Pelatihan Menulis dan Penelitian Dasar Kualitatif

Gelar workshop Desantara kali ini terjadi di Samarinda, Kalimantan Timur. Worksop ini diberi judul, Pelatihan Menulis dan Penelitian Dasar Kualitatif. Acara ini digelar di Guest House, Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur (11-19 Maret 2010). Workshop ini adalah fase lanjut dari pelatihan menulis yang digelar sejak akhir tahun 2009. Bersama lembaga Naladwipa, Desantara mengajak kaum muda aktivis mahasiswa, gerakan LSM, untuk bersama-sama mempelajari secara reflektif proses perubahan sosial budaya, ekonomi-politik di Kalimantan Timur.

Gelar workshop Desantara kali ini terjadi di Samarinda, Kalimantan Timur. Worksop ini diberi judul, Pelatihan Menulis dan Penelitian Dasar Kualitatif. Acara ini digelar di Guest House, Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur (11-19 Maret 2010). Workshop ini adalah fase lanjut dari pelatihan menulis yang digelar sejak akhir tahun 2009. Bersama lembaga Naladwipa, Desantara mengajak kaum muda aktivis mahasiswa, gerakan LSM, untuk bersama-sama mempelajari secara reflektif proses perubahan sosial budaya, ekonomi-politik di Kalimantan Timur.

Hasilnya adalah topik-topik menarik yang diajukan peserta workhop. Ada topik mengenai Pertambangan/lingkungan, kuliner, politik identitas/etnis, masalah agama minoritas Ahmadiyah, transmigrasi, isu petani, dan seterusnya.

Panitia mengemas kegiatan ini dengan membebaskan seluruh peserta mengajukan draft tulisan awal sebagai sarat seleksi peserta. Hasilnya adalah 15 tulisan terseleksi. 15 peserta yang terseleksi ini mendapat bimbingan khusus dari fasilitator yang dikomandani oleh Mas Rudi (Roedi Haryo).

Seperti yang diinginkan Desantara-Naladwipa, pelatihan ini mendorong peserta menjadi kelompok kritik-reflektif-evaluatif terhadap berbagai perkembangan dan dinamika sosial, ekonomi dan sosial budaya di Kalimantan Timur.

Seperti kita ketahui, paska runtuhnya Soeharto bangsa Indonesia mengalami proses apa yang sering disebut sebagai transisi demokrasi. Daerah-daerah mengalami fase otonomi daerah, dimana beberapa kebijakan diputuskan langsung dari daerah tanpa intervensi dari pusat (Jakarta). Dampaknya cukup fantastis. Disamping kesempatan-kesempatan tersedia bagi daerah untuk mengembangkan diri, beberapa perkembangan yang terjadi justru kian memperumit persoalan. Daerah bergerak bebas dan masyarakat memberi respon atas seluruh perubahan-perubahan ini. Sayangnya, isu dan dinamika di masyarakat sendiri kurang dicermati, kadang tertutup oleh isu dominan seperti masalah korupsi, kisruh politik antar elite, dan seterusnya. Padahal, refleksi berdasarkan kisah dan dinamika masyarakat yang berkembang selama ini, memberi makna dan segudang pelajaran.

Misalnya, Galeh Akbar Tanjung, tertarik melihat perkembangan industri kreatif tenun sarung Samarinda. Galeh asalnya ingin melihat persoalan perempuan di tengah industri ini. Berkat workshop, kepekaan Galih terasah. Ia sabar mengikuti masukan dan kritik fasilitator. “Kamu punya kemajuan Lih, setidaknya kutipan Nietsche sudah dibuang”, kelakar salah satu fasilitator.

Memang, kemajuan Galeh cukup atraktif. Sepanjang tulisannya yang banyak mengandung penjelasan opini, ia ubah menjadi pemaparan yang berbasis data, kuat secara etnogtafis. Cerita Galeh mulai lancar mendeskripsikan dengan detil kondisi buruh sarung tenun, penghasilan mereka, kaitanyya dengan peran pemerintah dan posisi perempuan di dalam mekanisme bisnis tenun seperti ini.

Lain lagi, Didit. Ia tertarik dengan carut marut industri pertambangan di Kalimantan Timur. Didit menyampaikan topik, bisnis perijinan tambang, dan Pilkada. Mengingat didit adalah aktivis LSM, gayanya berapi-api. Ia tidak segan bertutur dengan lugas seluruh bentuk penyelewengan di tingkat birokrasi, aksi politik uang di Pilkada yang menurutnya terkait dengan Bandar-bandar Tambang.

Lagi lagi, bertutur Didit juga kurang didukung data mumpuni. Ia kurang mampu mendeskripsikan cerita memikat seputar bisnis perijinan dan kaitannya dengan Pilkada dengan gaya seolah-olah ia tidak menggurui atau menggugat apapun.

Sepuluh hari lebih ditemani para fasilitator, sikap Didit dalam menuliskan topiknya mulai berubah. Narasinya semakin lancar, datanya semakin kuat. Ia bisa mendeskripsikan bisnis perijinan melalui beberapa wawancara langsung dari sang pelaku; birokrat.

Namun demikian, beberapa peserta sempat mengaku bila ia direkrut sebagai peserta dengan modal nol; tidak paham sama sekali dengan dunia penulisan, apalagi refleksi ilmiah/analisis. Ternyata, rombongan ini muncul ketika beberapa peserta yang sebelumnya aktif mengirimkan tulisan dan sempat mendapat masukan dari fasilittor urung terlibat di workshop ini. Alasannya macam-macam, sebagian menyampaikan penyesalan karena sibuk/terbentur dengan kegiatan lain yang tidak bisa ditinggalkan.

Toh, seperti dituturkan mawardi, Sudjatmiko, Ramlianur, Kasmani, dan lain-lain, mereka suka dan mendapat banyak masukan selama mengikuti workshop ini.

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>