Uman Undrat: Idea Kebahagiaan dan Cara  Mengada Suku Dayak Kenyah Lepoq Jalan

Uman Undrat: Idea Kebahagiaan dan Cara  Mengada Suku Dayak Kenyah Lepoq Jalan

Oleh Muhammad Salim

I

Rinai hujan masih turun perlahan-lahan, sebagian menitis di sela-sela dedaunan, ketika para undangan mulai tampak dari gerbang desa. Mereka disambut oleh seluruh warga yang bersiap dengan pakaian terbaik. Sapei Sapaq, pakaian adat lelaki, beserta Mandau, dan Ta a, pakaian adat perempuan, menjadi dress code warga yang sudah dewasa—kecuali kami, rombongan Desantara yang datang bersama kolega Kemitraan dari Samarinda. Tidak ada aturan adat yang  mengharuskan tamu, sekalipun sudah dianggap seperti keluarga, memakai pakaian adat.

Penyambutan undangan  pagi itu itu, Sabtu 21 Mei 2016, adalah sekaligus prosesi pembukaan Uman Undrat, Pesta Panen. Setiap tahun, sekitar bulan Mei, Masyarakat Suku Dayak Kenyah Lepoq Jalan yang tinggal di Desa Lung Anai Kecamatan Loa Kulu Kabupaten Kutai Kartanegara menyelenggarakan Uman Undrat sebagai wujud syukur atas hasil panen yang melimpah.

Pada hari itu, segala kesedihan, kegelisahan seolah diharamkan. Seperti nampak dalam raut wajah seluruh warga. Hanya ada bahagia. Tak peduli langit yang masih muram sisa hujan deras semalaman. Betapapun sampai sekarang belum ada kabar kapan akan dibebaskan dua saudara sesuku mereka yang dipenjara karena kriminalisasi yang dilakukan oleh PT IHM dengan dalih membakar hutan. Betapapun hasil panen tahun ini tak begitu membahagiakan karena kemarau panjang yang mendera desa mereka. Uman Undrat adalah idea kebahagiaan. Ia mengajarkan  Suku Dayak Kenyah Lepoq Jalan untuk menyisakan setidaknya satu saja hari bahagia di tengah keterancaman mereka sebagai masyarakat marjinal, sebagaimana terjadi di setiap tempat di Indonesia.

Di luar itu semua, tentu saja, saya berdoa upacara ini akan langgeng, ada setiap tahun, tanpa kepura-puraan. Bahwa hasil panen akan senantiasa melimpah. Artinya, aktivitas bertani warga yang mensyaratkan pembakaran lahan tidak diharamkan. Dan awak media yang sebagian datang jauh-jauh dari ibu kota juga akan lega—mereka akan mendapat gambar bagus nan tulus.

Pagi itu, memang banyak awak media hadir, luring maupun daring, lokal maupun nasional. Asman Azis, Manajer Program Lamin Inklusif, yang memang memiliki ketelitian tinggi dalam mengingat semua kenangan hidup bahkan sampai bersumpah kepada saya, sambil berbisik, bahwa jumlah awak media kali ini lebih banyak dari tahun kemarin. Benar atau tidaknya tentu saja tidak penting. Yang jelas, kelestarian upacara adat semacam ini pantas dikabarkan sampai ke kutub utara.

II

Para tamu undangan telah berada di Lamin Adat. Mereka adalah orang-orang yang hampir selalu diundang setiap tahunnya. Meski demikian, raut tegang dan tidak sabar tetap tergurat di wajah mereka. Sejurus kemudian, ketegangan itu menemukan jawabannya: Menyelama Sakai dan Datun Julut.

Sekelompok pemudi berparas ayu dalam balutan Ta a berbanjar dua. Di tangan kanan dan kiri mereka membawa kipas dari bulu enggang. Dengan ritme yang teratur, mereka menari dengan gemulai, seolah ingin mempersilahkan kami para undangan untuk menganggap Lung Anai seperti rumah sendiri, sebagai keluarga, setidaknya sahabat dekat. Setidaknya bagi saya, tarian ini memberikan efek nyaman. Sudah tiga kali saya melihat tarian ini. Dan perasaan saya selalu sama. Ah, bukankah tidak ada yang lebih baik selain diakui orang lain sebagai keluarga?

1
Tari Menyelema Sakai (foto oleh Kasmani)

Menyelama Sakai, demikian nama tarian itu, kemudian disambung dengan Datun Julut. Kali ini yang tampil adalah warga yang lebih senior, ibu-ibu. Dengan pakaian dan atribut yang sama, kali ini mereka berbaris dua. Melakukan gerakan-gerakan yang lebih sederhana dari Menyelama Sakai. Meski demikian, tarian ini bukan tak memiliki aura magis. Ritme yang lebih lambat membawa ketenangan yang aneh. Ia seperti memancarkan kehati-hatian, seperti mengatakan kepada kami, “hei, jangan sampai kau lewatkan semua prosesi. Kami sudah mempersiapkan semuanya penuh presisi. Kecuali kau mau mati membawa sesal”

2
Datun Julut, tari bersama untuk menyambut tamu. (Foto oleh Kasmani)

Dua prosesi mengagumkan itu memang hanya pembukaan. Dan sebagaimana acara pembukaan, ia dipenuhi oleh sambutan, dan tentu saja doa keselamatan. Saya sempat berbincang-bincang dengan seorang kawan melihat Bang Asman Azis memberikan sambutan dalam acara itu, mewakili Desantara. Gesturnya kelihatan tak sabaran. Wajar. Karen pesta sesungguhnya memang baru akan kita lihat setelah keluar dari Lamin.

III

Puncak acara pesta panen ini adalah mecaq undrat, menumbuk padi. Acara ini dibuka dengan upacara pemotongan babi hutan. Babi terbaik yang diperoleh dari perburuan beberapa hari sebelumnya dikorbankan sebagai wujud syukur atas hasil panen yang melimpah. Babi diangkat oleh lima orang, lalu kepalanya dipancakkan pada dua galah yang ditata menjadi huruf x. Dengan khidmat Ismail Lahang, Kepala Adat Desa Lung Anai, kemudian menyembelih babi tersebut sambil membaca doa-doa.

13237640_1209418925765469_7147734158921081815_n
Potong Babi untuk persembahan sebagai wujud syukur atas keberhasilan panen. (foto oleh Kasmani)

Pemotongan babi sekaligus menandai dimulainya mecaq undrat. Sekelompok pemuda kemudian menggotong lesung ke dalam Lamin. Menatanya dalam satu barisan panjang. Menurut salah satu warga, prosesi ini adalah simbol kebersamaan dan kegotong royongan yang senantiasa terjaga dalam masyarakat Dayak Kenyah Lepoq Jalan, dan hadir dalam setiap generasi mereka. Hawa dingin seolah membikin para pemuda ini bersemangat. Saya yang diberi kehormatan mengikuti prosesi ini bisa merasakan keguyuban para pemuda. Peluh yang menetes di kening, tanda kehangatan tubuh, di tengah udara yang dingin seolah mengatakan bahwa kebersamaan akan mengusir segala halangan.

4
Lesung panjang digotong oleh para pemuda yang dibawa ke Lamin Adat. (Foto oleh Kasmani)

Setelah siap, lesung kemudian diisi beras. Ibu-ibu bersiap memukul lesung. Pemukul tawek, sejenis gong, bersiap di sisi kanan paling ujung.

Ini memang tak sekedar acara memukul lesung dan membuat tepung halus saja. Mecaq undrat sekaligus pertunjukan orkestra sederhana. Saya melihat beberapa tamu undangan sampai memejamkan mata mendengarkan harmoni yang unik namun menenangkan hasil dari kolaborasi tumbukan lesung dan iringan gong. Ibu-ibu begitu bersemangat, seperti ingin mengatakan bahwa di tangan mereka, akan dihasilkan tumbukan beras terbaik di dunia.

6
Beras ditumbuk beramai-ramai di lesung panjang, diiringi oleh suara tawek. (foto oleh Kasmani)

Betapapun baiknya tumbukan beras, tetap saja tak akan luput dari proses pengayakan. Dalam Uman Undrat, mengayak hasil beras tumbukan adalah prosesi nan merarik yang sayang untuk dilewatkan.

Ngulek, atau mengayak adalah prosesi yang juga sakral. Ia tidak bisa dikerjakan oleh sembarangan orang. Hanya perempuan yang paling senior yang diizinkan menjadi bagian dari prosesi ini. Ibu-ibu berpakaian putih bermotif bunga dengan penutup kepala ta a mengayak tumbukan beras dengan menggunakan ayakan tradisional uku Dayak. Ayakan ini terbuat dari bambu dan rotan.

7
Ibu-ibu melakukan prosesi Ngulek. (Foto oleh Kasmani)

Setelah tepung terhalus berhasil didapatkan, prosesi selanjutnya adalah yang paling dinanti: memasak Undrat Ao, makanan yang hanya akan dimakan setahun sekali oleh Masyarakat Suku Dayak Keyak Lepoq Jalan.  Ini adalah makanan yang lezat. Saya memakan makanan manis legit ini setahun yang lalu. Dan melihat tepung yang halus di depan mata sudah membuat perut saya memberontak.

Dengan cekatan, ibu-ibu mengolah bahan-bahan untuk memasak Undrat Ao. Tepung beras dicampur dengan gula dan parutan kelapa. Bambu yang sudah dipersiapkan sebelumnya oleh para pemuda kemudian diisi oleh bahan tersebut, disertai oleh satu bahan yang akan membuat kudapan ini berbeda dari makanna sejenisnya: daun nangka! Dua tahun lalu saya sempat merasa aneh dengan keberadaan daun nangka tersebut. Tapi ternyata pengetahuna saya soal kuliner terlalu ortodoks. Pada akhirnya hanyalah anak ingusan yang terkaget-terkaget mendapati daun nangka bisa mengubah rasa kue, demikian berbeda dengan rasa kue serupa Undat Ao yang pernah saya cicipi entah di mana.

Tapi bisa jadi saya keliru. Yang membuat undrat ao berbeda barangkali justru cara memasaknya. Buat saya yang terlalu lama tinggal di kota seperti Samarinda, cara memasak ini tentu membuat saya kegirangan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Mokh. Sobirin, Direktur Desantara dan kawan-kawan Kemitraan yang datang jauh-jauh dari Jakarta. Barangkali mereka ingin loncat-loncat.

Bayangkan, sekian waktu tinggal di kota besar yang menuntut kecepatan dan efisiensi, kita kemudian melihat cara memasak nan purba: dibakar, namun anehnya menghasilkan rasa yang istimewa.

Bambu-bambu yang sudah berisi adonan tepung ditata dalam dua baris seperti pagar kebun di pekarangan rumah orang tua. Di tengah-tengah kemudian kayu yang sudah ditumpuk rapi dibakar. Pesak undrat, demikian nama prosesi ini kemudian dilakukan. Para pemuda dengan cekatan membolak-balik bambu yang tengah dijilati oleh bara dan api. Tak menunggu waktu lama, wangi kue tradisional itu menguar, mengatasi sangit asap pembakaran.

Tetamu yang menempati tempat khusus yang sudah disiapkan di sisi kiri tempat pembakaran nampak tidak sabar. Saya sendiri saking tidak kuatnya mengelus-elus perut sampai turun gelanggang, berbaur dengan para pemuda untuk ikut pasak undrati  dengan harapan bisa icip-icip.

memasak
Para pemuda membakar Undrat Ao. (Foto oleh Kasmani)

Tapi usaha saya sia-sia belaka. Haram mencicipi Undrat Ao yang masih dimasak. Saya seolah lupa pesan ini karena saking tergodanya.

Masyarakat Dayak kenyah Lepoq Jalan, sebagaimana Masyarakat Adat lain di Indonesia, adalah Masyarakat yang sangat menghormati leluhur. Makanan seistimewa undrat ao pertama-tama harus menjadi bagian leluhur.

Ya, undrat ao yang sudah masak kemudian ditata, dan dalam satu upacara dikirimkan ke peristirahatan leluhur.  Tujuan prosesi ini adalah membawa undrat yang dimasak untuk parah arwah yang tidak sempat menikmati hasil panennya bersama keluarga dan masyarakat tahun ini.

Setelah prosesi itu, bagian terakhir adalah uman undrat. Bagi saya, ini adalah yang teristimewa. Apalagi kalau bukan Uman Undrat! Ini adalah acara puncak. Syukuran. Para tamu undangan makan-makan. Undrat ao yang mengepul-ngepul dihidangkan di depan mata. Aih betapa riangnya.

IV

Hari menjelang sore  ketika Uman Undrat selesai dilakukan. Namun acara baru akan selesai. Tari Udoq Kitaq dan Udoq Kiba menjadi penutup acara ini. Tarian ini bertujuan untuk mengusir hama-hama yang mengganggu tanaman-tanaman, dan mengusir roh-roh jahat yang mengganggu ketentraman warga. Para penari, begitu juga warga lainnya, masih sangat bersemangat. Mereka sepertinya masih mampu beraktifitas andai perayaan masih akan berlangsung tujuh hari tujuh malam lagi. Sementara tamu undangan tampak kelelahan, mungkin karena kekenyangan menyantap Undrat Ao. Saya sendiri sudah beberapa kali menguap. Saya selalu mengantuk setiap habis makan. Tapi tentu kantuk ini akan berlalu seiring Undrat Ao yang sudah tuntas diproses usus. Yang tidak boleh berlalu dan tuntas adalah keriangan warga Dayak Kenyah Lepoq Jalan. Budaya mereka yang luhur ini harus bisa bertahan sampai kapanpun, tak peduli zaman berubah menjadi apa. Betapapun, budaya adalah cara mengada mereka sebagai kelompok masyarkat yang memiliki hak hidup sama, sebagaimana para korporat yang senantiasa mengancam mereka dengan berbagai cara.

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>