biaya, yang sampai berjuta-juta. Tidak. Tetapi dengan adanya kegiatan bersifat swadaya ini kita bisa melakukan kegiatan tersebut. Biasanya panitia lokal ini justru antusias sekali. Ditunggu-tunggu kapan kegiatan di desa mereka, misalnya. Panitia lokal sendiri, dari tokoh masyarakat, dari kepala desanya. Pernah juga waktu Kliwonan ketiga di Desa Wargabinangun, atau biasa disebut Kalimati, kepala desanya respon sekali. Sehingga dia

Dengan adanya perbedaan persiapan dengan penyelenggara lokal itu, tanpa ada standar tertentu begitu, ada tidak sejauh ini misalnya menjadikan tiap panitia lokal itu kemudian bersaing dalam soal kesiapan, lantas menjadi beban. Katakanlah di desa A mendesai panggung yang mewah, memberikan konsumi, apa itu tidak menjadi beban panitia lokal sebelumnya?

Jadi seperti ini. Terkait beban panitia lokal. Sejauh ini belum. Jadi panitia lokal tidak merasa terbebani, karena setiap kita mengadakan acara Kliwonan, kita tidak memakai standar nominal tertentu. Tapi yang penting di kita pertama adalah kesiapan pemuda setempat. Kesiapan pemuda karang taruna ya. Dan kemudian pemuda setempat itu melaporkan ke kita. Karena seperti ini, pemilihan desanya itu satu bulan setelah acara selesai Kliwonan, kita list beberapa desa yang sudah merekomendasikan untuk siap. Ini Kliwonan keenam, ketujuh dan kedelapan itu sudah ada. Sampai tiga desa dulu. Tetapi permintaan sampai sembilan sepuluh sebelas sampai nanti haul sudah ada yang minta desanya ditempati untuk kegiatan Kliwonan. Kenapa masyarakat setempat antusias? Karena mereka nggak capek ngurusi panggung dan lain sebagainya, yang ngurus dekor (dekorasi) ada sendiri, ngurus perpus ada sendiri, ngurus talent ada sendiri, yang ngurus soundsystem dan lain sebagainya sudah ada sendiri dari Sedulur Kliwonan. Biasanya sampai nginep.

Artinya keberadaan Sedulur Kliwonan ini, secara tidak langsung juga akan membatasi penggunanaan, katakanlah, dana yang berlebihan di panitia lokal tertentu?

Membatasi tidak. Silahkan panitia lokal mampunya sejauh mana. Jadi kita tidak pakai standar tertentu. Acuannya seperti ini. Yang dilihat sukses tidaknya acara itu bukan dari dekorasi panggung, dari kelengkapan. Tapi dari gotong royongnya pemuda setempat, dari respon ibu-ibu, dari anak-anak yang antusias.

Takaran kita bukan pada kemeriahan acara. Bukan pada lighting luar biasa, soundsystem katakanlah nyewanya seharga jutaan, tidak. Tetapi dari respon masyarakatnya. Karena kan dua minggu sebelum Kliwonan digelar, kita sudah membangun komunikasi dengan panita lokal. Apa kebutuhannya. Apa yang kurang ini di desa, misalnya Tegalgubug. Dari komunikasi ini, sharing, musyawarah, supaya kita tahu sejauh mana kesiapan dari panitia lokal. Kalau panitia lokal lemah di soundsystem, soundsytem ini yang kita cari di desa lain siapa yang bisa membackup. pola kebersamaan ini yang dibangun di sedulur Kliwonan.

Selain Babakan, pesantren yang ikut terlibat aktif pesantren mana?

Kalau simpulnya yang menggerakkan paling baru Babakan dan Tegalgubug, kang Rifqiel Asyiq, sedulur kita di Kliwonan. Baru dua pesantren. Tetapi pesantren lain juga membuka tempatnya siap dijadikan acara Kliwonan. Buntet sudah bilang, Kempek sudah bilang, di Gedongan juga sudah komunikasi mau ngadain Kliwonan seperti apa. Di Babakan sendiri sampai hari ini belum mengadakan Kliwonan karena permintaan dari masyarakat luar yang cukup banyak.

Tadi kita sempat menyinggung soal anak-anak muda di Kliwonan, dari mana saja anak-anak muda ini?

Anak mudanya dari berbagai macam corak. Ada yang basisnya dari anak punk, anak jalanan, ada yang santri, ada yang pemuda setempat, ada di ormas, ada yang kaderisasi IPNU, Ansor, ada remaja masjid, ada pemuda biasa

Bagaimana awal mulanya mempertemukan simpul-simpul yang beragam ini?

Mempertemukannya itu pada setiap kegiatan Kliwonan. Pertama kita di Susukan baru beberapa orang. Masih dengan beberapa nahdliyyin. Awal itu dari Sketsa Pribumi, Lajnah Kreativitas Pesantren, Rumah Baca Dewantara, Pustaka Safinatunnajah, Rumput Laut, lupa nama-namanya. Tidak sebanyak sekarang. Semakin diadakan Kliwonan dari satu desa ke desa yang lain animo komunitas ,animo personal bertambah. Dan komunikasi kita semakin intens. Karena selain agenda-agenda tersebut sedulur Kliwonan juga biasa mengadakan aksi Kliwonan aksi sosial dengan kawan-kawan yang lain. Kemarin kita mengadakan sumbangsih untuk Garut, dan juga dengan dede siapa itu, yang masih bayi tapi dioperasi di Bandung. Kita mengadakan donasi. Juga kepada sedulur Kliwonan yang sedang tertimpa bencana, tertimpa musibah, baik musibah di keluarganya, satu sama lain. Jadi hubungan emosional antara sedulur Kliwonan itu semakin mengikat.

Bagaimana dengan isu-isu ekonomi-politik? Apakah yang berkaitan dengan itu, misalnya pembangunan PLTU Cirebon, pernah disinggung di acara itu?

Di Kliwonan itu, sebelum isu-isu strategis, pertama kita bangun dulu kesadaran sosial bagi setiap pemudanya. Pentingnya membangun kedaulatan di Desa. Kita itu selalu mengupayakan bagaimana desa itu berkembang, bagaimana desa ini tahu potensi apa yang mesti digali.

Jadi biasanya ada penelitan dari sedulur Kliwonan, kemudian membaca desa ini di mana lemahnya. Pertama itu. dan kemudian kita membangun kesadaran dalam seni dan budaya. Di lagu-lagunya, puisinya, harus diutamakan membawa nafas kedaulatan desa. Isu-isu itu yang bakal dikawal sedulur Kliwonan. Kita juga mau mengkomunikasikan isu masyarakat di Sukamulya (Konflik agraria antara petani dan pengembang Bandara Undara Internasional Kertajati di Majalengka, pewawancara). Karena banyak dari sedulur Kliwonan itu basisnya petani. Karena masyarakat di kita agraria, kan petani kebanyakan. Mereka itu kesadaran emosionalnya itu tergerak sekali ketika ada petani yang dirampas haknya. Karena mereka sudah menjadi sudah sangat kuat ikatan emosialnya satu sama lain.

Jadi memang ke depan arahnya ke sana ya sebenarnya?

Iya. Tapi kan pelan-pelan. Intinya Kliwonan itu adalah melihat desa dari desa. Pertama seperti itu. Simbol di Kliwonan yang biasa didengungkan adalah kosakata lahir bersama tumbuh bersama. Itu menjadi titik kunci. Kita melahirkan Kliwonan secara bersama-sama dengan berbagai macam personal dan komunitas, perangkat desa dan sebagainya. Kliwonan itu filosofinya tumbuh seiring dengan tumbuhnya masyarakat desa. Jadi satu sama lain saling mengimbangi.

Terkait dengan sponsor, event organizer, yang mau masuk di Kliwonan harus memiliki jejak yang jelas dulu. Kemudian juga harus sesuai dengan tata nilai yang dibangun di sedulur Kliwonan. Jadi kalau sponsor kemudan masuk dia intervensi terlalu jauh terhadap nilai-nilai yang dibangun di Kliwonan, itu ndak bisa.

Bisa dijelaskan apa itu tata nilai di Kliwonan?

Contoh soal kesepakatan tempat. Tempat yang dipilih harus sesuai kesepakatan sedulur Kliwonan. Setelah acara, musyawarah bersama, menentukan tempat di sini. Kemudian talent-talent-nya harus sesuai dengan lingkungan setempat. Jadi kita tidak bisa misalnya membawa dancer kemudian ditaruh di tempat yang basis agamanya kuat. Kita menghargai keadaan dari masyarakat setempat. Karena corak-corak di kita kan memiliki corak sendiri.

Ini menjadi langkah penting yang dirasakan sedulur Kliwonan. Bahwa nilai kebersamaan, kolektivitas itu menjadi nilai yang seharusnya dibangun. Sedulur Kliwonan sadar bahwa besarnya Kliwonan itu bukan karena unsur luar yang msuk tetapi karena nilai kolektif. Kesinambungan anata masyarakat setempat dan masyarakat aktivis sedulur Kliwonan.

Bagaimana membangun komunikasi dengan sedulur Kliwonan? Tadi disebutkan bahwa ada orang-orang yang di awal menjadi penggagas, lalu masuk orang-orang baru, bagaimana membangun komunikasi di antara keduanya?

Komunikasinya pertama biasanya kita ngobrol bareng, ngobrol darat ngopi satu sama lain, sharing, dia punya gagasan apa terkait desanya, perkembangannya seperti apa, nilai-nilai yang dibangun sama atau tidak, kemudian komunikasi lebih intensif melalui media sosial, grup WhatsApp, grup facebook. Komunikasi intensifnya yaitu pada pertemuan-pertemuan Kliwonan, misalnya kita adakan ngopi di desa setempat. Di situ mulai terbangun ikatan emosinya satu sama lain.

Lebih pada pertemuan tatap muka ya?

Ya, lebih pada pertemuan tatap muka. Karena orang yang dia tahu Kliwonan dari awal dan hanya intens di media sosial, dia itu tidak terbangun nilai emosialnya. Justru, banyak dari kalangan preman, katakanlah seperti itu, kemudian (dengan cara seperti itu) masuk ke Kliwonan sehingga (mereka) paham bahwasannya unsur kemanusiaan, unsur keagamaan menjadi hal yang penting.

Menarik ini ada unsur keagamaan. Bagaimana unsur keagamaan kemudian dipahami oleh kawan-kawan sedulur Kliwonan?

Seperti ini. Setiap sedulur Kliwonan itu tahu bahwa dia itu berada di lingkungan masyarakat beragama. Kita di sedulur Kliwonan itu sebelum acara dimulai tawassul dulu. Sebenarnya kalau bagi masyarakat di luar pesantren, justru dipandang bukan sebagai unsur keagamaan, tetapi unsur tradisi yang semenjak kecil mereka sudah hafal betul, kayak tahlilan, ke-NU-an lah, satu sama lain. Poin-poin yang kemudian mereka temukan di acara Kliwonan, di acara tumpengan tersebut.

Jadi keagamaan di sini lebih pada nilai-nilai keislaman tradisional ? Bagaimana dengan kawan-kawan yang dalam pengertian yang sempit tidak dalam kategori yang beragama. Seperti misalnya kawan-kawan dari peganut kepercayaan, misalnya Sunda Wiwitan?

Nah, karena sejauh ini perkembangan Kliwonan baru enam desa dan sampai lima kecamatan. Jadi yang memiliki basis kultural yang sama. Pertemuan, perjumpaan dengan komunitas yang lain memang banyak, tapi sekedar mewarnai saja. Tidak sampai hubungan yang bersifat emosional. Jadi ada dari unsur lain masuk, tetapi biasanya masuk dalam acara tumpengan saja. Tetapi kita terbuka, siapapun. Karena di sedulur Kliwonan itu tidak ada batasan.

Terkait desa, pelajaran terbesar apa yang bisa diambil oleh kawan-kawan Sedulur Kliwonan dari gelaran Kliwonan?

Dari Kliwonan itu kita bisa membaca bahwa kepentingan di masyarakat desa itu sangat kuat sekali, kepentingan unsur luar untuk menguasai desa sangat kuat sekali. Dan kepekaan itu timbul, bahwa selama ini kita lemah pada hubungan kolektifitas satu sama lain. Orang luar membaca Kliwonan hanya dalam sudut pandang acaranya. Tetapi yang lebih penting adalah di sedulur kliowonan tersebut. Karena dari interaksi di sedulur kliowanan bisa terbaca betul jaringan emosional yang kuat satu sama lain.

Jadi di sedulur Kliwonan itu semua basis melebur. Kita tidak mengatasnamakan pesantren. kita tidak mengatasnamakan sampean petani. Kita melebur satu sama lain. Itu di kalangan mudanya. Kebanyakan aktivis sedulur Kliwonan itu kalangan muda.

Oh ya, soal hari apa memang harus di hari kliwon itu?

Pertama iya. Tapi kita juga membaca kesiapan dari panitia lokal. Kan setiap desa yang kemudian didapati sebagai panitia kadang ada kegiatan lain di desanya. atau panitanya pas kliwon tidak siap. Nah atas pertimbangan-pertimbangan seperti itu, Kliwonan tidak mesti di hari kliwon. Justru penamaan Kliwon ini menjadi unsur pemersatu kita.

Terakhir, tadi sampean sempat menyinggung soal diversitas pekerjaan. Kalau dari buruh, basis-basis buruh bagaimana?

Basis-basis buruh sampai sejauh ini belum dikomunikasikan dengan sedulur Kliwonan yang lain. Tetapi banyak dari sedulur Kliwonan yang jadi pegawai di pabrik. Kebanyakan basisnya dari petani.

Catatan penutup

[1]Di sini, Hasan Malawi membedakan tarian tradisional dengan dance di mana yang kedua mewakili jenis tari-tarian kontemporer.

[2]Istilah talent di sini mengacu pada penampil potensial.