Bahasa dan Jatidiri Pengarang

Bahasa dan Jatidiri Pengarang

Suatu ketika Shusa Gappy, jurnalis The Paris Review melontarkan satu pertanyaan menggelitik kepada Tahar Ben Jelloun, penulis Prancis kenamaan kelahiran Maroko. “Anda orang Maroko, lahir dan tumbuh di sana. Bahasa ibu Anda Arab, namun Anda memilih menulis dalam Bahasa Perancis.” kata Shusa,  “Boleh saya tanya mengapa?”

Pertanyaan Shusa di atas mewakili entah berapa banyak orang yang ingin alasan di balik keputusan pengarang untuk menulis tidak dalam bahasa ibunya. Pertanyaan yang bisa jadi tidak penting. Tapi bukankah pertanyaan tetap pertanyaan,  keingintahuan selamanya tetap keingintahuan dan mereka butuh jawaban, butuh dipuaskan? Dan mengetahui jawaban dari para penulis itu memang senantiasa menarik.  Ia, jawaban tersebut, bahkan bisa kita pakai sebagai pintu masuk dalam menyelami sosiologi dan psikologi masyarakat tertentu dalam hubungan mereka terhadap bahasa. Jelloun, misalnya, dalam wawancara itu memberikan jawaban yang sangat menarik dan membuat kita sedikit banyak paham bagaimana mentalitas orang Arab dalam menghadapi bahasanya sendiri. Katanya:

One speaks of English as the language of Shakespeare, of Italian as that of Dante, but we don’t say Arabic is the language of al-Ghazali—it is always the language of the Koran. It is inhibitive; one would feel almost guilty manipulating it.

Selain Jelloun, kita mengenal banyak nama besar yang memutuskan menulis tidak dengan bahasa ibunya. Mulai dari Joseph Conrad, Salman Rushdie, Vladimir Nabokov, sampai Jumpha Lahiri. Nama terakhir adalah yang paling banyak dibicarakan belakangan ini. Bahkan mungkin paling fenomenal.

Berbeda dari pendahulunya, Lahiri justru memutuskan meninggalkan bahasa ibunya, bahasa yang membesarkan namanya tepat di puncak ketenarannya sebagai seorang pengarang. Keputusan yang dilakukan Lahiri ini, sebagaimana diakui olehnya, dianggap aneh oleh orang-orang terdekatnya. “In Italy,” kata Lahiri, “even though many have encouraged me to take this step, many support me, I’m still asked why I have a desire to write in a language  that is much less widely read in the world than English.”

Namun Lahiri bergeming. Niatnya untuk mempelajari lebih dalam bahasa yang menurutnya membawa gairah (infatuation) yang menggelegak dalam dirinya sudah bulat.  Ia jatuh cinta pada bahasa Dante Alighieri itu. Ia lalu pindah ke Roma, dan sejak saat itu memutuskan untuk berhenti membaca, menulis, dan berbicara dalam bahasa Inggris, dan berencana untuk mengarang, menulis fiksi dalam bahasa barunya.

Akhir 2015 kemarin setelah lebih dari dua tahun menjalani perjalanan panjang, Lahiri menulis dalam bahasa Italia untuk The New Yorker (diterjemahkan oleh Ann Goldstein) kisah cintanya dengan Bahasa Italia.  Teach Yourself Italian, judul Inggris naskah tersebut, adalah naskah yang menyentuh. Dengan jernih dan mendalam, Lahiri mengungkapkan sisi dirinya yang paling personal di depan bahasa, tentang perasaan gamang yang aneh sebagai pelarian di tanah kelahirannya sendiri, gairah yang tak terpahami pada hal yang sesungguhnya jauh berada di luar dirinya, dan sekian banyak hal yang pada akhirnya membuat ia  memutuskan untuk kembali pada bahasa yang ia yakini seharusnya menjadi miliknya: Italian.

Tulisan Jhumpa Lahiri bisa Anca baca di sini

 

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>