Chicklit: Dari Perempuan untuk Perempuan

Chick-lit lahir sebagai sebuah fenomena tersendiri dengan minat konsumsi dan produksi yang luar biasa. Media yang ditargetkan untuk perempuan dan ditulis oleh perempuan ini dapat jadi merupakan refleksi suara perempuan. Namun sebaliknya chicklit telah banyak membuat kalangan feminis gerah. Tampaknya ada banyak hal yang dapat dibedah dari chick-lit lebih dari sekedar produk pasar populer namun juga refleksi kehidupan sosial dewasa ini.

Kehadirannya sulit untuk diabaikan. Sampul warna pastel yang mencolok dengan gambar vektor kian menjamur, terjual cepat dan difilmkan. Berbagai toko buku bahkan memiliki meja atau rak khusus untuk genre buku ini; chick-lit. Istilah dari perpaduan dua kata chick (perempuan) dan literature  disingkat ’Lit’ yang baru fasih digunakan pada tahun 2000 merupakan salah satu genre fiksi penulisan.

Chick-lit yang dikenal sekarang pertama kali muncul di Inggris pada pertengahan 1990-an, kemudian merambat ke Amerika, hingga akhirnya menyebar ke Asia. Diawali oleh karya Helen Fielding (seorang penulis kolom surat kabar) berjudul Bridget Jone’s Diary pada tahun 1998, yang mencapai 5 juta kopi dan hingga saat ini masih dicetak ulang. Gaya cerita best-seller ini melahirkan bentuk-bentuk karya serupa; seperti

Candace Bushnell's
Sex and the City,

Sophie Kinsella Shopaholic dan Laura Wolf The Bride’s Diary.

Penerimaan pasar terhadap kehadiran chick-lit merupakan fenomena tersendiri yang tidak lama menginspirasi dan melahirkan penulis-penulis chick-lit dalam negeri. Karya penulis Indonesia pun rata-rata menyentuh kategori best seller hingga memikat berbagai penerbit. Saat ini, tidak kurang dari 30 penerbit di Indonesia yang memproduksi buku dengan segmentasi perempuan muda ini. Bisnis buku kembali menggiurkan.

Booming Novel chicklit, dalam pendapat Radway terletak pada formula perpaduan konsumerisme. Chicklit yang senantiasa mengkaitkan kegiatan belanja dan fesyen, meletakkan chicklit secara otomatis kedalam budaya massa dan seiring melegitimasi pemikiran pembaca terhadap dunia feminin yang selama ini terbenam tak pernah terpisah dari kehidupan mereka

Setidaknya dapat dinyatakan aman untuk mengangkat konsumerisme, karena mayoritas masyarakat tidak imun terhadap kekuatan pemasaran massal. Popularitas genre ini pun tidak lepas dari sajian yang begitu dekat dengan realitas keseharian dan life-style kaum muda saat ini. Dibantu dengan narasi yang mayoritas menggunakan orang pertama, seakan formula ’pengakuan’, memudahkan pembaca untuk terlibat dan mengkorelasi diri dengan tokoh didalam teks. Chick-lit membawa detail keseharian perempuan yang tidak sempurna. Dibandingkan dengan novel roman sebelumnya yang senantiasa membawa formula akhir yang bahagia bersama lelaki idaman, chick-lit membawa pandangan yang lebih ‘riil’ terhadap romantika, relasi dan perempuan lajang.

Gambaran yang dianggap begitu dekat dengan realitas keseharian inilah yang menggugah ekspresi penulis-penulis perempuan baru dalam negeri. Sebagaimana pernyataan Icha Rahmanti, salah satu penulis buku chick-lit Indonesia,’bukan Cuma perempuan luar saja yang mengalami ”A Quater Life Crisis” atau setidaknya mempunyai sesuatu yang menarik untuk diceritakan…”We do have our own issues to tell!”. Tampaknya chick-lit merupakan sebentuk ekspresi – dari perempuan untuk perempuan.

Tidak mengejutkan kemudian bila media satu ini dianggap sebagai bagian dari ‘suara’ perempuan, terlebih-lebih saat penulis-penulis chick-lit tampak jelas menjajarkan cara berfikir setara antara perempuan dengan laki-laki yang mengindikasikan bentuk generasi kedua gerakan feminis. Namun sebaliknya, chick-lit banyak membuat kalangan feminis gerah. Khususnya persoalan karakter perempuan dan relasi dengan laki-laki yang digambarkan disana. Cerita yang berputar dalam obsesi mencari pria yang tepat (the right man), dinilai sama sekali tidak menggambarkan suara gerakan feminis, malah sebaliknya, mengesankan bahwa persoalan perempuan telah selesai. Terlebih bagi golongan feminis radikal yang melihat laki-laki dan patriaki sebagai bentuk penindasan kaum perempuan sangat berlawanan dengan ’generasi’ chick-lit yang melihat persoalan ini sudah tidak ada. Persoalan yang dihadapai dalam chick-lit adalah persoalan pilihan individu dan bukan persoalan struktur budaya, sebagaimana peta umum perjuangan kaum feminis. Hal ini yang menjadi alasan para feminis menolak keras chick-lit sebagai bagian suara perempuan.

Perkembangan studi chick-lit dilihat sebagai karya post-feminis, sebuah pemahaman yang bergeser dari ide feminis, membenarkan struktur budaya patriakis untuk kepentingan perempuan. Terlepas dari apakah hal tersebut merupakan pergerakan ke arah yang positif atau negatif, istilah yang baru dimunculkan dalam dua puluh tahun terakhir ini membawa wacana perbaikan kedalam dirinya sendiri. Beberapa fokus dari postfeminisme barkaitan langsung dengan budaya populer, sebagaimana teori backlash yang dimunculkan oleh Susan Faludi dalam  Backlash: The Undeclared War Against American Women (1991).

Faludi menjelaskan bagaiamana budaya populer secara langsung melahirkan pemahaman yang menentang feminisme, yaitu ’postfeminisme’, dengan mencoba untuk menyalahkan femisnisme sebagai akar kesengsaraan perempuan modern saat ini dan mengusulkan kefeminiman tradisional kembali. Braithwaite melihat media saat ini menyampaikan bahwa terlepas dari dan karena segala keuntungan dan kemungkinan yang diperoleh dari gerakan perempuan, para perempuan bersyukur atas kebebasan serta kesetaraan yang dimungkinkan karena gerakan perempuan, namun disaat yang sama menyalahkannya karena telah membuat perempuan sengsara dengan tekanan dan ekspektasi yang tinggi. Perempuan merasa keberatan untuk mengorbankan hal-hal yang dianggap rintangan bagi gerakan perempuan, seperti laki-laki, sexualitas dan konsumerisme. Mona Charen dalam artikelnya mengutarakan kehidupan liberal perempuan saat ini telah memberikan banyak hal namun disaat yang sama telah menghapuskan pusat utama kebahagiaan perempuan, yaitu laki-laki.

In dispensing its spoils, women’s liberation has given my generation high incomes, our own cigarette, the option of single parenthood, rape crisis centers, personal lines of credit, free love, and female gynecologists. […] In return it has effectively robbed us of the one thing upon which the happiness of most women rests—men.

Hal ini tentunya menyisakan pertanyaan apa ’pengorbanan’ perempuan riil atau semata-mata diciptakan oleh budaya populer. Dalam pembahasan Faludi, pengorbanan ini secara sengaja dibuat oleh budaya populer sebagai bentuk dari rancangan pemasaran, khususnya untuk citra, tubuh dan seks. Braithwaite menyatakan bahwa pesan ’kembali ke feminim tradisional’ ditekankan oleh budaya populer melalui media iklan, fesyen dan berita populer. Perubahan feminisme dalam media populer semacam ini menurut Kim, telah melahirkan tokoh-tokoh seperti dalam serial Ally McBeal, seorang pengacara perempuan mandiri yang terobesesi mencari laki-laki dan berpenampilan menarik.

Postfeminisme dalam chick-lit setidaknya menyampaikan lima jenis karakter. Pertama, perempuan secara umum menolak label feminis. Mereka tidak menentang sepenuhnya dengan ide feminisme namun menolak labelnya. Hal ini disebabkan oleh anggappan banyak perempuan terhadap feminisme telah membebani mereka untuk memiliki karir cemerlang maupun mengurus rumah tangga yang harmonis serta konotasi negatif yang diberikan oleh budaya popular bahwa label ’feminist’ berarti pembenci pria, berpenampilan buruk, sadis, berbulu dan lesbian. Perkataan yang sering terucap dalam karakter-karakter postfeminisme adalah ”aku bukan seorang feminis, namun…”. Perempuan lebih ingin disebut dengan label ’humanis’.

Kedua, penekanan pada individu ketimbang kebersamaan. Perempuan lebih tertarik berbicara untuk dirinya sendiri tanpa dibebani sebagai suara yang merepresentasikan kaum perempuan. Hal ini bertolak dengan wacana feminisme yang seringkali menekankan bahwa suara perempuan digunakan untuk kepentingan bersama demi kaum perempuan. Individualisme yang menonjol dalam postfeminisme memberikan ruang individu untuk memilih gaya hidup, kenikmatan konsumerisme dan mencari kesenangan dirinya sendiri tanpa harus mengikuti kesenangan-kesenangan mayoritas atau label perempuan.

Ke-tiga adalah usaha dalam menggali kembali feminitas tradisional yang tidak diperbolehkan oleh feminisme. Hal ini termasuk kembali ke laki-laki, fokus terhadap konsumerisme, mempertimbangkan menjadi ibu dan usaha untuk membangun rumah tangga.

Ke-empat, adalah ide terhadap krisis identitas perempuan. Hal ini dikarenakan kecilnya perhatian feminisme terhadap relasi perempuan dengan perempuan lainnya sehingga perempuan dipaksa untuk fokus terhadap dirinya dan membangun karir gemilang dan pada akhirnya kebingungan dengan apa yang sebenarnya membuat mereka sebagai seorang ‘perempuan’. Seringkali media memunculkan persoalan ’jam biologis’ sebagai senjata untuk menunjukan kesengsaraan perempuan modern dan pilihan kehidupan karir telah berakhir dengan kekecewaan dalam hidup mereka.

Karakteristik ke-lima adalah beban yang dialami perempuan saat mempertimbangkan masa depan mereka. Keraguan terhadap diri sendiri seringkali menghiggapi perempuan saat harus membangun rencana masa depan. Hal ini dalam berbagai pandangan terjadi karena dalam struktur feminis tradisional, perempuan tidak dibiasakan dengan beragam pilihan hidup seperti yang tersediakan oleh feminisme saat ini, sehingga muncul ketakutan terhadap kekalahan dan keraguan terhadap kemampuan mereka untuk berhasil.

Percikan ide post-feminisme telah membuat banyak golongan feminis resah. Faludi dan Naomi Wolf secara khusus khawatir terhadap representasi perempuan dalam media yang kian menyiratkan postfeminisme, akan menghapuskan segala perjuangan kesetaraan sosial dan politis perempuan yang sudah berlangsung sejak tahun 1970an. Sedangkan hingga kini beragam study masih menunjukkan bahwa media memiliki peran yang essensial dalam menciptakan perspektif dan pembentukan citra tubuh yang membangun peran gender sebagaimana dibahas dalam tulisan Andsager, Beggan, Crane, Tiggeman, Strelan dan Hargreaves.

Seruan postfeminisme telah membebaskan perempuan untuk memilih jalur hidup yang diinginkan, baik mengikuti jalur feminis ataupun kembali pada feminitas sebelumnya. Anehnya reaksi dari perempuan terhadap kebebasan pilihan ini, cenderung membuat perempuan lebih ragu terhadap dirinya sendiri. Hal ini dikarenakan tekanan dalam mencari pasangan, menentukan karir, mencapai kemandirian finansial, menciptakan kondisi dan kehidupan sosial, tujuan hidup serta berpenampilan langsing dan cantik. Tekanan semacam yang diklaim oleh budaya populer juga sebagai imbas dari seruan gerakan feminisme bahwa perempuan dapat ’miliki semua’. Perempuan seakan diharuskan berjalan dalam keseimbangan diatas batas tipis antara feminim dan maskulin. Perempuan dapat bekerja, memilih pekerjaan, bicara, bercinta seperti pria dan masih harus menjadi perempuan yang cantik dan menarik.

Kesengsaraan perempuan dengan ekspektesi tinggi dan makhluk ’serba memiliki’, bukan dalam berbagai studi dilihat berawal dan berakhir dalam media – budaya populer dan iklan yang senantiasa melebih-lebihkan citra perempuan. Hingga saat ini perempuan masih mendukung prinsip-prinsip gerakan feminis, namun bombardir wacana postfeminisme dalam budaya populer dapat menjadi potensi lahirnya perspektif anti-feminisme.

Tampaknya fenomena chick-lit masih menyisakan kompleksitas yang dapat banyak dieksplorasi. Terlebih dengan kehadiran chick-lit lokal (Indonesia), tentunya membawa representasi nilai yang berkembang secara lokal.

  • Andsager, J. L., Roe, K. Country music video in country’s year of the woman. Journal of Communication, 49(1), 69-82. 1999
  • Beggan, J. K., Allison, S. T. Tough women in the unlikeliest of places: The unexpected toughness of the playboy playmate. Journal of Popular Culture, 38(5). 2005.
  • Braithwaite, A. Politics of/and backlash. Journal of International Women’s Studies, 5(5). 2004.
  • Crane, L. L.Romance novel readers: In search of feminist change?.Women’s 87 Studies, 23. 1994.

·         Dickerson, Young women struggling for an identity. Blackwell. 2004.

  • Faludi, S. Backlash: The undeclared war against American women. New York: Crown Publishers, Inc. 1991.
  • Glasburgh. Chick lit: the new face of postfeminist fiction?. University of North Carolina at Chapel Hill. November, 2006.
  • Hall, E. J. & Rodriguez, M. S. The myth of postfeminism. Gender & Society,17(6), 878-902. Sage Publications.2003.
  • http://www.kompas.com/kompas-cetak/0404/17/pustaka/972525.htm
  • Kim, L. S. (2001). Sex and the single girl in postfeminism: The f word on television.Television & News Media, 2(4).2001.
  • Radway, J. Reading the romance. Chapel Hill: University of North Carolina Press. 1984.

·         Rahmanti, Icha. CinTapucino. Gagas Media. Jakarta. 2004

  • Strelan, P., & Hargreaves, D. Women who objectify other women: The vicious circle of objectification? Sex Roles, 52(9/10). 2005.
  • Tiggemann, M.Television and adolescent body image: The role of program content and viewing motivation. Journal of Social and Clinical Psychology, 24(3). 2005.
  • Walters. Material girls: Making sense of feminist cultural theory. Berkeley: University of California Press. 1995.



[1] http://www.kompas.com/kompas-cetak/0404/17/pustaka/972525.htm

[2] Lihat. Radway, J. Reading the romance. Chapel Hill: University of North Carolina Press. 1984. Hal 193.

[3] Rahmanti, Icha. CinTapucino. Gagas Media. Jakarta. 2004. hal ix.

[4] Lihat. Braithwaite, A. Politics of/and backlash. Journal of International Women’s Studies, 5(5). 2004. Hal. 18

[5] Dikutip dalam Faludi, S. Backlash: The undeclared war against American women. New York: Crown Publishers, Inc. 1991. hal. x

 

[6] Lihat. Kim, L. S. (2001). Sex and the single girl in postfeminism: The f word on television.Television & News Media, 2(4).2001. Hal. 320.

[7] Glasburgh. Chick lit: the new face of postfeminist fiction?. University of North Carolina at Chapel Hill. November, 2006.

[8] Lihat. Walters. Material girls: Making sense of feminist cultural theory. Berkeley: University of California Press. 1995.

[9] Lihat:

Andsager, J. L., Roe, K. Country music video in country’s year of the woman. Journal of Communication, 49(1), 69-82. 1999

Beggan, J. K., Allison, S. T. Tough women in the unlikeliest of places: The unexpected toughness of the playboy playmate. Journal of Popular Culture, 38(5). 2005. Hal 796-818

Crane, L. L.Romance novel readers: In search of feminist change?.Women’s 87 Studies, 23. 1994. Hal257-269

Strelan, P., & Hargreaves, D. Women who objectify other women: The vicious circle of objectification? Sex Roles, 52(9/10). 2005. Hal.707-712

Tiggemann, M.Television and adolescent body image: The role of program content and viewing motivation. Journal of Social and Clinical Psychology, 24(3). 2005. Hal. 361-381.

[10] Dickerson, Young women struggling for an identity. Blackwell. 2004.

[11] Hall, E. J. & Rodriguez, M. S. The myth of postfeminism. Gender & Society,17(6), 878-902. Sage Publications.2003

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>