Pertunjukan Gandrung: Dari Tradisi ke Dominasi Pasar

Penari: Memburu Rezeki dalam Kontrol Agama
Menjatuhkan pilihan menjadi penari gandrung terkadang bukan sembarang pilihan yang asal jadi. Temu, Mudaiyah, dan Siti, mungkin tiga dari sekian penari gandrung yang memilih seni ini sebagai profesi karena limpahan tradisi keluarga. Sementara Dartik, Chusnul, atau Yuyun memilih gandrung lebih karena terbuai oleh imajinasi popularitas dan hidup lebih baik dari segi ekonomi.

Bacaan mantra yang dilengkapi sesaji khusus, dihadirkan melalui jampi-jampi atau perantaraan wong pinter, baik dukun maupun kiai mengantarkan seorang penari gandrung benar-benar siap terjun dan mandiri di atas panggung. Bahkan ada yang memakai sabuk yang diisi dengan razah (mantra tulisan) dan susuk kecantikan yang dimasukkan merata di sekitar wajah dan tempat-tempat erotis yang lain seperti dada, pinggul, dan pantat, dengan jumlah 5 sampai 25 susuk dalam tubuhnya.

Semua upaya ini dilakukan tidak hanya untuk tampil cantik dan memukau tetapi juga ngalap berkah dari yang Maha Agung agar diberi kekuatan lahir batin dan supaya penampilan mereka dilindungi dari gangguan luar. Bukan hanya agar menjadi tampak menarik, enak didengar, dan erotis, semua mantra dan susuk itu berguna agar seorang penari gandrung menjadi seperti ”berleher menjangan dan berkaki kijang”, suaranya merdu dan lincah gerak tarinya. Gerak lincah sangat diperlukan bagi seorang penari gandrung, karena ia selalu merawe dalam dunia penuh resiko, harus berhadapan dengan pemaju yang sangat variatif dan seringkali bersikap usil dan tidak senonoh atau seperti dikemukakan Temu, nyosrop kayak kerbau. Hampir setiap pemaju menari mengitari mengejar tubuh sang penari dengan muka tertuju pada bagian-bagian sensitif tertentu seperti wajah, dada, dan perut sehingga si penari harus selalu memperhatikan setiap gerak pemaju.

Membatasi kebebasan pemaju merupakan sesuatu yang tidak mudah. Baik di saat ngrepen maupun di pentas, kecenderungan usil para pemaju seperti memeluk, mencium punggung, menyenggol payudara (ngutit bumi), menepuk pantat, menyenggol kemaluan (ngutit lintang) selalu ada. Untuk mengatasinya, seorang penari biasanya menggunakan strategi memandang (melototi) matanya kemana dia akan bergerak, atau menggunakan strategi menangkalnya yang dalam bahasa setempat disebut tangar.

Dalam konteks kehidupan yang heterogen, kenyataan seperti itu seringkali tidak menguntungkan bagiSuasana Pentas Gandrung seorang penari. Terutama kaum santri melihat bahwa penari gandrung adalah perempuan yang berprofesi negatif dan memperoleh perlakuan yang kurang menguntungkan, tersudut, terpinggirkan, bahkan terdiskriminasi dalam pergaulan sosial sehari-hari. Beberapa penari yang saya temui seperti Temu, Mudaiyah, Siti, Chusnul, Dartik, dan Yuyun merasakan betapa mereka diasingkan dan dijauhi oleh kebanyakan kaum santri, meskipun mereka harus menyikapinya dengan, meminjam istilah Temu, sabar tetapi tidak harus berhenti menari gandrung. Ungkapan Temu ”ingsun iki kerja, apa bedane karo nyambut gawe liyane kaya dodolan ring pasar”, merupakan kegigihan sikap seorang penari untuk mempertahankan profesinya di tengah hujatan kaum santri.

Merawat Sisa Masa Lalu dan Dominasi Pasar

Masa penari perempuan pertama, Semi, merupakan babak baru dalam sejarah gandrung, bukan saja karena pergantian dari gandrung lanang ke gandrung wadon, tetapi juga karena sejak masa itu pertunjukan gandrung mulai diapresiasi oleh penonton non-Using. Sejumlah sumber menyatakan bahwa para migran awal yang berdatangan dari bagian barat Jawa Timur, Jawa Tengah, Madura, Bugis-Mandar, Bali, dan Arab keturunan, berkaitan dengan pembukaan perkebunan oleh Belanda pada akhir abad ke 19, mulai menonton dan mengundang/menanggap pertunjukan gandrung. Sebagai penanggap dan pemaju, orang-orang non-Using tersebut selalu menghendaki agar lagu-lagu yang didendangkan dalam pertunjukan gandrung sesuai dengan latar belakang etnis mereka. Dalam konteks tersebut, Semi dituntut untuk memenuhi keinginan dan permintaan mereka yang tidak hanya terbatas dari orang Using tetapi juga dari orang-orang Jawa, Madura, Bali, dan Bugis-Mandar. Dari proses semacam itu dapat dipahami kalau lagu-lagu seperti Surung Dayung (Bali), Pangkur, Kinanti, dan Gambir Sawit (Jawa) menjadi populer dan sering dinyanyikan dalam pertunjukan gandrung. Sama terkenalnya dengan lagu-lagu yang diadopsi Semi dari ritual Using sendiri seperti Seblang-seblang dan Ukir Kawinl(Seblang), Sekar Jenang dan Sandel Sate (Sanyang). Lagu-lagu dari ritual Using itulah yang kemudian diklaim sebagai lagu asli dan baku pertunjukan gandrung.

Para penari gandrung sesudah Semi menghadapi pentas yang benar-benar terbuka dan tidak ekslusif hanya diapresiasi orang-orang Using. Kesenian gandrung sejak saat itu menjadi terbuka dan pementasannya melintasi batas entitas budaya di mana ia dilahirkan. Dalam konteks tersebut, permintaan lagu-lagu non-Using menjadi terbuka bahkan lebih banyak tatkala gandrung dipentaskan di tengah-tengah masyarakat Jawa, Madura, atau Bali.

Produksi kaset lagu-lagu yang tidak mempunyai akar pada etnis atau kebudayaan daerah tertentu di Indonesia awal tahun ’80-an berpengaruh terhadap pertunjukan gandrung. Lagu-lagu dangdut dan pop daerah berikut gerak tari pengiringnya yang beredar sangat luas melintasi batas-batas wilayah kebudayaan termasuk di kalangan Using di Banyuwangi sering terdengar dilantunkan dalam pertunjukan gandrung. Tidak sedikit orang Banyuwangi khususnya para pemaju gandrung yang mengenal baik dan menyukai lagu-lagu dari daerah lain. Sementara pada saat yang sama, peminat menjadi pemaju semakin meluas dan tidak terbatas pada orang-orang Banyuwangi sendiri.

Kecenderungan yang semakin terbuka pada publik umum terlihat sejak belasan tahun terakhir ketika beberapa grup gandrung sering diundang pentas di luar wilayah Banyuwang, seperti Bali, Kalimantan, Jakarta, dan Lampung atau di beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pentas-pentas di luar Banyuwangi itu, terutama yang diprakarsai pariwisata atau lembaga-lembaga kesenian Imageseperti Sekolah Tinggi (dan Institut) Seni dan Balai Budaya, menghadapkan pertunjukan gandrung dengan audiens (publik) yang selain bukan Using juga heterogen dari berbagai sudut (sosial, ekonomi, dan budaya). Hal itu berimplikasi pada teks pertunjukan yang menjadi sangat variatif sehingga pertunjukan gandrung menjadi plural.

Di samping itu, interaksi dengan audiens luar sejak di masa Semi tersebut menyebabkan pertunjukan gandrung masuk ke ”ruang” transaksi ekonomis baik dalam bentuk sawer maupun tanggapan. Perubahan sosial terutama ketika modernitas menembus pedesaan di Banyuwangi sejak tahun ’70-an memapankan komunitas gandrung berada dalam ”ruang” tersebut. Melalui transaksi tersebut, para seniman gandrung mendapatkan keuntungan finansial, sementara para pemaju, kalangan, penanggap yang membayar mendapatkan pengakuan (prestise) dan kepuasan psikologis.

Kenyataan pertunjukan gandrung menunjukkan betapa kuatnya warna pasar atau dalam bahasa seniman gandrung sendiri sebagai hiburan publik yang tidak memuat sedikit pun nilai atau pesan historis sebagaimana yang diasumsikan, diklaim, dan diharapkan kaum terpelajar Using. Pernyataan beberapa penari gandrung bahwa memenuhi keinginan dan permintaan penanggap atau pemaju/kalangan merupakan hal yang sangat penting dalam pertunjukan gandrung mengindikasikan muatan pasar lebih kuat.

Komersialisasi kesenian tradisi itu memang banyak dikritik sebagai persoalan memudarnya kandungan terpenting seni tradisi, tetapi sebagai proses sosial tidak satu pun pihak yang mampu menghentikannya. Komersialisasi berlangsung semakin cepat terutama sejak pertengahan abad ke-20 ketika kesenian tidak lagi independen sebagai kesenian tetapi menjadi dependen dengan Juru Keluncingpersoalan-persoalan sosial lain seperti politik praktis. Gandrung sendiri, seperti dipaparkan di atas, telah memasuki dunia komersial sejak awal abad ke-20 ketika Semi sangat populer di tengah-tengah masyarakat migran di Banyuwangi yang heterogen secara etnis, agama, dan ekonomi.

Sebagai gejala pasar yang dinamis, pertunjukan gandrung bukan saja terbuka tetapi juga menjadi amat sulit dihentikan dengan sebuah aturan baku yang tunggal dan stagnan, karena otoritas untuk menentukan sajian pertunjukan itu bukan lagi hanya pada senimannya melainkan telah berbagi dengan audien atau pemaju-penanggapnya. Pertunjukan gandrung, selain terbuka dan plural, menjadi sangat dinamis dan berkembang ke arah yang sulit ditentukan. Desantara / Novi Anoegrajekti

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>