Animasi dan Gelak Tawa di Code Margonda

Animasi dan Gelak Tawa di Code Margonda

Ada keraguan muncul dalam benak saya ketika pertama kali Pak Yusuf Efendi mengajukan satu nama: Code Margonda. Insya Allah kita akan mengadakan pelatihan di sana Pak, tulisnya di grup WhatsApp Desantara Animation Academy (DAA) lantas membuat grup baru, memasukkan orang-orang yang dianggap akan membantu rencananya, termasuk beberapa pengurus tempat tersebut. Dengan kecintaan pada animasi serupa sahabat dekat, manajer DAA itu memang selalu antusias dan yakin dengan setiap usulan yang dibuatnya. Dan tidak ada alasan memang untuk meragukan usulan itu sebenarnya, kecuali bahwa sejak pertama kali kami mengadakan tur beberapa sekolah untuk menawarkan kelas animasi kami belum mendapatkan respon yang sepadan.

Ini sama sekali bukan tentang penyesalan. Sebagaimana Pak Yusuf, kami di team DAA masih bersemangat, dan memiliki keyakinan bahwa ide mempopulerkan animasi dengan perspektif ke-Indonesia-an—satu hal yang kami tawarkan—pada akhirnya akan mendapat respon yang bagus dari masyarakat. Namun, masalahnya adalah tempat seperti apakah Code Margonda sehingga antusiasme masyarakat, khususnya pelajar akan lebih banyak di sana ketimbang sekolah-sekolah yang telah kita datangi dan belum memberikan respon itu?

Code Margonda adalah co-working space, ruang kerja bersama. Demikian keterangan sekilas yang saya dapatkan baik dari Pak Yusuf maupun laman peramban Google. Tidak peduli dia pernah diulas oleh majalah teknologi daring terkemuka techniasia.com sebagai satu di antara empat belas co-working free space terkeren di Indonesia. Hei!! Ini Indonesia, negara yang masyarakatnya kurang memiliki antusiasme pada hal-hal berbau kekinian macam itu. Apalagi, ia berada di Depok dan bukan Jakarta. Dalam bayangan saya, tempat itu adalah tempat yang kurang lebih sama dengan balai desa, bedanya dikelola oleh anak-anak muda. Pada akhirnya saya mesti menelan semua asumsi saya itu. Beberapa hari kemudian, tepat pada tanggal 1 Oktober, situasinya demikian berbeda. Antusiasme para anggota di grup yang khusus dibuat oleh Pak Yusuf untuk acara ini bukan isapan jempol semata. Lebih dari 30 peserta datang untuk mengikuti workshop ini, dengan peserta yang berusia anak-anak diantar oleh orang tuanya.

20161001_173258_hdr
Suasana Workshop di Code Margonda pada 1 Oktober 2016

Banyaknya anak-anak sore itu membuat suasana workshop lebih mirip piknik keluarga. Wajah-wajah letih yang datang bersama kebingungan mencari alamat Code Margonda beberapa saat sebelumya seperti tertelan begitu saja begitu memasuki ruangan berukuran studio itu. Anak-anak bertemu anak-anak, begitupun orang tua, bersua laiknya sahabat lama, melepas rindu dan tawa, berbagi keriangan.

Tetapi yang gembira dengan pertemuan sore itu bukan hanya kami, anak-anak dan orang tua. Richard Wan Kum Wah, penulis lagu dan produser musik dari Singapura, melalui rekaman video mengucapkan selamat datang kepada peserta. Pak Richard adalah kolega Pak Yusuf. Ia adalah orang dibalik polulernya video pengajaran anak-anak Singapura, We Love Billingualism Too, yang dibuat oleh Pak Yusuf Efendi bersama tim yang kemudian mengajak Desantara mendirikan Desantara Animation Academy. Belakangan kartun ini tak hanya populer di Singapura, namun juga di Jepang dan Australia.

Dalam kesempatan itu Pak Richard tampak antusias. Sembari menceritakan sejarah singkat  We Love Billingualism, ia seperti menunggu anak-anak DAA untuk bekerja bersamanya. “Dalam waktu dekat, saya akan lebih banyak lagi membuat animasi. Jangan ke mana-mana.” katanya dalam Inggris beraksen Singlish.

Richard Menyampaikan Ucapan Selamat Datang

Sore itu, peserta mempelajari tujuh prinsip dasar animasi, pengenalan perangkat lunak pembuatan animasi open source , Blender, dan teknik dasar membuata animasi seperti modeling dan texturing. Tidak mudah tentu saja mempelajari hal baru, apalagi ilmu pembuatan animasi, sebagaimana sering dikatakan Pak Yusuf, “gampang-gampang susah.” Ia akan menjadi mudah apabila dilakukan dengan penuh kesabaran dan tentu saja cinta. Pun demikian, seluruh peserta terlihat rileks mempelajari semua materi yang diajarkan. Sebagai seseorang yang pernah ikut belajar membuat animasi dan menyerah di tengah jalan, saya tentu saja senang sekaligus keheranan. Barangkali contoh-contoh animasi nan ciamik yang dibuat dengan Blender yang diputar sore itu memang sukses menginspirasi peserta. Barangkali kecintaan pada animasi, pada kebanyakan orang, memang bisa membuat seseorang tabah mempelajai teknik pembuatannya.

img-20161002-wa0001
Dua peserta cilik berpose bersama ibunya

Entahlah, yang jelas sore itu adalah sore yang berakhir membahagiakan. Pemenang door prize diumumkan. Ada enam orang yang mendapatkan voucher workshop sehari (8 jam) yang rencananya akan digelar pada 15 Oktober di Kantor Desantara. Pada saat yang sama pula antusiasme peserta yang tumpah-tumpah sore itu sukses diawetkan. Ya, di penghujung acara semua yang hadir sepakat membentuk satu komunitas animasi bernama AnimaGrafis, dengan pusat kegiatan ada di dua tempat, ruang perpustakaan Desantara dan Code Margonda. Dan seolah ingin menjadi pelengkap kegembiraan, sore itu tim DAA dikontak salah satu guru sekolah alam yang beberapa waktu lalu kami datangi. “Anak-anak di sini sudah tidak sabar ingin segera belajar animasi, Pak.” Di mata saya, pesan tertulis itu terlihat seperti senyum kepuasan dua orang anak yang meminta ibunya mengabadikan momen di depan mural di ruang workshop seolah tak rela untuk kehilangan semua kenangan manis mereka sore itu. Ah, senyum anak-anak memang tidak ada duanya.

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>