Memahami Klaim Kebenaran Agama:  Suatu Refleksi Filosofis

Memahami Klaim Kebenaran Agama: Suatu Refleksi Filosofis

Agama pada masa sekarang ini bukan hanya menjadi sangat penting, tetapi juga menjadi sangat tidak aman posisinya dalam hidup manusia. Pada hal pertama, ini karena agama menjadi pedoman sekaligus oase spiritualitas buat para pengikutnya dalam menghadapi situasi kehidupan yang semakin pelik, keras, dan kompetitif. Sedangkan untuk hal yang kedua, ini karena agama justru mendapat serangan dari banyak pihak yang tidak senang atasnya juga para pengikut yang justru mempertanyakannya. Dua aspek ini menjadi dilema bagi agama-agama yang hendak bertahan dan tetap aktual dalam kehidupan kontemporer. Apakah agama mampu memberikan jawaban atas persoalan-persoalan tersebut?

Dari sekian banyak persoalan yang kemudian dimunculkan oleh para penentang agama maupun para pengikut kritis, hal ini terletak pada apa yang dinamakan sebagai “Klaim Kebenaran”. Klaim Kebenaran Agama dipandang sebagai satu persoalan serius mengingat dengan adanya hal itu satu agama dapat dianggap menjadi lebih “benar” daripada agama lainnya. Dalam kehidupan yang semakin mendunia, Klaim Kebenaran Agama juga dipandang sebagai batu sandung untuk hubungan antar sesama karena dipandang menghambat atau justru merusak hubungan antar negara yang selama ini sudah berjalan. Peristiwa teror bom yang terjadi di hotel J.W. Marriot dan hotel Ritz Carlton, Jakarta, serta menewaskan banyak korban dengan mengatasnamakan Jihad itu menjadi salah satu contoh dari bagaimana Klaim Kebenaran Agama ini menggerakkan para pengikutnya untuk berlaku ekstrim dan justru berlaku “tidak benar”.

Ada sesuatu yang salah ataupun keliru dalam memahami Klaim Kebenaran Agama ini nampaknya. Ini karena kita melihat suatu kontradiksi pada kasus yang disebutkan di atas. Pada satu sisi, kita telah mengetahui bahwa dalam agama apa pun, para pengikutnya itu telah diajarkan untuk mengetahui bahwa agama yang dianutnya itu adalah agama yang paling “benar”.[1]) Akan tetapi, di sisi lain, melakukan sesuatu perbuatan tercela sama dilarangnya pada agama apa pun, khususnya dalam konteks “membunuh”.

Oleh karenanya, menjadi tugas yang sangat sulit untuk mengidentifikasi di manakah letak kekeliruan ini terjadi. Namun demikian, sesulit apa pun masalahnya, bukan tidak mungkin untuk dipecahkan. Sebagai awal dari pembahasan, kita akan lihat seperti apakah Klaim Kebenaran Agama itu terlebih dahulu.

  1. Jalan Keselamatan sebagai Fondasi Klaim Kebenaran Agama

Agama-agama yang dianut oleh orang-orang di dunia dewasa ini pada dasarnya mengajarkan apa yang disebut sebagai “jalan keselamatan” (soteriological way). Jalan keselamatan mengajarkan kepada para pengikut agama suatu cara untuk bisa “selamat”  dengan masuk pada agama ini. Hal ini lahir karena agama menganggap bahwa “ada kehidupan lain atau berikutnya setelah hidup di dunia” (eschatological doctrine). Ini merupakan doktrin terpokok dan menjadi inti untuk pengembangan ajaran agama yang lainnya. Kalau kita menilik secara seksama pada jalan keselamatan ini, tentu saja kita akan menemukan apa yang disebut sebagai inti dari Klaim Kebenaran Agama. Kenapa demikian halnya?

Jalan keselamatan merupakan ajaran pokok agama dan ini tidak lain daripada klaim bahwa dengan menawarkan jalan keselamatan inilah agama tersebut dianggap paling benar. Misalnya, ketika Jesus bersabda dalam Perjanjian Baru: “I am the Way, the Truth, and the Life; no one comes to the Father but by me.” atau ketika dalam Advaita Vedantin Shankara dikatakan: “… if the soul is not considered to possess fundamental unity with Brahman—an identity to be realized by knowledge—there is not any chance of its obtaining final release.”[2]), maka tiada “jalan keselamatan” di luar apa yang telah diungkapkan. Inilah “kebenaran” itu dan inilah apa yang disebut sebagai Klaim Kebenaran Agama.

Untuk memahami jalan keselamatan ini secara seksama, pada tabel di bawah ini, penulis mengutip apa yang telah disusun oleh Chad Meister tentang jalan keselamatan yang ada di dalam lima agama besar di dunia.[3])

Unsur-unsur Penting Lima Agama Dunia

Berdasarkan pada keterangan tabel di atas, kita bisa melihat bahwa dalam lima agama ini, jalan keselamatannya berbeda-beda. Ini karena aspek teologisnya saja sudah berbeda satu sama lain. Dengan demikian, kita juga dapat mengandaikan bahwa cara untuk mencapai jalan keselamatan tersebut juga pastinya akan berbeda pula.[4])

Mengingat perbedaan yang sangat fundamental di antara doktrin pokok yang ada di antara agama-agama ini, pertanyaan yang selanjutnya adalah apakah ada cara untuk mengatasi perbedaan tersebut sehingga agama tidak jatuh dalam penafsiran Klaim Kebenaran-nya sendiri secara sempit? Kalau memang cara itu dapat diusahakan, apakah cara itu benar-benar bisa dikatakan objektif? Selain itu, apakah cara ini juga akan “menghancurkan” atau justru “merusak” Klaim Kebenaran Agama sehingga agama tidak lagi memiliki suatu doktrin pokok yang dapat dijadikannya sebagai pedoman?

Sebelum menjawab ini semua, agar masalahnya menjadi lebih jelas dan terarah, kita akan membahas pula beberapa pandangan terhadap Klaim Kebenaran Agama. Dari sini, mungkin ada beberapa pelajaran yang dapat kita pertimbangkan, sebelum masuk dalam pembahasan atas solusi untuk pertanyaan-pertanyaan di atas.

  1. Beberapa Pandangan terhadap Klaim Kebenaran Agama

Menurut Chad Meister, ada beberapa pandangan dan sekaligus pendekatan filosofis yang dapat diterapkan pada masalah Klaim Kebenaran Agama. Ia menyebutkan enam pandangan dengan penjelasan sebagai berikut: [5])

  1. Atheisme (Atheism).

Pandangan ini menolak semua agama dan menganggap agama sebagai sesuatu yang negatif. Oleh karena itu, semua kebenaran yang berasal dari agama dianggap salah. Tuhan pun ditolak sebagai Kenyataan Tertinggi (Ultimate Reality) sebagaimana dipahami oleh agama-agama.

  1. Agnostisisme (Agnosticism).

Tidak dapat mengatakan mana agama yang paling benar. Pandangan ini cenderung bersikap netral dan bersikap a-gnosis (tidak mengetahui, Yunani) manakah agama yang paling benar dibandingkan dengan agama yang lainnya. Namun demikian, pandangan ini masih bisa menerima Tuhan sebagai Kenyataan tertinggi.[6])

  1. Relativisme Agama (Religious Relativism).

Oleh karena semua agama dapat dipandang benar dan efektif oleh masing-masing pengikutnya, maka tidak dapat dikatakan bahwa kebenaran agama akan berlaku objektif. Apalagi jika hal tersebut berhubungan dengan pengalaman transenden yang ada dalam masing-masing agama.

  1. Pluralisme Agama (Religious Pluralism).

Semua agama itu pada prinsipnya benar. Hanya saja, agama-agama tersebut menawarkan jalan yang berbeda dan pandangan yang parsial atas sesuatu yang disebut sebagai Kenyataan Tertinggi. Padahal, Kenyataan Tertinggi itu bersifat Esa.

  1. Inklusivisme Agama (Religious Inclusivism).

Hanya ada satu agama yang paling benar di dunia ini. Tetapi, agama lainnya juga turut berpartisipasi dalam rangka mengungkapkan kebenaran yang ada pada agama paling benar di dunia ini. Oleh karena itu, menjadi mungkin untuk mendapatkan keselamatan melalui agama yang lainnya di luar agama yang paling benar tersebut.

  1. Ekslusivisme Agama (Religious Exclusivism).

Hanya ada satu agama yang paling benar di dunia ini dan agama-agama lainnya itu adalah salah. Keselamatan hanya dapat ditemukan pada agama yang paling benar ini.

Nah, dari keenam pandangan ini, ternyata yang mendekati apa yang sudah kita bahas pada Klaim Kebenaran Agama itu adalah pandangan keenam. Ekslusivisme agama ternyata menjadi ciri utama dari sebagian besar pengikut agama dunia dewasa ini. Bahkan, sesuai doktrin jalan keselamatan yang telah dikutipkan di dalam pembahasan sebelumnya, memang tidak ada tempat bagi agama lain untuk mengatakan “benar”.

Meskipun demikian, tetap ada perkecualian di antara sekian banyak pengikut, ketika ada banyak orang yang juga berusaha untuk berdialog antar agama atau antar iman. Mereka inilah kaum agamawan penganut pluralisme agama dan seringkali dipersamakan dengan pengikut Filsafat Perennial (Perennial Philosophy). Pada titik-titik tertentu, memang ada kesamaan antara pandangan pluralisme agama dengan filsafat perennial, namun mereka berbeda dalam hal cara penanganan masalahnya.

Kesamaan pandangan antara keduanya ini terletak pada pemahaman bahwa semua agama itu benar adanya. Walaupun begitu, filsafat perennial melangkah lebih jauh dengan mengatakan bahwa agama-agama itu dapat disatukan dan sebagai konsekuensinya hanya ada satu jenis cara dari mistisisme atau metafisika yang fundamental. Sedangkan pluralisme agama tidaklah demikian dan tetap meyakini bahwa ada pluralitas pada jalan keselamatan yang ditawarkan oleh setiap agama.[7])

Demikian, kalau kita ringkaskan, sudah ada tujuh pandangan terhadap Klaim Kebenaran Agama. Tiga pandangan pertama (atheisme, agnostisisme, dan relativisme agama) nampaknya akan sulit diterima sebagai pandangan yang menjadi alternatif pemecahan masalah Klaim Kebenaran Agama. Tiga pandangan lainnya (pluralisme agama, inklusivisme agama, dan filsafat perennial) ada kemungkinan untuk bisa diterima sebagai solusi untuk masalah Klaim Kebenaran Agama. Sementara satu pandangan yang tersisa (ekslusivisme agama) boleh kita anggap sebagai titik berangkat atau yang menjadi pijakan di mana masalah Klaim Kebenaran Agama itu bermula.

Tentang tiga pandangan yang mungkin dapat menjadi solusi, inklusivisme nampaknya menjadi alternatif pandangan yang paling bermasalah. Ini karena Klaim Kebenaran Agama menurut perspektif ini sudah dibatasi pada satu agama saja. Agama yang lainnya hanya bersikap pelengkap. Oleh karenanya, inklusivisme agama dapat dianggap bukan sebagai solusi alternatif.

Pluralisme agama dan filsafat perennial sama-sama dapat dipertimbangkan menjadi solusi alternatif sebenarnya. Akan tetapi, kritik yang muncul atas dua pandangan ini adalah bahwa bagaimana mungkin semua agama itu dianggap “sama dan benar” adanya? Apakah kriteria kebenaran yang dipakai untuk menentukan suatu agama sama-sama memiliki kebenaran tersebut? Jika seorang penganut mengatakan bahwa agamanya itu “benar”, apakah penganut agama lainnya dapat mengatakan hal itu salah? Padahal kita tahu bahwa titik tolak masing-masing agama jelas-jelas berbeda seperti tampak pada tabel yang menjelaskan unsur-unsur penting lima agama dunia.[8])

Berdasarkan keberatan-keberatan ini, nampaknya kita harus mencari alternatif pandangan lainnya untuk mengatasi masalah Klaim Kebenaran Agama. Dalam kerangka tersebut, penulis akan memulainya dari suatu pembahasan tentang kebenaran itu sendiri. Sebab, bila kita memahami apa yang disebut “kebenaran” itu secara pasti, maka kita tidak akan lagi terjebak dalam pandangan-pandangan yang justru mengaburkan masalah yang sesungguhnya dari Klaim Kebenaran Agama ini.

  1. Pemahaman atas Kebenaran sebagai Solusi untuk mengatasi Klaim Kebenaran Agama yang Sempit

Sesudah memahami beberapa pandangan yang dianggap mewakili pro dan kontra dalam masalah Klaim Kebenaran Agama, penulis dapat menyusun beberapa asumsi yang akan menjadi dasar untuk mengatasi masalah tersebut.

Pertama, Klaim Kebenaran Agama itu tidak dapat dilepaskan dari pandangan bahwa dalam setiap agama punya asumsi bahwa agamanya itulah yang paling benar adanya.

Kedua, nilai yang dianut oleh masing-masing agama itu berbeda sesuai dengan apa yang terkandung pada tiga aspek paling pokok dalam suatu agama, yaitu aspek teologis, eskatologis, dan soteriologis.

Ketiga, dengan adanya perbedaan nilai yang dianut, secara otomatis kita tidak dapat menerapkan satu tolok ukur yang sama untuk mengatakan agama itu benar atau mengatakan agama itu salah.

Keempat, kalau memang ada satu pandangan yang dapat menjembatani antara satu agama dengan agama lainnya, maka pandangan itu tidak boleh mengesampingkan perbedaan mendasar yang terkandung pada tiga aspek paling pokok dari suatu agama.

Kelima, dalam beberapa konteks, kita tidak dapat menerapkan analisis yang berdasarkan pada kriteria logis bila menyangkut doktrin agama yang bersifat transenden. Kriteria logis itu benar-benar akan dapat diterapkan secara tepat hanya pada doktrin agama yang bersifat imanen.

Lima asumsi ini sekaligus akan menjadi rambu bagi kita untuk menguji apakah solusi alternatif itu benar-benar dapat dipergunakan dan cukup konsisten untuk diterima oleh para penganut agama yang berbeda-beda. Namun demikian, untuk sampai pada pengujian ini, kita akan membahas apa yang dinamakan sebagai kebenaran itu sendiri sebagai landasannya.

Benar atau lebih khususnya teori mengenai benar itu sendiri sudah dikembangkan sejak lama dalam sejarah pemikiran filosofis. Ada beberapa teori kebenaran yang pokok dalam pemikiran filosofis:[9])

  1. Teori Korespondensi (Correspondency Theory of Truth).

Sesuatu itu menjadi benar bila ada korespondensi antara sesuatunya dengan apa yang ada pada kenyataannya.[10])

  1. Teori Koherensi (Coherency Theory of Truth).

Sesuatu itu menjadi benar bila sesuatunya itu koheren (konsisten dan sekaligus bergantung satu sama lain) dengan asumsi atau pernyataan dasar dari sistem yang melingkupinya.[11])

  1. Teori Pragmatis (Pragmatic Theory of Truth).

Sesuatu itu benar kalau sesuatunya itu “bermanfaat” (expedient) sesuai dengan apa yang kita pikirkan dan sesuatunya juga itu dapat diverifikasi dengan kenyataan.[12])

  1. Teori Deflasioner (Deflationary Theory of Truth).

Sesuatu itu benar tanpa mengandaikan bahwa sesuatunya itu akan terikat pada suatu benda atau hal ataupun pernyataan. “Kebenaran bukanlah milik dari sesuatu” (truth is not property of something).[13])

  1. Teori Redundansi (Redundancy Theory of Truth).

Sesuatu yang benar itu bersifat “berlebih-lebihan” (redundant) dan hanya sesuatu yang bersifat “dangkal” (shallow) bila dilihat dari konteks: “Adalah benar bahwa rumpu itu berwarna hijau”.[14])

  1. Teori Disquasional (Disquotational Theory of Truth).

Sesuatu itu benar kalau sesuatunya itu jika dan hanya jika equivalen dengan sesuatunya tersebut. Dengan kata lain, kebenaran itu adalah materi dari aturan linguistik suatu ungkapan daripada suatu hubungan korespondensi eksternal dengan dunia atau dengan suatu properti.[15])

  1. Teori Performatif (Performative Theory of Truth).

Sesuatu yang benar itu hanya merupakan bentuk pengiyaan daripada apa yang dibicarakan. Benar itu tidak lain daripada suatu bentuk “persetujuan” (agreement), “pengakuan” (conceding), atau “dukungan” (endorsing).[16])

  1. Teori Minimalis (Minimalist Theory of Truth).

Sesuatu yang benar itu hanya merupakan properti logis. “Sesuatu itu benar jika dan hanya jika sesuatunya itu adalah sesuatu itu tersebut” adalah contoh bagaimana kebenaran yang ada pernyataan itu hanya bersifat logis.[17])

 

  1. Teori Semantik (Semantic Theory of Truth).

Sesuatunya itu benar jika dan hanya jika sesuatunya itu adalah sesuatu itu tersebut, di mana sesuatunya itu tidak lain daripada nama untuk suatu kalimat dan hanya ada dalam bahasa.[18])

Dari beragamnya teori kebenaran yang ada, menurut hemat penulis, hanya ada satu teori yang dapat dipakai untuk menguji suatu Klaim Kebenaran Agama itu sebagai kebenaran. Teori itu adalah teori koherensi. Ini karena, dengan teori koherensi, Klaim Kebenaran Agama akan dapat diuji apakah pernyataan-pernyataannya itu konsisten dan tidak saling bertentangan satu sama lain tanpa harus mempertanyakan apakah asumsi dasar dari doktrin yang menjadi inti Klaim Kebenaran Agama itu salah atau tidak.

Sebenarnya hal ini sejalan dengan apa yang telah dirumuskan oleh Chad Meister. Ia mengatakan bahwa kita dapat menguji Klaim Kebenaran Agama dengan lima kriteria: [19])

  1. Logical consistency: the fundamental, defining propositions of the religious system must be logically consistent with one another and not self-defeating.
  2. Coherence of overall system: the fundamental, defining propositions of the religious system must be related to one another such that they offer a unified understanding of the world and one’s place in it.
  3. Consistency with knowledge in other fields: the fundamental, defining propositions of the religious system should not contradict well-established knowledge in other fields, such as science, history, psychology, and archaeology.
  4. Reasonable answers to fundamental human questions: the religious system should be able to account for and explain fundamental human questions.
  5. Existential plausibility: the religious system must be livable based on its own fundamental beliefs and should not require borrowing such beliefs from another religious system which contradict it.

Lima kriteria ini juga semestinya dapat digabungkan dengan lima asumsi dasar yang sudah penulis buat, sehingga akan menjadi suatu rumusan yang baru dan lebih tepat untuk dipergunakan.

 Meski kita sudah mendapatkan apa yang kita maksud sebagai cara untuk menguji Klaim Kebenaran Agama secara lebih baik, namun penulis masih ingin menambahkan satu hal. Bahwa, seperti apa yang telah diungkapkan oleh Martin Heidegger, kebenaran itu adalah sesuatu yang berupa: “The Being-true (truth) of the assertion must be understood as Being-uncovering”.[20]) Artinya, kebenaran itu tetap terbuka dan sesuatu yang benar itu harus ditemukan. Kebenaran yang ada dalam Klaim Kebenaran Agama pun harus kita temukan dan untuk itu butuh proses.

  1. Penutup

Demikian, pada paragraf-paragraf terdahulu telah penulis sampaikan bahwa untuk memahami dan mengatasi Klaim Kebenaran Agama itu bukanlah sesuatu yang mudah. Walaupun demikian, kita sudah menemukan beberapa alternatif pemecahan masalahnya. Namun, karena ruang lingkup pembahasan kita tidak dalam kajian yang bersifat kasus, maka alternatif pemecahannya belum dapat kita uji secara praktis. Penulis berharap bahwa pada kajian yang selanjutnya, hal ini dapat diterapkan dan diujicoba secara praktis.

Daftar Pustaka

Anthony C. Thiselton, 2002, A Concise Encyclopedia of the Philosophy of Religion, Oneworld Publications, Oxford.

Chad Meister, 2009, Introducing Philosophy of Religion, Routledge, London.

Keith E. Yandell, 1999, Philosophy of Religion: A Contemporary Introduction, Routledge, London.

Nicholas Bunnin dan Jiyuan Yu, 2004, The Blackwell Dictionary of Western Philosophy, Blackwell Publishing, Oxford.


[1])    Lihat penjelasan dari Keith E. Yandell untuk masalah ini secara lebih luas dalam bukunya yang berjudul Philosophy of Religion: A Contemporary Introduction, 1999, Routledge, London, di bab 5 tentang “The importance of doctrine and the distinctness of religious traditions”. Ia memberi contoh bagaimana agama Kristiani, Hindu, maupun Budha menganggap ajarannya sebagai ajaran yang paling benar dengan mengutip doktrin yang menyatakan hal tersebut secara gamblang.

[2])    Dikutip via Keith E. Yandell, Ibid., hal. 53.

[3])    Chad Meister, 2009, Introducing Philosophy of Religion, Routledge, London, hal. 27.

[4])    Rincian untuk masing-masing cara yang dipergunakan dalam lima agama untuk jalan keselamatannya ini dapat dibaca dalam Chad Meister, ibid., hal. 25.

[5])    Sebenarnya Chad Meister menyebut pendekatan filosofis ini sebagai pendekatan filosofis untuk masalah “keanekaragaman agama” (religious diversity). Namun, setelah membaca isinya secara seksama, penulis menyimpulkan bahwa uraiannya lebih banyak berbicara tentang Klaim Kebenaran Agama. Oleh karenanya, uraian tersebut dapat dianggap sama dengan pendekatan filosofis tentang Klaim Kebenaran Agama. Lihat dalam Chad Meister, ibid., hal. 26.

[6])    Penjelasan lebih lanjut tentang Agnostisisme penulis ambil dari Anthony C. Thiselton, 2002, A Concise Encyclopedia of the Philosophy of Religion, Oneworld Publications, Oxford, hal. 4.

[7])    Persamaan dan perbedaan antara pluralisme agama dengan filsafat perennial penulis sarikan dari uraian Chad Meister, op.cit., hal 31 untuk pluralisme agama dan dari uraian Nicholas Bunnin dan Jiyuan Yu, 2004, The Blackwell Dictionary of Western Philosophy, Blackwell Publishing, Oxford, hal. 518-9 untuk philosophia perennis atau filsafat perennial. Walaupun begitu, sebagai catatan, filsafat perennial yang dimaksud di atas adalah filsafat perennial yang awal dan berasal dari gagasan Aldous Huxley yang mengutip Georg Wilhelm Leibnitz sebagai pencetus istilah philosophia perennis.

[8])    Kritik atas pluralisme agama juga telah dilontarkan oleh Chad Meister. Ia mengatakan bahwa “… The great world religions, however, all include the notion that they are true; that they offer the right soteriological goal one should aim  for and  that  they offer  the best means  for achieving  that goal. So here’s the problem. The pluralistic hypothesis seems to stand above the religions and make an exclusive (non-pluralistic!) claim about the Real and salvation/liberation; namely, that the Real is experienced equally validly among the various religions and  that they each offer valid expressions of the soteriological goal. But this appears to be self-contradictory. …”. Penekanan dibuat oleh penulis untuk menunjukkan kritik dari Chad Meister. Lihat selengkapnya dalam Chad Meister, op.cit., hal. 32-5.

[9])    Penjelasan tentang teori kebenaran ini didasarkan pada uraian dari Anthony C. Thiselton, op.cit. hal-313-4 dan uraian Nicholas Bunnin dan Jiyuan Yu, op.cit. Untuk uraian dari Nicholas Bunnin dan Jiyuan Yu, ini tersebar sesuai dengan teori kebenaran yang dimaksud. Lihat dalam catatan-catatan kaki selanjutnya.

[10])    Nicholas Bunnin dan Jiyuan Yu, ibid. hal. 145-6.

[11])    Nicholas Bunnin dan Jiyuan Yu, ibid. hal. 118.

[12])    Nicholas Bunnin dan Jiyuan Yu, ibid. hal. 545.

[13])    Nicholas Bunnin dan Jiyuan Yu, ibid. hal. 703.

[14])    Nicholas Bunnin dan Jiyuan Yu, ibid. hal. 594-5.

[15])    Nicholas Bunnin dan Jiyuan Yu, ibid. hal. 187.

[16])    Nicholas Bunnin dan Jiyuan Yu, ibid. hal. 511.

[17])    Nicholas Bunnin dan Jiyuan Yu, ibid. hal. 435.

[18])    Nicholas Bunnin dan Jiyuan Yu, ibid. hal. 632.

[19])    Chad Meister, op.cit. hal. 38.

[20])    Dikutip via Nicholas Bunnin dan Jiyuan Yu, op.cit. hal. 73.

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>