Mandau dan Seraung, Maknanya Dulu dan Kini

Mandau dan Seraung, Maknanya Dulu dan Kini

Oleh: Saifullah Fadli
Di dalam masyarakat Dayak Kenyah Lepoq Jalan, mandau dan seraung tidak hanya berfungsi sebagai alat penunjang kegiatan sehari-hari. Dua benda tersebut juga memiliki tempat khusus dalam tradisi pernikahan masyarakat Dayak Kenyah Lepoq Jalan. Itulah yang terlihat pada saat saya menghadiri acara pertunangan di salah satu warga saat melakukan pendampingan program Lamin di Desa Lung Anai, Tenggarong, Kutai Kartanegara awal Januari 2016.
Mandau dan seraung, fungsi dan maknanya
Acara nan khidmat itu diawali oleh penyerahan mandau atau parang panjang kepada mempelai perempuan, baru kemudian bergantian pihak perempuan menyerahkan seraung atau topi pada pihak laki-laki. Kedua prosesi itu dilakukan setelah sebelumnya ada ritual lamaran yang dibimbing oleh Pendeta dan Kepala Adat.
Dalam tradisi pernikahan masyarakat Dayak Kenyah Lung Anai, mandau dan seraung memiliki makna yang sangat penting. Penyerahan mandau dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan merupakan bukti telah adanya hubungan antara kedua belah pihak. Mandau yang sehari-hari digunakan untuk merintis lahan yang akan dijadikan ladang, dalam pertunangan masyarakat Dayak Kenyah Lepoq Jalan memiliki makna usaha pihak laki-laki yang merintis hubungan dengan pihak perempuan—hubungan yang nantinya akan berlangsung seumur hidup. Mandau bisa juga dikatakan sebagai jembatan antara kedua belah pihak.

Selain sebagai penghubung, mandau mewakili tanggungjawab laki-laki kepada perempuan dalam keluarga nantinya. Laki-laki sebagai kepala keluarga memiliki tugas untuk menafkahi perempuan yang telah dinikahi. Memastikan kelangsungan hidup keluarga yang sangat bergantung pada ladang sebagai ruang hidup masyarakat. Mandau dalam hal ini juga dilihat sebagai sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari ladang.

Sebagaimana Mandau, Seraung juga memiliki peran penting dalam kelangsungan hidup masyarakat Dayak Kenyah Lung Anai. Seraung sehari-hari digunakan untuk melindungi kepala dari sengatan matahari, terutama ketika berladang. Ini diperlukan agar suhu kepala tidak terlalu panas. Penyerahan seraung oleh pihak perempuan kepada pihak laki-laki pada saat proses pertunangan disimbolkan sebagai peran perempuan yang akan membawa keteduhan bagi laki-laki dan keluarganya. Menjaga agar masalah rumah tangga tidak sampai keluar dan diketahui oleh orang lain.
Dulu dan Kini
Sebagai simbol penting dalam ritual pernikahan masyarakat Dayak Kenyah Lepoq Jalan, fungsi mandau dan seraung tidak berubah dari waktu ke waktu. Keduanya berfungsi sebagai bukti dari komiten dan kesungguhan kedua pengantin dalam membangun dan membina rumah tangga. Selain juga memberikan pengantin laki-laki untuk mempersiapkan acara pernikahan.
Satu-satunya yang berubah dalam ritual pernikahan masyarakat Dayak Kenyah Lepoq Jalan adalah jarak waktu antara pertunangan dan pernikahan. Jika dulu diperlukan waktu hingga tiga tahun setelah melakukan prosesi pertunangan untuk sampai ke pernikahan, maka kini kedua calon pengantin hanya menunggu selama tiga bulan.
Perkembangan masyarakat yang didorong oleh kemajuan teknologi memiliki andil dalam perubahan ini. Kemajuan teknologi telah membuat pergaulan antar masyarakat menjadi sangat terbuka. Ini mempengaruhi pola hubungan antar masyarakat, dan tentu saja antara dua calon pengantin. Pada akhirnya, tidak ada jalan lain bagi masyarakat Dayak Kenyah Lepoq Jalan selain menyesuaikan diri dengan jarak waktu yang lebih sempit, supaya tradisi dan adat istiadat warisan leluhur tetap lestari.***

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>