Nyangku & Esensi Maulid Nabi

Ketika Muhammad lahir, para malaikat memaklumkannya dengan nada tinggi dan rendah. Jibril datang membawa kabar baik, dan tahta pun bergetar. Para bidadari keluar dari istana-istana mereka, dan bertebaranlah wewangian. Ridlwan (malaikat penjaga gerbang surga) mendapat perintah, ”Hiasilah surga tertinggi, singkapkanlah tirai dari tempatnya, kerahkanlah sekawanan burung Aden ke rumah Aminah supaya mereka menaburkan mutiara dari paruh-paruh mereka”. Dan ketika Muhammad lahir, Aminah melihat sebuah cahaya, yang menerangi istana-istana Bostra. Para malaikat mengerumuninya dan membentangkan sayap-sayap mereka. Barisan malaikat, yang memanjatkan puji-pujian, turun dan memenuhi bukit-bukit serta lembah-lembah.

Demikian tulis Ibnu Al-Jauzi dalam kitab mawlid-nya (yang merupakan yang pertama dari jenis ini), yang dikutip Annemarie Schimmel dalam Dan Muhammad Adalah Utusan Allah (hal 208), dari kutipan Abu Nu’aim Dala’il Nubuwwah (hal 88-100), dan Andrae, Die Person Muhammads (hal.64). Penggambaran indah ini, juga diungkap seorang darwisy Turki abad ke-17 yang berpantun: Malam kala Rasul lahir/Sungguh serupa dengan Laylat Al Qadr. Yaitu, serupa dengan malam ketika Al-Quran diwahyukan untuk pertama kalinya, yang dalam surah ke-97 disebut “lebih baik daripada seribu bulan”.

Hari kelahiran nabi yang disebut mawlid, sebuah kata yang juga sering diartikan peringatan-peringatan yang diadakan pada hari tersebut (muludan-Sunda), pertama kali diadakan secara besar-besaran di Mesir selama era Fathimiyyah (969-1171), dengan dihadiri para cendikiwan dan tokoh keagamaan. Mereka mendengarkan khutbah-khutbah, dan kue-kue, khususnya madu, kesukaan Nabi, dibagi-bagikan. Dan si miskin menerima sedekah.

Di Indonesia, peringatan Maulud Nabi ini juga diperingati secara sederhana namun meriah, tanpa kehilangan rasa khidmatnya. Dari perayaan Maulud ini diharapkan agar umat Islam makin dapat mengikuti jejak nabi (mengikuti sunnah-nya), dan melaksanakan ajaran Islam secara kaffah (menyeluruh).

Bagi masyarakat Panjalu, Kabupaten Ciamis, peringatan Maulud juga merupakan momentum penting. Selain mengadakan ceramah keagamaan, serta kegiatan keagamaan lainnya, pada minggu keempat (hari Senin/Kamis akhir bulan Maulud), digelar acara Nyangku. Yakni upacara membersihkan berbagi benda pusaka peninggalan Sanghyang Prabu Borosngora, yang merupakan Raja Sunda pertama yang memeluk Islam dan diyakini mendapat ajaran langsung dari menantu Nabi, Baginda Sayiddina Ali di Mekkah Al-Mukarromah. Prabu Borosngora tidak saja mampu mengislamkan warga kerajaan dan masyarakat Panjalu, tetapi juga ke berbagai tempat di tanah air.

Borosngora hendak mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW yang sangat berhati-hati dalam menyebarkan agama Islam. Nabi memang telah merubah sejumlah tradisi budaya Arab yang tidak manusiawi seperti mengubur anak perempuan dalam keadaan hidup. Nabi Muhammad lalu menjadikan anak perempuan sejajar dan sama pentingnya dengan anak laki-laki. Tetapi Rasulullah juga tidak serta merta merubah semua kebiasaan atau kebudayaan orang Arab. Kebiasaan masyarakat Arab mengelilingi Ka’bah, misalnya, ia masukkan sebagai salah satu bagian ritual ibadah haji. Tapi Nabi mengubah ucapan-ucapan pemberhalaan terhadap Ka’bah serta patung-patung di dalam dan sekitarnya, dengan pujian terhadap Allah.

Rasulullah dan para umatnya kemudian mupusti (memelihara) Ka’bah, tapi tidak migusti (menuhankan) Ka’bah. Bangunan peninggalan Nabi Ibrahim AS itu kemudian sering dibersihkan, dan sebagian diselimuti kain hitam. Hal tersebut juga dilaksanakan Rasulullah sebagai kelanjutan dan penyempurnaan agama dan budaya. Sebagaimana dikatakan Nabi; ‘tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia’ Desantara / Eriyandi Budiman/Komunitas Azan

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>