Cerita Rakyat, Mediasi Budaya, dan Pendidikan yang Percaya Diri di Tanah Papua

Cerita Rakyat, Mediasi Budaya, dan Pendidikan yang Percaya Diri di Tanah Papua

Saat berkesempatan melakukan penelitian pustaka di perpustakaan Universiteit Leiden Belanda diawal tahun 2012, saya menemukan sebuah dokumen berjudulkan, ITU DIA ! Djalan Pengadjaran Membatja untuk Nieuw Guine yang ditulis I.S Kijne dan diterbitkan J.B. Wolters-Groningen,Djakarta-1951. Pada awalnya saya belum mengetahui benar begitu pentingnya bukuini dalam meletakkan pondasi dasar pendidikan dasar di Tanah Papua (duludisebut West Nieuw Guinea oleh Pemerintahan Belanda). Para misionaris ini fahambetul bahwa dasar-dasar pendidikan selayaknya dikembangkan sesuai dengankonteks dan kearifan lokal suatu daerah. Proses pendidikan dengan demikianharus menyentuh kehidupan keseharian masyarakatnya, bukan malah tercerabut dariakar kebudayaan dan identitasnya.

Beberapa puluh tahun kemudian, di awal tahun 2014, saat melakukan penelitian lapangan di Kota Sorong, saya kembali menemukan “wajah baru” dari ITU DIA ! yang dikembangkan oleh sebuah lembaga swadaya masyarakat dalam proses pendidikan di sekolah-sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Din i)yang didirikannya di beberapa daerah di Sorong.[3]Alasan mereka kembali mengulangi jalan pengajaran membaca yang dikembangkanmisionaris adalah telah hilangannya ruh pendidikan yang dikembangkan PemerintahIndonesia di Tanah Papua. Kedua-duanya yaitu pendidikan yang dikembangkan misionaris dan pemerintah Indonesia adalah sama-sama hal yang asing bagi rakyat Papua. Namun, ITU DIA! Djalan PengadjaranMembatja untuk Nieuw Guinea yang dikembangkan para misionaris ini terbuktilebih bisa diterima dan merekognisi dunia dan imajinasi rakyat Papua tentangkebudayaan, lingkungan, dan identitasnya.

Di awal buku teks tipis yang sangat sederhana ini, I.S Kijne memulainya dengan beberapa asas dalam pengajaran membaca di Tanah Papua. Ia menuliskan:

Anak-anak sekolah harus merasa diri di dalam dunianja sendiri dan bukan didalam dunia asing. Buku-buku batjaan jang biasa dipakaimembawa anak-anak itu kedalam dunia asing. Djalan penadjaran ini mempergunakan benda dari dunia sekitar anak-anak sekolah. Tentu perkataan banjak jang harus diadjarkan kepadanja, tetapi perkataan banjak jang harus diadjarkan kepadanja,tetapi perkataan itu semuanja lazim di Nieuw Guinea, sehingga dapat dipergunakannja terus. (I.S Kijne, 1951:3)

Buku-buku bacaan khususnya bagi anak-anak sekolah dasar memang sering dikritik lepas dari konteks lokal dan keseharian masyarakatnya. Dinamika interkoneksi anak-anak Papua dengan dunia luar dalam bidang pendidikan seakan alpa menempatkan merekamenjadi subjek dari proses pendidikan tersebut. Yang terjadi malah anak-anak Papua tersingkirkan dalam proses pendidikan di tanahnya sendiri karena apa yang diajarkan adalah impor dan asing bagi mereka. Misalkan saja kalimat-kalimat yang terkenal dari buku-buku pelajaran yang diproduksi oleh Pemerintah Indonesia: “Ini Bapak Budi. Ini Ibu Budi. Bapak Budi pergi ke sawah. Ibu Budi memasak di dapur” dan yang lainnya.

Dalam usaha menandingi homogenitas (seragamisasi) pemikiran dan pelajaran inilah diperlukan langkah-langkah kreatif untuk memanfaatkan konteks lokal dalam proses pendidikan dan menjadikan cerita-cerita rakyat yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat sebagai sumber pembelajaran yang efektif. Dengan demikian anak-anak akan menemukan dunianya dan itu juga berarti menemukan identitasnya. Anak-anak belajar tanpa kehilangan identitasnya. Hadirnya 2 buku ini: “Legenda Terjadinya Lembah Kebar” dan “Kisah Buaya dan Biawak Burung” berusaha untuk mengisi kekosongan bahan bacaan yang berkonteks lokal Papua dan menempatkan arti penting cerita rakyat bagi peserta didik.

Tulisan ini bertujuan untuk memperbincangkan begitu penting artinya proses pendidikan yang berkonteks lokal dalam masyarakat dan mengapresiasi cerita-cerita rakyat yang masih dituturkan dalam bahasa ibu masyarakat masing-masing. Langkah ke depan sangatlah penting untuk melaksanakan proses-proses pendidikan dengan menggunakan bahasa ibu dan menggali kembali nilai-nilai yang terkandung dalam cerita-cerita rakyat sebagai warisan tradisi lisan masyarakat. Cerita-cerita rakyat ini sepatutnya dituliskan dan dijadikan bahan ajar di pendidikan tingkat dasar dan menengah.

Kedua buku ini bersumber dari penuturan lisan para tua-tua adat Suku Ireres di wilayah Kebaryang masuk wilayah administratif Kabupaten Tambrauw. Di dalamnya terdapat legenda terjadi tempat-tempat penting di wilayah Suku Ireres seperti “LegendaTerjadinya Lembah Kebar”, “Legenda Terjadinya Danau Nawe Wafon”, “Legenda Terjadinya Danau Meitar” dan kisah tentang orang bisu (Imohom).Buku lainnya adalah cerita fabel Suku Ireres tentang “Kisah Buaya danBiawak Burung (Soa-soa Burung) / Moc Mey Akun Medut Ogrew. Di kedua buku tersebut merepresentasikan sebagiankecil kehidupan sosial budaya di Kabupaten Tambrauw khususnya Suku Ireres didalamnya.

Pada bagian awal pengantar ini akan diuraikan bagaimana interkoneksi budaya yangterjadi di Papua dan wajah pendidikan di dalamnya. Berikutnya dengan perspektif media dan mediasi kebudayaan, akan coba didiskusikan bagaimana peranan cerita-cerita rakyat ini dalam gerakan perubahan masyarakat sedari awal yang melibatkan anak-anak sekolah.

Interkoneksi Budaya dan Wajah Pendidikan

Manusia dalam hidupberkomunitas dan mereproduksi kebudayaannya memerlukan media sebagai ruangekspresinya. Ruang bukan hanya tempat yang nir-historis (tanpa sejarah), tetapipenuh dengan imajinasi, ingatan, dan keterikatan manusia dengan identitasnyadan dengan demikian juga dengan kebudayaannya. Di dalam ruang yang menyejarahitulah manusia memerlukan media-media ekspresi kebudayaan untuk menegakkanidentitas dirinya.

Di pusat reproduksimakna kebudayaan—ruang dan media-media ekspresi kebudayaan—itulah kebudayaanterus-menerus diperdebatkan, diperbincangkan, dan dijadikan pijakan melaluisistem nilai dan norma-norma dalam hidup berkomunitas (bermasyarakat). Olehkarena itulah sudah sepantasnya kebudayaan dipahami sebagai sebuah “gerakansosial” yang akan terus-menerus berubah dan berada dalam wilayah keteganganantara yang ingin berubah dan mempertahankan kebudayaan. Melokalisir kebudayaandalam tempat tertentu tentu sangat salah kaprah, ini disebabkan karena begituliar dan licinnya kebudayaan dipraktikkan melalui manusia-manusia yangmenciptakannya.

Marilah coba merenungkan bagaimana kini kebudayaan-kebudayaan Papua terinterkoneksi(terhubung) dengan dunia luar. Implikasi dari keterhubungan ini adalahketergoncangan yang terjadi akibat hadirnya kebudayaan baru yang sama sekali berbeda. Situasi “geger budaya” (kegagapan budaya) inilah yang menghadirkan gesekan-gesekan antara imajinasi lokal masyarakat tentang dirinya dan logikakapital global yang masuk melalui investasi-investasi yang mengeksploitasisumber daya alam dan sumber daya manusia.

Setiap jengkal tanah di Tanah Papua ini tidak bisa dilepaskan dari tangan-tangan investasi global yangditunjukkan dengan masuknya berbagai jenis investor. Di sisi lain masyarakat lokal masih memerlukan adaptasi (penyesuaian) tentang mimpi dan imajinasi tentang diri dan kebudayaannya yang bergesekan dengan kebudayaan global.

Dalam silang-sengkarut inilah orang Papua dihadapkan pada imajinasinya tentang diri dan identitasnyayang digadang-gadang sebagai “identitas atau kebudayaan asli Papua” danrealitas kekinian dimana akulturasi dengan begitu fluid (cairnya) kebudayaan memunculkan kemungkinan-kemungkinan pemaknaan baru tentang identitas dan budaya Papua yang lebih lentur dan in the making, dalam proses pembentukanterus-menerus tanpa henti.

Berbagai fenomena“ketersingkiran” secara halus namun pelan tapi pasti tengah mengiringiperjalanan kebudayaan di Tanah Papua. Berbagai ruang-ruang kebudayaan moderndipenuhi dengan materi-materi kebudayaan yang asing bagi mereka. Misalkan saja,kehadiran perkebunan kelapa sawit, pertanian, bangunan ruko (rumah toko), dan para pendatang yang membawa kebudayaan dan gairah berjuang untuk tetap survive (bertahan) di tanah rantau.

Di tengah situasi seperti ini, mengakui serta memperjuangkan identitas dan kebudayaan menjadi sangat problematis dan penuh dengan liku-liku. Oleh karena itulah di tengah situasi seperti ini menjadi sangat penting upaya-upaya yang apresiatif untukmerekognisi (mengakui) kebudayaan masyarakat lokal. Hal ini dilakukan untuk memberikanruang-ruang kebudayaan untuk mengekspresikan identitas dan jati dirimereka.

Interkoneksi antara dunia luar dan anak-anak Papua secara jelas terlihat dalam dunia pendidikan.Dalam konteks pendidikan di Tanah Papua, dengan bukti buku pelajaran membaca yang dirancang oleh misionaris, terlihat jelas usaha kreatif untuk menempatkan konteks lokal dalam rancangan pembelajaran membaca di sekolah dasar. Misalkan saja dengan penggunaan alat peraga berupa gambar besar yang mendeskripsikan“Rumah yang di kampung kena api. Ada orang berteriak dan lari. Ada babi yanglari. Ada pula orang yang lari mencari air dan membawa air dan memadamkan api itu sampai api mati” (I.S Kijne, 1951: 5).

Anak-anak Papua dengan demikian memerlukan media-media pembelajaran di mana anak-anak mampu belajar tanpa kehilangan identitasnya. Oleh karena itulah mereka akan dapat berpartisipasi dalam gerakan perubahan masyarakatnya, bukannya malah tersingkir dan terasingkan dengan pembelajaran yang asing bagi mereka.

Media dan Mediasi Budaya

Agar anak-anak Papua bisa belajar tanpa kehilangan identitasnya, dibutuhkan media-media kebudayaan yang dipentaskan dalam ruang-ruang kebudayaan, termasuk salah satunya di sekolah. Media-media jelas menjadi kebutuhan yang tidak bisa dianggap sepele. Media-media kebudayaan yang dimaksudkan adalah berbagai sarana yang menjadi “alat” untuk mengeskpresikan kebudayaan berbagai macam etnik yang ada di Tanah Papua ini. Media-media budaya sebenarnya hidup di tengah masyarakat dan menjadi simbol pemaknaan kebudayaan yang terus-menerus mereka lakukan. Namun, di tengah globalisasi dan modernisasi yang membayangkan kemajuan sebagai indikatornya, apresiasi terhadap media-media budaya yang tradisional dianggap ketinggalan zaman.

Media-media kebudayaan yang dimaksud adalah diantaranya adalah kesenian (ukir, tari, musik,suara) yang begitu kaya di Tanah Papua. Masing-masing keseniaan ini mempunyairuangnya yang menyejarah saling bertautan dalam penciptaan kebudayaan sebuahkomunitas. Seni ukir sebuah wilayah bisa merepresentasikan sistem pengetahuandan religi sebuah komunitas. Melalui ukiran-ukiran kayu para seniman inilah pemaknaan sebuah kebudayaan sedang dilakukan terus-menerus, diperbincangkan, dan kemudian diwariskan menjadi sistem pengetahuan yang menandakan identitas mereka.

Di Tanah Papua, kesatuan kesenian (visual, tari, musik, nyanyian/suara) sudah menjadi ruh dan kehidupan masyarakat. Berbagai ekspresi kesenian ini adalah media-media budaya yang akan terus tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat Papua. Namun karena mimpi terhadap kemajuan dan modernitas yang diimpor dari cerita kesuksesan daerah-daerah lain, apresiasi terhadap media-media kebudayaan tradisional akhirnya tersingkir. Persoalannya bukan hanya tersingkirnya apresiasi-apresiasitapi secara perlahan namun pasti transformasi (perubahan) sosial pun menjadi tantangan yang harus dihadapi di depan mata.

Selain kesenian, media cerita-cerita rakyat dan proses inisiasi adat adalah pembelajaran nilai-nilai kemanusiaan yang paling menyentuh kehidupan seseorang. Jika dipahami lebihdalam, dalam cerita-cerita rakyat akan banyak terkandung nilai-nilai dalam kehidupan manusia. Lebih jauh, proses inisiasi adat yang dilakukan oleh sebuah komunitas atau etnik tertentu adalah pendidikan kebudayaan yang paling efektif dan berpengaruh dalam menciptakan karakter seseorang.

Media-media kebudayaanini di tengah situasi bertautannya dunia tradisional dan dunia masa depan seolah dianggap kehilangan spiritnya. Arnold Clements Ap, seorang tokoh kesenian dan kebudayaan Papua, pernah mengungkapkan pendapat tentang apa yang dikerjakannya bersama teman-temannya di Group Mambesak. “Mungkin kamu berpikirsaya ini sedang melakukan hal bodoh, tapi inilah yang saya pikir dapat saya lakukan untuk rakyat, sebelum saya mati.” Apa yang dilakukan Arnold Ap dan Mambesak melalui media-media kebudayaan kesenian dalam hal ini adalah sesuatuyang membanggakan sekaligus menginspirasi. Salah satu hal yang tidak dapat terbeli dalam kehidupan ini salah satunya mungkin adalah kepuasan ketika identitas diri dan kebudayaannya terekspresikan dengan merdeka tanpa tekanan.

Melakukan gerakan-gerakan apresiasi terhadap kebudayaan masyarakat adalah salah satu perspektif dalam studi kebudayaan. Mediasi kebudayaan bisa diartik an sebagaiperspektif yang melihat pelibatan/pengikutsertaan perspektif kebudayaan dalam memecahkan suatu permasalahan. Perspektif kebudayaan yang dimaksudkan a dalahsuatu pemahaman bahwa segala macam permasalahan terkandung aspek kebudayaan.Analisis kebudayaan inilah yang menjadi sumbangan dari gerakan-gerakan mediasi kebudayaan.

Tentang apa itu kebudayaan dan bagaimana perspektif yang terdapat di dalamnya menjadi perdebatan yang tiada ujung dan akhir. Begitu banyak teori dan perspektif kebudayaan dengan metodologinya masing-masing. Jika menganggap kebudayaan itu terus bergerak dan berubah sesuai dengan konteks ruang dan waktu, perspektif transformatif yang emansipatoris sangatlah tepat dirujuk. Paradigma kebudayaan ini memandang bahwa pemaknaan kebudayaan lahir dari proses belajar bersama antara masyarakat dan orang lain yang ingin belajar tentang kebudayaannya. Dengan demikian, pengetahuan terlahir dari proses negosiasi dan saling belajar. Perspektif ini jauh dari pemikiran bahwa kebudayaan adalah datang jatuh darilangit dan ada begitu saja (taken forgranted). Kebudayaan adalah proses pemaknaan berupa sistem nilai dan norma dalam sebuah komunitas yang akan terus berubah-ubah sesuai dengan konteks ruang yang menyejarah dan waktu.

Gerakan mediasi-mediasi kebudayaan bisa tercermin dari digunakannya perspektif kebudayaan yang transformatif emansipatoris dalam membaca perubahan sosial yangterjadi di tengah masyarakat. Mediasi kebudayaan bisa juga terlihat dari keberpihakan dalam memfasilitasi ekspresi-ekspresi kebudayaan lokal yang tumbuh dan berkembang menjadi identitas dan martabat masyarakat Papua.

Kehadiran 2 buku berbasis pada cerita rakyat dan legenda-legenda yang hidup dan menyejarah dalam kehidupan kebudayaan di Papua, dalam hal ini pada masyarakat Kabupaten Tambrauw, menjadi bukti begitu pentingnya menghadirkan cerita-cerita rakyat berbahasa ibu (Bahasa Ireres di Kabupaten Tambrauw dalam buku ini) sebagai media dan mediasi pendidikan dan kebudayaan. Sastra lisan yang coba dituliskan dan diajarkan bagi anak-anak sekolah menjadi usaha kemanusiaan yang panjang untuk menjadikan anak-anak Papua tidak kehilangan identitas dan kepercayaan dirinya dalam proses pendidikan di tanahnya sendiri. Oleh sebab itulah menjadikan proses pendidikan di Tanah Papua yang percaya diri menjadi sangat penting. Salah satu misi dalam kedua buku cerita rakyat ini adalah menunjukkan kepercayaan diri tersebut.

Selama ini, ekspresi identitas kebudayaan lokal Papua telah direpresi dengan stigma separatis karena alasan stabilitas atau dianggap kuno tidak sesuai dengan kebudayaan modern. Mengapresiasi kebudayaan lokal dengan berbagai medianya adalah bentuk gerakan sosial yang paling ampuh untuk merekognisi identitas dan martabat diri. Dengan demikian kita juga telah memediasi gerakan-gerakan kebudayaan baru untuk memunculkan kemungkinan-kemungkinan orang Papua memikirkan dunia lainnya dengan tetap berakarkan identitas kebudayaannya.

Sorong-Manokwari-Bali,Februari-Maret 2014

[1] Judul awal esai ini adalah “Media dan Mediasi Budaya” yang dimuat di Harian Manokwari Express, 25 Februari 2014. Dilakukan beberapa revisi dan penambahan perspektif sesuai dengan konteksnya menjadi pengantar di buku.

[2] Penulis adalah staf pendidikdi Jurusan Antropologi Fakultas Sastra Universitas Negeri Papua (UNIPA)Manokwari, Papua Barat. Kandidat Doktor Ilmu Humaniora (Antropologi) FakultasIlmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Menulis buku, Jiwa yang Patah(Yogyakarta: PusbadayaUNIPA dan Kepel Press, 2012; 2013). Emailnya:ngurahsuryawan@gmail.com.

[3] Catatanlapangan di Kabupaten Sorong, 15-16 Februari 2014.

Print Friendly

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>