Sukinah: Perjuangan Kami Masih Panjang, dan Itu Menguji Kesabaran

Sukinah: Perjuangan Kami Masih Panjang, dan Itu Menguji Kesabaran

sukinah
Ilustrasi oleh Toni Malakian

 

Catatan Pewawancara:

Mulanya saya berpikir kalau naskah ini sudah tidak layak tayang dan berniat membuang atau menyimpannya, entah untuk apa. Wawancara in saya lakukan hampir tiga minggu yang lalu pada Selasa 14 April 2016,  hari pertama aksi pengecoran ibu-ibu yang oleh media disebut Kartini Kendeng. Ke mana saja saya selama itu dan apa saja yang saya lakukan sehingga naskah ini terbengkalai? Jawaban pertanyaan itu saya yakin tidak akan menarik bagi pembaca. Yang jelas itu semua buah dari keteledoran dan kemalasan saya sebagai penulis partikelir sehingga membuat naskah ini kadaluarsa, setidaknya menurut saya.

Namun saya diingatkan oleh Mokh. Sobirin, direktur saya, bahwa naskah ini harus tetap terbit, apapun alasannya. Waktu itu, saya bertanya-tanya, dengan alasan apa ia mengambil keputusan itu? “Pemaksaan” semacam itu jarang, atau malah tidak pernah, ia lakukan pada saya sebelumnya. Yang jelas, titah yang ia berikan kepada saya cukup membuat saya masyghul, dan pada akhirnya terpaksa memelototi kata demi kata hasil wawancara saya dengan salah satu manusia yang saya anggap terkuat di Indonesia saat ini. Setelah saya ulangi beberapa kali, pikiran dan hati saya yang mungkin sedikit bebal karena belakangan saya khilaf mencintai seseorang dengan agak membabi-buta pada akhirnya paham kenapa lelaki muda yang bertahun-tahun melakukan riset lapangan di Pegunungan Kendeng itu “memaksa” saya. Semangat perjuangan melawan ketidakadilan tidak akan pernah  kadaluarsa. (Lagipula, bukankah sejak awal saya memaksudkan wawancara ini bukan hanya untuk menanyakan perihal pengecoran semen?) Demikianlah, kemudian saya merapikan naskah ini, dan pada akhirnya sampai ke hadapan Anda. Selamat Membaca.

******

Isya hampir tiba ketika saya menemui Sukinah di kantor LBH Jakarta. Proses evakuasinya bersama delapan ibu-ibu yang lain baru selesai dilakukan. Mereka diberi tempat duduk berjajar menghadap ke utara sejajar dengan pintu masuk depan gedung. Meja kayu seragam diletakkan di depan mereka untuk menaruh makanan. Ia berada di ujung barat dekat.

Mestinya malam itu menjadi malam paling menegangkan dan melelahkan dalam hidup Sukinah. Bersama dua belas orang lainnya, malam dua hari sebelumya, ia menempuh perjalanan nan tergesa dari tenda perjuangan tolak semen di Rembang dan esoknya, ketika bau bis antar provinsi masih belum hilang dari tubuhnya, ia sudah harus mempersiapkan diri untuk aksi nekat yang dimulai pada hari ketika saya menemuinya: mengecor kaki di depan Istana Negara untuk menyuarakan penolakan pabrik semen—aksi menggemparkan yang kemudian membawa saya bertemu dengannya di Jakarta. Malam itu juga kedua kakinya, juga delapan orang rekan seperjuangannya, digips. Pemasangan gips adalah saran dari Alexandra Herlina, dokter luar biasa yang datang jauh-jauh dari Surabaya untuk menemani mereka, yang kuatir dengan kesehatan mereka jika kaki telanjang mereka langsung ditimpa adonan semen. Tapi air muka perempuan paruh baya pemimpin aksi penolakan pendirian pabrik semen di desa Tegaldowo Kabupaten Rembang itu terlihat cerah dan penuh optimisme, seolah pengalaman kaki dicor adalah pengalaman biasa, seolah ia sanggup melakukan itu selama seribu tahun untuk memperjuangkan keadilan.

Beberapa saat setelah saya datang dan memperkenalkan diri, Dodo, salah seorang staff LBH membawa sepuluh bungkus soto ayam. Dua perempuan muda relawan yang lain sibuk menata mangkok dan sendok. Waktunya makan malam bagi ibu-ibu pejuang.

“Jadi Yu, saya wawancaranya setelah njenengan makan saja ya?”

Ia tersenyum, kemudian menjelaskan bahwa ia tetap bisa menjawab semua pertanyaan saya sambil makan. Saya membalas dengan senyum lega. Sulit rasanya menunda, meski hanya beberapa saat, pertanyaan-pertanyaan yang sudah sejak kemarin, ketika pertama kali saya mendengar rencana aksi ini, memenuhi kepala.

MAF: Mengapa Anda ibu-ibu ini harus menyemen kaki?

S: Saya ini merasa jengah dengan kehadiran semen. Mondar-mandir ke sana ke mari (untuk mencari keadilan) tidak ada respon. Hanya di iya-iyakan saja. Pemerintah provinsi sudah tidak peduli dengan keadaan Rembang. Jadi kami berpikir bagaimana cara untuk melawan, sementara ini bulan ibu kartini (23 April) yang dulu memperjuangkan kaum perempuan. Akhirnya kami menggunakan cara ini (menyemen kaki), karena kami pikir semen sudah membelenggu Indonesia. Bukankah kalau semen sudah membelenggu Indonesia kita tidak bisa melakukan apa-apa, pangan sulit, bukankah kita akan mati? Makanya, kami pikir itu satu-satunya jalan.

MAF: Jadi makna dari belenggu semen sebenarnya?

S: Disemen kan berarti dibelenggu. Kalau sudah disemen, bukan kehidupan yang akan kita dapatkan, tetapi kematian.

MAF: Bagaimana Anda bisa sampai pada kesimpulan itu?

S: Orang seperti saya ini berhubungan secara langsung dengan semen. Rumah saya dan tambang yang dibuat hanya berjarak 900 meter. Dan tapak pabrik dengan pemukiman desa saya, Tegaldowo, hanya berjarak 3 km. Pabrik hanya berjarak 3 km dari tambang tanah liat, sementara dengan batu kapur 900 m. Di sana sendiri sudah ada tambang galian C.

MAF: Membayangkan kaki disemen adalah mengerikan bagi kebanyakan orang, apakah Anda tidak merasakan rasa takut?

S: Ide menyemen kaki sempat kami diskusikan bersama dengan dulur-dulur (Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng). Apakah ini sudah tepat? Kami memikirkan keselamatan. Tapi kemudian saya yakin, selama diri kita yakin, ikhlas, maka Tuhan akan selalu bersama kita. Sejak saat itu tidak ada rasa khawatir kalau kaki saya disemen, tiba-tiba saya siap.

MAF: Sampai kapan ibu-ibu ini akan menyemen kaki

S: Ya sampai bertemu Jokowi. Semoga hari ini kita bisa bertemu Jokowi. Siapa yang tahu? Hati orang kan tidak bisa ditebak. Semoga dia tidak lupa dengan masyarakat. Yang memilih presiden kan masyarakat. Pada pemilu kemarin, orang-orang yang memilih jokowi adalah orang-orang yang hari ini menolak semen. Demikian juga di Pati.

MAF: Harapannya waktu itu?

S: Ya semoga semen ini tidak ada lagi ada di Jawa. Soalnya dampak kerusakan semen ini tidak hanya bagi Jawa. Rusaknya Jawa berarti juga rusaknya Indonesia. Di Jawa batu kapur diambi , di Kalimantan batu bara. Bukan hanya perut Jawa yang dikeruk, tetapi seluruh Indonesia. Jangan sampai semua menjadi korban.

MAF: Seandainya nanti ditemui Jokowi, apakah ibu-ibu juga akan mengadukan Ganjar (Gubernur Jawa Tengah)?

S: Kalau dia sudah ada yang mengurusi. Kami tidak akan mengadukan Ganjar.

MAF:Siapa yang akan mengurusi dia?

S: Entah alam entah siapa, yang jelas kami percaya jika kita peduli kepad ibu bumi, ibu bumi akan peduli dengan kita. Yang Membuat Hidup, melalui ibu bumi, entah dengan cara apa pasti akan membuat pengadilan. Entah melalui manusia, entah melalui apa, tapi kami yakin pembalasan itu pasti ada.

MAF: Bisa dikatakan ibu-ibu ini sudah putus asa dengan Ganjar?

S: Ya. Biarlah Ganjar begitu. Cara dia melepaskan Rembang ini lucu. Bagaimana ia bisa setega itu?

MAF: Masyarakat yang menolak semen juga mayoritas memilih Ganjar?

S: Iya, dan yang pro semen memilih Bibit. Nyatanya kemudian Ganjar melepas Rembang. Apa bedanya Rembang, Pati dan Grobogan. Jawa ini ibarat satu tubuh. Apabila dipukul kepalanya, ya semua bagiannya merasakan. Apa bedanya? Bisa-bisanya dia melepaskan Rembang. Saya kira dia begitu percaya diri melakukan itu karena Rembang sudah terlihat kalah. Tapi saya yakin, kekalahan itu tidak membuat saya, sedulur-sedulur mundur. Kalau dia (Ganjar) tidak bisa diberitahu oleh manusia, biar alam saja yang menegurkan. Biar, nanti kita bisa melihatnya.

MAF: Mayoritas ibu-ibu Rembang adalah nahdliyyin, ibu-ibu muslimat, apakah harapan ibu-ibu pada PBNU setelah KH Mustofa Bisyri beberapa hari lalu menemui ibu-ibu?

S: PBNU pusat kan sudah mengeluarkan statemen kalau Rembang ini harus diselamatkan. Mbah Mus (KH Mustofa Bisri) juga menyatakan hal yang sama. Tapi kan tidak semua kyai Rembang begitu.

MAF: Jadi ada kyai yang memusuhi ibu-ibu tolak semen?

S: Terutama kyai kampung Mas. Kadang-kadang saya juga bingung, Quran kan diturunkan di Gunung, kenapa ketika sekarang ada gunung yang terancam, mereka diam semua. Kalau saya kan mengajinya bukan aif lam, tapi saya memikirkan alam ini siapa yang membuat. Saya mengambil hakikatnya. Tapi bukankah mereka juga tahu bahwa bumi kalau dikeruk juga akan rusak. Saya sendiri bingung, sebenarnya ada apa dengan Rembang ini?

Kalau saya dan dulur-dulur Kendeng ini kan tidak cuma memikirkan perut kami sekeluarga saja. Kami memikirkan masa depan anak cucu. Jangan sampai kami dilaknat oleh bumi. Kita semua berasal dari bumi, dari tanah, kenapa kita kemudia tidak peduli pada tanah. Jangan sampai bumi mengamuk. Kalau sampai bumi mengamuk, ya kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, wong kita sendiri yang tidak bisa menyatu dengan alam, bukan alam yang tidak mau menyatu dengan kita.

MAF: Tapi apakah setelah kunjungan Gus Mus ke tenda ada perubahan sikap dari kyai-kyai, yang awalnya menolak perjuangan ibu-ibu apakah kemudian mendukung?

S: Sepertinya sama saja. Entah mereka belum terbuka hatinya atau bagaimana. Tapi kedatangan Mbah Mus ke tenda sudah membuat ibu-ibu semangat. Apalagi beliau menyatakan kalau pengerukan gunung itu merusak alam.

MAF: Bisa dijelaskan seperti apa tekanan-tekanan yang dilancarkan kyai-kyai yang tidak suka dengan aksi ibu-ibu?

S: Entah mendapat kabar dari mana, ada kyai yang mengatakan semen itu menyejahterakan masyarakat. Jadi mereka mendukung semen karena menganggap itu benar. Padalah tidak pernah semen menyejahterakan masyarakat. Mayoritas masyarakat petani. Di sana, petani bisa mendapat upah 80 sampau 70 ribu, bersih. Sudah mendapat uang rokok dan bensin. Kalau di pabrik, 60 ribu itu masih kotor, belum uang makan dan bensin. Jadi pertanian di Rembang itu sudah menyejahterakan. Di tegal dowo, padi itu dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jagung dijual untuk dibelikan sapi. Belum hasil dari rempah-rempah dan sayuran. Apakah itu bukan sejahtera? Sangat tidak bersyukur kepada Yang Maha Pencipta kalau kami menganggap itu tidak sejahtera. Air kami tidak beli. Bukankah kami kaya? Kalau kemudian ada semen, dan kami harus membeli semua kebutuhan, apakah itu disebut kaya? Belum nanti kemudia kami tidak akan saling mengenal dengan saudara. Tidak rukun. Saya pernah mengalami hal seperti itu di kota.

MAF: Anda pernah hidup di kota?

S: Ya. Hidup di Kalimantan juga pernah. Untuk bekerja. Suami saya kan tukang. Kami juga pernah tinggal di Jepara selama 7 tahun.

Di Desa, dengan tetangga kiri kanan apapun akan dibagi. Di desa juga, tiga bulan tanpa pekerjaan juga masih bisa makan karena masih ada gabah. Di tegalan masih ada tanaman.

MAF: Apakah hubungan antar warga mulai terganggu seiring dengan hadirnya semen?

S: Di desa kami ada tradisi syukuran setiap setelah panen. Mengirim doa bagi saudara yang sudah tiada. Lalu ada sedekah bumi. Dengan adanya pabrik, untuk bersilaturahmi saja akan susah, karena semuanya serba beli.

MAF: Dengan suara warga yang sekarang terpecah, antara mendukung dan menolak semen, apakah tradisi-tradisi di atas mulai terganggu?

S: Ya, semakin ke sini mereka yang mendukung semen makin menggampangkan tradisi. Awalnya tradisi membuat ambeng besar di setiap upacara sedekah bumi mulai dihilangkan. Tapi dulur-dulur yang menolak semen masih berusaha mempertahankannya. Alhamdulillah kami masih sadar soal pentingnya tradisi itu. Hal buruk yang juga muncul seiring rencana pembangunan pabrik adalah munculnya kafe-kafe. Pegawainya banyak anak-anak gadis yang cantik. Pabriknya belum ada saja sudah begitu. Ini kan akan merusak masa depan anak-anak kami. Kasihan anak-anak kami. Sudah kami didik dengan baik, tapi kemudian malah menjamur tempat-tempat seperti itu.

MAF: Kafe itu pemiliknya juga warga sendiri?

S: Iya, warga sendiri.

MAF: Pegawainya orang Tegaldowo juga?

S: Bukan, orang luar.

MAF: Ini kan ibu-ibu sudah lama sekali berada di tenda. Sejauh ini bagaimana keluarga? Yu Sukinah misalnya, yang biasanya bekerja bersama suami di sawah kan tidak bisa lagi.

S: Suami saya sendiri meyakinkan saya untuk terus berjuang. Lagipula, siapa lagi yang akan merasakan kerugiannya nanti kalau bukan kami sendiri? Alhamdulillah, sejak awal suami saya mendukung saya, ke manapun saya melangkah. Tanpa dukungan suami, saya juga akan sulit melangkah. Jadi sekarang suami saya mengambil alih peran saya: merawat sapi, pergi ke tegal. Anak saya kan sudah besar. Jadi dia juga ikut membantu. Saya pernah berbicara pada suami saya begini, “Sekarang sudah waktunya kita berjuang. Kita harus memikulnya, betapapun itu berat. Kita ini seumpama empat tiang rumah. Harus saling menguatkan, kalau tidak akan roboh. Memang sulit, tapi betapapun kita harus berusaha. Harus bisa saling memahami.”

MAF: Dua tahun tinggal di tenda, perubahan apa yang paling dirasakan? Bagaimana sejauh ini semangat ibu-ibu di sana?

S: Kalau semangat ibu-ibu tentu saja naik turun. Mendengar keputusan kalah di PTUN kemarin, semangat ibu-ibu langsung turun. Tapi setiap kali dalam kondisi seperti itu kami selalu saling mengingatkan, “kita ini jangan bergembira ketika menang, dan jangan susah ketika kalah.” Setelah saling mengingatkan seperti itu, semangat kami tumbuh lagi. Meskipun kalah, kami harus tetap semangat, karena PTUN bukan satu-satunya jalan. Perjuangan kami masih panjang. Kita boleh percaya pada hakim, tetapi kita harus lebih percaya pada hakim yang hakiki. Hakim yang kasat mata masih bisa disuap, tapi kalau Hakim Yang Membuat hakim tidak bisa. Dan dia yang menentukan keadilan itu. Semua itu memang menguji kesabaran.

MAF: Ini kan perkembangan kasus Rembang dibandingkan Pati kurang menyenangkan, dan ibu-ibu sudah dua tahun bertahan di tenda. Sampai kapan ibu-ibu akan berada di sana?

S: Sampai kapanpun ibu-ibu akan tetap bertahan. Karena betapapun sengsaranya keadaan ibu-ibu hari ini di tenda, akan lebih sengsara nanti kalau ada pabrik semen. Ganjar memang sudah melepas Rembang. Dia sendiri pernah datang ke tenda, dan bertanya kepada ibu-ibu, “ibu-ibu sudah baca Amdal?”Kan aneh kalau kami yang orang kampung dan tidak mengenyam pendidikan ini ditanyai Amdal. Membaca Amdal kan pekerjaan akademisi. Lha, kalau dia bertanya kepada saya, yang bodoh itu siapa. Dia juga pernah bilang, “kalau memang semen salah, gugat saja di PTUN.” Kalau saya memeang yakin semen salah. Karena wilayah Rembang sudah ditetapkan sebagai wilayah CAT (Cekungan Air Tanah). Air di sana banyak. Begitupun gua. Tapi kenapa malah dibiarkan? Kenapa pas kami gugat di PTUN kadaluarsa? Kalau memang kadaluarsa, kenapa ketika sidang sudah dilaksanakan 17-18 kali baru kadaluarsa? Jadi kalau saya dianggap percaya dengan hakim, saya tidak percaya. Tapi saya yakin suatu saat kemenangan itu ada. Kebenaran itu ada. Kemenangan bakal ada. Dan kejujuran akan terlihat.

MAF: Apa yang membuat ibu-ibu tetap bertahan?

S: Kenapa kita mesti tidak peduli dengan alam? Kita menanam jagung langsung tumbuh. Menanam padi satu las diberi satu sak. Kenapa kita tidak bertrima kasih pada bumi? Bisa makan kenyang, minum tidak beli. Saya seorang perempuan yang merawat anak dengan kasih sayang, tidak pernah mengeluh, tidak pernah bosan. Meskipun anak rewel, anak nakal, saya tetap sabar. Ibu bumi pun demikian. Meskipun dirusak seperti apapun, ia tetap sabar. Mengamuknya nanti di akhir, ketika ia menangis, “Nduk, tolong aku.”Saya bisa merasakannya meskipun ibu bumi tidak bisa berbicara dengan manusia. Kalau saya peduli dengan ibu bumi, ia akan peduli pada saya. Kalau saya peduli dengan sesama, ibu bumi juga akan peduli pada saya. Sejak dulu saya tidak ada cita-cita jadi orang kaya, tapi saya ingin menjadi kaya hati. Kalau kaya hati kita akan mendapat banyak kawan, tapi kalau kaya harta, belum tentu.

MAF: Jadi sedulur-sedulur itu yang kemudian menguatkan ibu-ibu?

Iya, menambah semangat, menambah kekuatan kami. Ada saudara kami dari Purwodadi, dari Pati, jadi kami tambah semangat. Meskipun banyak rintangan, tapi saya yakin apabila kami kuat pasti kami menang. Entah menangnya melalui apa. Yang Maha Kuasa masih merahasiakan itu untuk menguji ibu-ibu Rembang supaya tetap sabar.

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>