Bila Bunyi Mulai Unjuk Gigi: Sebuah Cerita, dari Inul sampai Nirvana

“Awalnya adalah bunyi, jadilah musik. Awalnya adalah peristiwa, jadilah sejarah.”

Harapan Yang Selalu Nyasar…

Pada awalnya adalah sama, musik sebagai rangkaian bunyi-bunyian yang di satupadukan dengan yang lain untuk menghasilkan kenyamanan sebagai tempat pelipur lara, tempat merayakan suka, bahkan musik menjadi kawan dalam menikmati keheningan, setelah itu muncul klasifikasi untuk membedakan musik satu daerah dengan daerah yang lain. Belakangan timbulah aliran-aliran, mulai dari pop, rock, country, kasidah, dangdut (selanjutnya, tentunya anda lebih tahu).

BILA BUNYI MULAI UNJUK GIGI

SEBUAH CERITA….DARI INUL SAMPAI NIRVANA

Awalnya, sekadar ajang ekspresi diri untuk menikmati kenyamanan hidup, kemudian berubah menjadi ajang identifikasi kelompok, selanjutnya jadilah ideologi. Kini, musik bukanlah sekadar musik lagi, musik adalah cara kita bicara, cara kita bernegosiasi, cara kita kita berjuang dan tak ketinggalan musik adalah cara kita melakukan perlawanan tak ketinggalan. Mungkin, musik adalah cara mengada kita sebagai Das Sein.

Pertanyaannya adalah seberapa dahsyat musik mempunyai kekuatan? Percaya tidak percaya, gara-gara goyangan seorang penyanyi asal Pasuruan, kontan Indonesia geger dibuatnya. Ceritanya dimulai dari cemoohan MUI pada Inul, penyanyi dangdut tersebut, selanjutnya muncul perselisihan Inul Vs Rhoma. Konon “goyang Inul” yang menurut FBI (Fans Berat Inul) sebagai ajang kreasi seni, justru dianggap oleh Rhoma telah menodai citra agama. Pada akhirnya kasus itu semakin meluas, melibatkan para jawara negeri, seperti : ulama, seniman, politikus, budayawan, filosof bahkan seorang guru bangsa sekaliber Gus Dur pun harus ikut turun tangan. (paling tidak deretan nama seperti Emha, Gus Mustofa, Sindhunata, Arswendo, dan Guruh telah ikut ambil bagian di dalamnya)

Sebuah goyangan membuat pakar agama berfikir tentang arti sebuah kemaksiatan. Sebuah goyangan mengajak para seniman bercerita tentang arti keindahan, menjadi inspirasi para budayawan untuk melakukan kritik atas carut marutnya satu tatanan negeri, menarik inspirasi para filosof bercerita tetang sejarah seksual, bahkan mempertanyakan dan mengobrak-abrik keteraturaturan struktur yang sudah mapan.

Tak hanya itu, keliaran musik yang susah diterka, membuatnya seakan senantiasa menjadi bagian dari sesuatu yang senantiasa asing. Adalah “emosi” yang dipermainkan ketika lantunan musik mulai didengungkan, adalah “gengsi” bahkan “rasa penasaran” yang dipancing saat musik mulai dipamerkan, dan adalah citra yag mulai diumbar hingga pada akhirnya sang penyanyi sendiri mulai kebingungan tentang apa yang dicarinya dalam lantunan nada.

Nirvana yang konon dipuja-puja oleh para pengagumnya, menyatakan sangat menyesal karena seiring dengan merebaknya album Nevermind, mengalami perubahan penggemar yang justru tidak dikehendakinya. Dulu fans mereka adalah kalangan pecinta musik yang intelek, Progressif, tidak macho dan tidak seksi. Sekarang pertunjukan mereka dihadiri oleh anak-anak tipe jock dan pecinta metal yang berpikiran sempit.

Coba anda simak pernyataan Kurt Cobain berikut ini “saya jadi makin gila selama tur “nevermind” karena melihat bahwa makin banyak penonton yang tidak saya inginkan kehadirannya. Mereka mulai bikin saya jengkel. Jika sudah demikian mau apa lagi toh nevermind setelah didengungkan bukan milik nirvana lagi, tapi milik pembacanya.

Beberapa waktu lalu, anda lihat sendiri bang Rhoma marah-marah, pasalnya lagu yang diciptanya dengan nafas Islam dan diperuntukkan untuk dakwah, eeh tiba-tiba dilantunkan oleh Anisa Bahar dengan goyang patah-patah dan Inul dengan goyang ngebornya, yang oleh Rhoma sendiri dianggap sangat tidak Islami.

Lain halnya Inul dengan cara berpikirnya yang serba dusun alias “sederhana”, ia berusaha mendekati tokoh-tokoh idola macam Rhoma, Elvi Sukaesih, Camelia Malik dst. Ia gunakan goyangnya untuk tarik simpati, berharap dapat pujian nggak taunya dapat dampratan. Kalau udah begini siapa yang harus disalahkan?

Kasus Kurt Cobain, Rhoma, dan Inul di atas adalah contoh nyata betapa musik, lagu, punya aturan dan kekuatan sendiri yang tidak mudah dikendalikan bahkan oleh sang pencipta. Musik telah lepas dari author dan memiliki tujuan sendiri. Pada akhirnya musik-musik tersebut jika dipaksakan menjadi seperti yang dikehendaki author hanya akan menjadi sebuah harapan yang selalu nyasar.

Grunge, Sebuah Jalan Yang Beda

Fenomena menarik dalam musik, yang barangkali layak dibicarakan adalah adanya beberapa aliran yang memposisikan musik tidak hanya ajang have fun saja. Lebih dari itu, musik bagi beberapa kelompok justru dianggap sebagai media perlawanan. Beberapa kelompok ini antara lain: kelompok musik Grunge, Punk dan kaum Metal.

Berbeda dengan jenis aliran musik seperti pop atau pun dangdut yang tidak membutuhkan identitas khusus para penikmatnya, dalam aliran ini para penikmat senantiasa menggunakan identitas-identitas tertentu untuk membedakan dengan yang lainnya. Grungie senantiasa mengenakan celana jeans yang sobek-sobek, mengenakan kaos bergambar band favorit dan swetter flannel, memilki tatto yang tidak profesional namun Punk sama halnya dengan grungie yang memakai celana yang sobek, bedanya Punk senatiasa menindik hidung dan mengecat rambut mereka dengan bentuk mohawk, sedangkan kaum Metal dalam setiap acara senantiasa mengenakan celana dan baju yang serba hitam serta mengecat mukanya.

Dalam sejarahnya, Grunge pertama kali dikenal di daerah Seattle, Amerika Serikat pada era 70-an dan mulai booming di dunia pada tahun 1991, tepatnya dengan kesuksesan salah satu band Grunge yaitu Nirvana dan mulai saat itu juga aliran musik Grunge turut diminati di Indonesia.

Beberapa band yang bisa disebut antara lain : Tad, Sound Garden, Pearl Jam (generasi lama), Silverchair, Creed, The Vines, Foo Fighters, Sonic Youth gl, Mudhoney gl , Melvins gl, Hole, dll. Sedang di Indonesia, anda akan menemukan Kram Padang, Stupid Zero Medan, Noise Palembang, Jerami Semarang, Struk Cirebon, Lombok Ijo Yogyakarta, Klepto Opera Surabaya, Scope Be Doe Pasuruan, Navicula Bali, Bolong Tangerang, Silver Queen Lampung, Snorg Bandung, Virgin Bekasi, Trotoar Sukabumi, Grumble Grunt Malang, Demolish Terapist Solo. Di daerah Jakarta bisa anda temukan sederatan band, seperti: Toilet Sounds, Dailly Feedback, Sajama Cut, Bavet, Nir X , Seventh Heaven, dari semua nama-nama band Grunge di Indonesia masuk kategori Indie label, kecuali Toilet Sounds.

Tentang perlawanan yang digembar-gemborkan Grungie, penulis menangkap perbedaan “arti” kata tersebut dari definisi konvensional yang ada. Jika dalam makna konvensional perlawanan senantiasa berkonotasi dengan perseteruan atau peniadaan dengan sesuatu yang dilawan, perlawanan di sini justru bukanlah peniadaan pada apa yang dilawan, namun perlawanan adalah proses pencarian makna yang berbeda atas segala sesuatu dari definisi konvensional.

Beberapa hal yang penulis temukan dari perlawanan tersebut antara lain, cara yang berbeda dalam mendefinisikan tentang arti indahnya musik, arti keteraturan hidup, dan tentunya perlawanan terhadap arti sebuah kemapanan.

Tentang arti indahnya musik, kelompok ini mempunyai pengertian yang berbeda dengan definisi konvensional. Bila dalam definisi konvensional makna indah dalam musik selalu identik dengan merdunya bunyi serta munculnya suasana rileks, Grungie justru beranggapan lain, bukan indah dalam arti merdu yang mereka cari, tapi indah berarti keras. Pada setiap penampilannya band-band Grunge biasanya meninggikan storing/feedback. Alasannya, karena pada saat musik dikeraskan di situlah musik mampu memompa adrenalin dalam tubuh kita yang implikasinya memunculkan rasa semangat pada setiap pendengar.

Lirik sebagai bagian dari musik yang paling penting, oleh beberapa kelompok tertentu dalam grungies justru kurang diperhatikan. Cobain, seorang tokoh dalam aliran ini menyatakan, “Saya tidak begitu peduli soal lirik, saya tokh tidak pernah memperhatikan sebuah lagu karena liriknya.” Inilah musik, inilah pemberontakan, dan inilah kami para grungie.

Matinya petanda, itulah kira-kira yang bisa kita baca dalam menangkap prilaku Grungies ini. Lazimnya sebuah musik, di dalamnya senatiasa berpadu antara musik dan lirik. Lirik yang terdiri dari kata-kata selalu mengandung maksud atau pesan yang ingin diutarakan oleh penyanyi. Ketika seseorang mendengar lantunan lagu dari penyanyi, pada saat itulah seseorang mulai menangkap kata hati sang penyanyi, apakah penyanyi lagi gembira atau terluka atau justru berusaha memberikan semangat kepada kita terlihat dengan jelas pada lirik lagu yang dibawakannya.

Mengacu pada pernyataan Cobain di atas, tampaknya suara lagu sebagai penanda yang seyogyanya mengandung maksud berupa “aspek mental” untuk dikomunikasikan kepada audiens ditiadakan. Adalah kata yang terlontar dari mulut penyanyi mulai dikeraskan dan disamarkan. Di sinilah seorang pendengar tidak lagi mencari “maksud” syair sebagai petanda karena suara sebagai sebuah penanda tidak lagi mengandung “maksud” sebagai petanda, namun “suara” sebagai penanda telah menandai dirinya sendiri. Dan pada akhirnya bukan pesan yang dicari dalam Grunge, tapi Kesan yang berpacu dengan denyut jantung dan rasa yang tak terdefinisikan lagi.

Menelisik lebih dalam tentang Grunge, hal unik lain dari kaum tersebut adalah konsepnya tentang arti kekerasan. Sebagai kelompok marginal kaum Grunge, Metal, dan Punk senantiasa dijauhi oleh masyarakat, karena dianggap sebagai sekawanan kelompok pemuda aneh, urakan dan mengusung kekerasan.

Secara fisik Grunge sendiri terkesan kuat mengagungkan kekerasan. Lihat misalnya dari setiap acara penampilan pentas mereka yang mengumbar kebisingan suara dan kebrutalan, lihat juga cara berpakaiaan mereka yang asal-asalan, begitu juga acara “ritual dance” yang mereka miliki, kayak Moshing, Stage Diving, Crowd Surving. Moshing berlarian di dalam lingkaran sembari membentur-benturkan bagian atas badan kita dengan badan orang lain. Stage Diving aksi terjun bebas dari atas panggung ke tengah-tengah kerumunan masa. Crowd Surfing, aksi berselancar di antara topangan ratusan tangan penonton. Slame dance sama dengan mousing dan headbanging, aksi menggoyang-goyang kepala ke atas dan ke bawah adalah tindakan

Acara ritual macam ini semakin memperkukuh citra Grungie sebagai pengusung budaya kekerasan. Namun benarkah kenyataan mereka demikian?. Di sinilah lagi-lagi para Grunge mulai bermain-main dengan tanda-tanda konvensional.

Beberapa waktu lalu sebuah artikel yang berjudul “How Mosh Pit Change My View of Generation X” yang ditulis oleh Andrew Reding justru membuktikan bahwa tindakan moshing justru jauh dari unsur-unsur kekerasan yang sebenarnya. Dalam artikel tersebut dengan gamblang Andrew memaparkan pengalamannya melakukan tindakan moshing. Hal yang sangat mengesankan baginya adalah ketika moshing dilakukan, maka pada saat itu terlihat begitu jelas betapa orang-orang di sekitar sangat memperhatikan keselamatan rekannya saat berada di mosh pit. Menurut pengakuannya juga, pada saat tindakan moshing dilakukan maka hilang batas usia, status sosial, dan kekayaan. Yang ada adalah rasa solideritas dan kepedulian yang tinggi orang di sekiling pada keselamatan temannya. Tentang kegarangan dan keseraman ia tuturkan sebagai berikut, “Sudah berkali-kali saya melihat pria yang bertampang kasar ternyata sangat bertanggung jawab”

Tampaknya, musik bagi Grungies ini bukan lagi sekadar musik lagi. Lebih dari itu, bagi mereka musik di samping media ekspresi, juga adalah ideologi yang senantiasa berhubungan dengan prilaku hidup dan cara mereka menanggapai realitas yang ada. Musik adalah ruh dari ekspresi anti kemapanan yang mereka nyatakan. Grunge dengan segala seluk beluknya memang senantiasa kontroversial, beberapa kalangan menganggap mereka sebagai generasi X yang berarti generasi yang cuek dan tidak bertanggung jawab, generasi yang tidak punya masa depan dan generasi yang asal-asalan tanpa keteraturan hidup dan rencana.

Demikianlah begitu mahalnya harga sebuah kebebasan berekspresi hingga mereka yang berbeda harus dipandang buruk, harus dimusuhi dan harus ditertibkan. Pada akhirnya, pertanyaan untuk anda semua adalah masihkan tersisa satu ruang untuk menjadi berbeda? Dan mulai kapan kita mampu merayakan perbedaan dengan tawa bersama bukannya dengan saling mencibir dan memaki? Desantara-Ahmad Mujib

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>