Tak Sekedar Mandiri, Tak Sekedar Menunggu Mati

Tak Sekedar Mandiri, Tak Sekedar Menunggu Mati

(Catatan atas Rembug Prakarsa Jagongan Media Rakyat 2016)

Ada satu tema besar yang ingin diusung dalam Rembung Prakarsa Jagongan Media Rakyat 2016 pada Sabtu (23/04) kemarin di Jogja National Museum, yakni tentang bagaimana membangun komunitas yang mandiri. Tema itu selaras dengan tajuk seminar (menurut saya kata “seminar” lebih tepat dipakai untuk acara ini ketimbang “rembugan”), “Menjelajahi Inisiatif, Menganyam Kemandirian Komunitas ”—satu tema yang terdengar mudah dan sepele. Namun, seperti yang akan disampaikan keempat narasumbernya, kenyataan di lapangan justru mengatakan sebaliknya: kemandirian komunitas tidak pernah dicapai dengan mudah, bahkan komunitas yang kita anggap paling mandiri pun  senantiasa berdiri di tubir kejatuhan; senantiasa dekat dengan marabahaya.

Tak Sekedar Menjadi Mandiri

John Bamba, pembicara pertama, seorang pegiat ekonomi asal Pontianak Kalimantan Barat, menuturkan bagaimana lika-liku yang mesti ia hadapi bersama kawan-kawannya dalam memelopori kemandirian ekonomi bagi komunitas-komunitas marjinal di Kalimantan Barat.

Pada tahun 1985 ia bergabung dengan gerakan Credit Union (CU) yang mulanya didirikan oleh para pastor pada medio 60-an dan berada di lingkungan gereja yang terbatas. Sebagaimana dituturkan oleh Bamba, CU secara bentuk mirip dengan koperasi simpan pinjam. Karenanya, CU,  dalam prakteknya (ia mengistilahkan CU semacam ini sebagai CU konvensional) bisa dipakai sebagai alat untuk mengeruk laba. Dan memang CU semacam itulah yang kemudian sempat menjadi tren di Kalimantan Barat.

CU memang menggiurkan. Ia benar-benar bisa menjadi pesaing serius bank konvensional. Bisa memiliki aset triliunan, memiliki ratusan gerai atm sendiri hingga unit-unit usaha yang beraneka rupa. Tak heran jika kemudian CU juga tak luput dari lirikan para pemodal dan spekulan yang ingin memperkaya diri.

Bagi Bamba dan kawan-kawannya, situasi seperti itu adalah tantangan maha berat. Di satu sisi, mereka mesti dituntut untuk melakukan eksperimentasi, melakukan formulasi supaya CU bisa menyatu dan mendukung kerja-kerja sosial yang sudah diinisiasi terlebih dahulu oleh mereka. Di sisi lain, mereka juga dituntun untuk bisa mendesain CU yang bisa berkembang secara modern, menjadi pesain bank konvensional yang tangguh namun sekaligus tidak berwatak kontraproduktif dengan gerakan.

“Kita tidak mau menjadi alat dari kapitalisme. Karena kalau murni bisnis keuangan, CU tidak ada bedanya dengan bank.”

Dengan keyakinan itu mereka kemudian mendirikan apa yang mereka sebut CU Gerakan. CU ini, setelah mengalami fase jatuh bangun pada akhirnya bisa menjadi tulang punggung ekonomi dari gerakan sosial yang digalang oleh Yayasan Pancur Kasih. Keberhasilan yang diraih oleh Bamba dan kawan-kawannya ini menurut Bamba bisa direduplikasi.

“Semua orang bisa membangun sebuah CU gerakan, menjadikan CU sebagai salah satu alat perjuangan.”

Ekonomi tentu saja bukan satu-satunya parameter dari kemandirian sebuah komunitas. M Hatta pembicara kedua menuturkan lika-liku yang dihadapinya ketika menginiasi gerakan “Pariwisata yang Bertanggung Jawab” di wilayah candi Borobudur. Gerakan ini unik karena mencoba melawan orientasi ekonomi pemerintah pada situs-situs kebudayaan yang kerapkali tidak memperdulikan masyarakat di sekitar situs tersebut.

Bagi Hatta, yang paling dibutuhkan oleh masyarakat yang telah habis-habisan dimarjinalkan dan dijatuhkan mentalitasnya adalah kesadaran. Atas apapun. Atas dirinya, atas ruang hidupnya, atas sejarah yang menyertainya. Jadi pertama-tama yang dipikirkan bukan soal ekonomi. Persoalannya bukan apakah masyarakat tersebut akan makan atau tidak, karena entah dengan cara apa dengan sendirinya masyarakat akan menyesuaikan dirinya dalam kondisi seburuk apapun. Persoalannya adalah bagaimana pada akhirnya masyarakat bisa memenuhi kebutuhan ekonominya dengan penuh martabat, memiliki daulat atas wilayahnya sendiri. Sebagai seorang pemandu wisata di wilayah Borobudur, ia memulai dari kawan-kawannya.

“Hal pertama yang saya lakukan adalah mengambil foto dari 2154 pedagang asongan di wilayah Borobudur.”

Dari sana kemudian pelan-pelan ia bisa menularkan idenya tentang pentingnya pengetahuan sejarah dan budaya, pentingnya menggali filosofi hidup dari wilayah yang mereka pijak dan hidupi sehari-hari—mulai dari candi, perkampunga, persawahan, mata air, dsb. Yang selalu ditekankan oleh Hatta sejak awal adalah, bahwa mereka harus menginiasi gerakan tersebut secara mandiri, tanpa sokongan apapun dari luar. Gerakan ini kemudian meluas seiring dengan didirikannya radio komunitas, tempat di mana ide tentang penyadaran masyarakat kampung itu kemudian di sebarkan ke segala penjuru kampung.

Cerita sedikit berbeda datang dari Mila Rosinta Totoatmojo.  Kisah kemandirian komunitas yang dirajut oleh Mila dan kawan-kawannya justru bermula dari satu jenis kesenian yang sejak lama dianggap tidak menguntungkan dari segi ekonomi, sehingga hampir musykil digunakan untuk menopang suatu gerakan: seni tari. Tetapi Mila membalikkan paradigma tersebut.

Terinspirasi dari seorang kolega yang ia temui dalam salah satu perjalanannya ke Jepang pada tahun 2012, ia kemudian mendirikan Mila Art Dance. Itu adalah komunitas tari yang didirikan dengan cita-cita nan ideal: mendiseminasikan gagasan-gagasan luhur, nilai-nilai kemanusiaan melalui medium tari. Persoalannya, memiliki gagasan ideal bagi komunitas adalah satu hal dan menjaga eksistensi komunitas adalah hal yang lain.

Di awal pendiriannya, Mila Art Dance terseok-seok. Ketiadaan tempat berlatih secara regular, misalnya, membuat mereka sempat menhabiskan bberapa waktu untuk berlatih di ruang terbuka. Mengalami beberapa kali pengusiran. Tetapi pengalaman pahit itu mendewasakan mereka.

“Pelan-pelan kami bangkit. Akhirnya kami bisa mengumpulkan uang dari menari dan menyewa ruangan kecil untuk kami buat sebagai studio tari.”

Jalan terjal yang dilalui Mila Art Dance mengajarkan mereka bahwa bergulat dengan dunia kesenian yang keras dan tanpa kompromi memerlukan siasat. Mereka butuh uang untuk menghidupi komunitas dan seluruh anggotanya, tapi mereka juga butuh menjaga idealisme yang dibangun sejak awal. Atas pemahaman itu lantas mereka mengerjakan dua hal sekaligus: art for kids dan art for art. Art for kids yang semenjak awal diinisiasi untuk memberikan kursus berbayar kepada anak-anak kemudian berkembang menjadi Mila Art Dance School

Dari ketiga narasumber di atas, terlihat jelas bahwa kemandirian sesungguhnya bukan thelos dari sebuah komunitas. Kemandirian hanyalah titik awal dari sebuah perjalanan panjang untuk memperjuangkan idealisme gerakan yang dibangun sejak awal. Dan jalan itu terjal, seringkali mendebarkan.

Tak Sekedar Menunggu Mati

Jika kemandirian, yang menjadi prasyarat utama bagi sebuah komunitas sebelum membicarakan idealisme secara lebih jauh, adalah salah satu hal yang sulit untuk diwujudkan. Perkara apakah yang memberatkan suatu komunitas untuk mencapainya? Pertanyaan itu dielaborasi panjang lebar oleh pembicara terakhir, Dandhy Dwi Laksono.

Dandhy barangkali adalah satu di antara segelintir orang di muka bumi ini yang paham mengenai pola keberlanjutan hidup dari komunitas-komunitas marjinal di Indonesia. Sepanjang tahun 2015 yang lalu, ia bersama kawannya, Ucok Suparta, melakukan perjalanan panjang mengelilingi Indonesia untuk mendokumentasikan komunitas-komunitas marjinal yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Banyak hal ia dapatkan dari perjalanan itu, termasuk pengetahuan tentang bagaimana sebuah komunitas bisa bisa bertahan dari gempuran perubahan zaman yang tidak ramah terhadap mereka.

Sepanjang perjalanannya mendokumentasikan Indonesia selama setahun, Dandhy menemukan fakta menarik, bahwa ada tiga hal yang menjadi sebab kekalahan komunitas-komunitas marjinal  di Indonesia. Yakni ketika mereka berurusan dengan negara, berurusan dengan korporasi dan konversi agama atau keyakinan baru.

Berurusan dengan negara dan korporasi bisa menjadi awal senjakala suatu komunitas, karena logika kedua institusi tersebut berseberangan dengan komunitas. Di satu sisi negara dan korporasi menghendaki laju investasi yang tak bisa dihentikan oleh apapun, termasuk keberadaan komunitas-komunitas marjinal,  di sisi lain, komunitas-komunitas ini ingin memperjuangkan eksistensi mereka. Persentuhan keduanya, baik secara frontal maupun tidak bisa dipastikan akan merugikan pihak yang kedua. Sementara konversi agama menjadi demikian merusak karena keyakinan baru ini hanya diimani sebatas aspek luarnya.

”Meskipun,” ujar Dandhy “sesungguhnya semua agama memiliki keterikatan yang kuat dengan lingkungan.” Tetapi di dalam banyak komunitas, agama atau keyakinan baru dianut tidak sampai pada level tersebut. Komunitas yang menganut agama atau keyakinan baru lebih sering mengalami ketercerabutan nilai. Padahal menurut Dandhy, “mereka yang masih bertahan adalah mereka yang masih memiliki sistem nilai.” Ia mencontohkan bagaimana ketiga ancaman tersebut hadir secara nyata di hadapan beberapa komunitas yang berhasil ia dokumentasikan, seperti Mahuze, Bouti, hingga Baduy Dalam.

Melihat secara mendalam tiga hal yang disampaikan Dandhy di atas berarti melihat di mana sesungguhnya medan pertempuran yang kini tengah dihadapi komunitas-komunitas marjinal di Indonesia. Sekaligus juga, cerita Dandhy tersebut, menyadarkan kita bahwa di banyak tempat komunitas-komunitas marjinal dengan gagah berani berjibaku mempertahankan identitas, harga diri dan lebih jauh eksistensi mereka. Mereka melawan, dan tidak sekedar menunggu mati dengan harapan suatu ketika ada kemenangan bagi satu tatanan kehidupan yang lebih baik, lebih berkeadilan, lebih bermartabat.

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>