Kubur di Awang-awang: Perjumpaan Makna dan Tradisi

Kubur di Awang-awang: Perjumpaan Makna dan Tradisi

S

ejatinya kehidupan orang Dayak, tak terpisahkan dari relasi komunal turun-temurun dalam rumah panjang (Lou). Pergulatan relasi komunal itu, secara empiris terbukti mampu mendukung proses penguatan tradisi kekerabatan, karena cikal bakal terbangunnya lou berpangkal dari satu keluarga, lalu beranak-pinak, dan peng­huninya terus-menerus berdiam di lou dari waktu ke waktu.

 

Secara alamiah, mereka yang hidup dalam komu­nitas lou tak terpisahkan, terutama oleh faktor pertalian darah, mata pencaharian, kepercayaan dan faktor pendukung psikologis lainnya. Lou bagi orang Dayak tak sekedar “kampung halaman” melainkan esensi siklus kehidupan –kelahiran, perkawinan, dan kematian– yang senantiasa musti digenapi dengan ritual adat.

 

Teristimewa dalam ritual adat kematian, senantiasa mengurai konfigurasi eksistensi orang Dayak yang niscaya bersendi determinan sistem religi. Kematian tidak semata merupakan penanda ketiadaan manusia, melainkan juga inspirasi keberlanjutan dari kehidupan profan menuju kehidupan transenden. Artinya, dalam perspektif waktu dan ruang, kematian bukanlan akhir suatu masa, melainkan juga “paragraf” baru sejarah manusia.

 

Maka dalam konteks kekinian, tatkala orang Dayak telah memeluk agama (Katolik), kiranya menarik ditelusuri, bagaimana persentuhan iman Katolik dengan unsur religi atau unsur budaya terutama pada ritus kematian. Pun jua, bagaimana pengaruh pandangan religius Katolik terhadap kepercayaan orang Dayak dan  perilaku komunitas di sekitar ritual kematian beserta pernik-perniknya.

 

Keniscayaan Pertautan Kosmologi

 

Menurut kepercayaan leluhur Dayak Benuaq, alam semesta terdiri dari empat “negeri” yang memiliki keterpautan bagi keberlangsungan hidup para penghuninya. Negeri termaksud adalah, pertama,  Negeri Atas Langit, lazim disebut Langit Walo Lepir (langit lapis delapan), diniscayai sebagai tempat bersemayam “Sang Pencipta” beserta para dewa (Seniang) penghuni setiap lapis langit. Dewa penghuni Negeri Atas Langit dipersonifikasikan sebagai burung Enggang jantan selaku lambang keperkasaan. Kedua, Negeri Bawah Tanah atau lazim disebut Bengkolong Tana atau Tanyukng Ruakng yang dihuni oleh para dewa (Tonoy) yang menguasai tanah, sungai, pepohonan, bukit dan gunung. Dewa penghuni Negeri Bawah Tanah, diapresiasikan sebagai Naga betina selaku lambang kesuburan.

 

Negeri ketiga, Negeri Manusia atau lazim disebut Senarikng Tana atau Datau Lino yang dihuni oleh manusia dengan pelbagai perilaku yang memiliki korelasi dengan penghuni negeri lain. Keempat, Negeri Arwah. lazim disebut Teluyatn Tangkir Langit Benuang Tingkir Layakng, dihuni para arwah (liau dan kelelungan).

 

Menurut keyakinan orang Dayak Benuaq, Kelelungan merupakan roh yang ada pada kepala manusia, sedangkan Liau berada pada jasad tubuh manusia. Roh Kelelungan  yang belum diupacarai adat Kewangkey, menempati Beni Yataakng (Langit Pertama). Sedangkan yang telah di Kewangkey menempati Teluyatn Tangkir Langit Deroi Olo (Langit Ketujuh).

Berdasarkan pemahamanpertautan kosmologi empat negeri, orang Dayak meniscayai, alam semesta memiliki tata tertib (hukum adat) yang mengatur keberlangsungan interaksi antara manusia dengan penghuni di negeri lain. Maka hukum alam, etika sosial dan tradisi komunitas diyakini merupakan metafora aktual tata tertib yang baku dari alam semesta.

 

Oleh sebab itu, siklus kehidupan orang Dayak Benuaq (kelahiran, perkawinan, kematian), niscaya berada dalam spketrum relasi empat negeri. Pertautan kosmologi itu pula, yang meniscayakan orang Dayak, bahwa kematian bukanlah akhir dari kehidupan manusia, melainkan “permulaan” perjalanan kehidupan baru menuju ke negeri keabadian, yakni Negeri Atas Langit.

 

 

Meresapi Esensi Ritual Kematian

 

Sistem religi merupakan determinan yang amat mempengaruhi kehidupan orang Dayak. Sistem religi itu diwarisi turun-temurun, berpusat pada kesadaran esensial yang memperlihatkan adanya relasi antara unsur manu­siawi dengan unsur supranatural. Maka sistem religi merupa­kan dasar dan norma perilaku yang menerangkan makna eksistensi manusia, yang senantiasa terarah pada peristiwa yang pernah terjadi. Hakekat sistem relegi bagi orang Dayak adalah pemaknaan ke-lampau-an dalan ke-kini-an.

 

Sedangkan adat sebagai “anak kandung” sistem religi dipercayai berasal dari para dewa yang diwariskan kepada manusia pada kurun lampau, yang berfungsi untuk mengatur kehidupan. Peristiwa itu terjadi di zaman Tuktuna Tubu (Dayak Bahau), yang dituturkan dalam myte penciptaan dan pewarisan (langit berang hulau tana berang laping.) Saat itulah terjadi peristiwa pewarisan adat kepada manusia. Lalu secara turun-temurun, terpilih orang-orang yang mendapat mandat menjaga keber­langsungan ritual adat, termasuk adat kematian.

Dalam ritual kematian, orang Dayak Benuaq meniscayai adanya tiga kategori upacara adat: Param Api, Kenyau dan Kewangkey. Prosesi ketiga upacara adat kematian itu, dipimpin seorang Pengewara yang berperan sebagai mediator relasi antara manusia dengan para arwah dan para dewa di Negeri Arwah, Negeri Atas Langit dan Negeri Bawah Tanah.

 

Param Api dilaksanakan selama lima hari bila yang meninggal perempuan dan enam hari bila laki-laki. Terdapat tiga tata-cara penguburan dalam Param Api. Pertama, Garai, peti jenasah (lungun) dimasukan ke dalam bangunan rumah kecil sesuai ukuran lungun. Kedua, Ngelubakng, peti jenasah dimasukan ke dalam tanah yang dibuat berdinding-pagar kayu ulin, kemudian ditutup dengan papan, ditumbun tanah, lalu dipasang nisan (batur). Ketiga, Selokng, lungun di masukkan ke dalam peti berukir. Cara ini dipakai bila Param Api akan dilanjutkan dengan Kenyau. Setelah tiga hari usai penguburan, pihak keluarga mengadakan upacara Nulak Habuq, bertujuan menangkal pengaruh buruk akibat kematian dan juga memohon berkah dari para arwah yang telah meninggal.

 

Upacara Kenyau berlangsung selama sembilan hari. Hakekat Kenyau adalah menyempurnakan perjalanan arwah agar sampai ke Teluyatn Tangkir Langit Deroi Olo (surga). Upacara adat Kenyau bukanlah kewajiban, karena hanya berlaku bagi keluarga yang mampu.

 

Sedangkan Kewangkey. yang berarti adat bangkai lama (bangkai naha), dilaksanakan selama 21 hari untuk bangsawan (mantiq) dan 14 hari untuk awam (merentikaq), merupakan prosesi memindahkan tulang-tulang dari pemakaman terdahulu (setelah Param Api dan Kenyau) untuk penguburan terakhir. Puncak adat Kewangkey adalah memotong kerbau, sebagai tanda kemenangan terhadap kematian menuju kehidupan abadi.

Terdapat dua tatacara pemakaman dalam Kewangkey, pertama, tulang-tulang dimasukan ke dalam gur, tamak gantukng atau rinaq. Kedua, tulang-tulang dimasukan ke dalam tempelaq atau kererekng. Itulah kubur terakhir bagi orang Dayak Benuaq: “Kubur Di Awang-awang”.

 

Sejatinya orang Dayak Benuaq mengenal ragam tata-cara pemakaman. Lungun, peti jenasah terbuat dari kayu durian atau ulin, di lobangi bagian tengah sehingga mayat dapat dimasukan secara telentang. Pada kedua ujung dibuat agak tinggi, mirip perahu, diberi tutup yang diikat rotan. Tinaq, sama seperti lungun, tetapi tutupnya berbentuk bubungan rumah, ukurannya sesuai dengan lungun yang dimasukan ke dalam tinaq. Selokng, terbuat dari kayu meranti, berbentuk persegi panjang, lungun dapat dimasukan ke dalamnya dan diberi tutup seperti bubungan rumah. Rinaq, berbentuk bangunan rumah terletak di atas tanah atau di dalam tanah, besarnya disesuaikan dengan jumlah lungun yang akan disimpan di dalamnya.

 

                Sedangkan Gur, dibuat dari kayu ulin, berbentuk seperti rumah yang terpendam di dalam tanah, fungsinya untuk menyimpan tulang-tulang yang disimpan dalam tempayan. Garai, bentuknya seperti rumah persegi panjang, dibuat dari kayu ulin. Tamak Gantukng, dibuat dari kayu ulin, bentuknya seperti kuburan lazimnya, setelah ditimbun tanah, diatasnya diberi batur atau nisan.
                Taloh, terbuat dari tempayan untuk menyimpan tulang-tulang, ditanam sebagian dalam tanah dan ditutup dengan piring. Pada bagian atas, diberi pagar dan diberi atap dari kayu ulin. Sesungguhnya tempayan merupakan lambang alam bawah dan identik dengan kematian.
Tempo dulu orang Dayak menggunakan tempayan sebagai makam. Jenasah yang dikubur dalam tempayan senantiasa dalam posisi janin menantikan kelahiran kembali. Tempelaq dan Kererekng, terbuat dari kayu ulin berbentuk empat persegi panjang, diberi tiang berukir setinggi 3-5 meter, dan terdapat sekat bilik untuk menyimpan tulang-tulang leluhur. Kubur terakhir itu, bila bertiang dua disebut tempelaq, bila bertiang satu disebut kererekng, yang lazimnya ditempatkan di sebelah kiri atau kanan lou.

 

Memaknai Perjumpaan: Geliat Inkulturasi

 

Penyebaran agama Katolik di pedalaman Mahakam bermula tahun 1907, disaat kepercayaan asli Dayak masih melekat kuat. Maka para misionaris yang amat teguh dengan faham teologi-etnosentrisme, niscaya berhadapan dengan penolakan penyebaran agama Katolik. Benturan kepercayaan itu dalam refleksi misionaris, akhirnya melahirkan keinsafan terhadap kekeliruan metodik penyebaran agama.

 

Pastor Y. Ogier MSF (1926) dalam artikel bertajuk “Agama orang Dayak,” menegaskan mengenai keinsafan itu. Ia berpendapat orang Dayak memiliki praktek keagamaan. Bahkan, katanya, “Kalau jumlah upacara adat dijadikan kriteria penilaian, maka orang Dayak sangat religius. Meski orang Dayak terpenjara dalam kegelapan, namun kepercayaan mereka harus dihormati. Merekapun putera-puteri Allah dan saudara-saudara kita. Sungguh kita wajib menunjukkan penghargaan terhadap mereka.” Bertolak dari pandangan itu sejatinya telah dimulai proses sinkretisme agama Katolik dengan “agama” asli Dayak.

 

Pembaharuan faham dan metodik penyebaran agama Katolik, telah menghasilkan jemaat yang terus berkembang hingga saat ini. Terutama karena Gereja Katolik tidak lagi mempertentangkan iman Katolik dengan kepercayaan adat. Pun juga tidak melakukan pelarangan radikal terhadap pratik ritual adat, melainkan memberi makna baru terhadap kehidupan religiositas orang Dayak.

Karya misi Gereja Katolik kian mendapat “arena” ketika Konsili Vatikan II (1962) memperkenalkan konsep “Katolisitas Inkulturasi.” Dan dalam kombinasi “evangelisasi-inkulturisasi” Roma menerbitkan dokumen “Catechesi Tradendae” (1979), maknanya adalah Kabar Gembira Yesus Kristus tentang kedatangan Kerajaan Allah ke dalam kebudayaan manusia.

 

Sejatinya inkuklturasi adalah proses integrasi pengalaman Kristen dari Gereja lokal ke dalam kebudayaan umatnya, sehingga pengalaman itu tidak hanya menyatakan dirinya dalam kebudayaan, tetapi menjadi kekuatan yang menjiwawi, mengarahkan serta membaharui kebudayaan hingga menciptakan persekutuan baru, tidak hanya dalam kebudayaan tersebut, tetapi juga sebagai pengayaan Gereja Universal.

 

Dalam geliat aura evangelisasi-inkulturisasi, meski telah memeluk agama Katolik, namun terdapat tiga realitas sosial pada orang Dayak. Pertama, melaksanakan ritual adat kematian secara utuh (param api, kenyau, kewangkey), kedua, sinkretisme ritual adat dengan ritus agama, dan ketiga, seutuhnya melaksanakan ritual agama Katolik dalam tata-cara kematian.

 

Maka tak pelak ritual adat kematian pada orang Dayak, mendapat tempat dalam Gereja Katolik melalui proses inisiasi dalam ritual peribadatan Gereja Katolik. Misalnya, lungun tidak lagi seperti semula, baik dalam proses pembuatan, bentuk maupun ragam hiasan. Tata-cara penguburan (ngelubakng) tidak lagi dipimpin oleh pengawara, melainkan oleh pastor atau petugas ibadat.

 

Pada spekturm magisterium, Paus Yohanes Paulus II dalam dokumen Redemtoris Missio (1990), menegaskan, “Selagi melaksanakan karya missioner, Gereja berjumpa dengan pelbagai kebudayaan dan terlibat dalam proses inkulturasi, yang bermakna transformasi mendalam dari nilai-nilai kebudayaan yang otentik melalui integrasi nilai-niai tersebut dalam kristianitas dan integrasi kristianitas dalam berbagai kebudayaan manusia.” Dari pandangan itu, tersirat makna inisiasi keberadaan ragam makam orang Dayak dalam perspektif ajaran iman Katolik.

 

Pandangan religius Katolik sejatinya mempunyai pengaruh mendalam. Misalnya bentuk nisan, yang semula hanya sebilah tonggak papan tanpa nama, menjadi berbentuk salib disertai nama baptis sebagai identitas Katolik, bahkan adakalanya disertai kutipan ayat Kitab Suci. Semula, orang Dayak tidak mengenal tatacara perawatan makam, menjadi mengenal tradisi membersihkan makam yang dilaksanakan secara temporer, disertai ibadat doa dengan menyalakan lilin sebagai tanda kemenangan atas kegelapan.

 

Menurut iman Katolik, sesudah kematian dosa manusia dapat diampuni berkat doa-doa dari mereka yang masih hidup. Justifikasi praktik Gereja mendoakan orang mati. ditegaskan dalam Alkitab “Hendaklah kemurahan hatimu meliputi semua orang yang hidup, tetapi orang mati pun jangan kau kecualikan pula dari kemurahanmu (Sir 7:33). Dalam konteks inilah, Gereja menemukan argumen utama proses inisiasi terhadap aktifitas ritual pasca pemakaman.

 

Upacara Nulak Habuq misalnya, mendapat makna baru dalam ibadat doa peringatan tiga hari, sebagai personifikasi kebangkitan Yesus. Demikian juga peringatan 40 hari, sebagai manifestasi Yesus naik ke surga. Doa bagi orang yang sudah meninggal juga terdapat dalam Misa Kudus (Doa Syukur Agung), bahkan dalam Gereja Katolik terdapat tradisi peringatan para arwah yang dirayakan setiap 2 November.

 

Selain itu, dalam Gereja Katolik dikenal adanya Api Pencucian, yakni suatu keadaan sementara di mana orang mati tidak masuk neraka, tetapi di sisi lain mereka belum siap masuk surga, karena masih mempunyai cacat-cela karena dosa masih melekat dalam dirinya.

Hakekat api pencucian adalah “tempat” atau “keadaan” sementara sebagai persiapan ke surga. Bagi orang Dayak, Kewangkey memiliki seraut makna dengan upaya menghantar arwah yang sedang berada di “api pencucian” menuju negeri abadi di atas langit (Teluyatn Tangkir Langit Deroi Olo).

 

Manifestasi artefak pencapaian esensi orang Dayak menemukan “kehidupan baru sesudah kematian” di Negeri Atas Langit, terwujud dalam Kubur di Awang-awang. Itulah perjumpaan makna tradisi dan agama. Entah sampai kapan, perjumpaan makna itu tetap bertahan di tengah derasnya perubahan peradaban? Namun setidaknya orang Dayak (Katolik) niscaya pada sabda Yesus, “Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.”

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>