Gerakan Civil Society Perlu Memodernisasi Kemampuan Riset dan Analisis Data

Gerakan Civil Society Perlu Memodernisasi Kemampuan Riset dan Analisis Data

Strategi gerakan civil society menjadi bahasan utama dalam workshop singkat dan diskusi  Discourse Network Analysis (DNA) yang diselenggarakan Desantara Foudation, kemarin (23/5/2015) di kantor Komplek Depok Lama Alam Permai. Pembahasan itu bergulir setelah pemateri, Mokh. Sobirin, memberi penjelasan tambahan pada presentasinya soal pentingnya DNA sebagai teknik penunjang kerja-kerja pengadvokasian.

“Teknik semacam DNA ini menjadi sangat penting,” kata Sobirin “karena hari ini kerja-kerja yang dilakukan kawan-kawan aktivis menghadapi tantangan berbasis teknologi.” Direktur Eksekutif Desantara itu kemudian menambahkan manfaat besar yang bisa didapat dalam menggunakan teknik ini. Ia mencontohkan salah satu peserta diskusi serupa yang pernah tadi gelar di Malang yang merasa terbantu ketika harus menganalisis ratusan risalah sidang pengadilan.

Pemaparan Sobirin itu kemudian mendapat tanggapan antusias dari peserta diskusi. Muhammad Nur Khoiron, salah seorang  peserta yang juga Komisioner Komnas HAM, setelah menanyakan logika DNA mengatakan jika teknik tersebut memang akan sangat membantu pekerjaan para pekerja sosial. Meskipun demikian, aktivis senior yang juga Ketua Yayasan Desantara itu menggarisbawahi jika DNA, berdasarkan penjelasan pemateri, belum mampu menjelaskan lebih jauh simpul aktor sau dengan yang lain dan wacana yang berhubungan dengan mereka. Menurutnya, jika DNA bisa digunakan untuk kerja demikian, tentu rintangan berat yang seringkali gagal dibaca oleh kawan-kawan aktivis bisa sedikit berkurang. Ia mencontohkan bagaimana kesulitan Komnas HAM menganalisis ketidaknyambungan antara problem utama Hak Asasi Manusia, semacam hak pangan,  dengan wacana yang digulirkan oleh aktor-aktornya di media. Sulit mengurai kepentingan di balik pewacanaan HAM di media mainstream.

Menambahkan Nur Khoiron, Hizkia Yosie dari Purusha, menjelaskan kemungkinan memaksimalkan DNA sebagai alat analisis. Ia menceritakan pengalamannya ketika memakai DNA untuk memetakan hubungan salah satu tokoh dengan wacana yang bergulir dalam beberapa kurun waktu. “Melalui cara itu,” papar Yosie, “kita bisa mendekati hubungan antar aktor dalam wacana tertentu.” Hanya saja, menurutnya, cara demikian begitu menyita waktu dan melelahkan karena memerlukan proses penginputan data yang bukan tidak mungkin berjumlah ribuan. Ia juga menekankan bahwa teknik semacam DNA ini sesungguhnya hanya membantu dalam proses kodifikasi data. “Bagaimanapun kita harus ingat jika analisis data tetap ada di kepala kita.” Tambahnya.

Diskusi kemudian berlanjut ke pembahasan perlunya gerakan civil society  memodernisasi kemampuan analisis datanya. Mokh. Sobirin berbagi pengalamannya berkeliling ke kantong-kantong gerakan sosial di Jawa Timur awal bulan ini. Menurut Sobirin, secara umum pengetahuan kawan-kawan terhadap perangkat penunjang analisis data memang masih minim. Pendapat ini ditanggapi Yosie yang lembaganya cukup intens bersinggungan dengan kawan-kawan gerakan civil society di Jakarta. Menurutnya, bahkan di kota sebesar Jakarta kesadaran akan perlunya membangun gerakan berbasis riset masih minim. “Kebanyakan gerakan civil society kita hanya bermodal retorika yang dangkal, tanpa pendasaran riset yang serius.” Katanya. Maksum Syam dari Sajogyo Institute mengamini pendapat ini.

Kebutuhan  modernisasi gerakan civil society memang satu hal yang mendesak untuk dilakukan. Kasus Julian Assange dan Edward Snowden membuktikan bahwa hari ini gerakan civil society menalami fase terberat. Ia dihantui oleh bayang-bayang penyadapan, bahkan sabotase dari pihak-pihak berkuasa yang seringkali memiliki agenda bertentangan dengan kerja pengadvokasian. Sayangnya, kesadaran bersama terhadap isu semacam ini berlum terbangun.

Kenyataan semacam itu kemudian menjadi perbincangan menarik di antara peserta diskusi. Pembicaraan lantas berkembang mulai dari hubungan perusahaan sekuritas raksasa Palantir dan CIA, hingga bagaimana penggunaan teknologi canggih hari ini oleh militer Indonesia. Peserta diskusi sampai pada kesimpulan bahwa kerjasama antara gerakan civil society dalam memodernisasi teknik riset dan pengolahan data harus segera dilakukan.

Namun bagi Mokh. Sobirin, modernisasi teknik riset dan pengolahan data gerakan civil society bukanlah satu-satunya isu yang meresahkan. Sementara penguatan sistem internal masing-masing lembaga dalam gerakan civil society diusahakan, menurutnya, Indonesia dihadapkan pada situasi terancamnya komunitas-komunitas termarjinalkan (masyarakat miskin, masyarakat adat) di era big data ini. Big data istilah teknis untuk data dalam skala besar dan kompleks, sesuatu yang tidak pernah ada sebelum era internet.

“Dalam konteks desa dan masyarakat adat,” kata Sobirin “penguasa big data berpotensi mengeksploitasi mereka, menjadikan mereka sebagai komoditas.” Seorang peserta menambahkan contoh kunjungan Mark Zuckenberg, CEO Facebook, ke daerah-daerah di Indonesia beberapa waktu lalu. “Dalam hal ini kita sudah kalah beberapa langkah dari penguasa big data dan kita belum melakukan  apa-apa.” Pungkas Sobirin disambut tawa peserta.

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>