Ritual Botor Buyang: Pertaruhan Makna dan Paradoks Kebijakan

Botor Buyang. Ritual tradisi rakyat ini tiba-tiba menjadi sorotan pejabat. Di mata aparat Botor Buyang adalah sejenis perjudian biasa, sementara dalam kosmologi komunitas Dayak ia juga aspek ritual yang mustahil diabaikan.

Siang itu, di sebuah ruang eksekutif milik Kantor Bupati Kukar, berlangsung pertemuan penting. Dalam dua barisan kursi yang tertata rapi berhadap-hadapan itu, duduk para pejabat pemerintah Muspikab Kukar seperti Wabup H. Samsuri Aspar, Kapolres AKBP Darmawan Sutawijaya, Dandim 0906/TGR Hardani

Lukita Adi, dan juga Ketua DPRD H. Bachtiar Effendi di satu pihak, dan di barisan lain berderet sejumlah tokoh adat dan masyarakat Dayak.

Seperti diberitakan Kaltim Post pertemuan membahas ritual Botor Buyang yang dianggap sarat dengan perjudian.

”Tujuan pertemuan ini, agar semua komponen masyarakat dapat memahami dan menaati hukum yang ada, serta menjaga wilayah Kukar tetap kondusif,” ujar Samsuri, Wakil Bupati Kukar yang didapuk untuk memoderatori pertemuan siang itu.

”Jika ada kegiatan perjudian, kami akan tindak sesuai aturan yang berlaku,” tambah Kapolres Kukar, Darmawan Sutawijaya.

Ritual adat.

Benarkah Botor Buyang sekadar ritual perjudian? Bagi komunitas adat Dayak Benuaq Jahab, jawabannya jelas, tidak. Bahkan mereka akan menolak tegas bila Botor Buyang dinilai menciptakan keresahan masyarakat. ”Botor Buyang yang dilakukan orang Tunjung Benuaq selalu aman, karena kami sadar menang kalah dalam permainan adalah hal biasa,” ujar Baharon Osik yang juga Kepala adat Tunjung Benuaq Jahab ini. Rupanya ”permainan” inilah selama ini yang kerap disalahpahami orang luar sebagai perjudian.

Bagi komunitas Dayak sendiri, sebenarnya terasa aneh kalau Botor Buyang yang menjadi bagian dari ritual Gugu Tahun ini dianggap perjudian. Karena, bagi mereka, ”permainan” ini tidak bisa dilepaskan dari ritual persembahan sebagai ungkapan syukur mereka kepada Yang Maha Kuasa. Dengan kata lain, dalam alam pikiran komunitas Dayak, ”permainan” ini tidak bisa dimaknai secara profan sebagai perjudian, melainkan juga menghadirkan aspek spiritual yang mencerminkan keyakinan religius mereka.

Mengenai asal usul keyakinan ini, Baharon dalam sebuah kesempatan bertutur panjang kepada redaksi Desantara. Menurutnya, ritual Botor Buyang sebenarnya berhubungan dengan kepercayaan komunitas Dayak mengenai kisah para dewa yang bersepakat menyempurnakan semesta yang tak kunjung paripurna.

Konon, dunia sebelum sesempurna yang kita kenal sekarang ini hanyalah berupa serpihan kecil yang bertebaran. Setiap serpihan kecil ini didiami oleh nayuk (dewa). Alkisah sepasang dewa-dewi bernama Inangq Mekelayangq dan Lolangq Kurigq menempati sebuah wilayah kecil serpihan. Begitu kecilnya sehingga setiap hari ada saja anak kedua dewa-dewi yang meninggal akibat terjatuh dari hamparan bumi.

Mendengar ratapan dewa-dewi yang kehilangan anak-anaknya ini, datangnya dewa-dewa lain membantu. Mereka menyatukan serpihan-serpihan untuk menyempurnakan bumi hingga seluas sekarang ini. Dalam sebuah musyawarah yang kini dikenal sebagai nalit taun bulan atau Gugu Tahun, para dewa bersepakat akan berkumpul kembali membawa persembahan guna melengkapi isi bumi. Namun sayang, sampai tiba waktunya tak satu pun para dewa membawa persembahan. Perselisihan pun terjadi. Maka untuk menengahi perseteruan ini dibuatlah apa yang dikenal sekarang ini sebagai Botor Buyang.

”Siapa yang kalah dalam permainan ini, ia harus rela menjadi persembahan untuk menyempurnakan langit dan bumi,’ demikian tutur Baharon mengakhiri kisahnya.

Kosmologi hidup macam inilah yang menyertai ritual rakyat komunitas Dayak, Gugu Tahun dan Botor Buyang, selama ini. Sebuah kompleksitas ritual yang barangkali tak pernah lekat dalam nalar modern negara yang selalu ingin menyingkirkan apa yang dianggap ”tradisional”, ”irasional”, dan di luar jangkauan nalar modern. Yang ”irasional” harus dirasionalkan agar bisa dimengerti, yang ”disfungsional” harus direvitalisasi agar kembali berfungsi, dan yang ”non-ekonomis” harus diekonomisasikan agar punya tempat dalam roda pembangunan ekonomi negara.

Gugu Tahun dan Botor Buyang hampir selalu menjadi ritual yang tak pernah ditinggalkan oleh komunitas Dayak hingga sekarang. Namun dalam gegap gempita revitalisasi budaya yang makin marak belakangan ini, yang baru dirasakan gemuruhnya oleh komunitas Dayak sejak 2004, program dinas pariwisata ini rupanya menciptakan sebuah paradoks.

Di satu sisi pesta-pesta ritual budaya makin marak dan komunitas Dayak nampak menemukan kembali ekspresi kulturalnya, tapi di sisi lain mereka seolah mengalami semacam keterjepitan dan ketaknyamanan.

”Awal Februari lalu ada penggerebekan oleh gabungan polisi dan Satpol PP. Tapi karena ini adat sekarang tetap dipertahankan,” ujar Baharon, tokoh adat yang kerap menghadiri pertemuan antar kepala adat yang belakangan mulai digelar secara rutin ini.

Misalnya, Agustus 2006 lalu, Baharon ikut serta dalam musyawarah para kepala adat Tunjung Benuaq se-Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kutai Barat di kelurahan Jahab. Bahkan pertemuan yang dihadiri seluruh organisasi berbasis etnis Dayak itu menegaskan kembali, Botor Buyang yang disalahpahami sebagai judi adalah bagian integral dalam ritual tradisi Dayak Tunjung Benuaq… Penggerebekan ritual jelas menjadi dilema yang tidak mengenakkan.

Kepentingan ekonomi

Dalam sejarahnya, program revitalisasi budaya yang sudah digelar sejak tahun 70-an bukan sekadar bermotif politik akibat trauma peristiwa 1965. Ia juga, dan yang lebih penting dalam konteks sekarang ini, punya maksud ekonomi di belakangnya.

Mungkin benar, ritual Gugu Tahun dan Botor Buyang yang semula hanya sebuah ritual tradisi, kini mengalami ekonomisasi lewat aktifitas judi. Namun bukankah peredaran uang dalam arena ritual itu adalah buah dari dari ekonomisasi yang dipicu oleh proyek revitalisasi?

Program pariwisata menghendaki ritual-ritual tradisi dihidupkan kembali dan digelar secara meriah. Lalu muncullah pesta-pesta adat, desa-desa budaya, dan juga festival-festival budaya yang belakangan ini amat marak.

Entah berapa ratus juta uang yang dikeluarkan dan devisa yang dihasilkan dari proyek semacam ini. Yang jelas pesta-pesta adat semacam ini disadari butuh biaya besar. Sementara di sisi lain komunitas adat sendiri mesti memodali sendiri kegiatan-kegiatan mereka.

Antara keteguhan menjalankan tradisi, kemandirian dan keterbukaan menghadapi realitas, barangkali inilah pilihan yang harus diambil masyarakat Dayak Benuaq kini. Bayangkan saja jika setiap kali ritual Gugu Tahun atau Kwangkai mereka harus mengeluarkan dana puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Dari mana dana sebesar itu diperoleh? Dari pemerintah, jelas tak mungkin!

Jalan satu-satunya adalah dengan memungut cok (fee) dari mereka yang terlibat dalam Botor Buyang. Dan bisa dibayangkan, berapa ratus ribu rupiah yang dikumpulkan lembaga adat bila setiap toroqsaungk piak (sabung ayam) dikenai cok sebesar 80 ribu. Padahal dalam sehari kegiatan sabung ayam berlangsung dalam 15-20 partai dan berkisar antara 30 sampai 40 ekor ayam. Sementara biasanya upacara berlangsung tiga hari dalam seminggu (Rabu, Sabtu dan Minggu), dan dalam ritual Gugu Tahun acara berlangsung selama 8×8 atau 64 hari. (nilai taruhan) 700 ribu -1 juta rupiah dalam

Ada banyak makna dalam kehidupan sekitar Gugu Tahun dan Botor Buyang. Makna-makna kehidupan manusia yang tak semestinya ditepis, apalagi ditiadakan.Desantara / Mh. Nurul Huda dan Asman Azis

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>