Sains dan Iman

Sains dan Iman

Kagum dan frustrasi melihat ungkapan-ungkapan berharap penuh prihatin di Twitter seperti “Pak @SBYudhoyono, petisi ini diteken mereka yang mendedikasikan hidup untuk purbakala, bukan sekadar 1 periode”,“Pak SBY tolong selamatkan Gunung Padang. Tidak ada landasan ilmiah yang kuat ….”  “Bapak @SBYudhoyono, sy yakin Bpk baca ratusan twit dr masyrkt yg peduli dg Gunung Padang, tapi mana sikap Bapak”. Dan banyak lagi yang seperti itu.

Kagum. Para arkeolog yang bekerja penuh dedikasi jelas mengagumkan. Bagi mereka arkeologi tampaknya bukan sekadar ilmu pengetahuan dan profesi melainkan juga panggilan hidup. Meski begitu, tak banyak orang yang mau menekuni bidang ini. Mungkin dianggap kering. Tidak glamor. Dahulu, jurusan arkeologi di UGM banyak dijadikan pilihan kedua kalau bukan ketiga dalam SIPENMARU atau UMPTN. Anekdot tentang profesi yang identik dengan ketekunan ini pun terasa muram: “Carilah pasangan arkeolog, makin tua dirimu makin disayangnya”. Agaknya arkeolog yang beruntung hingga amat populer dan diidam-idamkan perempuan cantik adalah Indiana Jones saja. Sedangkan yang dipuja-puja pria hanyalah Lara Croft.

Mengherankan juga, akun-akun twitter yang protes itu polos benar. Kalau saja mereka tahu siapa operator akun twitter presiden tentulah tidak akan terlalu menaruh banyak harapan. Atau mereka mungkin tahu tetapi hanya ingin menumpahkan kekesalan yang menyesakkan saja? Andai pun twit mereka sampai ke presiden, percuma juga. Dan ini membikin frustrasi. Hasrat untuk menggapai segala yang serba besar, wah, dan kegemaran pada proyek mercusuar tampaknya sudah sedemikian mendarah daging. Tampaknya tidak ada pelajaran yang bisa menghentikan kecenderungan untuk gagah-gagahan, untuk tampil sebagai pemimpin hebat yang akan dikenang sepanjang zaman karena semasa kekuasaannya ditemukan sesuatu sespektakuler Blue Energi.

Setiap kali ada krisis (hampir) selalu timbul harapan yang—kata orang Inggris—to good to be true.

“Kita ingin membuktikan kepada dunia bahwa kita bukan bangsa kere, yang terombang-ambing harga minyak dunia. Bangsa Indonesia bisa menemukan sendiri bahan bakar, yang tidak merusak lingkungan, emisinya juga ramah lingkungan. Masyarakat pengguna tidak perlu memodifikasi kendaraannya,” ungkap Heru Lelono (HL), yang saat itu menjabat sebagai Staf Khusus Presiden Bidang Otonomi dan Pengembangan Daerah.

Tidak sekadar sesumbar, HL menggunakan bahan bakar temuan anak negeri ini untuk rombongan kendaraan tur eksebisi udara bersih, bahan bakar bersih dan kendaraan bersih dalam rangka memeriahkan Konferensi Perubahan Iklim Internasional di Bali pada 3-15 Desember 2007. Di kediaman pribadinya di Puri Cikeas Indah, presiden melepas rombongan itu bersama anggota keluarga dan para menteri. Setelah berputar-putar di Jakarta, rombongan bertolak menuju Bali dan singgah di Nganjuk, mengunjungi Joko Suprapto sang penemu Blue Energy. Jawa Pos edisi 30 November 2007 melaporkan tentang keampuhan Blue Energy:

“Luar biasa. Ini mobil Mazda Six punya Patwal Mabes (Polri) yang bisa berkecepatan 240 kilometer per jam ini kami coba lari 180 kilometer per jam tanpa ada persoalan. Jadi, moga-moga apa yang kita uji coba ini benar-benar bermanfaat. Insya Allah,” ujar Heru begitu turun dari Ford Ranger B 9648 TJ.

Untuk diketahui, pertemuan kemarin berlangsung di salah satu hotel di Nganjuk. Rombongan Heru tiba sekitar pukul 09.00. Mereka mengendarai lima unit kendaraan untuk menguji bahan bakar berbahan dasar air tersebut. Yakni, dua pikap double cabin Ford Ranger, satu sedan Mazda 6, satu bus, dan satu truk pengangkut Blue Energy.”

Tidak tanggung-tanggung, dilepas oleh orang nomor satu di negeri ini, sesampai di Bali rombongan itu disambut oleh orang yang sama dengan segala kebesaran hajatan internasional. Berikut kemegahan penyambutan tersebut sebagaimana dimuat dalam situs banyugeni.com:

“Di area Konferensi Perubahan Iklim, bahan bakar yang diberi nama ”Minyak Indonesia Bersatu” itu dipamerkan. Lagu-lagu ciptaan Yudhoyono, yang albumnya baru saja diluncurkan, diputar di lokasi pameran. Mereka yang hadir mengenakan seragam putih bergaris biru, dengan tulisan Blue Energy. Presiden dengan bangga mengatakan, ‘Inilah kemenangan bangsa Indonesia.’ Tepuk tangan menggema.”

Lima tahun lebih berlalu, kita sama-sama tahu kesudahan Blue Energy, nama yang diberikan oleh presiden untuk bahan bakar yang konon berbahan dasar air itu dan sedianya akan dikembangkan oleh Center for Food, Water and Energy Studies. Klaim bombastis bahwa “Indonesia juga mampu mencari jawaban terhadap masalah yang dibutuhkan khususnya soal bahan bakar non fosil” itu menjadi ledekan pers internasional.

Reuters melaporkan:

“Yudhoyono menyebut itu ‘kemenangan bagi bangsa Indonesia’, disambut tepuk tangan riuh hadirin berseragam putih-biru, sementara lagu-lagu, ditulis dan digubah oleh presiden sendiri, dimainkan sebagai latar belakang. Pemimpin perusahaannya mengatakan bahwa ini bisa menjadi jalan keluar bagi Indonesia dari belitan krisis minyak. Pendek kata, ini minyak ajaib.

Sebetulnya minyak itu adalah sulingan dari limbah cair yang Anda dapati dari pengeboran minyak yang biasanya dikembalikan ke perut bumi. Limbah itu mengandung unsur hidrogen tetapi jelas itu bukan sekadar air.

Sains di balik bahan bakar baru ini agak kabur. Heru Lelono mengakui bahwa ini bukan teknologi baru, banyak orang yang sudah menggunakannya. Fakta bahwa penjelasan-penjelasan ilmiah yang dipajang di arena pameran itu ditenggelamkan oleh jargon-jargon patriotik (Minyak Indonesia Bersatu, misalnya) juga tidak menolong.”

Kita juga tahu betul bagaimana nasib Joko Suprapto, yang sempat dipuji-puji oleh orang nomor satu negeri ini sebagai peneliti yang lebih mengutamakan proses penelitian di lapangan dan bukan teori. Dia dimejahijaukan lantas dibui karena sangkaan penipuan bahan bakar ajaib kembaran Blue Energi, Banyugeni, yang didakwa merugikan semiliar lebih uang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Perdebatan panas di internet antara pendukung “my country is right or wrong” dan mereka yang berpandangan rasional soal minyak entah-berentah itu sudah menjadi sejarah. Rasionalitas menang? Nanti dulu. Energi alternatif bagi hidrokarbon seperti PLT Surya, PLT Angin, Biodiesel, mikrohidro tidak kunjung menjadi perbincangan arus utama, kalau tidak mau dibilang sayup-sayup sampai. Bukan itu saja, ada petinggi yang kukuh berkeyakinan bahwa Blue Energy itu benar adanya, orang-orang sok pintar saja yang tidak mau memberi kesempatan bagi bersinarnya kemegahan bangsa ini.

Air sebagai sumber energi memang betul bisa, namun untuk mengubahnya susah dan masih banyak kendala. Energi berbasis air bukan hal baru. Pada prinsipnya air dapat diubah menjadi hidrogen dengan teknik elektrolisis. Gas hidrogen inilah yang dapat digunakan sebagai bahan bakar. Tetapi proses elektrolisis air menjadi gas hidrogen membutuhkan energi sangat besar. Semua orang juga tahu. Prototipe kendaraan berbahan bakar hidrogen pun sudah ada. Semua orang juga tahu. Tetapi sama sekali tidak ekonomis. Tidak semua orang mau tahu.

Blue Energy silakan diganti dengan banyak kasus, misalnya padi Super Toy, Nutrisi Saputra, Emas Situs Batu Tulis, Emas Raja-raja Nusantara, dan berderet-derert gagasan delusif lain. Intinya:  Kita tidak pernah kehabisan gagasan “cespleng” penuntas segala masalah nyaris tanpa susah payah. Politisasi sains, kata Michael Crichton, sangat berbahaya. Politisasi pseudo-science, tentunya, demikian juga. Setidak-tidaknya menjengkelkan akal waras.

***

“Kamu terlalu rasional. Memahami Tuhan secara rasional. Wajar kalau Allah memberi apa-apa kepadamu sesuai kadar rasionalitasmu. Singkirkan rasionalitasmu, maka kamu akan mendapat pertolongan Allah dengan cara irasional,” tutur teman saya yang pernah membuat pusing ayahnya. Suatu kali ayahnya pernah mengatakan kepada saya, “Sewaktu dia kecil, saya pernah minta didoakan seorang kiai agar anak saya ini kelak menjadi orang saleh. Nah, terkabul. Tapi ya jangan saleh-saleh begitulah.” Lalu dia mengungkapkan ketidakmengertiannya: bagaimana bisa master agronomi dari universitas ternama cuma sibuk khuruj. Menghadapi teman saya dan ayahnya itu, secara terpisah, saya memilih diam. Pergaulan saya dengan teman-teman dari berbagai keyakinan dan sub-keyakinan mengajarkan bahwa mendebat dalam urusan begini cuma membuahkan hasil tunggal: lelah. Saya suka ungkapan ini: “The very foundation of faith is belief, the very foundation of science is doubt.

***

Kembali ke Twitter, ada teman yang suka memancing-mancing saya agar berpendapat soal Piramida Sadahurip dan Gunung Padang atau yang semacam itu. Sebetulnya bisa saja saya jawab, menyitir Indira Gandi, bahwa bangsa yang lama tertindas butuh harapan yang membesarkan hati. Tetapi saya selalu mengelak memberi respons, ya itu tadi: saya malas membahas iman orang lain.

Print Friendly

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>