Virginia Woolf dan Jam-Jam Menuju Kehidupan Baru Richard Brown: Sebuah Resensi Film Sederhana

Virginia Woolf dan Jam-Jam Menuju Kehidupan Baru Richard Brown: Sebuah Resensi Film Sederhana

Seseorang tak perlu mati agar orang lain lebih menghargai hidup.  Namun bagaimana kalau seseorang memutuskan mati agar orang-orang lebih menghargai hidup yang dijalaninya? Orang seperti Monginsidi, yang dengan gagah berani menghadapi regu tembak pasukan Belanda atas tindakannya melawan kolonialis Belanda yang ingin berkuasa kembali di Indonesia, yakin bahwa kematiannya justru akan melahirkan Monginsidi-Monginsidi baru. Di masa lalu yang jauh, di jaman Yunani kuno, kematian seorang filosof besar di masa itu memicu tegak dan bergaungnya kebenaran, dan dengan demikian, menghidupkan kembali penghargaan manusia terhadap hidup yang sedang dijalaninya.  Kematian Sokrates membangunkan nurani orang-orang Yunani bahwa ada yang mereka lupakan dalam kehidupan, keterlupaan yang membuat mereka menghina kehidupan yang dijalaninya. Begitu kebenaran ditegakkan, meski pahit, makna hidup kembali ke dalam diri mereka.

 

Kematian seseorang dan pengaruhnya pada kebermaknaan hidup orang lain ini dijelajahi lebih jauh oleh pengarang Inggris, Virginia Woolf, saat tengah bergulat dengan novel eksperimentalnya, Mrs. Dalloway. Dengan merenggut wajah palsu kehidupan nyaman dan mapan yang dialami oleh Dalloway, Woolf menyuguhkan ketegangan-ketegangan internal dalam diri istri seorang pejabat kerajaan Inggris Raya yang bisa dikatakan memperoleh segala hal dalam hidup. Suara-suara dari dalam diri Dalloway digambarkan secara detil oleh Woolf. Lewat suara dari dalam jiwa Nyonya Dalloway kita mendapatkan ketegangan literer yang disuguhkan Woolf: mempesonanya penampilan luar seseorang ternyata tak sebangun dengan apa yang terjadi di kedalaman jiwaannya. Berpuluh-puluh tahun kemudian, Michael Cunningham menjelajah lebih jauh gagasan Woolf dalam novel Mrs Dalloway, dengan membawa pergulatan internal seseorang tentang makna hidup itu ke setting yang lain. Ia berusaha mencari kesesuaian antara lingkungan berpikir yang mengantar Woolf pada proses penulisan novel eksperimentalnya itu pada tokoh Laura Brown (Julianne Moore) yang memiliki penampilan luar hidupnya yang nyaman dan mapan di tahun 1950-an dan seorang editor buku mapan (MerryL Streep) di tahun 2000-an. Tanpa terelakkan, novel The Hours menggaungkan kembali apa yang telah disuarakan oleh Woolf hampir delapan puluh tahun lalu, dalam konteks sosio-historis yang lebih kompleks.

 

Sutradara kenamaan Stephen Daldry menyajikan visualisasi menawan kedua novel itu dalam film yang berjudul sama dengan novel Michael Cunningham, The Hours. Dengan kecermatan penggarapan film yang begitu mengherankan ia mengikat tiga narasi dengan tiga tokoh perempuan berbeda itu dalam kesamaan memiliki kecenderungan seksual sesama jenis. Lahir sebagai cerminan dari pengarang Mrs. Dalloway, tokoh penyair dan novelis di novel dan film ini juga memiliki kecenderungan gay (homoseksual). Pergerakan adegan-adegan yang mengikat tiga tokoh perempuan secara runtut dan saling timpa menggoda kita untuk menyimpulkan bahwa analogi dari tiga tokoh perempuan itu begitu sebangun. Telah sejak awal tiga peristiwa dalam tiga waktu berbeda berjalan begitu serupa dan harmonik, dimana peristiwa yang satu tak akan mungkin lahir tanpa peristiwa lainnya, meski dalam beberapa hal alasan mengadanya peristiwa itu benar-benar berbeda. Momen ketika Woolf memikirkan kalimat pembuka novelnya bergaung dua puluh tahun kemudian di sebuah kamar nyaman Laura Brown yang tengah menikmati awal harinya dengan perut makin membuncit, lalu bergaung hampir lima dekade kemudian, saat Clarissa Vaughan tengah berpikir mempersiapkan pesta pemberian penghargaan bagi Richard Brown (Ed Harris). Bagi penonton film amatiran seperti saya, diperlukan waktu bertahun-tahun untuk memahami setiap adegan film ini maupun saling hubungannya yang memukau antara  satu adegan dengan adegan lainnya. Beberapa saat sebelum menuliskan esai ini, sembari dihempas ekstase mendalam, saya meyakinkan diri sendiri kalau film ini mampu menghadirkan dirinya sendiri sejajar dengan teks sastra yang menginspirasinya.

 

Lihatlah bagaimana terang dan jernihnya adegan-adegan dalam film ini secara ironik namun jitu didayagunakan untuk menggambarkan betapa berliku dan gelapnya ruang-ruang gelap dalam benak manusia. Penonton film ini tak diajak menafsirkan gambar-gambar samar dan penuh teka-teki, namun diajak menelisik apa yang ada di balik gambar-gambar terang dan jernih. Di antara itu semua suara tik-tak jarum jam hampir di sepanjang film, meski tak tercermati oleh penonton yang lebih terhipnotis dinamika peristiwa demi peristiwa yang mengalir secara padat, telah memberi signifikansi yang luar biasa pada judul dan konten film ini. Di sini Daldry mencoba menafsirkan arti penting peristiwa detik per detik kehidupan manusia, sebuah kehadiran peristiwa signifikan yang lenyap saat arti penting manusia diperhitungkan dalam rentang waktu lebih panjang, semisal per tahun, per dekade, atau per abad.

 

 

Subversi Fiksi atas realitas dan subversi realitas atas fiksi

 

 

Virginia Woolf mungkin sadar betul kalau apa yang ditulisnya akan memengaruhi takdir hidup para pembacanya. Dengan ketajaman imajinasi— yang dibayar mahal oleh keterbelahan jiwanya dan kemudian kegilaan— ia memutus kekuasaan Tuhan atas nasib manusia lewat kehidupan tokoh-tokoh ciptaannya. Keragu-raguan dalam dirinya untuk mematikan atau terus menghidupkan Clarissa Dalloway terjawab setelah Angelica menemukan seekor burung betina mati. Negative capability dalam dirinya secara kontrapuntal justru mendorongnya untuk terus menghidupkan tokoh utama dalam novel. Maka di ruang keluarga, saat keponakannya si Angelica bertanya apa yang sedang ia pikirkan, Virginia menjawab pendek: “Tadinya aku akan membunuh tokoh pahlawan dalam novelku. Namun aku berubah pikiran. Aku khawatir kalau nantinya aku akan membunuh orang lain.” Selain adanya kemungkinan sang pahlawan dalam fiksi membunuh orang lain di dalam ceritanya, kita bisa menafsirkan kalimat ini sebagai kepercayaan diri Woolf bahwa ada kemungkinan manusia di dunia nyata akan melakukan hal sama seperti yang ia imajinasikan.

 

Kemurahan hati ini ia bayar mahal 18 tahun kemudian. Di bawah deraan suara-suara yang terus meneror pikirannya ia memutuskan bunuh diri di sungai Ouse. Keputusan literernya untuk terus menghidupkan Clarissa Dalloway membuat Laura Brown yang begitu berempati pada tokoh rekaan Woolf juga tak kuasa mengakhiri hidupnya sendiri atau (mungkin) meracun anak dan suaminya. Inilah subversi fiksi atas realitas yang meneguhkan asumsi bahwa banyak dari tindakan dan pikiran kita berangkat dari fiksi-fiksi yang kita baca. Di sisi lain, tindakan membunuh diri sendiri yang dilakukan oleh Woolf justru memaksa tokoh fiksi seperti Richard Brown, yang kecewa dengan trauma masa kanak-kanaknya,  untuk meniru tindakan nekad yang diambil oleh Woolf. Kedua-duanya memiliki alasan yang sama seperti yang diungkapkan oleh Woolf dalam perbincangannya dengan Leonard Bloom: “Seseorang harus mati agar orang lain menghargai kehidupan yang dijalaninya.”

 

 

Bukan hanya di sini saja fiksi  melakukan subversi atas realitas. Kalimat pembuka novel yang lahir dari imajinasi Woolf tanpa bisa dihalangi oleh siapa pun meradiasikan daya pukaunya melewati lorong waktu hampir tanpa batas. Ia mendorong Dan di tahun 1950-an di California, yang berjarak ribuan mil dari Inggris (Tom C Reilly), dan Clarissa Vaughan di tahun 2000-an untuk memutuskan membeli bunga sendiri dan mengalami awal hari persis seperti bagian awal novel Mrs. Dalloway. Saat novel hampir selesai, setelah termenung di ruang kerjanya, Virginia Woolf berkata pada Leonard bahwa nasib Clarissa Dalloway telah ditetapkan. Nasib Clarissa Dalloway ini kemudian tereplikasi dalam kehidupan Clarissa Vaughan delapan puluh tahun kemudian. Dari sini kita bisa membuat pengandaian tanpa batas bahwa apa pun kalimat pembuka atau bagian-bagian menentukan mana pun dalam novel Woolf akan berulang persis sama dalam kehidupan nyata, meski di ruang dan waktu berlainan.

 

 

Menghadapi hidup dengan mata terbuka

 

 

Secara umum, film ini menyajikan hal lain yang secara tersirat maupun tersurat hadir di keseluruhan film: gugatan Daldry atas kemapanan dan kenyamanan hidup manusia.  Siapa lagi yang menggugat kemapanan ini kalau bukan penulis, karena seperti yang diungkapkan Vanessa (saudara perempuan Virginia Woolf), hanya penulislah yang diberkahi kemampuan hidup di dua dunia: dunia imajinasi dan dunia nyata. Ulang-alik antara dunia imajinasi dan dunia nyata ini membuat ia terus menerus menera batas-batas kepatutan atas segala hal. Dalam kata-kata Virginia Woolf, ia bergulat sendirian di kegelapan, di kegelapan mendalam yang hanya diketahui olehnya sendiri. Di antara pilihan hidup di pinggiran kota Richmond yang nyaman dan kegaduhan kota London yang membuatnya gila, akhirnya ia lebih memilih tinggal di London. Dengan cara itulah ia mendefinisikan kemanusiaannya. Ia tak peduli apakah malaikat kematian tengah menunggunya di sana.

 

“Bisa saja aku bahagia dalam keheningan. Namun kalau aku punya pilihan antara Richmond dan kematian, aku lebih memilih kematian,” ujarnya di stasiun kecil Richmond di akhir pertengkarannya dengan Leonard.

 

Pilihan Woolf ini diambil pula oleh sang penyair dan novelis, Richard Brown. Ia menolak pesta pemberian penghargaan Carruthers bagi dirinya. Dalam kepungan bayang-bayang masa lalu yang terus menerornya —yang secara kontradiktif ikut berperan sebagai kanal puisi dan novelnya—ia menghindari pesta yang diatur oleh Clarissa Vaughan dan lebih memilih mati dengan meloncat dari jendela apartemennya. Kemampuan Richard untuk memandang remeh hal-hal yang dipandang hebat oleh orang lain inilah yang membuat Clarissa Vaughan merasa menjalani hidup yang sangat biasa. Untuk memeroleh kebermaknaan dalam hidup, ia harus terus menerus berhubungan dengan Richard, persis seperti Leonard memeroleh kebermaknaan hidup dengan terus hidup bersama Woolf.

 

Dalam surat yang ia tulis menjelang tindakan bunuh dirinya ia meninggalkan pesan tertulis pada suaminya, Leonard, agar berani menghadapi hidup dengan mata terbuka. Lewat keberanian semacam itu manusia tahu seperti apa rupa sebenarnya kehidupan yang dijalaninya. Dan setelah mengetahuinya, manusia akan mencintai kehidupan yang dijalaninya sebelum akhirnya mencampakannya. Woolf melakukan apa yang telah ditulisnya dengan penuh keberanian. Dan begitu pun dengan Richard Brown, si penyair dalam novel The Hours karya Michael Cunningham. Kedua-duanya melakukan ritual yang sama: bunuh diri. Lewat ritual peniadaan diri inilah manusia menempuh jalan kehidupan baru, suatu kehidupan yang tak akan diketahui oleh mereka yang masih menghirup napas di dunia ini.

 

 

Untuk Fanny Chotimah dan Steve Pillar Setiabudi

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>