Bagaimana Tentang Gunung Watuputih

Bagaimana Tentang Gunung Watuputih

Perbukitan batugamping di Gunung Watuputih terletak di bagian tenggara dari wilayah administrative Kabupaten Rembang. Gunung watuputih pernah diteliti oleh Departemen Pertambangan dan energy Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber daya Mineral pada tahun 1998. Daerah penelitian terletak pada jarak lebih kurang 25km kea rah tenggara dari Kota Rembang, dimana secara administrative termasuk dalam wilayah Kecamatan Sale dan Kecamatan Gunem, serta sebagian kecil di selatan termasuk dalam wilayah kabupaten Blora.

Perbukitan Gunung Watuputih merupakan bentang alam karst dengan fenomena khas berupa lapies, gua kering dan berair, lembah kering, dan bentuk depresi yang teramati dari foto udara.  Sebagian gua pada batu gamping arst merupakan gua kering yang berbentuk vertical, serta masih bersifat alami dan tidak dimanfaatkan untuk keperluan tertentu. Secara hidrogeologis, pada tempat-tempat tertentu akan terbentuk saluran bawah permukaan yang mengalirkan airtanah ke daerah luah sehingga memungkinkan terdapatnya mataair dengan debit relative besar. Curah hujan didaerah Kecamatan Bulu dan Gunem adalah 1500 mm/th.

Perbukitan batu gamping karst Gunung watuputih termasuk Formasi Paciran yang menindih secara tidak selaras napal dari formasi wonocolo di bagian tengah dan timur perbukitan, sedangkan di barat menindih tidak selaras batugampung dengan sisipan napal dari formasi Bulu.

Formasi paciran, satuan batuan ini melampar di bagian tengah daerah penelitian, terdiri dari batugamping dolomitan, dengan organism pembentuknya terutama ganggang, koral, dan foraminifera, yang terbentuk pada lingkungan laut dangkal pada kala Pliosen. Satuan batuan ini berupa perbukitan dengan fenomena alam khas yang disebut KARST, dilapangan dijumpai adanya kekar secara setempat-tempat, sedangkan melalui foto udara teramati adanya pelurusan yang ditafsirkan sebagai sesar.

Litologi akuifer utama di daerah penelitian adalah batugamping karst formasi Paciran, sedangkan akuifer lainnya adalah batu gamping pasiran dan batu pasir gampingan dari satuan batuan lainnya yang lebih tua meskipun tidak sebaik formasi paciran.

Berdasarkan fenomena karst yang teramati di lapangan, zona jenuh air di sekitar Mata air Sumber Semen dan Mata Air Brubulan berada pada ketinggian 150 m aml, sedangkan zona peralihan pada ketinggian lebih kurang 190 m aml.

Analisis imbuhan air tanah dari Ma Sumber Semen menunjukkan bahwa daerah imbuhnya seluas 7500 Ha yang berarti melebihi luas batu gamping karst itu sendiri. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa di samping dari resapan air hujan pada batugamping karst, Ma. Sumber semen mendapat imbuhan aliran airtanah akuifer lain dari sayap antiklin di utara dan selatan Gunung Watuputih. Mangingat luas batugamping Formasi paciran yang membentuk Gunung watuputih hanya lebih kurang dari 3020 Ha, maka dapat disimpulkan bahwa daerah imbuh Ma Sumber semen tidak hanya berasal dari batu Gamping Formasi paciran tapi ditafsirkan pula dari sayap antiklin yang membentang antara Gunung Butak – Tengger  dan sekitarnya maupun dari selatan Desa Tahunan. Hal ini didukung pula dengan kenyataan lapangab bahwa fluktuasi debit pada musim kemarau = 635 l/detik dan penghujan = 758l/detik yang relative tetap, artinya debit mata air tetap besar, ditafsirkan bahwa daerah resapannya cukup jauh dari lokasi permunculan Ma. Sumber Semen.

Analisis isotop alam menunjukkan Ma. Sumber Semen dan Ma. Brubulan berasal dari lokasi yang jaraknya maksimum 21 km dari tempat permunculan. Menilik sebaran pelurusan yang ditafsirkan sebagai sesar pada batu gamping karst, didukung oleh keterdapatan gua-gua batugamping, maka kawasan hutan jati milik Perhutani KPH Kebonharjo di barat – baratlaut Ma. Sumber Semen merupakan daerah imbuhan utama yang memiliki peranan penting bagi kelestarian mata air tersebut.

Dari hasil penelitian diatas disimpulkan bahwa Gunung watuputih adalah termasuk pegunungan Karst yang terbentuk pada zaman Pliosen, mempunyai bentang alam karst yang khas, berfungsi sebagai area serapan air serta sumber mata air. Maka dari itu dengan dalih apapun tidak boleh dilakukan pengrusakan (penambangan) di wilayah tersebut, mengingat Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2010 tentang RTRW pasal 63  dan Peraturan Daerah Kabupaten Rembang Nomor 14 Tahun 2011 pasal 19 tentang RTRW Kabupaten Rembang, bahwa CEKUNGAN WATUPUTIH adalah merupakan Kawasan Imbuhan Air dan Kawasan Lindung Geologi yang keberadaannya tidak boleh diganggu dan harus di lestarikan fungsinya.

Selain itu dari sosial kependudukan, mayoritas warga sekitar bermata pencaharian sebagai petani yang semestinya kegidupannya sangat tergantung pada sumber mata air untuk irigasi pertaniannya serta kebituhan sehari-hari.  Tercatat 33% sebagai petani dan 43 % sebaga buruh tanah, sedangkan lapangan pekerjaan buruh pertambangan hanya menyerap kurang dari 6% jumlah penduduk.

Kemanfaatan mata air juga sangat penting, Ma. Sumber Semen dimanfaatkan pula sebagai sumber pasokan air bersih utama bagi penduduk Kecamatan Lasem dan Rembang. Jika sampai terjadi kerusakan pada Gunung watuputih, secara otomatis sumber-sumber mata air disekitarpun juga akan rusak dan terancam mati, lalau jika hal demikian terjadi, bagaimana warga Rembang bisa memebuhi kebutuhan air untuk kehiduan sehari-hari?. Sudah siapkah kita dengan bencana kekeringan? 

Pemerintah seakan tidak mempedulikan dampak janggka panjang yang akan mengancam rusaknya ekosistem mat air yang berakibat fatal dari berbagai segi, baik itu dari keseimbangan alam, geologi, kultural maupun sosial budaya masyarakat setempat. Selama ini yang selalu di unggulkan adalah dari segi ekonomis, segi ekonomi dalam artian peningkatan PAD. Lalu bagaimana dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar? ketika sawah mulai mengering dan tercemar, ketika petani gagal panen karena keseimbangan ekosistem alam telah rusak, apa yang akan terjadi? pengangguran dan kemiskinan massal akan tercipta. Penduduk yang notabene berpendidikan rendah dan tidak memenuhi kualifikasi untuk dijadikan karyawan pabrik hanya bisa menjadi penonton saja.

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>