Sebuah Pesantren tanpa Gus

15 - Dec - 2010
Sebuah Pesantren tanpa Gus

Sebuah Pesantren tanpa Gus

Catatan dari Blitar. Pada sebuah sore di pinggiran Kota Blitar, aku dan teman dari Forum Lenteng, Adel, berbincang dengan Mustar Lubby, pengasuh pondok pesantren Bustanul Muta’allimin tentang persiapan Sekolah Film Multikultural. Adel memulai obrolan dengan gaya Jakartanya “Jadi begini Mas, kita mau ngadain pelatihan film bla bla bla….”. Saya tersenyum geli ketika Adel menyebut kata “Mas” untuk memanggil anak dari seorang Kyai yang “seharusnya” dipanggil dengan sebutan Gus. Selesai obrolan dengan si “mas” ini, dengan mimik muka serius dan sok tahu, kujelaskan pada temanku ini tentang bagaimana etika berbicara dengan anak kyai.

Selang beberapa hari selama mengikuti kegiatan Sekolah Film multikultural di pesantren ini, Mas Lubby, anak dari KH Ahmad Chalim Zahid menjelaskan bahwa di pondok yang dipimpin oleh abahnya ini memang tidak ada panggilan Gus atau Ning bagi anak Kyai. Santri yang mondok di pesantren ini dibiasakan untuk memanggil mereka dengan panggilan Mas atau Mbak saja. Menarik bagi saya untuk melihat tidak adanya tradisi sebutan Gus di pesantren ini.

Tradisi sebutan Gus di pesantren, tak lepas dari keberadaan kyai sebagai salah satu faktor penting eksistensi sebuah pesantren. Kyai menjadi figure sentral yang membuat para santri tertarik untuk nyantri di pesantren yang didirikannya. Dengan memusatkan kegiatan pada mushola atau langgar yang dekat dengan tempat tinggalnya, seorang Kyai kemudian membangun system pesantrennya. Dalam sebuah tulisannya, Gus Dur menjelaskan bagaimana kepatuhan seorang santri kepada kyai menjadi sedemikian besar karena dengan perantara kyai inilah seorang santri mampu menemukan jalan keselamatan dunia dan akhirat. Santri yang ngangsu kawruh kepada kyai kemudian bertempat tinggal di pemondokan yang di bangun belakangan untuk menampung santri yang semakin banyak.

Pesantren kemudian menciptakan kulturnya sendiri dengan bertumpu pada interaksi antara keluarga kyai, pesantren dan santri. Pesantren dengan segala ritual dan kajiannya menempatkan waktu shalat sebagai patokannya, misalnya ketika berjanji ketemu dengan seseorang mereka biasanya mengatakan sebelum atau sesudah waktu shalat, misalnya setelah dhuhur atau setelah isya. Waktu dalam lingkungan pesantren dimampatkan dan terintegrasikan dalam praktek ritual ibadah yang menjadi kewajiban penghuni pesantren. Selain siklus waktu yang berbeda, kultur pesantren mengajarkan kepada para santri untuk mendapatkan tidak hanya sekedar ilmu tetapi juga restu (barokah) dari Kyainya. Salah satu caranya adalah dengan mencintai anggota keluarga Kyai. Inilah yang kemudian memunculkan sebutan tertentu berdasarkan otoritas keagamaan kepada anggota keluarga kyai. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, mereka memberi penghormatan dengan menyebut anak kyai dengan panggilan Gus untuk anak laki-laki dan Ning untuk anak perempuan.

Lalu apa yang membuat tradisi Gus ini dihilangkan dari Pondok Pesantren Bustanul Muta’alimin? Untuk pesantren yang telah berumur lebih dari satu abad, sepertinya panggilan Gus atau Ning akan sangatlah wajar. Akan tetapi lain hal yang dipikirkan oleh Mas Lubby. Menurutnya panggilan ini merupakan bentuk penghormatan santri kepada kyainya dan bukan pada kemampuan personal seorang Gus atau Ning. Oleh karena itu konsep ini jelas tidak secara otomatis menempatkan posisi Gus atau Ning sebagai seorang alim karena runutan kesalehannya berasal dari orang lain alias dari orang tua mereka. Menurutnya, mengganti sebutan Gus dengan panggilan Mas dimaksudkan agar tidak tercipta jarak yang terlalu jauh antara santri dan anak-anak Kyai karena seyogyanya mereka memiliki hak yang sama ketika berhubungan dengan pesantren. Semangat untuk membangun kultur demokrasi di pesantren menjadi satu cerita tersendiri dalam sebuah institusi yang selama ini dianggap tidak demokratis karena dominannya peran kyai.

Berubahnya sebutan Gus dengan sebutan Mas yang lebih egaliter ini membuat pesantren ini berbeda dengan pesantren yang lain. Apakah ini menandakan terjadinya transformasi pesantren yang telah ada jauh sebelum masa kemerdekaan ini? Menilik sepak terjang pesantren merespon situasi zaman, bisa jadi ini menjadi satu bagian dari transformasi yang terjadi. Sejak masa colonial hingga geger pembantaian PKI, pesantren ini selalu mengambil peran penting dalam konteks Blitar. Begitu juga ketika Gus Dur menggelontorkan ide rekonsiliasi dengan eks-PKI, pesantren ini juga menjadi tempat pertama di Blitar yang mengadakan kegiatan bersama dengan eks tapol/napol. Kelenturan pesantren dalam membaca situasi menjadikanya mampu bertahan dan terus melahirkan pemikiran-pemikiran yang kontekstual dengan tidak meninggalkan filosofi khas pesantren.


Depan | RSS 2.0 | Kategori: Catatan Lapangan | Trackback | 4 Comments

4 Responses to “Sebuah Pesantren tanpa Gus”

  1. Mubarak Idrus says:

    saya punya pengalaman waktu nyantri di Madrasatul Qur’an Tebuireng. mayoritas santri memanggil anak-anak dan para cucu Hadratussyaikh Yusuf Masyhar dengan sebutan “Gus”. tetapi beberapa santri, khususnya yang menjadi pengurus atau khodim hadratussyaikh, memanggil anak-anak kiai atau cucunya dengan sebutan “mas”. saya sempat tanya ke beberapa santri senior atau badal waktu itu karena saya agak penasaran apakah panggilan itu tidak salah, apakah panggilan itu tidak merendahkan? santri senior menjawab bahwa panggilan “mas” dari santri-santri tidak berarti merendahkan karena santri yang memanggil “mas” adalah santri yang punya kedekatan dengan kiai. jadi tidak sembarang santri yang memanggil anak-anak atau cucunya dengan sebutan “mas”. dengan sendirinya, ada level yang berbeda di tingkat santri. santi yang memanggil anak kiai dengan sebutan “Gus” berarti santri kebanyaa tetapi yang memanggil dengan sebutan “mas” berarti level santri itu agak tinggi. mungkin dia pengurus, khodim atau mungkin menjadi mantu salah satu keluarga sang kiai.

  2. Budi says:

    Anak kyai juga manusia, banyak yang tidak jadi kyai, banyak juga yang kelakuannya sudah sangat sekuler. lalu mengapa harus disebut gus? biasa saja lah. kayak kraton saja.

  3. junaidi says:

    siapa sih, yah, yg disebut sbg. kaum sofistik, kaum safsatah dan kaum zindiq ………..
    siapa sih, yah, yg tdk beretika dan beradab, shg menghilangkan keimanan ………….
    o ya, siapa sih, yah, rizqi dunia yg sama …..!?

  4. rully wk says:

    sy sngt suka sekali, mdh2an santri dan orang2 Islam lebih banyak yg membuka diri, trimaksih GusDur

Komentar dengan Facebook

Leave a Comment

 

Related Post

9 - Mar - 2008 | Ahmad Baso | 0 Comments

Politik Kerukunan Model Negara


16 - Feb - 2009 | SB Setiawan | 0 Comments

Banyuwangi: Sebuah Catatan


26 - Mar - 2008 | admin | 0 Comments

Kejahatan Hukum terhadap Masyarakat


17 - Jun - 2008 | Akbar Yumni | 0 Comments

Politik ‘Pangestu’ dalam Perilaku Elite Modal dan Lestarinya Piramida Sosial Sisa Warisan Kolonial


3 - Jul - 2013 | Ari Ujianto | 0 Comments

Pelatihan Penelitian Sosio-legal di STH Galunggung, Tasikmalaya


5 - Jun - 2008 | F Utomo | 0 Comments

Video Komunitas dan Pelatihan Menulis Multikultural


1 - Sep - 2008 | Didit F.Utomo | 0 Comments

Medan: Enam Hari Menulis Keanekaragaman


6 - Oct - 2009 | Kabati | 0 Comments

Warisan dan Jalan Bahagia Tuan Baak


8 - Sep - 2009 | Kabati | 0 Comments

Pali-pali


27 - May - 2014 | Heru Prasetia | 0 Comments

Pernyataan Sikap Penolakan Penambangan dan Pendirian Pabrik Semen di Rembang


16 - Jul - 2008 | Farid Aulia | 0 Comments

Hubungan Bapak dengan Kami


13 - Jan - 2009 | Dewi Mayasari | 0 Comments

Buruh Sortir Kopi Gayo I


Random Posts

6 - May - 2010 | admin | 0 Comments

Pelatihan Menulis dan Penelitian Dasar Kualitatif


15 - Jun - 2005 | admin | 0 Comments

Srinthil 08 : Perempuan dan Sastra Poskolonial


21 - May - 2010 | admin | 0 Comments

Nyadran atau Nadran atau buang saji di Trungtum, Sukra, Indramayu


24 - Apr - 2008 | admin | 0 Comments

Kep Walikota Magelang No.421 Thn 2002


13 - Dec - 2008 | Diphie Kuron | 0 Comments

Demi Pembangunan Sub Terminal, Gereja Anglikan Cibeureum Digusur


Most Commented

25 - Mar - 2008 | M. Kodim | 26 Comments

Khilafah Islamiyah: Mimpi Besar Yang Tak Mendasar


5 - Mar - 2008 | admin | 7 Comments

Sunda Wiwitan: Tidak Mengenal Samawi dan Ardhi


21 - Apr - 2008 | Samsyurijal Adhan | 6 Comments

Penyerangan Naqsabandiyah Oleh Sekelompok Orang Bercadar


29 - Apr - 2008 | admin | 5 Comments

Syarifuddin Dg Tutu: Siapa Bilang Sinrilik Tidak Islami?


24 - Mar - 2008 | admin | 5 Comments

Fatwa MUI Mengoyak Ajaran Sedulur Papat Kelima Pancer


© Copyleft 2013 by Desantara Foundation
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: [email protected]
Beranda | Tentang Kami | Kontak Kami | Donasi | Kirim Tulisan | Sitemap | RSS
df
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok, Jawa Barat, Indonesia
Kode pos: 16431
Telp. 021 77201121 Faks. 021 77210247
Email. [email protected]