Pride: Tentang Solidaritas yang Tak Pernah Datang Tiba-Tiba

Pride: Tentang Solidaritas yang Tak Pernah Datang Tiba-Tiba

Judul: Pride
Negara: Britania Raya/Perancis
Bahasa: Inggris
Durasi: 120 Menit
Sutradara: Mathhew Marchus
Pemain:  Ben Schnetzer, Joe Gilgun, Faye Marsay,
Paddy Considine,  Jessica Gunning, George MacKay, Lisa Palfrey

Mark Ashton (Ben Schnetzer) akan menyeduh teh pagi itu, Juni 1984, ketika ia menonton cuplikan berita pemogokan pekerja tambang di Wales, menyusul penutupan lubang batu bara oleh Perdana Menteri Margareth Thacher karena dianggap tidak menguntungkan. Berita itu ditutup dengan komentar  keras kepala Thatcher atas pemogokan buruh, kekeraskepalaan yang juga ia dan seluruh komunitasnya, komunitas gay, benci. Hari itu komunitas gay dan lesbian London punya hajatan besar: Lesbian and Gay march. Ashton yang memang akan berangkat ke acara itu tiba-tiba mendapat ide brilian: ia harus menggalang dukungan untuk para pekerja tambang.

Pada 11 Februari 1987 sosok asli Mark Ashton meninggal, lebih dari 20 tahun sebelum Pride dibuat. Artinya, sulit untuk menebak apakah Mathhew Marchus, sang sutadara, mendasarkan adegan itu pada kisah nyata atau tidak. Meskipun demikian, adegan pembuka tersebut adalah upaya awal yang tepat dari sang Sutradara untuk mendedahkan satu masalah pelik dari setiap perjuangan menuntut keadilan, di manapun tempatnya: solidaritas.

Mengapa solidaritas antar komunitas tertindas diperlukan dalam setiap perjuangan menuntut keadilan? Sejauh apakah solidaritas mesti dimaknai? Apakah ia lebih merupakan altruisme, atau sebaliknya, justru solidaritas dan dan kepentingan tiap komunitas tertindas adalah dua hal yang tak terpisahkan dalam memperjuangkan keadilan? Sejak awal hingga akhir, secara sabar dan melalui momen-momen dramatik, kadang lucu, film yang diangkat dari kisah nyata, salah satu peristiwa sejarah terpenting bahkan dalam sejarah pergerakan kaum kiri di Inggris, perjuangan kelompok Lesbians and Gays Support the Miners (LGSM) ini  ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.

Solidaritas yang harus selalu diusahakan

Ada momen dramatis ketika Mark menjelaskan kepada Mike Jackson (Joe Gilgun) mengapa komunitas gay dan lesbian mesti menggalang dana untuk pekerja tambang. Who hates the miners?” kata Mark, “Thatcher. Who else? The Police, the public and the tabloid press. Sound familiar?” Sampai saat itu, bagi kekasih Mark, mendukung perjuangan pekerja tambang adalah sungguh-sungguh di luar agenda komunitas gay dan lesbian, apalagi dukungan itu dilakukan di salah satu perhelatan penting komunitas tersebut. Tapi Mark adalah sosok yang keras kepala, dan ia bersikeras bahwa sejak saat itu, atas nama solidaritas, dukungan terhadap pekerja tambang harus mulai disuarakan sekeras mungkin; penggalangan dana untuk mereka yang sedang melakukan mogok besar-besaran dan keluarganya harus segera dilakan.

Kekeraskepalaan Mark, juga keoptimisannya, sebagai seorang gay kelas menengah London dalam mengusahakan dukungan bagi para penambang yang dekat (di Wales) namun nampak jauh yang ditonjolkan dalam film ini adalah pesan terkuat yang ingin disuarakan oleh Marchus. Dalam hal ini karakter Mark adalah pengejawantahan ide tentang solidaritas yang harus selalu diusahakan. Bahwa perjuangan melawan ketidakadilan, pertama-tama mensyaratkan perjuangan membangun kerekatan hubungan antar komunitas tertindas. Ini juga yang kemudian secara tidak langsung menarik garis pembeda antara Pride dengan film-film lain bergenre serupa yang juga berkisah soal perjuangan menentang ketidak-adilan.

Film ini berbeda, misalnya, dengan Etat de Siége(1972) karya Costas Gravas yang lebih menekankan pada manisnya euphoria kemenangan dari sebuah perjuangan, atau dengan film biografis semacam The Liberator (2013) yang sibuk membangun citra tokoh utamanya. Sebagai film tentang perjuangan, Pride samasekali minim euforia kemenangan, juga upaya menonjolkan karakter  tertentu sebagai hero (Mark digambarkan sempat ngambek berjuang karena masalah personalnya dengan Mike).

Ketidaksia-sian yang tak datang tiba-tiba dan problem yang lebih sederhana

Lebih dari seratus lima puluh tahun sejak Marx dan Engels menuliskan kalimat bertenaga “Working men of all countries, unite!” untuk penutup risalah tipisnya yang terpenting, Manifesto Komunis, dan hingga hari ini tujuan solidaritas masih sering disepelekan. Hari ini banyak orang masih sering bertanya-tanya, misalnya, untuk apa para pejuang anti-diskriminasi agama perlu mendukung penolakan Semen Indonesia di Rembang. Tapi tentu saja itu bukan salah Marx yang seharusnya menyebut kaum buruh dengan kaum yang tertindas.

Marchus, seolah ingin menjawab keraguan di atas,  memberikan intensi khusus pada tujuan solidaritas. Pride, di sepanjang durasinya, kecuali adegan penutupnya, nyaris tidak memberi ruang pada gambaran yang menunjukkan bahwa dukungan LGSM terhadap para pekerja tambang di Dulais Valley memberi keuntungan bagi mereka. Dengan demikian, adegan kedatangan aliansi pekerja tambang yang pernah didukung LGSM  pada Sabtu 29 Juni 1985 di Lesbian and Gay march menegaskan bahwa: solidaritas diantara kaum yang tertindas, siapapun itu, kepada kaum tertindas yang lain tidak pernah tidak berguna, bahkan jika keduanya ditindas atas sebab yang sama sekali berbeda.

Meskipun demikian Pride tak  memberikan optimisme berlebihan pada solidaritas semacam itu. Konflik yang mengiringi, baik di kalangan LGSM (salah satunya dalam adegan di toko buku “Gay the Word”) maupun di Lembah Dulais, antara kelompok Dai Donovan(Paddy Considine) dan Maureen (Lisa Palfrey) adalah peringatan keras film ini, bahwa mengupayakan solidaritas antar korban korban penindasan dengan akar permasalahan yang sama sekali berbeda adalah pekerjaan yang maha berat. Ia tak jarang menuntut kesabaran dan ketabahan revolusioner yang tak tanggung-tanggung, seperti ancaman perpecahan komunitas, sebelum bisa mereguk anggur keberhasilan.

Sebabnya tidak lain karena kebanyakan individu  maupun komunitas seringkali gagal melihat bahwa arkhé dari setiap penindasan mayoritas, untuk tidak menggeneralisasi, berkait-kelindan. Paling tidak ada satu kepentingan yang mengikat mereka, seperti misalnya pejuang anti-diskiriminasi agama yang membela petani karena ia mengkonsumsi beras.  Mereka tidak sejernih Mark ketika mengatakan pada koleganya, “Because miners dig for coal which produces power, which allows gay like you to dance to Banarama until 03.00 morning.”

 

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>