Ketika Desa Melawan Dengan Gembira

Penulis: Muhammad Azka Fahriza
Juru foto: Taufiq Murtadho

“Mestinya kita datang lebih pagi,” Taufiq Murtadho menggerutu, mengutuki saya yang bangun sedikit kesiangan. Saya hanya tersenyum datar sembari mengangkat bahu, mengamini rutukan kolega saya ini, lalu mengedarkan pandangan menyapu pelataran Kantor Kuwu Tegalgubug.

Suasananya lebih mirip bubaran pasar, pikir saya. Hanya adaseorang pemuda yang sibuk dengan wayang berbahan kardus bekas di atas pelepah pisang, sepasang muda-mudi dengan buku-buku dan majalah yang digelar sekedarnya di atas terpal, pemuda berpotongan emo  yang memanjat pagar Kantor Kuwu dengan lukisan besar  bergambar kacang tanah dan empat atau mungkin lima pemuda lain berbincang santai di samping angkringan yang terletak tepat di sisi kanan pendopo. Selebihnya hanya gitar dan violin dan seperangkat pelamtam suara tergeletak malas di atas pendopo yang nampaknya akan menjadi bakal panggung.

Enter a caption (optional). Select text to format it.

“Sepagian tadi kawan-kawan baru mengadakan bakti sosial dari kawan-kawan PMI, sekarang waktunya istirahat, dan setelah ini ada workshop melukis buat anak-anak.” kata Hasan Malawi, seperti mengetahui keresahan saya, lalu memperkenalkan saya beberapa pemuda yang datang menghampiri kami.

“Ini Bung Azka dan Bung Taufik. Datang jauh-jauh dari Jakarta mau meliput Kliwonan,”

Enter a caption (optional). Select text to format it.

Kami berdua hanya tersenyum. Tak lama kemudian, sekelompok anak berseragam Madrasah Ibtidaiyah menyerbu masuk pelataran.  Mereka menyerbu buku-buku, melihat wayang kardus dengan antusiasi, dan nampak kegirangan ketika melihat robot berbahan korek api bekas. Saya melihat jam di gawai. Pukul sebelas, jam anak SD pulang sekolah.

Kliwonan, Sebuah Pesta Rakyat

Hasan Malawi (23 tahun) adalah orang yang pertama kali menghubungi saya perihal Kliwonan ini. Mulanya, di telinga saya, nama ini terdengar lucu. Di kampung saya di daerah Mojokerto, juga di Jombang di mana saya menghabiskan sebagian masa remaja,  nama ini identik dengan sapi atau kambing. Ya, nama yang sama di dua daerah tersebut merujuk pada pasar hewan ternak yang menjadi hari peruntungan para blantik dan peternak lokal. Tapi, melalui pesan Whats App, ia memberi penjelasan lain:

Event seni dan budaya yang bergerak dari satu desa ke desa yang lain. Membangung kesadaran bagi masyarakat lewat seni dan budaya.

Pesan yang sama membuat saya dan Taufik Murtadho tertarik dan, setelah melalui rapat singkat, Desantara mengutus kami ke Cirebon pada 25 November 2016, sehari sebelum Kliwonan digelar di Desa Tegalgubug Kecamatan Arjawinangun Kabupaten Cirebon.

Enter a caption (optional). Select text to format i

“Kliwonan yang akan Bung datangi besok adalah Kliwonan keenam.” Ia menjelaskan dengan antusias ketika kami mulai mewawancarainya pada Jum’at malam di sanggar  Lajnah Kreativitas Pesantren, salah satu komunitas kesenian di lingkungan Pesantren Babakan Ciwaringin tempat ia tinggal. Komunitas yang sama, bersama beberapa komunitas lain di Cirebon adalah cikal bakal terbentuknya Kliwonan pada Juli 2016 silam.

Belum ada catatan resmi dari penyelenggara Kliwonan soal siapa saja komunitas yang mula-mula menyelenggarakan Kliwonan ini. Namun, dalam ingatan Hasan, selain Lajnah Kreativitas Pesantren, ada Sanggar Kesenian Sketsa Pribumi, Rumah Baca Dewantara, Pustaka Safinatunnajah, dan Grup Band Punk Rumput Laut. “Lupa nama-namanya,” jawabnya ketika saya tanya nama-nama lain.

Melihat daftar nama-nama tersebut, kita akan segera tahu jika Kliwonan memang demikian berwarna. Kita bahkan bisa melihat itu dari penampakan luarnya. Hasan, contohnya, siang itu mengenakan peci hitam identitas kamu santri Cirebon pada umumnya. Ia nampak luwes berbincang dan bercanda dengan sedulur Kliwonan, demikian mereka menyebut diri mereka, lain yang bertato dan beranting, berpotongan emo, dan memakai udeng cirebonan. Mereka pun nampak terbiasa dan akrab ketika ada perempuan berjilbab datang menanyakan keperluan  apa yang kurang siang itu.

Keberagaman dalam Kliwonan sebenarnya sudah kental terasa ketika workshop melukis botol bekas dihelat oleh komunitas Rumah Kolektif. Pemandangan pemuda gondrong memakai bando mengajari sekelompok anak kecil berjilbab, dan memakai sarung dan peci tentu akan membuat pegiat toleransi di kota-kota besar malu mengingat tidak ada spanduk soal itu di sini. Begitupun dari jenis-jenis, hingga setting kegiatannya. Kita bisa mencatat secara garis besar kegiatan yang di mulai sejak pagi hingga dini hari ini: mulai dari donasi, bakti sosial, perpustakaan, workhshop pemanfaatan barang bekas, fundrising melalui jualan kopi dan kudapan, pentas kesenian–hampir seluruhnya ada dan diperlukan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Cirebon. Dalam bahasa Hasan, Kliwonan memang diciptakan sebagai cermin keseharian dan kondisi dan problematika masyarakat Cirebon. Dengan kata lain, Kliwonan adalah gambaran apa adanya dari rakyat Cirebon itu sendiri–pendeknya pesta rakyat. Sepintas sulit memahami penjelasan itu. Namun, ketika matahari mulai bergegas pergi, apa yang dijelaskan Hasan di atas pelan-pelan terjawab sendiri.

Semakin petang, Kliwonan semakin ramai. Lagu bahasa Cirebonan yang dibawakan Kang Yusuf Baridin, seorang aktor lokal kenamaan, seperti memanggil datang warga Tegalgubug. Petikan gitar dan gesekan violin nan syahdu dari musisi pengiringnya seperti menyambut mereka. Jika pada mulanya pelataran Kantor Kuwu hanya dipenuhi oleh keriangan anak-anak yang sedang melukis dan membaca buku, kini muda-mudi, dan para orang tua mulai berdatangan. Pun demikian pedagang asongan yang mulai menata diri di pinggir jalan.

Bakda Maghrib, acara inti Kliwonan segera dimulai. Mereka menyebut sesi ini tumpengan. Setelah dibuka dengan Indonesia Raya dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dibawakan oleh anak-anak Tegalgubug dan tawassul yang dipimpin oleh Gus Arsyad Muhammad, putra dari salah satu kiai kharismatik Cirebon, wajah Kliwonan sebagai pesta rakyat benar-benar muncul. Beragam ekspresi kesenian ditampilkan di sepanjang malam itu: dari mulai musik akustik, hadrah, salawatan, drama, musik punk, hip-hop, stand-up comedy, pembacaan puisi, musikalisasi puisi, karinding, tari jaipong, sampai tari topeng. Semakin malam, penonton yang mulanya berjumlah puluhan berlipat ganda menjadi ratusan. Keriuhan yang kian meningkat seolah tak terpengaruh meski hujan turun dua kali di sepanjang malam itu.

Tak Sekedar Bergembira, Tak Sekedar Bersenang-senang 

“Tegalgubug adalah daerah santri. Di sini, terdapat puluhan pesantren dan mayoritas penduduknya mengenyam pendidikan pesantren” Rifqil Asyiq(30 tahun), pemuda Tegalgubug, menjelaskan kepada saya mengapa suasana di desa ini, sebagaimana Babakan, begitu islami. Ia, bersama Hasan Malawi, adalah salah satu tokoh pendiri Kliwonan yang mewakili kalangan pesantren.

Santri adalah identitas terkuat bagi Cirebon. Terdapat entah berapa ratus, bisa jadi menyentuh nominal ribuan, pesantren tersebar di wilayah ini. Tempat yang sama juga menyumbang banyak kronik perkembangan Islam Nusantara baik melalui bentang geografisnya atau tokoh-tokohnya. Meski demikian, secara faktual tidak hanya kebudayaan santri yang hidup di wilayah ini. Diversitas kebudayaan di wilayah ini cukup beragam, dan ini bukannya tidak menyimpan masalah. Pengalaman menyelenggarakan Kliwonan di Desa Tegalgubug barangkali bisa menggambarkan ketegangan itu.

Kepada saya Rifqil bercerita bahwa mulanya ide membuat Kliwonan di desanya mendapatkan beberapa penentangan. Di antara para penentang itu adalah kiai setempat. Penjelasan paling masuk akal dari penentang tersebut, sebagaimana dijelaskan Rifqil, adalah kurangnya interaksi masyarakat Tegalgubug dengan kebudayaan non santri. Beruntungnya, Rifqil adalah cucu dari salah satu tokoh keagamaan kharismatik setempat sehingga ia bisa menjelaskan Kliwonan secara baik kepada para tetua, juga warga.

“Ini adalah pertama kalinya ada pemenatasan musik  di desa ini,” kata Rifqil.

Apa yang terjadi di Tegalgubug adalah salah satu tujuan dari Kliwonan: mendekatkan masyarakat dengan realitas kebudayaan kiwari. Dalam bahasa Rifqil, salah satu fungsi Kliwonan adalah “mendekatkan basis nahdliyyin kepada santri.” Istilah nahdliyyin di sana mengacu pada kultur keislaman masyarakat rural Cirebon secara umum yang tidak dididik melalui institusi pesantren.

Hal lain yang tak kalah penting dari Kliwonan adalah tujuannya untuk mengembalikan seni ke tangan pemiliknya: rakyat. Perkara ini sempat disinggung oleh Hasan malam sebelumnya. Menurut Hasan, kelahiran Kliwonan tidak bisa dilepaskan dari keresahan bersama bahwa “seni dan budaya di Cirebon masih diakomodir oleh kalangan-kalangan yang menjadikan seni dan budaya sebagai etalase.” Sedulur Kliwonan ingin mengubah paradigma itu.

Apa yang dikerjakan oleh para pemuda dalam Kliwonan ini, meski tidak bisa kita anggap memenuhi rumusan 1-5-1 a la Lekra (politik sebagai panglima, meluas dan meninggi, tinggi mutu ideologi dan artistik, tradisi baik dan kekinian revolusioner, kreativitas individual dan kreativitas massa, realisme sosial dan romantik revolusioner, dan turun ke bawah [turba]), bisa dikatakan perwujudan ideal dari apa yang selama ini kita pahami tentang seni untuk rakyat–setidaknya untuk konteks hari ini. Dari detil yang paling kecil, apa yang ada di dalam Kliwonan diusahakan secara kolektif. Dari mulai desain acara, tata panggung, penentuan para penampil, sampai pendanaan. Kreativitas massa, dalam bahasa Lekra, ini  hadir untuk menopang kreativitas individual; para penampil itu sendiri.

Kolektifitas, dalam beberapa derajat, adalah sinonim dari Kliwonan. Dan ini dibangun dengan sadar oleh sedulur Kliwonan untuk membangun satu hal yang sangat politis: kesadaran masyarakat desa akan desanya. Uniknya, proses penyadaran kesadaran ini terasa hadir secara alamiah. Aroma perjuangan masyarakat desa yang ingin melihat desanya berdikari nampak di sana sini. Dari mulai lukisan bertema desa dan cinta tanah air, wayang kardus yang berkisah soal pola penghisapan masyarakat desa, sampai muatan kesenian yang ditampilkan.

Banyak kesenian yang ditampilkan malam itu berkisah soal desa dengan segala problematikanya. Ada drama yang memotret bahaya budaya konsumeris pada remaja desa juga puisi-puisi soal harga diri dan perlawanan (salah satu puisi yang dibaca adalah puisi “peringatan” karya Widji Tukul). Lagu “Desa” karya Iwan Fals dinyanyikan sebanyak dua kali malam itu. Yang istimewa malam itu, ada aksi solidaritas untuk para petani Sukamulya yang menjadi korban kekerasan akibat rencana pembangunan Bandara Udara Internasional Kertajati di Majalengka.

Tentu saja tidak semua ragam kesenian berkisah soal desa dan segala problematikanya malam itu. Ada tema-tema cinta ikut memeriahkan malam itu. Tetapi, bagi saya, mendengar ratusan orang menyanyikan bersama-sama lagu “desa” milik Iwan Fals sudah cukup membuat bulu kuduk berdiri. Terbayang di kepala serangkaian kisah bahagia bagaimana jika semangat sebesar itu mengejawantah dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana jika dari gelaran kebudayaan ini benar-benar menggerakkan rakyat di pedesaan untuk mengembalikan kedaulatannya atas tanah, bibit, pupuk, dan sarana produksi lainnya.

Hal senada rupanya juga menjadi optimisme yang mengeram dalam benak Kang Oji (25 tahun), pentolan kelompok musik Punk Rumput Laut, yang juga penggagas awal Kliwonan. Ia tidak bisa menutupi kebahagiaannya ketika saya tanyai perihal progress Kliwonan. Kliwonan menurut dia semakin diterima oleh masyarakat Cirebon. Semakin ke sini, antusiasme masyarakat di tiap desa makin meningkat. “Ini baru desa keenam,” katanya “bisa dibayangkan kalau kita bisa menggelar kliwonan di 424 desa.” Jumlah tersebut adalah jumlah seluruh desa di Kabupaten Cirebon.

Melihat dan mendengar optimisme sebesar itu, siapapun boleh melemparkan cibiran sepesimistis apapun. Hanya saja, bagi saya, Si Tuan Pesimis kemungkinan besar keliru. Mereka, anak-anak muda sedulur Kliwonan ini, bukan sedang mengusahakan kedaulatan desanya tanpa hati-hati. Muda-mudi serius ini nampak sadar benar, bahwa mengusahakan perubahan tak cukup bermodal jargon belaka. Perlu ada evaluasi dan koreksi berulang kali. Dan memang itulah yang sedang mereka lakukan kini, tanpa lelah (setidaknya sampai hari ini), penuh semangat–sesemangat teriakan salam mereka, “lahir bersama, tumbuh bersama”, yang entah malam itu terpekik berapa kali.