Di Simpang Jalan Sumber Pengetahuan Nusantara

Di Simpang Jalan Sumber Pengetahuan Nusantara

Oleh Mohammad Sahlan

Berita yang dimuat media pada Jumat, 15 April 2016 pekan lalu menyangkut penutupan Museum Radyapustaka di Surakarta selama beberapa hari menyisakan pertanyaan besar dari publik. Tidak heran jika kecaman itu terus-menerus dilontarkan di media sosial, karena netizen cukup sensitif terhadap isu menyangkut harkat martabat bangsa Indonesia. Publik mempertanyakan bagaimana salah satu museum tertua di Jawa yang menyimpan banyak naskah sumber pengetahuan kuno bisa tidak mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Meskipun alasan yang diberikan oleh Pemkot Solo cukup logis, yakni kendala bantuan hibah hanya dapat disalurkan pada lembaga berbadan hukum[1]. Bagi saya, perlakuan dalam mengelola museum ini merupakan bentuk pengesampingan pemerintah juga bangsa Indonesia terhadap sumber pengetahuan nusantara.

Sikap perlakuan ini mungkin yang mempengaruhi pemerintah Belanda sehingga belum mau mengembalikan koleksi naskah kuno Nusantara ke Indonesia[2]. Hal ini juga didukung oleh sambutan Rektor Universitas Leiden Belanda, Prof Carel Stolker di keraton Yogyakarta, bahwa Leiden memiliki ribuan naskah kuno naskah Nusantara, sekaligus di sana sedang dilaksanakan digitalisasi naskah agar bisa diakses oleh semua pihak di dunia [3]. Meskipun juga ada anggapan bahwa teknologi pengelolaan naskah kuno di perpustakaan Indonesia belum memadai sebagaimana perpustakaan-perpustakaan Eropa.

Belanda bukanlah satu-satunya tempat penyimpanan koleksi naskah-naskah Nusantara yang berada di luar negeri. Berdasarkan katalog Indonesian Manuscripts in Great Britain, yang ditulis oleh Ricklefs, Voorhoeve dan Gallop (2014), British Public Collections menyimpan 181 naskah berbahasa Aceh, Ambon, Bali, Jawa (Kuno, Pertengahan, Baru), Sunda, Bugis, dan Melayu. Naskah-naskah ini, jika dilihat sesuai dengan isi katalog tersebut memiliki bentuk lukisan hiasan naskah yang cukup indah. Mungkin alasan keindahan menjadi salah satu faktor kolektor kolonial dahulu. Selain Inggris dan Belanda, ada 24 negara lain yang menyimpan naskah Nusantara, di antaranya Malaysia, Singapura, Brunei, Srilangka, Tailand, Mesir, Jerman, Rusia, Austria, Hungaria, Swedia, Afrika Selatan, Irlandia, Amerika Serikat, Swis, Denmark, Norwegia, Polandia, Cekoslawakia, Spanyol, Italia, Prancis, Belgia [4].

Indonesia juga memiliki beberapa tempat penyimpanan naskah kuno. Museum Sonobudoyo Yogyakarta memiliki koleksi naskah 1350 naskah [5], Perpustakaan Pura Pakualaman Yogyakarta memiliki koleksi naskah 251 naskah [6], Koleksi Abdul Mulku Zahari Button memiliki naskah 320 naskah [7], dan beberapa tempat lainya, seperti Fakultas Satra UI, Perpusnas RI, Perpus Keraton Yogyakarta, Radyapustaka Solo dan lain sebagainya. Namun demikian pengkajian secara mendalam naskah-naskah ini masih sedikit dilakukan oleh para filolog Indonesia atau akademisi lainya.

Tradisi Filologi [8] Indonesia belum berkembang dengan baik hingga saat ini. Kampus-kampus tempat para intelektual dihasilkan belum berani memberikan porsi lebih terhadap bidang pengkajian naskah kuno. Lihat saja di beberapa kampus favorit Indonesia, belum ada program khusus pasca sarjana yang membawahi studi filologi (kecuali UI). Tingkat strata 1 baru dibuka di beberapa kampus. Bandingkan dengan studi pengkajian Asia-Tenggara yang ada di Universitas Leiden, NUS, Cornel, juga Australia.

Gejala kurang minatnya studi naskah kuno untuk pengembangan pengetahuan nusantara-memimjam istilah Kleden, merupakan gejala sejarah kebudayaan Indonesia modern yang pada hakikatnya adalah sejarah tanpa kontinuitas. Setiap generasi Indonesia mencoba membangun tradisi baru ab initio (dari nol sebagai awal) dan bukannya melakukan dialektika dengan tradisi sebelumnya [9]. Kecenderungan ini dapat dimaknai bahwa setiap generasi selalu bersemangat dan terpikat dengan modernisme dan budaya populer lainya tanpa melakukan sebuah kritik. Kleden memberikan sebuah gagasan bahwa kebudayaan adalah dialektik antara ketenangan dan kegelisahan, penemuan dan pencarian, integrasi dan disintegrasi, dan tradisi dan reformasi [10]. Hingga sampai saat ini Indonesia masih berada diambang diskontinuitas dalam membangun tradisinya.

Pengaruh kolonial dan otoritas pengetahuan yang masih orientalis terhadap kajian-kajian Nusantara juga menjadi faktor. Orientalisme atau pengetahuan tentang Timur yang dikontruksi oleh Barat pada hakikatnya melangkah terlalu jauh dari dunia Timur itu sendiri [11]. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa bahasa merupakan sistem terorganisir dan terkodifikasi untuk menyampaikan sebuah informasi dan pesan. Akan tetapi bahasa tertulis tidak ada kehadiran langsung penulis, dan yang ada hanyalah kehadiran kembali atau representasi. Sehingga nilai, daya, kekuatan, atau tampilan kebenaran tentang dunia Timur tidak bisa secara instrumental bergantung pada dunia Timur [12]. Lebih jelasnya, penafsiran terhadap dunia Timur yang dikaji dari tulisan-tulisan hanyalah hasil dari representasi Timur yang dikonstruksi oleh Barat sesuai minatnya. Hal ini juga terjadi di Nusantara, sejak para filolog kolonial diterjunkan untuk melanggengkang penjajahan. Tradisi orientalispun belum bisa hilang sampai hari ini.

Dalam perkembangan filologi Indonesia, teori filologi saat ini masih mengacu pada tradisi filologi masa kolonial. Sejarah mencatat dua institusi yang mengurusi kajian Indonesia di bidang antropologi, bahasa, geografi, missionaris, yakni NBG (Nederlandsch Bijbelgenootschap) dan KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal Land-en Volkenkunde) sejak kolonial Belanda[13]. Sehingga tradisi yang diwariskan masih sangat orientalisme sentris. Dalam warisan itu, teori filologi hanya sebatas pada suntingan teks dan terjemahan [14], yang mengakibatkan studi filologi hanya sekadar teknik penyuntingan dan penerjemahan. Hasil dari para filolog dapat dimanfaatkan oleh kepentingan kolonial masa itu untuk melanggengkan pemerintahannya sehingga bisa disesuaikan dengan pendapat Edward Said tentang representasi dalam penafsiran teks di atas. Teori teknis ini masih diterapkan dalam studi filologi masa kini, sebagaimana buku-buku teori filologi yang ditulis oleh Molen (Kritik Teks Jawa, Pustaka Obor), Robson (Prinsip-prinsip Filologi Indonesia, PPB), dan buku-buku filologi lainya.

Selain ideologi kritik teks yang sangat berpengaruh itu, tradisi filologi orientalis juga mewariskan etos multidisipliner [15]. Pandangan ini mengkombinasikan antara teori filologi murni dengan disiplin bidang lain, seperti sejarah, sastra, linguistik, agama, adat istiadat, dsb. Ahli filologi Indonesia yang menerapkan teori ini dengan baik adalah Zoetmulder, yang menghasilkan karya termasyhur Jawa Kuno, yakni Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang (1983). Zoetmulder dapat membangkitkan aura-aura mistik, keindahan alam, kemegahan istana, yang dikandung dalam karya Jawa Kuno itu. Hal ini tidak lain karena faktor ketelitian terhadap naskah juga penguasaan bidang agama Hindu, geografi kuno, serta kesusasteraan Jawa Kuno Zoetmulder yang sangat dalam. Beliau inilah salah satu ilmuwan filologi yang perlu diregenerasi di Indonesia.

Semua uraian ini menunjukkan bagaimana peranan ilmuwan, pemerintahan, ahli agama, dan elemen masyarakat lain dalam membangun tradisi masa itu. Bagaimana tradisi orientalisme yang didukung oleh kebudayaan modernisme yang kuat di dunia masih kokoh berdiri hingga saat ini, dan. Bangsa Indonesia masih memiliki banyak tugas berat dalam menelusur kembali puing-puing peradaban masa lalu yang tentunya dengan sikap kritis juga, begitupun terhadap modernisme. Naskah Nusantara perlu banyak dikaji, dengan perspektif internal Indonesia, agar nasib pernaskahan Indonesia tidak hilang dimakan zaman. Terakhir, sebagaimana Kleden, membangun tradisi Indonesia tanpa sikap tradisional penting untuk diterapkan.

Wallahu a’lam bissowab.

Penulis adalah Mahasiswa Sastra Jawa Universitas Gajah Mada.

Catatan akhir:

[1]Lihatberita yang dimuat di media online, https://news.detik.com/berita/3189111/museum-radyapustaka-solo-tutup-karena-biaya-pengelola-pasrah, diaksespada 18, 04, 2016 Pukul: 14.04 WIB.

[2]Lihatberita yang dimuat di media online, http://jogja.tribunnews.com/2014/02/28/belanda-simpan-naskah-kuno-kalau-dijajar-panjangnya-bisa-mencapai-12-km, diaksespada 18, 04, 2016, Pukul: 14:11 WIB.

[3] Ibid.

[4]Barried, PengantarTeoriFilologi, 1983:8

[5]Behrend, KatalogIndukNaskah-naskah Nusantara: Jilid 1, 1990:VIII

[6]Saktimulya, KatalogNaskah-naskahPerpustakaanPuraPakualaman, 2005: VII

[7]Ikram, KatalogNaskahButonKoleksi Abdul MulkuZahari, 2001:5

[8]Filologiadalahilmu yang mempelajarinaskahkuno, sedangkanfilologmerupakanahlipernaskahankuno.

[9]Kleden, SikapIlmiahdanKritikKebudayaan. 1987: 245.

[10]Kleden,op.cit… hal.214.

[11] Said, Orientalisme. 2010:32 (Terj.), PustakaPelajar.

[12] Said, Orientalisme. 2010:32 (Terj.), PustakaPelajar

[13]Sudibyo, KembaliKeFilologi: Filologi Indonesia danTradisiOrientalisme. 2007: 111 (JurnalHumaniora Vol. 19)

[14]Sudibyo, op.cit… hal.114.

[15]Sudibyo, op.cit… hal 114.

Daftar pustaka

Website,
https://news.detik.com/berita/3189111/museum-radyapustaka-solo-tutup-karena-biaya-pengelola-pasrah , diakses pada 18, 04, 2016 Pukul: 14.04 WIB.
http://jogja.tribunnews.com/2014/02/28/belanda-simpan-naskah-kuno-kalau-dijajar-panjangnya-bisa-mencapai-12-km, diakses pada 18, 04, 2016, Pukul: 14:11 WIB.

Buku,
Kleden, Ignas. 1987. Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan. Jakarta: LP3ES.
Said, Edward. 2010. Orientalisme (Terj.). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Baried, dkk. 1983. Pengantar Teori Filologi.Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.
Zoetmulder, P.J. 1985. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang (Terj.). Jakarta: Djambatan
Margana, S. 2004. Pujangga Jawa dan Bayang-Bayang Kolonial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Jurnal,
Sudibyo, Kembali Ke Filologi: Filologi Indonesia dan Tradisi Orientalisme. 2007(Jurnal Humaniora Vol. 19)

Katalog:
Ikram, dkk. 2001. Katalog Naskah Buton Koleksi Abdul Mulku Zahari. Jakarta: Obor.
Behrend, T.E. 1990. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara: Jilid 1., Jakarta: Djambatan.
Saktimulya, Sri Ratna. 2005. Katalog Naskah-naskah Perpustakaan Pura Pakualaman. Jakarta: Buku Obor.
Ricklefs, Voorhoeve. 2014. Indonesian Manuscripts in Great Britain. Jakarta: Pustaka Obor Indonesia.

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>