Rima-Rima Tiga Jiwa yang Terpinggirkan

Rima-Rima Tiga Jiwa yang Terpinggirkan

Judul novel: Rima-Rima Tiga Jiwa
Penulis: Akasa Dwipa
Editor: Dwicipta
Penerbit: Literasi Press
Cetakan Pertama: Maret 2016

Oleh: Elki Setiyo Hadi

Di negeri ini, perbedaan dalam masyarakat diakui secara resmi lewat falsafah di kaki burung garuda yang menjadi simbol kebanggaan negara, Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda namun tetap satu. Tapi di saat bersamaan praktek keadilan dan toleransi semakin hilang ditelan bumi. Kelompok-kelompok masyarakat marginal atau pinggiran terus menerus didiskriminasi dan dieksploitasi oleh kelompok mayoritas. Inilah satu di antara sekian ironi yang memalukan di Indonesia

Isu diskriminasi akhir-akhir ini kembali menyeruak di Indonesia. Yang paling mengherankan, aktor utamanya justru pejabat-pejabat negara. Mereka melakukan kampanye massif didukung oleh media massa dan kelompok-kelompok masyarakat berbasis agama tertentu dalam melakukan pengerdelin terhadap kaum minoritas: Orang dengan orientasi seksual berbeda seperti Lesbian, Gay, Bisexsual, dan Transgender (LGBT).

Berita yang dilansir Tempo secara gamblang menyatakan ketakutan Menteri Pertahanan yang sangat berlebihan terhadap kaum LGBT.“(LGBT) bahaya dong, kita tak bisa melihat (lawan), tahu-tahu dicuci otaknya, ingin merdeka segala macam, itu berbahaya”(Wawancara Tempo 23 Februari dengan Ryamizard Ryacudu).

Propaganda berbahaya dari Menteri Pertahanan yang dilansir Tempo dengan judul “Menteri Pertahanan: LGBT Itu Bagian dari Proxy War” membuat kelompok-kelompok minoritas seperti kaum LGBT semakin tersudut. Padahal, negara mempunyai kewajiban untuk memberikan perlindungan terhadap warganya. Bukan dimarjinalisasi, dieksploitasi, dan dijadikan kambing-hitam dari ketidakmampuan negara dalam memenuhi hajat hidup warganya yang kian hari kian memprihatinkan.

Rima-Rima Tiga Jiwa Yang Terpinggirkan

Di tengah gencarnya isu diskriminasi terhadap kaum LGBT  inilah novel “Rima-Rima Tiga Jiwa” patut menjadi referensi untuk melihat di mana akar persoalan yang sebenarnya dari kaum marjinal seperti para pelacur dan LGBT.

Novel ini berkisah tentang Susanto, seorang lelaki dengan cita-cita ingin menjadi penulis yang mampu mengubah dunia. Dia ingin suatu saat nanti karya-karyanya dapat dikenang.  Susanto mempunyai orientasi seksual berbeda setelah bertemu dengan seorang waria bersama Silvy dan kemudian dicampakkan oleh pacarnya yang seorang perempuan bernama Elin, seorang perempuan yang bekerja sebagai penyanyi malam di kafe-kafe. Pertemuan pertama Susanto dengan Elin terjadi di sebuah perpustakaan. Ia tertarik padanya lantaran penyanyi malam itu hobi pergi ke perpustakaan dan membaca buku. Sayang, cintanya kandas karena kemiskinan dirinya dan perselingkuhan Elin dengan sopir truk. Sakit hatinya kepada Elin itulah yang membuat Susanto mempunyai kebiasaan baru, bercinta dengan laki-laki yang hidup dijalanan. Keadaan ekonominya kemudian makin memaksanya pula menjadi seorang gigolo.

Dalam keadaan sakit hati, ia bertemu dengan seorang pelacur bernama Rima. Sebagai pelacur, Rima merupakan cermin dari kehidupan malam kota yang keras. Jika Susanto adalah tokoh yang mengidam-idamkan keadilan, maka Rima adalah korban dari ketidakadilan. Ia adalah representasi seorang perempuan yang digempur oleh keadaan sehingga memaksanya untuk menjual tubuh. Meskipun harus tertatih, dicibir, dan dihina oleh masyarakatnya, tanggungjawab Rima sebagai Ibu dari anak-anaknya, anak dari Ibunya, dan istri dari suaminya membuatnya harus bertahan hidup dengan melacur. Tragedi hidup Rima inilah yang membuat Susanto memutuskan untuk menjalani hidup bersama pelacur itu.

Selain memiliki keberpihakan terhadap pelacur dan waria, Susanto memutuskan menjadi seorang vegan—tidak memakan daging. Susanto percaya bahwa pembantaian terhadap hewan merupakan salah satu permasalahan yang terjadi di bumi danpercaya selama manusia masih membantai hewan maka tidak pernah ada keadilan

“Ketika manusia berhenti mengeksploitasi hewan sebagai komoditi, menghapus peternakan-peternakan, membiarkan hewan mendapatkan kebebasan, manusia tidak akan mendengar lagi ada manusia kelaparan. Ketika manusia tidak lagi mengkonsumsi hewan, manusia akan selalu sehat, begitu sulit menemukan kematian hingga perlu menggunakan senapan untuk membunuhnya” (Bab 11: Aku laki-laki deman perubahan).

Mengikuti perjalanan hidup Susanto dan perjuangan tak kenal lelahnya menjadi penulis mengingatkan kita pada Tokoh “Lapar”nya Knut Hamsun. Kedua Novel ini menceritakan perjuangan seorang penulis yang harus kelaparan demi tujuannya menjadi seorang penulis. Bagi penulis yang belum dikenal namanya seperti dalam dua novel tersebut, mereka baru mempunyai uang ketika tulisannya dimuat media massa atau diterbitkan menjadi buku. Dalam novel Lapar, apabila tulisannya selalu ditolak media maka si tokoh harus menahan lapar bahkan memakan rumput atau menggigiti daging mentah yang menempel di tulang sapi. Lewat novel ini Hamsun menciptakan sisi-sisi tragis perjalanan Sang tokoh menjadi seorang penulis, yang diakhir cerita si tokoh harus meminta tulang sisa di pasar. Di pojok pasar ia memakan daging yang menempel di tulang dan akhirnya muntah karena perutnya tidak mampu memakan daging mentah tersebut

Berbeda dengan Hamsun, Dalam “Rima-Rima tiga Jiwa” Susanto memiliki nasib yang berbeda. Dia bertahan hidup sebagai pacar Silvy, seorang waria kaya yang sangat mencintai Susanto. Dalam perjalanan hidupnya kemudian,Susanto lebih memilih Rima, seorang pelacur yang  memiliki tiga orang anak.

Melalui Susanto si penulis novel ingin bercerita tentang bagaimana sebenarnya tidak hanya orang-orang yang berpendidikan tinggi saja yang mempunyai cita-cita perubahan sosial. Namun dari pinggiran seperti Susanto juga mampu meneriakkan berbagai ketidakadilan yang terjadi. Tokoh Susanto adalah contoh dari kaum-kaum terpinggirkan yang benar-benar merasakan ketidak adilan. Sehingga dia menginginkan perubahan

Keadilan untuk minoritas

Lewat novel Rima-Rima Tiga Jiwa Akasa Dwipa mendedahkan kehidupan kaum marginal akibat pengerdilan dari masyarakat oleh pihak status quo. Ia mempertanyakan bagaimana ketidakadilan terus berlangsung di negeri ini. Ketiga tokoh tersebut adalah wakil dari orang-orang yang tidak pernah mendapat tempat di negeri yang mengaku menjunjung tinggi keadilan. Sila kelima yang berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” yang seharusnya menjadi pola pikir tatanan masyarakat hanya menjadi jargon kosong. Apakah sudah ada keadilan di negeri ini?

Tidak hanya melalui Susanto, tokoh menarik lain yang diciptakan oleh penulis adalah Silvy adalah tokoh waria dalam novel “Rima-Rima tiga Jiwa”. Silvy adalah gambaran bahwa sebenarnya cinta tidak hanya dimiliki perempuan atau laki-laki. Sosok waria seperti Silvy juga mempunyai rasa cinta yang tulus terhadap Susanto. Ia yang merdeka dalam hal financial,mempunyai pekerjaan tetap, menjadi utopia bagi tatanan moral alternatif yang disuguhkan penulis secara fiksional.

Untuk membuktikan cintanya pada Susanto, misalnya, Silvy melakukan apa saja yang diinginkan Susanto. Ketulusan Silvy begitu tampak ketika Susanto memilih untuk hidup dengan perempuan yang dipilihnya. Rima. Walaupun patah hati Silvy tetap mencintai Susanto. Bukan lagi sebagai kekasih, tapi sebagai anak.

Aku menginginkan kepulangannya sebagai anak. Sebagai saudara yang bisa diajak bicara. Aku membutuhkan bantuan-bantuannya. Membutuhkan tenaganya. Berat rasanya menjalani semua kesibukan seorang diri” (Bab 13: Merah Hati, 10 Juni 2013, hal. ).

Tokoh Silvy, yang selama ini dinarasikan oleh agama dan kekuasaan politik sebagai manusia cacat karena status warianya, terbukti memiliki sisi-sisi humanis. Melihat Silvy, saya membayangkan sisi romantis seorang manusia yang tulus. Penulis berhasil menuliskan sisi romantis manusia yang tidak menye-menye. Sebuah ketulusan yang ditunjukkan oleh seorang manusia dengan segala kekurangan yang dimilikinya.

Membaca novel ini memberikan kita pandangan berbeda tentang kehidupan-kehidupan yang selama ini dipandang sebelah mata. Melalui tokoh-tokoh yang ada pada novel, seolah penulis menjawab bagaimana narasi yang diciptakan untuk melegalkan diskriminasi terhadap suatu kelompok yang terpinggirkan. Orang yang masih menganggap bahwa orientasi seksual berbeda adalah penyakit masyarakat wajib membaca novel ini. Sebab dari novel ini kita dapat belajar bahwa ada faktor lain yang memaksa. Ketidakadilan. “Rima-Rima Tiga Jiwa” merupakan antitesis dari wacana yang memojokkan kaum-kaum pinggiran. Novel ini wajib dibaca bagi siapa saja yang ingin mengetahui kehidupan keras orang pinggiran.

Penulis adalah redaktur media pergerakan mahasiswa Jaganyala dan berkuliah di jurusan sastra Indonesia UAD. Tinggal di Yogyakarta.

Print Friendly

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>