Petisi Bersama Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan

Kami percaya tanah air Indonesia merupakan kurnia Tuhan bagi semua orang yang menghuninya. Dan kami percaya, kemajemukan bangsa dan masyarakat Indonesia juga merupakan rahmat Tuhan yang layak disyukuri, dipelihara dan dijunjung tinggi dengan semangat kebersamaan dan kesetaraan. Di atas tanah air tercinta inilah, atas dasar ideologi Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) didirikan untuk melindungi dan menaungi seluruh warganegara, tanpa memandang ras, jenis kelamin, warna kulit, adat istiadat, maupun agama dan kepercayaan.

Akan tetapi, setelah enam dasawarsa perjalanan NKRI, kami prihatin menyaksikan masih suburnya praktik-praktik diskriminasi dan penafian atas hak-hak kebebasan berkeyakinan. Padahal hak-hak itu merupakan gugusan hak paling asasi yang dianugerahkan Tuhan pada segenap manusia, dan itu tak dapat dikurangi dalam bentuk apapun, oleh siapa pun, dan dalam keadaan apapun.

Undang-Undang Dasar 1945 yang telah diamandemen yang menjadi pegangan hidup bersama seluruh warga NKRI, sudah menegaskan jaminan konstitusional tersebut dengan tegas: ” Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun.” (pasal 28I, ayat 1, UUD 1945 Amandemen).

Selain UUD 1945 yang telah diamandemen yang merupakan karya jenius para pemimpin bangsa yang arif itu, bangsa Indonesia yang menjadi bagian dari masyarakat internasional juga telah meratifikasi beberapa kovenan internasional, terutama menyangkut hak-hak asasi manusia, seperti Deklarasi HAM Universal 1948, Kovenan Internasional Mengenai Hak-hak Sipil dan Politik (ICCPR) serta Kovenan Internasional Mengenai Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya. Untuk itu, tak ada alasan bagi pemerintah untuk tidak konsekuen mengikuti kesepakatan- kesepakatan internasional tersebut di samping menunaikan amanat konstitusi kita sendiri.

Kini, kami Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan sangat prihatin terhadap pemerintah dan khususnya aparat keamanan yang tidak memberi tanggapan memadai dan tidak menunjukkan sikap yang tegas ketika sekelompok orang menggunakan cara-cara kekerasan dalam memaksakan kehendak dan keyakinan mereka. Cara-cara kekerasan yang digunakan itu, baik secara fisik maupun berbentuk intimidasi dan teror, merupakan praktik-praktik yang tak dapat dibenarkan oleh pola kehidupan negara yang demokratis dan beradab.

Tidak adanya sikap tegas pemerintah, khususnya aparat keamanan, kami nilai telah melenyapkan rasa aman warganegara, menyuburkan syak wasangka antar-kelompok, dan menghancurkan sendi-sendi keadaban publik kita. Kesatuan dan persatuan bangsa kini berada di ujung tanduk.

Karena itu, kami mendukung upaya pemerintah dalam menjalankan amanat konstitusi, terutama untuk:

  1. Menjamin hak-hak kebebasan dasar (normative) setiap warganegara Indonesia tanpa kecuali;
  2. Menunjukkan komitmen tinggi untuk mewujudkan kesetaraan tiap-tiap warganegara di muka hukum, dan terutama dalam menegakkan rule of law;
  3. Menolak tegas sikap-sikap dan perilaku intoleransi dan segala bentuk kekerasan;
  4. Menuntut pemerintah untuk menjamin penegakan hukum atas siapapun yang bersalah tanpa pandang bulu.

Berdasarkan sikap dan keprihatinan tersebut, kami juga menuntut pihak-pihak yang termaktub di bawah ini untuk:

  1. Kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden M. Jusuf Kalla , kami mendesak agar segera mengambil sikap dan tindakan tegas dalam melaksanakan jaminan konstitusional atas hak-hak kebebasan berkeyakinan tiap-tiap warganegara di negeri ini, tanpa kecuali. Konstitusi telah mengamanatkan, “Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah.” (pasal 28i, ayat 4, UUD 1945). Sebagai kepala pemerintahan yang dipilih langsung oleh rakyat, Presiden dan Wakil Presiden merupakan pengemban amanat hati nurani rakyat secara keseluruhan dan sekali-kali bukanlah milik suatu golongan. Di pundak Presiden dan Wakil Presiden-lah terletak tanggung jawab untuk melaksanakan amanat konstitusi tersebut secara konsekuen demi menjaga keadaban publik.
  2. Kepada Jajaran Kepolisian , kami menuntut untuk tetap setia menjaga keamanan tiap-tiap anak bangsa dari ancaman tindak-tindak brutal kelompok-kelompok yang menebar rasa takut dan iklim permusuhan dengan dalih apapun. Kami juga menuntut aparat keamanan untuk tetap teguh berpegang pada Konstitusi, Pancasila, dan UUD 1945 yang menjadi titik temu bersama segenap anak bangsa dalam kerangka NKRI yang bhinneka.
  3. Kepada Pemerintah , baik yang di pusat maupun di daerah, kami menuntut agar tetap menjadi pengayom seluruh anak bangsa tanpa diskriminasi, baik dari sudut agama, suku, bahasa, maupun aliran. Kami juga menuntut pemerintah di pusat maupun di daerah untuk tidak sekali-kali bertekuk-lutut pada desakan kelompok-kelompok yang tak mengindahkan sendi-sendi bersama kehidupan berbangsa, terutama dengan mengeluarkan keputusan-keputusan yang menyalahi koridor hukum yang tambah memberatkan beban mental kelompok-kelompok yang dikorbankan.
  4. Kepada Mahkamah Konstitusi (MK), kami menuntut untuk segera meninjau kembali seluruh produk perundang-undangan yang bersifat diskriminatif dan bertentangan dengan amanat konstitusi, khususnya dalam aspek kebebasan beragama dan berkeyakinan.
  5. Kepada Lembaga Peradilan/Penegak Hukum, kami menuntut untuk senantiasa menjamin kesetaraan tiap-tiap anak bangsa di hadapan hukum, tanpa membedakan latar belakang agama, etnis, status sosial ekonomi, dan lain-lain.
  6. Kepada Segenap Partai Politik , kami menuntut agar lebih lantang menyuarakan pembelaan terhadap korban-korban kekerasan yang menimpa pihak manapun. Kami juga menuntut agar partai-partai politik memainkan peran terdepan dalam menentang segala gejala yang mengarah pada melemahnya sikap berbangsa dan bernegara dan berpotensi mencabik-cabik asas-asas mendasar kita dalam berbangsa dan bernegara.
  7. Kepada Segenap Anggota Dewan Perwakilan Rakyat , kami menuntut untuk tidak mengabaikan pembelaan atas korban-korban tindak kekerasan dan penindasan atas dasar apapun. Kami juga menuntut segenap anggota dewan untuk tidak memandang soal kekerasan berbentuk apapun dengan logika kuantitatif konstituen, melainkan meletakkannya sebagai soal mendasar segenap anak bangsa yang juga sedang mengancam sendi-sendi kehidupan berbangsa yang hendak menuju demokrasi dan hidup yang bermartabat.
  8. Kepada Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) , kami menuntut agar lebih peka terhadap aspirasi masyarakat, terutama dalam aspek kebebasan beragama dan berkeyakinan, serta terlibat aktif dalam mengantisipasi wujudnya tindak-tindak kekerasan atas dasar keyakinan.
  9. Kepada Tokoh-Tokoh Agama , kami menuntut untuk tidak mengabaikan semangat kebangsaan dalam menentang setiap aksi kekerasan atas nama agama. Kami juga mengajak untuk tidak memberi pembenaran apapun, terutama dari sisi doktrin dan teologi agama, terhadap setiap tindak kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama. Kami juga menuntut para tokoh agama untuk berada pada jalur moderasi dan mengambil peran terdepan dalam menumbuhkan semangat toleransi dan perdamaian dalam menghadapi perbedaan apapun dalam aspek keagamaan.
  10. Kepada Ormas-Ormas Keagamaan , kami menuntut agar lebih giat lagi dalam mewujudkan agama sebagai faktor harmoni, bukan disharmoni, pendorong kedamaian, bukan pemantik permusuhan. Bagi ormas-ormas yang sudah terbiasa menjalankan proyek-proyek kebencian dan kekerasan, kami menuntut untuk segera berhenti karena hanya akan mencoreng dan memperburuk citra agama yang mereka klaim untuk diperjuangkan.
  11. Kepada Segenap Masyarakat , kami menuntut agar tetap mengedepankan semangat toleransi dan kearifan dalam menghadapi perbedaan-perbedaan dengan orang atau kelompok tertentu, sampaipun dalam soal keyakinan agama. Kami juga menuntut masyarakat untuk tidak gampang terhasut oleh pihak-pihak atau kelompok-kelompok tertentu untuk membenarkan ataupun turut serta dalam tindak-tindak kekerasan yang menebar rasa tidak aman dan permusuhan antar sesama anak bangsa.
  12. Kepada Media Massa , kami menuntut untuk lebih gigih mengedepankan dan memperjuangkan paradigma jurnalisme perdamaian dalam pelbagai liputan. Untuk media-media yang sudah terbiasa menganut paradigma kebencian dan permusuhan, kami menuntut untuk mengubah paradigmanya serta berhenti menyalakan bara permusuhan antar kelompok dan aliran.
  13. Kepada Kalangan Mahasiswa dan Kampus , kami menuntut agar tidak sekali-kali tergiur untuk ambil bagian dalam kelompok yang aktif dalam menebar rasa kebencian antar kelompok ataupun aliran. Kami juga menuntut segenap civitas akademika agar menjadi bagian penting dalam mengedepankan penggunaan akal sehat dalam menentang pelbagai provokasi dan ajakan kekerasan atas dasar apapun.
  14. Kepada Organisasi-Organisa si Civil Society , kami menuntut untuk tetap setia memperjuangkan semangat perdamaian dan segera merapatkan barisan dengan kelompok-kelompok yang memperjuangkan budaya perdamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kami juga menuntut untuk terlibat lebih aktif dalam menyuarakan penentangan atas segala bentuk kekerasan dan gejala-gejala yang mengebiri hak-hak kebebasan dasar tiap warganegera dalam mengekspresikan agama dan keyakinan masing-masing.
  15. Kepada Kalangan Profesional , kami menuntut untuk lebih proaktif dalam memasyarakatkan nilai-nilai keragaman agama, sosial dan budaya, demi mewujudkan perdamaian setiap anak bangsa dalam kerangka NKRI yang bhinneka tunggal ika.

Demikian sikap keprihatinan dan imbauan ini kami sampaikan, semoga dapat menjadi perhatian semua pihak.

Jakarta , 5 April 2006

Lembaga-lembaga yang mendukung Petisi Bersama ini:

  1. AJI (Aliansi Jurnalis Independen); Jakarta
  2. Aliansi Kebangsaaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan; Jakarta
  3. APAB (Aliansi Pelangi Antar Bangsa); Jakarta
  4. BINA DESA; Jakarta
  5. Ciliwung Merdeka; Jakarta
  6. ELSAHI (Lembaga Studi dan Advokasi Hukum Indonesia); Pekanbaru
  7. Forum Dialog Sulawesi Selatan (Forlog Sulsel); Sulsel
  8. Freedom Institute; Jakarta
  9. GANDI (Gerakan Anti Diskriminasi) ; Jakarta
  10. Garda Kemerdekaan; Jakarta
  11. GEMAKU (Generasi Muda Khonghucu); Jakarta
  12. GEMARI (Generasi Muda Antar Iman); Jakarta
  13. ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace); Jakarta
  14. IHAP (Institut Hak Asasi Perempuan); Yogyakarta
  15. IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia); Bandung
  16. Institut Perempuan; Bandung
  17. Institute for Ecosoc Rights; Jakarta
  18. IPI (Institut Pluralisme Indonesia); Jakarta
  19. JAI (Jamaah Ahmadiyah Indonesia); Bogor
  20. JIL (Jaringan Islam Liberal); Jakarta
  21. JKLPK (Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen di Indonesia); Jakarta
  22. Jurnak Kebudayaan KALAM; Jakarta
  23. Kalyanamitra; Jakarta
  24. Kapal Perempuan (Lingkaran Pendidikan Alternatif untuk Perempuan); Jakarta
  25. KePPak Perempuan (Kelompok Peduli Penghapusan Tindak Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak); Jakarta
  26. KIPPAS (Kajian Infromasi, Pendidikan dan Penerbitan Sumatera); Medan
  27. Komunitas Adat Karuhun Sunda; Kuningan Jawa Barat
  28. Komunitas Eden; Jakarta
  29. Komunitas Jatimulya Bekasi; Bekasi
  30. Komunitas Seni Mahasiswa UK Duta Wacana; Yogyakarta
  31. KPI (Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi); Jakarta
  32. KWI (Konferensi Waligereja Indonesia); Jakarta
  33. LAPIS BUDAYA; Jakarta
  34. LBH Bali; Bali
  35. LBH Jakarta; Jakarta
  36. LBH Palembang; Palembang
  37. LBH Semarang; Semarang
  38. LBH Yogyakarta; Yogyakarta
  39. LK3 (Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan) ; Banjarmasin
  40. LKAJ (Lembaga Kajian Agama dan Jender); Jakarta
  41. LKAS (Lembaga Kajian Agama dan Sosial); Surabaya
  42. LSAF (Lembaga Studi Agama dan Filsafat); Jakarta
  43. MADIA (Masyarakat Dialog Antar Agama); Jakarta
  44. MAGABUDHI (Majelis Agama Budha Theravada Indonesia); Jakarta
  45. Mitra ImaDei; Jakarta
  46. NIM (National Integration Movement); Jakarta
  47. OASE (Organization of Ahlul Bayt for Social Support and Education); Jakarta
  48. P2D (Perhimpunan Pendidikan Demokrasi); Jakarta
  49. P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat); Jakarta
  50. PADI KASIH (Yayasan Panca Dian Kasih); Jakarta
  51. Perkumpulan Rumpun; Yogyakarta
  52. POKJA PEDOMAN (Kelompok Kerja Pendampingan Orang Muda untuk Demokrasi dan Keadilan); Jakarta
  53. PP Fatayat NU; Yogyakarta
  54. PP GMKI (Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Krsiten Indonesia); Jakarta
  55. PSI Paramadina (Pusat Studi Islam Paramadina); Jakarta
  56. PUSAKA, Padang
  57. RAHAYU Movement; Jakarta
  58. Rahima, Pusat Pendidikan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan; Jakarta
  59. SEKAR (Senjata Kartini); Jakarta
  60. Senat Mahasiswa STF Driyarkara; Jakarta
  61. Serikat Pekerja Rumah Tangga Tunas Mulia; Yogyakarta
  62. Suara Ibu Peduli; Jakarta
  63. SYARIKAT INDONESIA; Yogyakarta
  64. TPKB (Tim Pembela Kebebasan Beragama); Jakarta
  65. Trade Union Rights Centre (Pusat Studi dan Advokasi Hak-hak Serikat); Jakarta
  66. Vihara Mahavira Graha Pusat; Jakarta
  67. WI (Wahid Institute); Jakarta
  68. WKRI (Wanita Katholik Republik Indonesia); Jakarta
  69. Yayasan Desantara; Jakarta
  70. Yayasan Sejahtera Bina Bangsa; Makassar
  71. YJP (Yayasan Jurnal Perempuan); Jakarta
  72. YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia); Jakarta
  73. YPR (Yayasan Pondok Rakyat); Yogyakarta
  74. YPSHK; Kendari

Individu-individu yang mendukung Petisi Bersama ini:

  1. A. Kabanga;
  2. A. Tresna Sunarya;
  3. A.A. Yewangoe;
  4. A.K. Sampeassang;
  5. Aa Sudirman;
  6. AA. GN. Ari Dwipayana;
  7. Abd Moqsith Ghazali;
  8. Abdul Gofur;
  9. Abdul Karim;
  10. Abdul Majid;
  11. Abdullah Ibnu;
  12. Abdurrahman Wahid;
  13. Abia Kamba;
  14. Ade Buchori;
  15. Ade Gunawan M;
  16. Ade Suherlan;
  17. Adi Bunardi;
  18. AE Suksmantoro;
  19. Agus Mantik;
  20. Agus Susilo;
  21. Agustinus Sudarmanto;
  22. Ahmad Baso;
  23. Ahmad Dani;
  24. Ahmad Nurcholish;
  25. Ahmad Suaedy;
  26. Alai Najib;
  27. Alamsyah M. Dja’far;
  28. Alfita S.;
  29. Ali Akbar;
  30. Ali Sibramalesi;
  31. Aloysius Gerard George Mamahit;
  32. Amanda Pricilia;
  33. Amanda Suharnoko;
  34. Aminuddin Day;
  35. Amran Achmad;
  36. Anand Krishna;
  37. Ananto Sulistyo;
  38. Andreas Dhymas Dhyna Marta Kelana;
  39. Andy Budiman;
  40. Anick HT;
  41. Anis Rahmat;
  42. Anom Purbo Prasetyo;
  43. Antonius Benedictus Kertiyasa;
  44. Antonius Gesang Wibowo;
  45. Antonius Hary Murti;
  46. Antonius Jadian Manir;
  47. Antonius Sarjono;
  48. Antonius Supriyo;
  49. Arif Setyo Wicaksono;
  50. Arif Wijaya;
  51. Aris Munandar;
  52. Aris Suseno
  53. Arkhimandrit Daniel B.D. Byantoro;
  54. Asep S. Elmir;
  55. Asfinawati;
  56. Asmara Nababan;
  57. Ayu Dyah Pasha;
  58. Benediktus ACT;
  59. Beni Dikty S.;
  60. Benny Susetyo;
  61. Benyamin F. Intan;
  62. Bernadette Panjaitan;
  63. Budhis Utami;
  64. Busira Shallihati;
  65. Cahyaning Rinawati;
  66. Chairiyah;
  67. Chandra Setiawan;
  68. Christine;
  69. Christy Uli Sinaga;
  70. D. Antari Listyanti;
  71. D. Kosasih;
  72. Daniel Dhakidae;
  73. Daniel Tonapa Masiku;
  74. Darisman Broto;
  75. Daud Sangka P;
  76. Debra Yatim;
  77. Dede Kurnia;
  78. Dewi Kanti;
  79. Dian S;
  80. Didik Chahyono;
  81. Disk Pasande;
  82. Djaengrana Ongawijaya;
  83. Donny Anggoro;
  84. Donny;
  85. Dwi Supriyatna;
  86. Eddy Dwinanto Iskandar;
  87. Eddy Juwono
  88. Eddyana Dewatiningrum;
  89. Edwin Wibisono;
  90. Eka Ratih Widyawati;
  91. Eko Bambang S.;
  92. Eko Budi Harsono;
  93. Elga Sarapung;
  94. Ema Mubarakah;
  95. Emha Ainun Najib;
  96. Endang S. Sukiarti;
  97. Enny Puji Lestari;
  98. Epifani Satiti;
  99. Erna R;
  100. Esther Gunawan;
  101. F. Sri Harti;
  102. Faisal;
  103. Febi Yonesta;
  104. Febionesta;
  105. Feri Latief;
  106. Feronica Alcya Puspita Shary;
  107. Firdaus Mubarik;
  108. Firdaus Panderaja;
  109. Firliana Purwanti;
  110. Fransisca Ria Marice Nanna;
  111. Fransisca Sri Rejeki;
  112. Fransiscus Wartoyo;
  113. Franz Magnis Suseno
  114. Garin Nugroho;
  115. Goenawan Mohamad;
  116. Grace Laura Tampemawa;
  117. Gustaf Dupe;
  118. H. Fathuzaman Sakti;
  119. Hafiz Q.;
  120. Halomoan Simarmata;
  121. Hanna Pandia;
  122. Hanry Eka Saputra;
  123. Hendra Setiawan;
  124. Hendrawati Umar;
  125. Hendrawati;
  126. Hendrica Yoice Riaunethe;
  127. Herman Matalih;
  128. Herman S. Endro;
  129. Hermawanto
  130. Herry Purnawan;
  131. Heru Hendratmoko;
  132. Holiah Herman;
  133. I Sandyawan Sumardi;
  134. Idewa Gede Gana Pati;
  135. Iding Kusnadi;
  136. Ignatius Haryanto;
  137. Ignatius Washington HK;
  138. Ika N Krishnayanti;
  139. Ilma Sovri Yanti;
  140. Indah Triwiartuti;
  141. Indra Gusnanto;
  142. Indra Prameswara;
  143. Irene Danica Arlyn;
  144. Ismael Suparna;
  145. Iswanti;
  146. J.H. Lamardy;
  147. J.N. Hariyanto;
  148. Jaime Angelique;
  149. Jalaluddin Rahmat;
  150. Jansen DP;
  151. Jeirry Sumampow;
  152. Jimmy Trisahala;
  153. Joni Tapingku;
  154. Jumarsih;
  155. Justin N;
  156. Jusuf Lie;
  157. Kamiludin Achmad;
  158. Kantjana Indrishwari;
  159. Kautsar Azhari Noer
  160. Kenny Felicia;
  161. Kuryati;
  162. Kusala Phassa;
  163. L. Ani Widianingtias;
  164. Lanny Octavia;
  165. Lawaku;
  166. Lia Eden;
  167. Lidya Christie Caroline;
  168. Lilik Haryani;
  169. Lily Noviani;
  170. Lily;
  171. Lisa Lukman;
  172. Lucia Roly Prihandini;
  173. Lukas Arimurti;
  174. Luki Paramitha;
  175. Lusiana Rumintang;
  176. Luthfie Assyaukanie;
  177. M. Amirullah;
  178. M. Dawam Rahardjo;
  179. M. Djaelany;
  180. M. Iqbal;
  181. M. Yumartana;
  182. M.F. Lina Yos;
  183. Mahfudin;
  184. Mahmurah Basyir;
  185. Marcelinus Iwantoko;
  186. Mardiwidayat;
  187. Maria Astridina;
  188. Maria Astro Rosemary Mardagiono;
  189. Maria Mercia Cynthia Wibowo;
  190. Maria Oktaviani;
  191. Maria Pakpahan;
  192. Maria Ulfah Anshor;
  193. Marike Sukayanti;
  194. Marlentilova Wiyana Dewi;
  195. Martha Wilianti;
  196. Martin Aleida;
  197. Martini;
  198. Maruli L. Tobing;
  199. Marzani Anwar;
  200. Masykur Hatida;
  201. Merrie Melina;
  202. Michael Utama Purnama;
  203. Miryam Nainggolan S.V
  204. Mirza T. Ahmad;
  205. Mohamad Guntur Romli;
  206. Mubarik Ahmad;
  207. Mufti Al Fadri;
  208. Muhammad Idris;
  209. Muhammad Karnoto;
  210. Mulyadi Muzafar Ahmad;
  211. Munadhifah;
  212. Munawar M. Ali
  213. Munda Regina;
  214. Musdah Mulia;
  215. N. Ageng Wicaksono;
  216. Naftali Jarin;
  217. Naimah A. Sarido;
  218. Nana Mulyana;
  219. Naning;
  220. Nathanael Gratias;
  221. Neny S Stanley Rambitan;
  222. Nirwan Dewanto;
  223. Nong Darol Mahmada;
  224. Nopemmerson Saragih;
  225. Noventa Kristanto;
  226. Novriantoni
  227. Nur Aisyah;
  228. Nurbaity;
  229. Nurbaity;
  230. Nurhasna Hafiz;
  231. Nurkholis Hidayat
  232. Nurmainar;
  233. Nurmalia Ly;
  234. Nurmuhammad;
  235. Nurul Arifin;
  236. Oky Zayya;
  237. P. Djatikusumah;
  238. Pestarya Hutojaen Silalahi;
  239. Petra Tri Swamiarsi;
  240. Petrus Tiranda;
  241. Pius M. Sumaktoyo;
  242. Pramudyarkara;
  243. Prihermono Inung Nugroho
  244. Prins Carl Santoso;
  245. Puspa Citra;
  246. Putu Ruminingsih;
  247. Qomarudin;
  248. R. Valentina Sagala;
  249. R.A.M. Jumaan;
  250. Rachmalia Zuamitha;
  251. Rahmat Ali Bt;
  252. Rahmat Jakasentosa;
  253. Rangga;
  254. Rannu Sanderan;
  255. Rara Sitta Stefanie;
  256. Reinaldy Iskandar;
  257. Remly Simarmata;
  258. Renata Ariningtyas
  259. Riani Ridwan;
  260. Rieke Diah Pitaloka;
  261. Riswati Sophiani;
  262. Rita Riyati;
  263. Rita S.;
  264. Rita Soraya Husen;
  265. Rizky Rafiq Achmad;
  266. Rudhy Suharto;
  267. S. Manguling;
  268. S.H. Sarumpaet;
  269. S.M. Liando;
  270. Sabar Martin Sirait;
  271. Safri Tilar;
  272. Sakidjan;
  273. Samsi Darmawan;
  274. Sandy Cahyadi;
  275. Saor Siagian;
  276. Satya Nugraha;
  277. Save Dagun;
  278. Sigit Purnomo;
  279. Siti Zainab Luxfiati (Dunuk);
  280. Sri Kusmiati;
  281. Sriati;
  282. Sriyati;
  283. Steven;
  284. Suciati;
  285. Sugeng Prihatin;
  286. Sugiono;
  287. Sukapdi;
  288. Sukardi;
  289. Sukatma;
  290. Sukidi;
  291. Sulastomo;
  292. Sulistyo;
  293. Suma Miharja
  294. Sumardiono;
  295. Susilo S.M.;
  296. Syahida L.;
  297. Syaif Ahmad;
  298. Syarifuddin Rambe;
  299. Sylvana Ranti-Apituley;
  300. Taufik Basari
  301. Teguh A. Budi;
  302. Tias Harfandati
  303. Tien Susantijo;
  304. Timotheus Lesmana;
  305. Tina Etun;
  306. Tirto Hadi Suwelo;
  307. Titi Laksanawati Aziz;
  308. Titus Angga R.;
  309. Tjiu Hwa Jioe;
  310. Todung Mulya Lubis
  311. Tommy Singh;
  312. Tri Kumala Sari;
  313. Trisno S. Sutanto;
  314. Tristina HS;
  315. Tua Situngkir;
  316. Tumaber;
  317. Tuti Alwan;
  318. Tyas Rora Asih;
  319. Ulil Abshar Abdalla;
  320. Umar Iskandar;
  321. Umdah El Baroroh;
  322. Utomo Dananjaya;
  323. Vivi;
  324. Weinata Sairin;
  325. Wenny Yuliarita;
  326. Widarsih;
  327. Wielsma DK. Baramuli;
  328. William Kwan HL
  329. Willy R. Wirantaprawira;
  330. Wulan;
  331. Y. Rumini;
  332. Yadi Mulyadi;
  333. Yana D. Suhendra;
  334. Yasir;
  335. Yayah Nurmaliah;
  336. Yeni Rossa Damayanti;
  337. Yolanda;
  338. Yosef Cahyo Adi Putranto;
  339. YP. Wahyu Gunawan;
  340. Yuberlian Padele;
  341. Yudie Latif;
  342. Yuliana Puja Setyowati;
  343. Yulius Aryanto Seran;
  344. Yustinus Yuniarto;
  345. Yuyu Rahayu;
  346. Zakaria J. Ngelow;
  347. Zed A. Sandia;
  348. Zuly Qodir;
  349. Zwestin Gomgom Welfry.
Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>