Dituduh Aliran Sesat, Warga Komunitas Adat Salena Tewas Ditembak Polisi

Oleh Desantara / Ewin Laudejeng
Madi (29), salah seorang warga Komunitas Adat Salena, Sulawesi Tengah tewas secara mengenaskan. Ia ditembak Polisi dari satuan Densus 88 AT Polda Sulteng pada Sabtu sore (5/4) di sebuah pondok kebun di Lampo. Madi tewas pada pukul 18.00 Wita, setelah 19 polisi Detasemen Khusus 88 Antiteror menembus tempat persembunyiannya di pondok berukuran 2 x 2 meter di kawasan Gunung Gawalise. Persisnya berada di kebun milik Aminuddin, warga dusun Salena, desa Buluri, Kecamatan Palu Barat, tujuh kilometer dari kota Palu.

Menurut polisi, Madi dilibas peluru ketika berkelebat terjun dari gubuk dengan parang terhunus. Sebelum kaki Madi menyentuh tanah, polisi memberondong senjata otomatis. Cara penembakan seperti ini didahului oleh cerita tentang Madi yang kebal peluru. Namun kekebalannya akan hilang jika kakinya tidak menyentuh bumi, sambil diberondong dengan peluru yang diolesi kotoran manusia.

Di masyarakat Salena, Madi dikenal sebagai dukun atau tabib dan guru silat. Namun ia diburu oleh Polisi sejak peristiwa 25 Oktober 2005 di bukit Vatumpanova dusun Salena atas. Madi dituduh menyusun rencana penyerangan ke beberapa kampung dekat Salena. Madi juga dianggap menyebarkan aliran sesat terhadap komunitas adat yang tinggal di daerah pegunungan Kamalisi Sulawesi Tengah.

Maka Polda Sulteng yang saat itu dipimpin Brigjen Oegroseno, menurunkan sekitar 30 orang anggota Polisi untuk menangkapnya. Ketika sedang ditangkap, Madi melakukan perlawanan. Dalam kejadian ini, tiga anggota Polisi dari Polresta Palu dan dua orang warga Salena meninggal.

Usai kejadian, aparat kepolisian terus melakukan pengejaran terhadap Madi, hingga akhirnya dia ditemukuan tewas di salah satu pondok kebun milik Amula di Lampo Dusun Salena atas.

Kompol Suryo, pemimpin operasi dari Densus 88 mengatakan pada media Desantara, bahwa polisi sudah mengintai Madi secara intensif sekitar sepekan terakhir di tempat persembunyiannya di sebuah kebun di Lampo. Puluhan aparat berjaga-jaga di lokasi, dan sekitar jalan yang menjadi akses keluar masuk ke lokasi. Sekitar pukul 18.00, proses penangkapan dilakukan.

Kapolda Sulteng Brigjen Badrodin Haiti kepada wartawan di Palu, menjelaskan, saat akan ditangkap Madi melakukan perlawanan. Oleh karena itu, petugas menembak kakinya. Dengan kaki sudah tertembak, Madi masih melawan hingga petugas kemudian menembak bahunya.

Sementara itu, Iksan dari Relawan Kemanusiaan untuk Salena saat konferensi pers di kantor Komnas HAM perwakilan Sulteng, membantah keras pernyataan dari Kapolda. “Madi ditembak lebih dari tiga kali,” katanya. “Kami menemukan 23 slongsong peluru di tempat kejadian. Selain itu kami menemukan 30-an lubang bekas peluru pada dinding dan lantai pondok, tempat dimana Madi berada. Selain itu, masih ada sisa makanan ubi yang tergelatak di lantai bambu. Mana mungkin Madi melawan dalam pondok kecil yang hanya berukuran 2×2 meter. Dari fakta-fakta lapangan yang kami temukan, tindakan Densus 88 bukan operasi untuk penegakan hukum tapi lebih pada upaya balas dendam. Untuk saat ini, masyarakat Adat Salena hidup dalam penuh ketakutan. Karenanya, kami meminta agar Komnas HAM bisa menseriusi kasus ini,” tambahnya.

Marni, isteri Madi yang ditemui di rumahnya di Dusun Salena menjelaskan bahwa suaminya tidak pernah melarang orang untuk ke Mesjid atau gereja sebagaimana yang dituduhkan aparat. Menurutnya, pekerjaan sehari-hari Madi, selain mengobati orang sakit dan melatih silat, dia sering mengaji dan selalu Sholat.[Desantara / Ewin]

KRONOLOGI KASUS KEKERASAN TERHADAP KOMUNITAS ADAT SALENA

NO

WAKTU

PERISTIWA

SUMBER

1

Maret 2003

Warga Salena menolak rencana pengambilalihan air oleh PDAM

2

Juli 2003

Warga Salena melakukan penolakan atas rencana masuknya investor untuk olah tambang marmer di wilayah adatnya.

3

Sabtu, 22 Oktober 2005

Polsek Palu Barat datang bersama dengan Pue Janggo untuk klarifikasi kepada Madi tentang aliran sesat dan isu melakukan penyerangan terhadap warga desa lain.

Relawan kemanusiaan

Untuk Salena

4

Minggu, 23 Oktober 2005

Sore sekitar pukul 17.00 Wita, polisi mengajak Masuna ketua RT II Salena untuk ikut pertemuan di Kantor Lurah Tipo, membicarakan tentang isu penyerangan yang akan dilakukan oleh Madi bersama warga Salena.

Relawan kemanusiaan

Untuk Salena

5

Senin, 24 Oktober 2005

Pukul 12.00 Pue Janggo datang kembali dengan 2 orang Polisi dj Salena guna membacakan hasil pertemuan di Kantor Lurah Tipo, bahwa warga Salena tidak benar melakukan penyerangan.

Relawan kemanusiaan

Untuk Salena

6

Selasa, 25 Oktober 2005

Sekitar pukul 07.00 Wita, Patroli Polisi dari Polsek Palu Barat datang dan berkumpul di Bantaya Salena (balai pertemuan warga).

Pukul 09.00 Wita, 2 truk pasukan dari Polresta Palu datang. Mereka langsung naik ke gunung tempat Madi berada, sementara yang lain berjaga-jaga dibawah. Sekitar pukul 14.00 Wita, masyarakat Salena mendengar bunyi letusan senjata. Mereka ketakutan dan lari menyebar menyelamatkan diri kedalam hutan. Dari kejadian ini 3 orang Polisi dan 2 orang warga meninggal dunia. Setelah kejadian ini, 4 truk polisi diturunkan.

Relawan kemanusiaan

Untuk Salena

7

Rabu, 26 Oktober 2005

Sekitar jam 06.00 aparat kepolisian ditarik, tapi sekitar 2 truk masyarakat dari kelurahan Buluri dan masyarakat dusun Lekatu Kelurahan Tipo datang menakut-nakuti masyarakat Salena yang tersisa dengan mengatakan agar segera mengungsi karena pasukan dari Yonif 711 akan datang menangkap. Belum sampai 100 meter mereka mengungsi, rumah mereka dijarah dan dirusak oleh kelompok masyarakat ini. Aparat hanya membiarkan aksi ini.

Sekitar pukul 11.00 Wita, 2 truk aparat TNI dari Yonif 711 datang.

Relawan kemanusiaan

Untuk Salena

8

Kamis, 27 Oktober 2005

MUI Pusat dan Menteri Agama, Maftuh Basuni memfatwa sesat aliran Madi. Fatwa itu disampaikan secara lisan. Pada saat yang sama, Din Samsudin juga membuat statement soal aliran sesat.

9

Nopember-Desember 2005

Puluhan warga Salena ditahan di Polda Sulteng selama berhari-hari tanpa didampingi oleh penasehat hukum. Mereka mengalami penyiksaan, sehingga memberikan keterangan yang tidak benar dan mengikuti kehendak pemeriksa.

Relawan kemanusiaan

Untuk Salena

10

2006-sekarang

Ada 11 orang warga Salena dipenjara di LP Petobo Palu dengan tuduhan ikut terlibat dalam pembunuhan 3 anggota Polisi.

Relawan kemanusiaan

Untuk Salena

11

Sabtu,5 April 2008

Satuan Polisi dari Densus 88 AT menyergap dan menembak mati Madi di salah satu Pondok kebun di Lampo Dusun Salena. Sementara itu, 3 orang warga lainnya ditahan di Polda Sulteng.

Relawan kemanusiaan

Untuk Salena

12

Minggu,6 April 2008

Sekitar pukul 13.00 Wita, Madi dikuburkan di Dusun Salena.

Relawan kemanusiaan

Untuk Salena

13

Senin,6 April 2008

Sekitar pukul 15.00 Wita, 3 warga Salena yang ditangkap dilepas.

Relawan kemanusiaan

Untuk Salena

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>