JANDA-JANDA YANG MALANG

JANDA-JANDA YANG MALANG

Judul film        : Water
Negara            : Kanada
Bahasa            : Inggris, Hindi
Durasi             :117 menit
Sutradara       : Deepa Mehta
Pemain      :Seema Biswas, Lisa Ray, Jhon Abraham, Sarala Kariyawasam, dan Manorama
Tahun rilis     : 2005

 

OlehAch. Fadil*

“ …for a long time, I believed that God is truth. But today, I know that truth is God.”

 

Sengaja saya kutipkan sabda Mahatma Gandhi di atas untuk menggambarkan keseluruhan film yang akan saya beri catatan ini: Water (2005). Kalimat yang ditampilkan di akhir scene film besutan Deepa Mehta ini diucapkan oleh Gandhi di stasiun Kereta Api, Rawalpur, India, setelah pemimpin rohani di balik kemerdekaan India tersebut terbebas dari jeruji penjara pemerintah Inggris karena memimpin gerakan perlawanan tanpa kekekerasan, ahimsa, terhadap kolonialisme untuk kemerdekaan, demokrasi dan perdamaian.

Film ketiga dan terakhir dari Elements Trilogy Mehta—sebelumnya Fire (1996) dan Earth (1998)—ini mengisahkan tentang kehidupan janda-janda penganut agama Hindu yang berada dalam represi dan eksploitasi yang dilakukan oleh para brahmana (kasta tertinggi) dan para fundamentalis agama. Kisah mengenaskan ini terjadi sekitar tahun 1938, dimana kolonialisme Inggris di India mulai menemui senjakalanya.

Represi itu berupa perampasan hak-hak mereka dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya. Semua itu berlangsung menggunakan legitimasi hukum agama. Legitimasi keimanan ini berasal dari teks suci yang mereka sebut dengan Manu (Manusmriti): teks kuno Hindu. Terhadap kaum janda, teks itu hanya memberi tiga opsi bernada misoginis, yaitu: ikut mati bersama suaminya di tumpukan kayu yang dibakar; hidup dalam pantangan-pantangan; atau jika diijinkan boleh menikahi adik laki-laki suaminya (itupun kalau ada).

Sementara eksploitasi yang dimaksud adalah kebanyakan para janda harus mengemis, bahkan terpaksa melayani kebejatan para pemangku kasta tertinggi itu, karena sulitnya kehidupan perekonomian yang mereka rasakan. Sehingga yang mengalaminya tidak hanya puluhan jiwa, tetapi menurut sensus 2001, mencapai 34 juta janda.

Di sinilah kita bisa melihat betapa berbahayanya kuasa harta ketika berkolusi dengan kuasa agama. Sebab teks suci tadi menjadi semacam afirmasi-legitimatif terhadap kegilaan-kegilaan kaum brahmana tersebut. Film yang latarnya berfokus pada kota suci Varanasi (disebut juga Benares) India ini merekam kebahayaan-kebahayaan itu. Varanasi adalah semacam Makkah atau Vatikan-nya orang Hindu yang terletak ditepi Sungai Gangga.

Bermula ketika sang sutradara mulai menampilkan Chuyia (Sarala Kariyawasam) yang saat itu masih berusia sekitar 8 tahun tetapi sudah harus menjadi janda karena ditinggal mati sang suami. Sudah menjadi tradisi di daerah tersebut seorang anak perempuan biasa menikah di usia semuda itu. Bukan sesuatu yang mengherankan, sebab kondisi ekonomi yang mencekik memaksa penduduk desa untuk mencari penghidupan atau mempertahankan kehidupan mereka (survival of the fittest), salah satunya dengan cara menikahkan putri mereka dengan lelaki yang secara ekonomi lebih mapan tanpa mempertimbangkan perbedaan usia yang sangat jauh. Kenyataan inilah yang dialami keluarga Chuyia. Bahkan dari umurnya yang masih sangat belia, ia lupa jika dirinya sudah menikah.

Status janda menjadi kemalangan tersendiri. Sebab status itu mengharuskan para penyandangnya memilih salah satu dari tiga pilihan yang ditawarkan teks Manu seperti diungkap di atas tadi. Kebanyakan dari mereka memilih hidup dalam pantangan. Maka itu berarti, seorang janda harus tinggal di sebuah ashram yang disediakan khusus untuk para wanita yang ditinggal suaminya ke alam baka. Ia harus dicukur dan dan harus mengenakan pakaian putih sebagai tanda berkabung untuk sang suami. Selain itu, ia harus melalui pantangan-pantangan berat sepanjang hidupnya seperti tak bisa memakan makanan yang digoreng, ladu, hingga pantangan yang paling tragis: tidak boleh menikah lagi. Untuk pilihan yang terakhir ini, bukan hanya tidak boleh menikah, untuk sekedar menemui laki-laki saja tidak diperbolehkan. Para janda yang berada di ashram itu merasakan semua represi yang dilakukan para chauvinis Hindu.

Sampai di sini dulu, kita perlu bernafas pelan-pelan. Adegan-adegan yang ditampilkan dalam film yang pernah menjadi nominator Academy Award 2007 untuk Film Berbahasa Asing Terbaik ini, mengingatkan kita betapa dalam kontestasi politik Indonesia, wanita-wanita kita seringkali dibenturkan dengan teks bernada misoginis dari kalangan agamawan yang tidak pro terhadap kepemimpinan perempuan. Alhasil, masyarakat kita yang tidak cerdas harus tunduk kecewa karena itu. Belakangan teks-teks suci keagamaan kembali menjadi alat untuk mensubordinasi mereka yang biasa kita sebut dengan LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender).

Mari kita lanjutkan cerita janda tadi. Selain Chuyia, Kalyani (Lisa Ray) juga merasakan hal yang sama. Tak jelas mengapa wanita ini sampai menjadi janda. Sebab, sama seperti Chuyia, jangankan tahu alasan menjanda, terhadap suaminya saja tidak tahu. Janda yang tak bisa membaca itu adalah penganut Hindu yang taat, mereka berdua bersahabat. Hingga suatu hari, mereka berjumpa secara tak sengaja dengan Narayan (John Abraham)—mahasiswa hukum yang baru saja menyelesaikan ujian akhirnya. Narayan adalah pengagum dan pengikut setia Gandhi. Semangat pembebasan yang digaungkan rohaniawan tersebut tertanam dalam dirinya. Hal ini terlihat ketika ia melihat tradisi ‘tidak beres’ yang terjadi di lingkungannya yakni penindasan terhadap para janda. Dari situlah ia coba melakukan perlawanan dengan mula-mula mempertanyakan tradisi yang sudah berlangsung lama tersebut. Ia mulai perlawanan itu dari keluarganya: ayah dan ibunya. Kesadaran yang demikian itulah—selain juga karena perjumpaan dengan Chuyia—yang membawanya berjumpa dengan Kalyani dan membangun kisah asmara dengan janda berparas cantik itu.

Perjumpaan dengan Kalyani untuk kali pertama ternyata cukup membekas di benak Narayan. Komunikasi mereka terhambat dengan tradisi. Hingga suatu saat ia  menuliskan surat untuk Kaliyani. Surat itu dikirimkan melalui Chuyia. Namun karena Kalyani tak mampu membaca, akhirnya ia minta dibacakan pada Sakuntala (Seema Biswas). Ternyata isi surat itu cukup mengejutkan: ajakan bertemu di Karam Ghat. Menyadari hal itu, Sakuntala tak memberi jawaban apapun. Karena sebagai penganut agama yang taat, ia sadar kalau membolehkannya, ia akan melanggar hukum agama. Tetapi ia juga tidak kuasa melarangnya, sebab ia tahu apa yang dirasakan seorang janda seusia Kalyani. Akhirnya mereka berdua—Narayan dan Kalyani—tetap bertemu.

Apa yang dilakukan Kalyani ini sebetulnya bisa dibaca sebagai perlawanan terhadap tradisi yang dianggapnya terlalu mengekang. Tampaknya perasaan itu sudah dirasakannya sejak lama. Tetapi, karena ia penganut agama yang taat, keimanannya sempat begitu lama mengalahkan keinginannya untuk melawan tradisi eksploitatif ini. Keresahan itu menemukan monentumnya ketika Narayan membacakan puisi karya Kallidas berjudul “Meghdood” dan menjelaskan maknanya yang kira-kira menuturkan bahwa tak seharusnya orang yang saling mencinta dipisahkan oleh alasan yang sebenarnya tak beralasan.

Keresahan-keresahan semacam itu sebenarnya seringkali kita temukan dalam keseharian kita. Masyarakat kita sering disuguhkan dengan aneka model petuah atau fatwa kalangan agamawan untuk tidak ‘begini’ dan tidak ‘begitu’; haram melakukan ini halal melakukan itu; dengan alasan-alasan yang musykil dipahami akal sehat. Keresahan itu selalu ada. Tapi apalah daya, masyarakat kita terlalu takut untuk bergesekan dengan para agamawan, terlebih dengan institusi yang selalu dianggap paling otoritatif.

Kembali ke film tadi. Singkat cerita, mereka berdua bersepakat untuk menikah. Saat Narayan mengadu pada ibunya, keinginannya itu dianggap sesuatu yang gila. Sebab menikahi janda bagi kalangan brahmana seperti dirinya adalah sesuatu yang  menjijikkan. Pun demikian dengan Kalyani. Saat pimpinan ashram, Madhumati (Manorma), mendengar berita itu dari mulut Chuyia, ia sangat murka. Sebab menikah lagi bagi janda adalah sebuah aib sosial dan pelakunya dianggap berdosa serta akan menjadi petaka bagi masyarakat. Begitulah kepercayaan yang menjamur di kalangan penganut agama Hindu waktu itu. Karena itu Kalyani dikenai hukuman kurungan dan dicukur. Kalyani memang satu-satunya janda yang tak dicukur dan rambutnya dibiarkan terurai panjang. Sebab hal itu menjadi keuntungan tersendiri bagi pimpinan ashram itu dengan menjualnya kepada para brahmana sebagai pelacur. Kelakuan pimpinan Ashram terhadap Kalyani itu tidak hanya memancing kemurkaan Sakuntala, tapi Chuyia yang masih kecil sangat mengutuknya juga.

Mehta melalui film ini ingin meyakinkan kita bahwa hati nurani selalu mengutuk tindakan-tindakan represif sekalipun dilakukan atas nama agama. Jangankan nurani orang dewasa, nurani anak kecil pun bisa mengutuknya. Sebab hati nurani—bahkan sekalipun tanpa tambahan argumen-argumen logis—akan selalu mengutuk tindakan yang melawan dirinya.

Kekesalan itu mencapai puncaknya ketika Narayan mengetahui kalau ayahnya Seth Dwarkanath yang dikenalnya sebagai peng-khotbah yang saleh dan liberal thinker menjadikan Kalyani sebagai pemuas nafsunya. Terungkaplah Kalyani dilacurkan. Tak sanggup mehanan malu, Kalyani akhirnya memilih untuk bunuh diri. Dari sinilah terungkap kisah memilukan lainnya. Germo suruhan pimpinan ashram ternyata tidak hanya menjual janda-janda yang sudah dewasa. Tetapi Chuyia yang masih belia juga berhasil dijual kepada para brahmana berduit itu. Sangat menyayat hati.

Di akhir cerita, kemunculan orang-orang seperti Narayan dan terlebih setelah kabar terbebasnya Gandhi menyebar luas menjadi semacam angin segar bagi kaum janda yang tertindas. Hal ini dirasakan sendiri oleh Sakuntala. Paling tidak, akan ada secercah harapan bagi orang-orang seperti Chuyia di masa depan.

Secara umum, film ini ingin menyampaikan satu informasi bahwa pernah ada satu masa yang sangat kelam dalam tradisi Hindu India yang berhasil diungkap ke permukaan, di mana masa itu sangat subordinatif terhadap kaum perempuan—khususnya terhadap para janda. Fase subordinatif yang pernah terjadi itu sangat mengerikan dan sang sutradara berhasil mengungkap kejadian-kejadian itu dengan sangat detail. Lebih mengerikannya lagi, peristiwa itu sudah berlangsung sangat lama: 2000 tahun lebih. Karena itu, tak heran jika kebenaran yang berhasil diungkap Mehta itu mendapat resistensi yang sangat luar biasa dari kalangan chauvinis Hindu pada saat proses syutingnya. Bahkan menurut socialistreview.org, saat syuting film itu dilakukan, harus melibatkan pasukan anti huru-hara dan ratusan polisi.

Selain itu, film ini ingin mempertontonkan bagaimana tradisi yang sudah berlangsung sekian lama dan dianggap benar tak selalu menampakkan kebenaran itu sendiri. Justru film ini ingin menyampaikan pesan bahwa dalam kebenaran itu sendiri, tersimpan ketidakbenaran. Sehingga kondisi yang demikian itu sudah seharusnya dilawan. Hanya saja, sang sutradara juga mengingatkan: bagaimana melawan ketidakbenaran yang berlangsung lama dalam satu entitas yang disebut dengan tradisi? Jawabannya digambarkan secara jelas ketika Narayan coba melawan tradisi tidak benar itu dengan satu formula halus—mirip dengan ahimsa-nya Gandhi—yang ia sebut dengan ‘’passive ressistance’’: perlawanan revolutif tanpa harus berkonfrontasi secara terang-terangan, perlahan, tapi pasti. Formula inilah yang ia gunakan secara perlahan untuk merubah stereotipe terhadap para janda. Ia mulai revolusi itu dari dirinya sendiri. Terbukti ketika ia bersungguh-sungguh akan menikahi seorang janda bernama Kalyani yang saat itu masih dianggap sebagai sesuatu yang menjijikkan, walaupun pada akhirnya mereka tak pernah menikah. Sebab Kalyani memilih bunuh diri karena malu.

Film ini tidak hanya menampilkan keheroikan seorang Narayan, tetapi juga ketiga tokoh lainnya: Chuyia, Sakuntala, dan Kalyani. Mereka adalah orang-orang yang telah berhasil meruntuhkan asumsi-asumsi tidak rasional yang diimani mereka sebelumnya, sehingga dengan setelah itu mereka berani melakukan perlawanan terhadap ketidakbenaran.

Adegan Gandhi menyampaikan ceramah di hadapan ribuan orang pasca dibebaskan dari penjara oleh pemerintah Inggris yang mengatakan seperti kutipan di awal tulisan ini, mengajarkan kita agar semestinya benar-benar percaya pada satu kebenaran saja: Tuhan. Kebenaran-kebenaran yang disampaikan oleh kalangan agamawan atau interpretasi mereka bukanlah sesuatu yang mutlak kebenarannya. Sebab, kebenaran itu, seperti pernah diungkap Nietzsche, semacam wanita yang terbentuk untuk tidak memperlihatkan dasarnya. Manusia hanya bisa menerka-nerka dan menduga-duga tentang sesuatu yang biasa kita sebut sebagai kemungkinan.

Sekian.

*Penikmat film dan mahasiswa Falsafah dan Agama di Universitas Paramadina, Jakarta.

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>