Perempuan yang Mengemansipasi Kaumnya di Dunia Para Bajingan

Perempuan yang Mengemansipasi Kaumnya di Dunia Para Bajingan

Lupakan Kartini.  Singkirkan Cut Nyak Dien. Dan Simpan di lipatan baju Anda Rosa Luxemburg.

Kami tidak sedang bergurau, juga tidak bermaksud melecehkan atau merendahkan tiga perempuan besar yang selama bertahun-tahun sejak kematiannya dikenang sebagai perempuan “perkasa” itu. Kami akan menyodorkan satu nama, dan seluruh klaim keperkasaan dari ketiga perempuan tersebut akan terlihat sepele: Marm Mandelbaum. Seorang Amerika keturunan Rusia.

Nama tersebut mestinya asing di telinga Anda. Kami bahkan berani bertaruh, jika nama perempuan tersebut akan sulit Anda temukan dalam buku-buku sejarah tentang Amerika. Tapi sudahlah, bukankah di dalam buku-buku sejarah juga tercatat nama-nama pecundang agung?

Meskipun demikian, Marm Mendelbaum bukanlah sosok sembarangan. Ia adalah perempuan pertama yang menjadi pemimpin para bajingan dalam sejarah kota New York. Ya, bajingan. Dunia para gali, tukang pukul, perampok dan pencopet. Dunia yang amat maskulin.

Kita mungkin masih bisa membayangkan lahirnya seorang seperti Kartini di dalam keluarga feodal di mana sang bapak menyayangi anak perempuannya, Cut Nyak Dien dalam sejarah Aceh yang dipenuhi para perempuan perkasa, atau Rosa yang tumbuh dalam kelompok yang menekankan laku pembebasan. Tapi di dunia para gali di abad ke 19, di tanah tak bertuan seperti New York yang dipenuhi bandit-bandit pelarian dari Eropa, kemunculan Marm Mandelbaum tentu lebih mirip sebuah keajaiban.

Tapi Eric Grundhauser dalam “ New York’s First Female Crime Boss Started Her Own Crime School” mengupas sisi lain dari  Marm Mandelbaum. Alih-alih mengupas soal kehebatan perempuan gemuk tersebut dalam merawat bajingan-bajingan anak buahnya, Eric mengisahkan bagaimana The Queen of Fences, julukan Mendelbaum, membangun sekolah kriminal buat anak-anak jalanan New York. Banyak murid perempuan di sekolah itu yang sukses menapaki karir sebagai penjahat pada masanya, bahkan beberapa menjadi kanon dalam sejarah kriminal Amerika.

“Mandelbaum dan sekolahnya barangkali melakukan hal keliru di hadapan hukum,” kata Eric “tetapi dalam peranannya memberdayakan perempuan yang dia latih dan pekerjaan ia benar di hadapan sejarah.”

Tulisan Eric bisa And abaca di sini

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>