Sinkretisme, Sebuah Solusi

Andrew Beatty, antropolog yang cukup lama melakukan penelitian di Banyuwangi, menyatakan: Kanjeng Nabi Muhammad, leluhur desa, dan lelembut yang mbahurekso desa dikirimi al-Fatihah secara bersama dalam slametan Orang Using Banyuwangi. Lukisan yang lain, seperti dibuat Novi Anoegrajekti, tasbih dan dupa yang mengepulkan asap kemenyan bertaburan bersama dalam kehidupan keagamaan di daerah ujung timur Pulau Jawa itu. Dua lukisan yang menjelaskan tentang sesuatu sekaligus kemampuan Orang Using dan sebagian besar penduduk Banyuwangi mengawinkan Islam dan tradisi lokal.

Sinkretisme—begitu banyak orang menjuluki realitas seperti itu. Sesuatu yang amat lazim dalam keberagamaan Islam Indonesia, dan Islam di mana pun. Geertz yang menelusur Islam dari Indonesia ke Maroko melihat kemiripan-kemiripan dimana sinkretisme menonjol. Sinkretisme rupanya adalah keniscayaan yang dialami bukan saja oleh ajaran-ajaran agama yang diturunkan dari langit tetapi juga kekuatan-kekuatan besar seperti modernitas, kapitalisme, sosialisme, dan marxisme. Ketika agama atau kekuatan-kekuatan itu hadir di suatu wilayah, ia selalu berhadapan dengan kekuatan kebudayaan setempat yang berdiri tegak sejak lama. Islam hadir di Pulau Jawa, misalnya, selalu digambarkan berhadapan dengan Hindu-Buddha dan tradisi Jawa itu sendiri.

Justru sinkretisme itulah kenyataan kebudayaan yang paling umum di dunia. Para pengkaji kebudayaan kontemporer sepakat bahwa tidak ada di dunia ini yang tidak sinkretik. Dalam wujudnya yang paling konkret, agama, pengetahuan, modernitas, kesenian, dan etnis adalah hasil perkawinan berbagai unsur. Sehingga, persoalan keaslian dan otentisitas menjadi sesuatu yang diragukan: adakah ia?

Lalu bagaimana dengan puritanisasi yang selalu mengimajinasi, bahkan ingin menegakkan, keaslian? Di sinilah soalnya. Para pengkaji kebudayaan percaya bahwa apa yang dirumuskan sebagai asli, karena perbedaan waktu dan ruang, ternyata adalah fantasi keaslian, bukan keaslian itu sendiri. Di samping karena yang terakhir ini lebih merupakan sesuatu yang tidak mungkin berulang persis seperti adanya, ia adalah hasil percampuran berbagai unsur yang terjadi pada masanya.

Masihkah kita risau apabila panutan kita, Kanjeng Nabi Muhammad, dikirimi al-Fatihah bersama leluhur desa? Apakah kemarahan kita akan tersulut ketika melihat bahwa tasbih dan dupa menjadi kenyataan Islam di suatu tempat? Lebih lanjut, masihkah kita hendak mengembalikan sesuatu pada aslinya? Masihkah pula kita ingin membersihkan sebuah kebudayaan atau kesenian tertentu dari campuran berbagai unsur yang dianggap mengotori sehingga menjadi “bersih” seperti aslinya?

Apakah kita mau mengulang peristiwa Rogojampi awal 2006 lalu yang menimpa endhok-endhokan hanya karena kita ingin membersihkan dan mengembalikan pada keaslian yang sesungguhnya imajinatif? Ketika apa yang kita anggap sebagai asli ternyata adalah imajinasi tentang asli, maka sebenarnya tidak ada cara lain kecuali kita menghormati kreatifitas dan ijtihad baru dalam kebudayaan termasuk dalam kehidupan keberagamaan.

Print Friendly