Buruh Menuliskan Perlawanannya: Usaha Buruh Melawan melalui Pena

Buruh Menuliskan Perlawanannya: Usaha Buruh Melawan melalui Pena

Judul                             : Buruh Menuliskan Perlawanannya
Penulis                         : Agus Japar Sidik, Atip Kusnadi, Budiman, Dayat Hidayat, Gito Margono, Hermawan, Lami,    Fresly Manulang, Salsabila, Nuzulun Ni’mah, Sri Jumiati, Sugiyono, Supartono, Samsuri, Muryati.
Tebal Buku                  : 482 halaman
Cetakan Pertama          : 2015
ISBN                            : 987-620-99608-3-9
Penerbit                       : LIPS (Lembaga Informasi Perburuhan Sedane), Bogor.
Editor                           : Bambang Dahana, Syarif Arifin, Abu Mufakhir, Dina Septi, Azhar Irfansyah, Alfian Al-Ayubby Pelu.

 

Oleh: Roudlotul Choiriyah

“Lupakan semua teori menulis, dan bersegeralah menulis sesuai dengan kemampuan. Kalau memang memang harus mengumpulkan status facebookpun bisa dilakukan. Nanti, buruh yang bersangkutan dapat mengembangkannya”
(Syarif Arifin)

 

Sejarah mencatat, sejak pertengahan tahun 2000-an secara berangsur-angsur banyak orang mulai tersadar bahwa menjadi buruh murah tanpa kepastian kerja adalah sesuatu yang menjengkelkan. Sejak saat itu, banyak buruh yang marah terhadap kebijakan upah murah (warisan orde baru) dan pasar tenaga kerja fleksibel.Ada yang marah sejak awal, ada pula buruh baru menyadari pentingnya melakukan perlawanan terhadap tindak sewenang-wenang dari majikan dan ketidakpedulian Dinas Tenaga Kerja.

Buruh Menuliskan Perlawanannya adalah satu bagian rekaman dari perlawananan itu. Buku ini sekaligus membuktikan bahwa perjuangan memperjuangkan hak buruh melalui pena bukan hanya milik para jurnalis dan akademisi. Buruh mampu merangkai sendiri kata-kata dan menjadikan tulisannya itu sebagai alat perjuangan melawan kaum kapitalis.

Buku ini memuat tulisan dari 15 buruh Indonesia.Mereka menceritakan bagaimana kehidupan harian sebagai penggiat serikat buruh, pengalaman ketika bekerja, kerumitan di dalam keluarga, dan bagaimana kegelisahan melawan kapitalis dan negara yang menindas mereka.Mereka semua datang dari beragam latar belakang dan memiliki pengalaman organisasi yang tidak seragam. Lima di antara mereka adalah perempuan (Lami, Nuzulun Ni’mah, Muryanti, Sri Jumiati, Salsabila—nama samaran). Tiap penulis memiliki titik-berat yang berbeda di dalam tulisannya. Kiranya dapat disimpulkan bahwa tiap penulis memiliki perhatian yang beragam berdasar latar belakang dan pengalamannya masing-masing. Namun satu hal perlu digarisbawahi: kebanyakan buruh tersebut baru sadar akan hak-haknya yang telah dirampas oleh kapital industri setelah masuk serikat buruh.

Dalam salah satu tulisan di dalam buku ini mengulas tentang bagaimana buruh terlibat dalam gerakan grebek pabrik.Dalam gerakan ini, buruh mengaku bahwa dia pada awalnya tidak mengetahui bahwa gerakan itu adalah gerakan grebek pabrik yang membuat asosiasi pengusaha marah. Namun, ketika buruh terlibat dalam diskusi (pasca grebek pabrik) dan memahami makna grebek pabrik di dalam serikat, baru dia sadar kalau itu adalah tindakan melawan ketidakadilan. Dari gerakan-aksi massa ini buruh belajar kalau kapitalis bisa dilawan. Jadi, kesadaran buruh muncul dari pengalamannya melakukan aksi massa. Di dalam buku ini juga diceritakan bagaimana buruh bersiasat dengan upahnya yang murah.

Penulisan buku ini dibagi menjadi 4 kategori.

Pertama, menceritakan tentang kehidupan penulis sebelum menjadi buruh sampai menjadi pengurus serikat buruh.Melalui tulisan tersebut,penulis mendeskripsikan perjalanan hidupnya yang sejak remaja telah merantau ke kota-kota industri seperti Bekasi, Karawang, Tangerang, Jakarta, dan Surabaya dengan harapan ingin memperbaiki nasibnya.

Kedua, menceritakan tentang generasi buruh yang dirampas masa mudanya oleh pabrikdan dihancurkan masa depannya oleh sistem outsourcing. Mereka dipekerjakan sebagai buruh tidak tetap yang hak-haknya dilucuti.

Ketiga, buku ini mengisahkan tentang kekerasan fisik yang pernah mereka terima dari para preman pabrik.Disana penulis juga memaparkan bagaimana buruh dikepung oleh banyak kebijakan yang membuat hak mereka dirampas oleh berbagai pihak, baik mandor maupun HRD. Mereka hanya paham cara menghitung jam kerja, upah dan produksi. Tapi tidak paham cara mengukur derajat kelelahan dan tekanan batin yang dirasakan para buruh.

Terakhir, kesadaran penulis melihat realitas ketidakadilan akibat ketidaktahuan mereka tentang regulasi dan kecurangan kapitalis. Hampir semua penulis awalnya terpaksa untuk ikut berserikat.Namun karena adanya kegelisahan dalam memperjuangkan keadilan mereka memilih berserikat. Apalagi kebanyakan mereka sudah berkeluarga. Belum lagi momok ancaman PHK yang bisa datang kapan saja. Penulis juga menceritakan bagaimana sebuah serikat mengalami kekacauan akibat korupsi oleh pimpinan serikat, diperdaya perusahaan, adapula yang dimanfaatkan oleh LSM lain.

Pembagian buku menjadi empat kategori di atas membantu kita memahami realitas sehari-hari yang dihadapi oleh buruh. Pengetahuan tentang problem riil buruh adalah pengetahuan yang sulit untuk didapatkan, bahkan oleh buruh sendiri (apalagi kita yang berjarak). Dan atas alasan itu, barangkali, buku ini diterbitkan. Ia diharapkan bsa menjadi lesson learn bagi buruh lainnya untuk lebih peka terhadap nasib buruk yang menimpanya, lalu kamudian menuliskannya, menjadikannya sebagai alat perlawanan.

Penulis adalah adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga, pegiat Persma Retorika

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>